Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 31


__ADS_3

#Happy Reading's🌻


.


.


.


Viana terus menelpon Ansel. Hingga beberapa saat, telpon itu tak aktif. Viana menghela nafasnya dengan kasar, lalu menyimpan ponselnya di meja. Ia menyenderkan tubuhnya di kepala sofa. Kepalanya sangat sakit, dan badannya begitu lelah. Ia memejamkan matanya, mengingat beberapa hal yang dikatakan Nara tadi.


"Aku harus mempercayai siapa? Nara atau Ansel?" Pikir Viana.


"Dan kenapa ponsel Ansel tidak aktif? Ada apa ini sebenarnya... Kepala ku semakin pusing." Viana memijat kepalanya yang terasa sakit.


"Aku harus temui Ansel besok dikampus." Viana bangkit dari duduknya dan pergi ke dalam kamarnya.


Malam harinya, Nara terbangun. Perutnya terasa perih karna sedari pagi ia belum makan atau minum apapun. Ia bangkit dari kasurnya lalu mengikat rambutnya sembarang dan pergi menuju dapur. Nara melihat plastik hitam diatas meja makan, ia membukanya dan ternyata itu makanan pesanan Viana yang masih utuh. Nara mengerutkan keningnya sembari membuka makanan-makanan didalam plastik.


"Apa Viana belum makan ya? Kenapa makanannya masih utuh begini?" Lirih Nara.


"Aku makan saja satu, mungkin Viana nanti akan memakannya." Nara memakan, makanan itu dengan lahap.


Sesudah menghambiskan makanannya, perut nya terasa kenyang. "Ah... Kenyangnya!!" Nara mengusap-usap perutnya yang rata itu.


"Eh tapi kenapa Viana jam segini belum makan ya? Dia kan pasti belum makan juga dari pagi." Ucap Nara.


"Mungkin dia tidur." Nara mengedikkan kedua bahunya dan kembali masuk kedalam kamar.


Nara membaringkan tubuhnya. Ia merasa rasa kantuknya sudah menghilang. Nara adalah tipe orang yang sudah bangun, dan sulit untuk tidur kembali. Ia pun mengambil beberapa novel koleksinya lalu membacanya.


"Bosen banget baca novel ini terus. Huft..." Nara terasa bosen dengan novelnya yang sudah beberapa kali ia baca. Nara ingin sekali membeli buku novel yang baru, tetapi ia tak cukup memiliki uang.


Nara menyimpan kembali buku-buku novelnya di meja. Ia pun mengambil ponselnya, dan membuka akun sosial media nya. Ia tersenyum melihat beberapa fotonya yang banyak sekali like dan coment nya disana. Bahkan banyak sekali yang men-DM nya, tetapi tak ada satu pun DM-an itu dibalas oleh Nara. Dengan iseng Nara membuka beberapa DM-an nya, ia terkejut melihat Bayu men-DM nya. Senyum Nara pun mengembang.


DM Bayu


Bayu_Erlangga


"Hai Nara👋🏻 ini benarkan akun mu yang real?😅"


Dm an itu sudah beberapa hari yang lalu. Dan Nara pun membalasnya.


Naraaa_LS


"Iya ini akun ku yang real."


Beberapa menit Nara menunggu balasan dari Bayu. Dan Bayu pun membalasnya.


Bayu_Erlangga


"Aku kira, dm an ku tidak akan dibalas... Ternyata di balas juga😅"


Naraaa_LS

__ADS_1


"Mau banget ya di balas? hehe..."


Bayu_Erlangga


"Siapa sih yang gak mau dibalas dm-an nya sama cewek secantik kayak kamu..."


Wajah Nara bersemu merah membaca balasan DM dari Bayu. Nara pun kembali membalasnya.


Naraaa_LS


"Itu pujian atau hinaan ya?😂" Balas Nara, ia tersenyum lalu menengkurapkan badannya dan menumpu tubuhnya menggunakan kedua siku tangan nya, serta beralaskan bantal dibawah tubuhnya.


Bayu_Erlangga


"Tentunya pujian dong... Mana berani aku menghina kamu." Balas Bayu kembali.


Bayu dan Nara terus berDM an hingga larut malam. Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 01:30 malam. Keduanya pun menyudahi nya lalu terlelap dalam tidur. Hingga menjelang pagi, kiranya jam 07:00 Nara masih terjaga dengan tidurnya. Ia melupakan bahwa hari ini ada jadwal kuliahnya.


Tak ada satu pun diantara Nara dan Viana yang bangun. Pukul 07:00 pagi pun berlalu, berganti dengan pukul 08:00 pagi. Baru lah Nara terbangun. Ia mengumpulkan nyawanya terlebih dahulu.


"Kenapa sepi banget ya ini rumah. Biasanya udah berisik sama Viana." Ucap Nara, lalu ia pun mengambil ponsel nya hendak melihat jam. Alagkah terkejutnya Nara melihat jam yang tertera di ponselnya.


"OH TIDAK! jam 08:00 lewat 10 menit?! Gaswat gue telat! Hari ini kan ada sidang skripsi!" Nara lari terbirit-birit ke kamar mandi. Tak lama Nara di kamar mandi, ia pun langsung memakai bajunya terburu-buru. Ia mengikat rambutnya tanpa menyisir.


Nara keluar dari kamar dan bersiap untuk pergi ke kampus. Tapi tunggu? Nara merasakan ada yang mengganjal. Tapi apa? Nara terdiam, mengingat apa yang membuatnya mengganjal.


"VIANA!" Nara ingat, jika sejak tadi ia tak melihat bahkan mendengar Viana.


Nara pun langsung pergi ke kamar Viana dan mengetuk pintunya. Tak ada sahutan dari dalam kamar Viana. "Viana... Lo ada di dalam gak? Bangun... Kita harus ke kampus hari ini." Masih tak ada sahutan dari Viana. Nara bertambah panik, ia mencoba membuka pintu kamar Viana. Untungnya saja tak di kunci.


"Viana, bangun Vi..." Nara menepuk-nepuk pipi Viana.


"Ra~ di~dingin..." Viana bergetar dan menggigil.


"Lo tahan sebentar ya, gue panggil ambulan dulu." Nara memanggil ambulan dengan nomor darurat.


"Tahan ya Vi... Sebentar lagi ambulan nya dateng." Nara pun bergegas ke dapur mengambil kain dan air hangat yang dituangkan ke dalam baskom kecil.


Nara memeras kain yang telah di celupkan kedalam air hangat, lalu menempelkannya di kening Viana. Nara melakukannya berulang kali. Panas Viana tetap tidak menurun. Tak beberapa lama dari itu, suara sirine ambulan terdengar. Segera Nara meminta bantuan dan membawa Viana ke dalam ambulan membawanya kerumah sakit.


Setelah sampai di rumah sakit, Nara menunggu Viana yang sedang di tangani oleh dokter. Nara terlihat cemas, lalu ia menelpon salah satu temannya di kampus untuk meminta ijin bahwa dirinya dan Viana tidak masuk hari ini karna alasan Viana sedang di rawat di rumah sakit.


"Dok, bagaimana keadaan sahabat saya?" Tanya Nara ketika dokter itu keluar dari ruang rawat Viana.


"Sahabat anda mengalami tipes. Dan dia juga terlihat banyak sekali tekanan. Daya tahan tubuhnya begitu lemah, jadi dia harus beristirahat dan jangan sampai ia terlalu banyak pikiran. Dan satu lagi, tubuhnya juga tidak ada asupan apapun. Tetapi tenang saja, saya sudah memberikan vitamin di infusan nya." Jelas dokter itu.


"Baiklah dok, Terimakasih." Dokter itu pergi, Nara pun masuk kedalam ruang rawat Viana.


Nara menempelkan telapak tangannya di kening Viana. "Syukurlah panasnya sudah turun." Nara menghela nafas lega. Lalu ia duduk di samping ranjang Viana.


......


Sementara Ansel, ia sudah ada didalam ruang kelasnya. Ia menunggu kedatangan Viana dan Nara. Sampai bel masuk pun berbunyi, Ansel masih tetap menunggu kedatangan Nara dan Viana.

__ADS_1


"Kemana mereka berdua?" Lirihnya bingung.


Semua nya pun sibuk dengan sidang skripsi. Dan kini giliran Ansel sidang. Pikirannya masih tertuju pada kedua sahabat itu. Mengapa mereka tak datang hari ini? Begitulah yang di benak nya saat ini. Sampai-sampai Ansel tak fokus dengan sidangnya.


"ANSEL ABRYAN WIHAMA! Kenapa kamu bengong?! Fokuslah pada sidang mu ini!" Bentak seorang dosen bimbingan Ansel.


"Maaf pak, saya undur sidang nya besok. Saya kurang sehat, permisi." Ucap Ansel. Dan ia beranjak pergi.


"Dasar tak sopan!" Gerutu dosen bimbingan itu melihat kepergian Ansel.


Ansel menyusuri lorong kampus, bahkan ia sampai menyusuri kantin dan Ansel tak menemukannya. Ansel pun akhirnya menanyai ke beberapa teman Nara dan Viana. Ada salah satu teman kelas mereka yang mengetahui keberadaan Nara dan Viana.


"Tadi Nara sempet telpon gue. Katanya sih, dia hari ini ijin gak masuk karna Viana lagi dirawat di rumah sakit." Ucap seseorang itu yang sempat di kabari Nara lewat telpon.


"Apa? Viana dirawat di rumah sakit?!" Ansel terkejut mendengarnya.


"Dirumah sakit mana Viana dirawat?" Tanya Ansel kembali.


"Di rumah sakit xxx." Tak ada ucapan terimakasih, Ansel pergi begitu saja dan melajukan mobil nya ke rumah sakit yang ditujukan oleh salah seorang teman sekelas nya.


Setibanya Ansel di rumah sakit, ia langsung menanyakan nama Viana di resepsionis rumah sakit. Resepsionis itu pun menunjukan kamar rawat yang di tempati oleh Viana. Ansel berlari menuju ruang rawat Viana. Setelah sampai di depan ruang rawat Viana, Ansel langsung membukanya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Viana?" Ansel menghampiri Viana yang terbaring di kasur. Ia juga melihat Nara yang tengah duduk di samping ranjang Viana.


"Ansel?" Ucap Viana yang sudah sadar.


"Vi, lo kenapa? Apa yang terjadi?" Tanya Ansel.


"Gue gak kenapa-napa, gue cuman tipes doang kok." Jelas Viana sembari tersenyum.


"Ya ampun Vi... Lo ada-ada aja." Ansel memijat pelipisnya. Niat awal Ansel yang hendak memutuskan Viana hari ini juga, tidak jadi karna melihat kondisi Viana.


Ansel menatap Nara di sebelahnya. Ia heran melihat penampilan Nara yang begitu berantakan. Bagaimana tidak berantakan? Nara tak sempat merapihkan diri karna ia telat bangun dan ia juga sangat panik melihat kondisi Viana yang di temuinya di kamar.


"Kenapa lo liatin gue gitu?!" Heran Nara.


"Kenapa tampilan lo berantakan begitu? Dan ini rambut lo juga kayak belum di sisir." Ansel memegang rambut Nara lalu langsung di tepis oleh Nara.


"Gak usah pegang-pegang juga kali!" Kesal Nara.


"Vi, gue tinggal dulu ya... Gue mau ngerapihin tampilan gue dulu." Ucap Nara lalu melenggang pergi.


Ansel terus menatap Nara dari belakang, ia tersenyum melihat tampilannya.


"Masih terlihat cantik." Lirih Ansel dengan senyuman nya itu. Ansel tak menyadari ucapannya itu akan terdengar oleh Viana.


"Ansel memuji Nara? Dan kenapa tatapan nya terhadap Nara begitu menyakiti hatiku? apa Ansel menyukai Nara? Ah!! rasanya tak mungkin!" Batin Viana menahan rasa sesaknya di dada. Viana terus berfikir positif pada Ansel dan juga Nara.


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2