
#Happy Reading's🌻
.
.
.
Malam harinya, Nara dan Viana beristirahat dikamar mereka masing-masing. Keduanya begitu terlelap dan terlihat lelah. Ketika jam menunjukan pukul 21:00 malam, handphone Nara berdering.
Drttt... Drrtt... Drrtt...
Nara pun mengangkat telpon tersebut yang tertera nama Bayu.
"Halo... " Nara berbicara dengan nada malas.
"Halo Nara... Selamat malam. Maaf, ganggu ya?" Ucap Bayu disebrang telpon.
"Nggak juga, ada apa?"
"Eumm... Gu~gue mau ajak lo ke kampus bareng besok. Lo mau kan Nar?" Tawar Bayu dengan keraguan.
"Gimana ya... Oke deh kalo gitu."
"Beneran Nar? Lo mau gue ajak ke kampus bareng besok?" Semangat Bayu ketika mendengar Nara menyetujui jika dirinya mengajak Nara berangkat bersama ke kampus.
"Iya... Bawel banget sih lo! Yaudah, gue tutup telponnya... Bye." Nara langsung mematikan sambungan telponnya secara sepihak.
Bayu bersorak ria di dalam kamarnya. Ia sangat senang Nara bisa menyetujui ajakannya.
NARA POV;
Saat ini aku bingung dengan perasaanku terhadap Bayu. Aku ingin sekali menolak ajakannya, tetapi aku merasa tidak enak hati untuk menolaknya. Aku tau Bayu mencintaiku, tetapi aku tidak mencintainya. Kalian tahu kan kenapa aku selalu menolaknya? Ya, karna kejadian waktu itu. Aku sangat menjauhi hal cinta, aku membenci kata itu! Sangat benci.
Tetapi, kini aku akan berusaha memulainya dari awal. Aku akan berusaha melupakan kejadian itu. Bagaimana pun, aku juga ingin memiliki pasangan yang saling mencintai. Aku mulai membuka hatiku untuk Bayu, hanya mencoba saja. Jika hatiku tetap tidak merespos perasaannya, aku akan menjauhinya.
Aku tidak ingin menyakiti Bayu yang jelas sekali aku melihat cinta yang begitu tulus terhadapku. Tetapi tetap saja aku merasa takut. Takut di campakan untuk kedua kalinya. Aku menghela panjang untuk menetralisirkan pikiran dan hatiku. Aku pun kembali tidur.
.
.
.
.
Pagi hari pun tiba, aku bangun untuk bersiap-siap berangkat ke kampus. Aku menyelesaikan ritual pagi ku, begitu pun juga dengan Viana. Kami berdua memiliki jadwal tugas setiap harinya, seperti hari senin sampai hari rabu aku menyiapkan makanan dan Viana membersihkan rumah. Hari kamis sampai hari sabtu Viana yang menyiapkan makanan dan aku yang membersihkan rumah. Dan di hari minggu, kami berdua akan mengerjakan rumah secara bersamaan.
Ketika kami berdua ingin berangkat ke kampus, tiba-tiba saja sebuah motor menghampiri kami. Oh tidak, aku melupakan sesuatu! Aku lupa jika hari ini Bayu akan menjemputku.
"Selamat pagi Nara, Viana..." Sapa Bayu sembari membuka helmnya itu.
"Pagi juga Bayu..." Sapa kami berdua.
__ADS_1
"Ayo Nar..." Ajak Bayu.
"Eh tapi Viana gimana?" Ucapku.
"Udah sono... Tenang aja, gue bisa bawa motor lo sendiri kok." Ucap Viana yang sedikit menggodaku.
"Baiklah... Gue duluan ya." Ujarku dan dibalas anggukan oleh Viana.
Aku pun pergi bersama Bayu ke kampus. Disaat kami sampai dikampus, semua orang mengalihkan pandangan mereka kearah aku dan Bayu. Aku sangat risih di perhatikan seperti itu. Ya, bagaimana tidak? Aku berangkat bersama seorang most wanted kampus ini.
Bayu begitu terkenal di kampus ini, tidak hanya tampan Bayu juga termasuk mahasiswa yang cerdas sehingga ia masuk dengan beasiswa. Sungguh, aku juga begitu beruntung Bayu mencintaiku. Tapi apalah dayaku, hatiku bertolak belakang dengan diriku. Akupun diantar Bayu sampai ruang kelas.
"Eumm Terimakasih..." Ucapku yang sedikit malu karna semua orang yang berada di kelasku memperhatikan kami berdua. Ah, ingin sekali pergi dari sini! Aku tak suka jika semua orang memperhatikan ku seperti itu. Aku sangat-sangat canggung dan risih.
"Sama-sama... Gue juga makasih sama lo."
"Makasih?" Aku mengulang perkataan Bayu.
"Iya, gue makasih sama lo karna lo udah kasih kesempatan buat gue ngejar cinta lo." Ucap Bayu dengan lantang. Semua orang yang berada di kelasku menyuraki kami. Aku sangat malu sekali! Mungkin, kini muka ku terlihat memerah karna menahan malu.
"Ah itu..." Aku tersenyum dengan canggung.
"Yasudah, gue ke kelas dulu ya. Oh ya, lo mau gak nanti ke kantin bareng sama gue?" Tanya Bayu.
"Oke." Aku mengangguk mengiyakan.
"Bye..." Sebelum pergi, tiba-tiba Bayu mengelus rambutku. Aku tersentak kaget, semua orang kembali menyuraki ku. Oh tidak! Aku ingin sekali menengelamkan wajahku yang terasa panas ini.
"Apaan sih, dateng-dateng!"
"Lo udah jadian ya sama Bayu?" Ucap Viana spontan.
"Sembarangan... Enggak lah!" Elakku sembari menghampiri mejaku dan duduk.
"Udah ngaku aja..." Viana menaikan kedua alisnya menyusulku.
"Beneran, gue gak ada apa-apa sama Bayu. Gue cuman berusaha ngehargain perasaan Bayu doang kok."
"Ah masa sih... Terus lo udah balas cintanya Bayu?"
"Kalo saat ini belum."
"Ah... Mending lo terima aja, nanti keburu diambil orang loh..."
"Silahkan aja..." Jawabku acuh.
"Terima aja... Padahal Bayu ganteng, murah senyum, terus pinter lagi. Cocok tuh sama lo yang cantik, pinter, tapi nyebelin! Hahaha..."
"Viana! Lo lagi muji gue atau hina gue sih!" Gerutuku.
"Keduanya! Hahaha...."
"Haish... Walaupun dia tampan ataupun pinter, kalo masalah hati gak bisa dipaksain! Gue sekarang ini belum bisa buka hati gue sama Bayu. Dan gue juga masih terbayang-bayang kejadian sialan itu." Ucap yang mulai kesal.
__ADS_1
"Iya-iya... Gue ngerti kok perasaan lo gimana. Jadi, lo harus belajar buka hati lo untuk Bayu. Dan tutup rapat-rapat hati lo yang dulu."
"Iya, gue juga akan berusaha belajar kok."
Ketika kami sedang berbincang-bincang, tiba-tiba saja Ansel mendekati kami.
"Hai Nara, Hai Viana..." Sapanya yang baru saja datang.
"Hai..." Jawab sapa Viana, dan aku hanya memutarkan mataku karna malas melihatnya.
"Hei Nara... Kenapa lo gak jawab sapaan gue?" Tanya Ansel.
"Gak penting!" Singkat ku. Lalu aku mengeluarkan buku novel favorite ku didalam tas.
"Ck... Eh ya Vi, gue mau ngomong sama lo." Ujar Ansel pada Viana yang terlihat serius.
"Ngomong apa?" Tanya Viana.
"Gue mau ngajak lo dinner malam ini." Mendengar hal itu, aku dan Viana terkejut.
"Di~dinner? Malam ini?" Tanya Viana meyakinkan.
"Iya, lo mau kan?"
"Lo ngajak gue doang?" Tanya Viana kembali.
"Ck... Gue males ngajak sahabat lo yang satu ini! Bukannya romantis, malah horor lagi kalo dia ngikut." Kesal Ansel.
BRUK
Aku dengan kesal memukul meja dengan keras. Ya, aku sangat kesal dengan ucapan Ansel. Bagaimana bisa dia mengejekku di depan umum. Huh! Sangat menyebalkan.
"Eh, lo kenapa mukul meja!?Lo cemburu ya kalo gue lebih milih Viana." Seringai Ansel.
"Cemburu sama cobul gila bin konslet kayak lo? Hello... Gue harus mikir beribu-ribu kali nerima ajakan lo! Dan gue gak sudi di ajak dinner macam buaya buntung kayak lo!" Kesal ku.
"Lo bilang apa tadi!? Lo bilang gue buaya buntung!? Terus kalo gue buaya buntung, lo komodo buntung gitu?" Ansel juga terlihat kesal, dan ia berdiri dihadapan ku. Dan kami pun saling menatap dengan tajam.
"Cukup-cukup... Kalian apa-apaan sih! Kayak anak kecil tau gak!" Viana juga ikut kesal.
"Huft... Percuma gue ribut sama buaya buntung kayak lo!" Aku pun kembali duduk dan mengambil headset ku didalam tas.
"Dasar komodo buntung!" Ansel juga terlihat sangat kesal. Tetapi aku tak begitu mendengar gerutuannya, karna aku membesarkan volume musik di headset ku.
Tak lama kemudian, bel masuk pun berbunyi.
.
.
.
TBC
__ADS_1