
#Happy Reading's🌻
.
.
.
Nara menutup pintu kamarnya dengan keras. Ia memegang dadanya yang berdegub sangat kencang.
"Itu benar-benar gila!" Lirih Nara yang masih memegang dadanya. Ia pun melangkah menuju kasur dan membaringkan tubuhnya.
Nara memejamkan matanya, tetapi otak nya terus saja memikirkan sosok Ansel. Ia pun kembali membuka matanya menatap langit-langit kamar.
"Plis Nara! Jangan pikirin cobul gila itu!" Ucapnya pada diri sendiri dan menutup wajahnya dengan bantal.
"Huft..." Perlahan Nara tertidur.
Esok harinya, Nara sudah berkutat di dapur. Ia ingin membawakan makanan untuk kedua orang tuanya yang masih di rumah sakit. Ansel terlihat sudah rapih dengan pakaiannya yang ia gunakan semalam. Karna ia tak membawa baju ganti, mau tak mau ia memakainya kembali. Ia menghampiri dapur melihat Nara yang sibuk memasak.
"Buat sarapan ya?" Ucap Ansel tepat di belakang Nara membuat Nara tersentak kaget.
"Astaga! Ngagetin aja!" Sentak Nara. Ia terlihat gugup dan malu ketika mengingat kejadian sewaktu dini hari.
"Suhu nya sangat panas ya? Atau kamu sakit? Kok muka kamu sangat merah." Ucap Ansel melihat ke arah wajah Nara bahkan ia menempelkan telapak tangannya di dahi Nara.
"A~apaan sih!" Nara semakin gugup. Ia menepis tangan Ansel di dahinya.
"Kamu sakit?" Ucap Ansel kembali.
"Nggak!"
"Tapi mukamu..."
"Sstt diem! Muka ku merah begini karna di depan muka ku ada wajan panas." Jelas Nara mengelak. Padahal muka memerah karna merasa malu dan gugup.
"Benarkah? Mmm... Masuk akal juga." Ansel mengangguk-anggukan kepalanya, lalu ia duduk di kursi makan memperhatikan gerak-gerik Nara yang lihai dalam memasak.
Nara yang merasa dirinya terus ditatap, menjadi salah tingkah. Ia menaruh beberapa sayuran yang telah ia masak kedalam kotak makan. Ketika ia sedang fokus, tiba-tiba ia merasakan kakinya terasa ada yang menggerayang. Nara melihat kearah kakinya.
"AAHKK!!" Nara terjingkrak kaget melihat kecoa merayapi kakinya.
"Ansel tolong! Ahh..." Nara menghentak-hentakkan kakinya dan menghampiri Ansel.
"Nara ada apa?" Ansel langsung bangkit dari duduknya.
"Kecoa Ansel!!" Histeris Nara.
__ADS_1
"Apa? Kecoa?!" Ansel pun sama terkejutnya dengan Nara.
"Sial! Aku sangat takut dengan hewan menjijikan itu!" Ansel spontan langsung loncat ke atas meja makan. Nara pun begitu, ia loncat dan naik keatas meja.
"Ansel! Cepet buang kecoa nya!" Nara menarik-narik lengan Ansel yang terlihat takut juga.
"Aku juga takut Nara!" Lirih Ansel.
"Apa? Kamu juga takut?! Astaga!!" Nara menupuk kening nya.
"Terus bagaimana ini?!"
"Ahk! Nara kecoa nya naik ke atas meja!" Teriak Ansel yang tak kalah histerisnya.
"Ahh... Ansel usir!! Ansel!" Nara memeluk tubuh Ansel. Melihat kecoa semakin menghampiri mereka berdua, Ansel semakin memundurkan langkahnya dengan Nara di pelukannya.
"Huss... Huss..." Usir Ansel dengan mengibaskan sebelah tangannya mengusir kecoa.
Ansel terus saja memundurkan langkahnya tak terasa ia sudah di ujung meja. Nara melihat itu.
"Awas Ansel!" Nara mencoba menahan tubuhnya dan Ansel yang ingin terjatuh dari meja tapi usahanya sia-sia.
BRUK
Keduanya benar-benar terjatuh dengan posisi Nara di atas tubuh Ansel. Tidak hanya itu saja, bibir keduanya pun tanpa sengaja menempel satu sama lain. Nara memejamkan matanya tetapi tidak dengan Ansel.
Nara membuka matanya merasakan hal aneh dan ketika ia membuka matanya, ia sangat terkejut melihat posisinya dan bibirnya. Beberapa detik mereka saling menatap tanpa melepas penyatuan bibir mereka. Setelah itu Nara tersadar dan melepaskan bibirnya dari bibir Ansel.
Tapi Ansel malah menarik tengkuknya dan kembali mencium bibir Nara. Ia memejamkan matanya merasakan rasa manisnya bibir Nara. Lambat laun, Nara pun terbuai ia memejamkan matanya juga menikmati ciuman yang di berikan Ansel.
"Apa yang kalian lakukan?!" Sebuah teriakkan menyadarkan keduanya.
"Ansel, Nara, apa yang kalian lakukan hah?!" Teriak Dani dan Ranty.
Ansel dan Nara pun langsung bangun dan berdiri.
"Mah, yah... Ini tidak seperti yang kalian bayangkan. Kita tadi hanya terjatuh karna kecoa dan tidak sengaja berciuman." Jelas Nara.
"Benar apa yang dikatakan Nara om, tante... Kita tadi tidak sengaja." Timpal Ansel.
"Apapun alasan kalian, kamu harus bertanggung jawab Ansel. Tindakan tadi sangat tidak terpuji walau kalian melakukannya tidak sengaja." Tutur Dani.
"Tanggung jawab? Tanggung jawab seperti apa om? Saya pasti akan bertanggung jawab." Ujar Ansel.
"Ayah... Itukan tadi tidak sengaja, kenapa harus tanggung jawab segala." Protes Nara.
"Itu sangat penting Nara... Kalau kalian tadi tidak sengaja, kenapa kalian terlihat begitu menikmatinya?" Ucap Ranty menimpali.
__ADS_1
SKAK MAT!
Mereka terdiam. Benar kata Ranty, mereka tadi sempat menikmati ciuman mereka berdua. Ranty dan Dani pun menyaksikan itu.
"I~itu..." Nara merutuki dirinya sendiri. Kenapa dia harus terbuai dengan ciuman Ansel.
"Pokoknya kamu nak Ansel harus bertanggung jawab pada anak saya! Kalian berdua harus menikah!" Ucap Dani dengan lantang membuat Ansel dan Nara terkejut setengah mati.
"APA?!" Teriak keduanya dengan serentak.
"Kami tidak mau tau, kalian harus menikah secepatnya! Ayo sayang..." Ucap Dani merangkul istrinya kedalam kamar.
"Tapi ayah... Nara tidak mau! Ayah! Ayah!" Panggil Nara berteriak memanggil ayahnya tetapi di hiraukan oleh Dani.
"Ansel, kamu harus menolak perkataan ayah tadi." Ucap Nara dengan tegas pada Ansel.
"Aku tidak bisa! Benar kata ayahmu, aku harus menikahi mu." Jawab Ansel lantang.
"Ini kan hanya ciuman saja Ansel! Bukan bersetubuh!"
"Ini keputusan ayahmu, aku tidak bisa menolaknya." Setelah berkata seperti itu, Ansel pun pergi dari dapur.
"Ah! Sial! Bagaimana ini?!" Teriak Nara kesal.
Ansel melangkah kearah luar. Ia tersenyum penuh makna.
"Aku tidak akan menolak permintaan ayah mu. Ini kesempatan ku untuk memiliki mu seutuhnya Nara. Ini semua berkat kecoa... Terimakasih kecoa." Batin Ansel sumringah bahagia.
Di dalam kamar, Dani dan Ranty tersenyum bahagia. Keduanya mengetos tangannya.
"Gak sia-sia kita pulang." Senyum bahagia Ranty.
"Iya, untung saja Mario menyuruh kita berdua pulang dulu."
Di rumah sakit, Mario meminta kedua orang tuanya pulang untuk berganti pakaian dan beristirahat. Awalnya Ranty dan Dani menolak tawaran anaknya karna merasa khawatir jika Mario di tinggal sendiri begitu saja. Tapi Mario meyakinkan mereka berdua, dan akhirnya Ranty dan Dani menyetujui itu.
Mario di jaga oleh perawat. Untuk kedua orang tua Ansel, mereka sudah pulang sewaktu subuh di jemput oleh supir keluarganya. Ranty dan Dani sebenarnya datang kerumah waktu Nara dan Ansel sedang berciuman. Awalnya Ranty ingin memergoki mereka, tapi Dani mencegahnya. Ia memiliki sebuah rencana di benaknya.
.
.
.
TBC
Mohon maaf ya jika ketikan author banyak yang typo🙏
__ADS_1