
#Happy Reading's🌻
.
.
.
.
"Kenapa kepalaku sakit sekali? Padahal aku sudah meminum obat." Viana memegang kepalanya yang teramat sakit.
"Sayang... Ambilkan aku handuk." Teriak Tony memanggil Viana.
"Iya..." Ujar Viana, lalu Viana mengambil handuk dan hendak memberikannya pada Tony. Tetapi ia sungguh tidak kuat lagi karena kepalanya semakin sakit. Ia pun jatuh pingsan di depan kamar mandi.
Tony yang sedari tadi menunggu Viana mengambilkan handuknya, karena lama ia pun membuka pintu kamar mandi. Alangkah terkejutnya ia melihat Viana sudah tergeletak di depannya dengan kaki yang dilumuri darah.
"Viana!!" Teriak Tony. Ia memakai baju seadanya dengan gerakan yang sangat cepat, lalu membawa Viana kerumah sakit.
Setibanya dirumah sakit, Tony menunggu Viana yang tengah diperiksa oleh dokter. Kepanikannya bertambah ketika sang dokter membawa beberapa alat yang begitu lumayan banyak kedalam ruangan Viana. Air matanya tak henti-hentinya mengalir di pelupuk matanya. Ia terus saja berdoa pada sang maha kuasa untuk keselamatan Viana.
"Tony... Bagaimana keadaan Viana?" Tanya bunda Viana ketika tiba disana. Ya, Tony sebelumnya sudah menghubungi bundanya Viana untuk memberitahu keadaan putrinya ini.
"Viana masih ditangani dokter bun." Ucap lirih Tony.
"Ya Allah... Selamatkanlah putri hamba."
"Bunda yang tenang ya, pasti Viana baik-baik saja..." Tony memeluk bunda Viana.
"Iya nak... Hiks."
Di satu sisi, Nara dan Ansel sudah tiba di Indonesia. Dengan hati yang gembira, ia sudah tak sabar memberitahu seluruh keluarganya termasuk Viana.
"Aku benar-benar tidak sabar memberitahu mommy, daddy, ayah, mamah, Mario dan Viana." Ucap Nara mengelus perutnya yang masih rata.
"Aku juga sayang... Aku sudah memberitahu semuanya untuk berkumpul di mansion mommy dan daddy. Tapi aku belum memberitahu Viana dan Tony untuk berkumpul juga di mansion. Ponsel mereka satupun tidak ada yang mengangkat." Tutur Ansel.
"Mungkin mereka sibuk." Ujar Nara.
"Mungkin."
Saat tiba di mansion, Nara langsung melompat keluar mobil. "Hati-hati Nara!!" Teriak Ansel, tetapi tak dihiraukan Nara yang tetap berlari kedalam mansion.
"Pak, nanti masukkan semua koper dan barang-barang yang lain kedalam mansion ya."
"Baik tuan."
Ansel pun menyusul Nara kedalam mansion. Semuanya tengah berkumpul diruang keluarga. Disaat itu pula Nara memberitahu kabar baik kehamilannya pada semua keluarga. Semuanya tampak sangat bahagia mendengar kabar itu.
"Aku pergi kerumah Viana sekarang ya sayang..." Ucap Nara.
"Tapi sayang, kita kan baru saja sampai."
"Ayolah sayang... Aku benar-benar tidak sabar melihat Viana mendengar kabar kehamilanku."
"Tapi..."
"Yasudah kalo kamu gak mau ikut, biar aku saja yang pergi kesana." Nara bangkit dari duduknya.
"Ans, biarkan saja... Kamu temani Nara sana." Ujar Riani."
"Huft, baiklah mom." Ansel pun mengambil kunci mobilnya.
"Sayang, ayo aku temani." Ucap Ansel dan Nara tersenyum melihat itu.
Mereka pun menuju rumah Viana dan Tony. Sesampainya mereka disana, mereka heran tidak ada siapapun dirumah itu. Beberapa kali mereka tekan bel dan menelpon ponsel Viana dan Tony, tetapi tetap saja tidak ada jawaban.
__ADS_1
"Ans, kenapa hatiku berdegub sangat kencang ya? Aku mempunyai firasat yang buruk." Ucap Nara memegangi dadanya, ia begitu gelisah.
"Mungkin itu hanya perasaanmu saja. Tidak akan ada apa-apa..." Ansel berusaha menenangkan Nara.
"Ini berbeda Ans... Aku khawatir Viana kenapa-napa."
"Ayolah sayang... Jangan berfikiran buruk seperti itu. Mungkin saja mereka sedang berlibur."
"Tidak mungkin. Jika mereka sedang berlibur, disituasi apapun pasti mereka mengangkat ponsel mereka. Ini tidak sama sekali."
"Kamu yang tenang ya, tidak akan terjadi apa-apa." Tenang Ansel kembali.
Baru saja Ansel dan Nara hendak pergi, seorang pembantu yang terlihat membawa beberapa sayuran menghampiri mereka.
"Maaf tuan, nyonya kalian ingin menemui siapa ya?"
"Kami ingin menemui Viana dan Tony, apa mereka ada dirumah?"
"Tuan Tony tadi pagi membawa nyonya kerumah sakit."
"APA?!" Nara dan Ansel terkejut mendengarnya.
"Viana kenapa?"
"Saya kurang tau, tetapi tadi saya melihat nyonya pingsan dan pendarahan."
Nara menutup mulutnya. "Ya Ampun Viana... Mereka dirumah sakit mana bi?"
"Rumah sakit didepan komplek ini."
"Ans ayo cepat kita kerumah sakit... Terimakasih bi." Nara menarik Ansel dan berlari kearah mobil.
Kondisi saat ini semakin menegangkan karena dokter menyatakan bahwa Viana kritis dan anak yang berada di dalam kandungannya harus segera dikeluarkan dengan melakukan operasi caesar. Tony dan bunda Viana hanya bisa menyetujuinya asalkan keduanya bisa selamat.
Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya operasi caesar itu berhasil. Dokter menyuruh keduanya untuk masuk melihat sang buah hati. Tony melihat buah hatinya yang mungil sekali begitu terharu. Ia meneteskan air matanya lagi seraya mengadzankannya.
"Tuan, bayi anda baik-baik saja tapi..."
"Tapi ia mengalami kelumpuhan permanen. Ia tidak akan bisa berjalan seumur hidupnya."
JDER
Bagai tersambar petir, Tony tiba-tiba lemas tak berdaya mendengarnya. Begitupun bundanya Viana, ia hanya menangis mendengarnya.
"Dok, apa tidak ada cara lain untuk menyembuhkan kelumpuhan anak saya?"
"Maaf, itu kemungkinannya sangat kecil sekali."
Tony sangat terpuruk menerima kenyataan bahwa anaknya lumpuh permanen karena prematur. Belum lagi Viana yang masih kritis yang belum ada tanda-tanda darinya untuk bangun.
"Ayah akan tetap menyayangimu baby girl. Ayah akan beri nama kamu Violeta... Kamu secantik mama mu." Ucap Tony lembut seraya mencium Violeta kecil.
"Dok, jantung pasien melemah." Ucap seorang suster.
"Siapkan kejut jantung." Dokter itupun berlari kearah Viana.
"Baik dok."
"Vi~Viana... Dok, ada apa dengan istri saya dok?" Panik Tony.
"Pak, sebaiknya anda menunggu diluar. Berikan bayi anda untuk kami periksa lebih lanjut." Ucap suster itu mengambil bayi yang digendongan Tony.
"Saya tidak akan pergi! Saya akan menemani istri saya disini!!" Kekehan Tony.
"Maaf pak, pasien sedang kritis... Sebaiknya anda keluar." Suster itu mendorong Tony keluar.
"SAYA BILANG TIDAK YA TIDAK!! ISTRI SAYA MEMBUTUHKAN SAYA!" Teriak Tony melawan sang suster.
__ADS_1
"Tapi..."
"Biarkan saja sus..." Ucap dokter itu.
Tony mendekat kearah Viana. Ia menciumi jidatnya beberapa kali. "Kamu kuat sayang... Kamu harus bertahan." Ucap Tony lirih.
"Pak, anda boleh disini tapi tolong jangan dulu mendekati pasien yang sedang kami tangani."
"Baik dok, maafkan saya." Tony pun menjauh dibelakang dokter.
"Tinggikan volumenya sus, satu... Dua... Tiga..."
"Tinggikan lagi sus, satu... Dua... Tiga."
Tiitt....
Kepanikan yang luar biasa mulai terjadi kembali disaat alat detak jantung Viana terhenti. Dokter dan suster-suster yang menangani Viana pun tampak sudah berusaha. Tetapi takdir berkata lain.
"Pak, maafkan kami... Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi istri anda sudah tiada." Tutur dokter itu.
DEG
Seketika detak jantung Tony terhenti dan berusaha mencerna ucapan Dokter walaupun sudah begitu jelas dokter itu menjelaskan. Bunda Viana mendengar itu langsung pingsan dan beberapa suster membantunya.
"Dok, ini pasti salah! Jangan mempermainkan saya!" Tony mencengkram kerah dokter itu.
"Maaf pak... Ini sudah takdir tuhan."
"AAKHH!! TIDAK MUNGKIN!! VIANAA!!!" Tony mendorong dokter itu lalu berlari kearah Viana yang sudah terbujur kaku.
"Hiks VIANA!! JANGAN TINGGALKAN AKU!! VIANA..." Teriak Tony histeris mengguncangkan tubuh Viana berusaha membangunkannya, walaupun itu hanya terlihat sia-sia saja.
Bertepatan dengan itu, Nara dan Ansel tiba di ruangan. Mereka terlihat bingung melihat Tony menangis histeris dan bunda Viana yang sedang ditangani suster karena pingsan. Degub jantung Nara berpacu dengan cepat. Hatinya risau, dan fikirannya kemana-mana. Mereka perlahan-lahan mendekati Tony yang masih menangisi Viana.
"Ada apa ini? Viana kenapa?" Tanya Nara bergetar seakan-akan sudah tau jawabannya. Ia ingin memastikan apa yang ia lihat di depannya.
"VIANA!! Hiks..." Tony tidak menjawab. Ia hanya menangis dan memeluk Viana.
Nara menarik tubuh Tony. "Gue bilang ada apa?! Viana kenapa?!" Geram Nara seraya meneteskan air matanya. Ansel dibelakangnya memeluk pundak Nara untuk menenangkan.
"Vi~Viana... Hiks. Dia... Dia udah meninggalkan kita semua hiks..." Jawab Tony yang tak kuasa menahan rasa sakit di dadanya.
Nara terhuyung kebelakang, dengan sigap Ansel memegangnya. "I~ini... Ini pasti mimpi! Ini pasti mimpi kan Ans? Bangunkan aku dari mimpi buruk ini Ans! BANGUNKAN AKU!!" Teriak Nara diujung kalimatnya.
Ansel memeluknya erat. Ia pun menangis mendengar bahwa Viana sudah tiada. Ia benar-benar tidak menyangka dengan semua ini.
"Bangunkan aku Ans! Bangunkan aku!! Hiks..." Nara memukul-mukul wajahnya dengan sekuat tenaga.
"Sayang, apa yang kamu lakukan? Jangan menyakiti dirimu... Kamu sedang tidak bermimpi." Ansel kembali memeluk Nara.
"Hiks... Ini pasti mimpi!! Hiks... Viana!" Nara berbalik memeluk Viana.
"Kenapa lo tega ninggalin gue Viana! Kenapa?! Lo udah janji sama gue, kalo kita akan merawat bayi lo sama-sama. Lo pembohong Viana... Lo pembohong! Ayo bangun!! Kalo lo gak bangun-bangun, gue gak akan maafin lo! VIANA BANGUN! HIKS..."
Sungguh kenyataan ini membuat semua orang terpukul atas kepergian Viana. Takdir tidak bisa diduga oleh semua orang. Semuanya sudah diatur oleh Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada yang bisa mengelak takdir semuanya sudah direncanakan.
"Gue akan tepati janji gue ke lo, kalo gue akan merawat anak lo. Yang tenang ya disana Vi..." Ucap Nara mengusap batu nisan Viana.
.
.
.
TAMAT....
(Terimakasih Reader's atas semua dukungan kalian dengan SATU HATI DUA RASA ini🙌🏻 Berkat dukungan kalian semua, Author bisa melanjutkan cerita ini sampai kepenghujung cerita😍)
__ADS_1
(Gimana menurut kalian tentang Novel ini dari episode 1 - 93? Apakah ada kesan bagi kalian tentang cerita ini? Atau kalian mau lanjutkan cerita ini ke Season 2? Komen dibawah ya👇🏻)
(Salam Sehat dan sukses selalu untuk kalian❤)