
🌻Happy Reading's
.
.
.
.
"Dan, apa itu foto putri mu?" Tanya Abraham ketika melihat sebuah foto keluarga di pajang di dinding ruang tamu.
Dani menoleh melihat apa yang dilihat Abraham. " Iya, itu foto putriku." Jawab Dani dengan segurat senyuman.
"Putri kalian sangat cantik." Timpal Riana yang ikut melihat foto keluarga Dani dan Ranty.
"Tentu saja cantik, ayah dan mamah nya aja cantik dan ganteng gini." Canda Dani. Abraham dan Riani tertawa mendengarnya serta membenarkan ucapan Dani. Ya memang, Dani dan Ranty pasangan yang sempurna dengan fisik mereka yang tampan dan cantik walaupun umur mereka sudah tak muda lagi.
"Ya aku percaya itu..." Ucap Abraham.
"Oh ya, katanya kalian punya seorang putra? Kenapa tidak di ajak kemari?" Tanya Ranty.
Riani pun menjawab pertanyaan Ranty dengan senyuman lalu berkata " Putra kami juga sedang mengurus pendidikannya di ibu kota. Dia sedang sibuk dengan skripsi nya karna sudah masuk semester akhir."
"Wah kebetulan putriku juga sudah semester akhir dan kini sedang sibuk dengan berbagai hal." Antusias Ranty.
"Emm apa kita jodohkan saja mereka ya? Itung-itung untuk mengeratkan persahabatan kita." Ucap Abraham secara tiba-tiba. Dan sontak saja Dani, Ranty bahkan Riani terkejut mendengar ucapan Abraham.
Riani yang melihat Dani dan Ranty hanya terbengong saja, langsung menepuk lengan suaminya untuk menenangkan suasana. Abraham pun kembali mencairkan suasana.
"Ekhem, jangan dibawa serius. Aku hanya bercanda saja, hahaha" Tawanya garing.
"Itu ide yang bagus." Ujar Dani yang menganggap perkataan Abraham serius.
Abraham tersenyum mendengarnya, tetapi tidak dengan Riani. Riani mengingat bahwa anaknya sudah memiliki pacar, bahkan pacarnya juga anak dari sahabat nya dan Abraham. Riani dengan sengaja menyenggol lengan Abraham dan mengingatkan dengan kode matanya pada Abraham bahwa anaknya sudah memiliki pacar.
__ADS_1
Tapi Abraham terlihat bingung melihat Riani yang memberikan kode. "Sayang, mata kamu kenapa? Kok kedip-kedip gitu. Kelilipan ya?" Tanya Abraham dengan polosnya.
PLAK
Dengan gemas Riani kembali memukul Abraham. "Kamu lupa ya, kalo anakmu itu sudah mempunyai pacar?" Kesal Riani.
"Itu juga anakmu, bagaimana sih." Ucap Abraham.
"Jadi putramu sudah memiliki pasangan rupanya. Tadinya aku sangat menyetujui ucapanmu untuk menjodohkan anak kita. Karna putriku itu sangat tertutup terhadap laki-laki, dan tak pernah memiliki pacar sampai saat ini." Sela Dani dan ia tak tahu bahwa Nara pernah memiliki pacar saat masih duduk di sekolah menengah.
Abraham dan Riani tersenyum kecut. "Ya menurutku tidak apa-apa mereka di jodohkan walaupun putraku itu sudah memiliki pacar. Dan asal kau tau saja, putraku sangat playboy dan dia sangat suka mengonta-ganti pacar. Aku tak yakin sekarang, jika anak mu di jodohkan dengan putraku yang brengs*k." Ucap Abraham mengingat putranya.
"Kau ini!! brengs*k-brengs*k juga itu anakmu bod*h!" Kesal Riani yang tak terima anak semata wayangnya dikatai brengs*k oleh suaminya sendiri. Ya walaupun Riani mengakui bahwa anaknya sangat brengs*k, tetapi ia tak akan terima jika anaknya di jelekan oleh siapapun bahkan suaminya sendiri.
Abraham mendengus kesal dengan perkataan Riani. Tetapi apa boleh buat, istrinya itu sangat menyayangi putra semata wayangnya. "Ya baiklah-baiklah, dia putraku juga." Abraham mengalah.
Dani dan Ranty hanya bisa diam melihat sepasang suami-istri yang selalu terlihat ribut saja sedari tadi. "Jadi bagaimana?" Tanya Dani spontan.
"Akan aku pikirkan itu. Tapi tenang saja, aku akan pastikan bahwa kita akan berbesanan." Timpal Abraham dengan yakin.
"Baiklah aku tunggu keputusan mu." Dani sangat antusias jika putri satu-satunya itu akan di jodohkan dengan putra sahabatnya. Tetapi Dani juga tak yakin jika putrinya yang sebelas duabelas sama dengan sifatnya itu akan menerima perjodohan. Tetapi Dani akan meyakinkan putrinya.
"Sayang, mamah sedikit tidak setuju kalo kamu jodohkan putri kita dengan putra Abraham itu." Ucap Ranty. Sejujurnya ia ingin sekali berkata seperti ini tadi, tetapi ia tahan karna merasa tak enak hati pada Abraham dan Riani.
"Kenapa? Apa karna putranya playboy yang sering sekali ganti-ganti pasangan?" Tanya Dani menebak isi pikiran istrinya itu.
"Itu point utamanya. Dan point keduanya, kalo putra mereka sudah memiliki kekasih."
"Kan masih menjadi kekasih, belum menjadi seorang istri. Tak apa-apa jika putranya itu sudah memiliki kekasih. Toh mereka belum tentu jodoh." Jelas Dani.
"Iya sih, tapi..."
"Sudahlah jangan dipikirkan lagi."
Ketika Dani dan Ranty sedang berbincang, tiba-tiba saja Mario datang.
__ADS_1
"Mamah, ayah..." Mario menyalami tangan kedua orang tuanya.
"Kamu sudah pulang... Ayo ganti baju dulu, mamah akan siapkan makan malam."
........
Saling diam tanpa bertegur sapa, itulah yang dilakukan Nara dan Viana saat ini. Sejak kejadian tadi, mereka hanya saling diam saja dan sibuk dengan dunianya masing-masing. Nara sedang memeriksa skripsinya, sedangkan Viana sedang berkutat di handphone nya.
Beberapa saat mereka saling diam, Viana bangkit dari duduknya dan terlihat sedang bersiap-siap entah mau kemana. Itu semua tak luput dari pandangan Nara, ia melihat Viana sudah berpakaian rapih plus dengan make up nya. Dan tak lama setelah itu, sebuah ketukan pintu terdengar.
Tok... Tok... Tok
"Ya tunggu..." Viana membuka pintunya. Ternyata Ansel lah yang mengetuk pintu tadi. Nara yang sedang duduk diatas sofa dan tak jauh dari pintu luar itu melihat Ansel dan Viana secara bergantian. Nara sangat kesal saat Ansel melihatnya dengan tatapan licik. Nara pun tak ingin kalah dari Ansel ia menatap balik Ansel dengan tajam, dan tibalah sebuah ide yang terlintas di benak Nara yang cemerlang.
"A... Aduh... Aduh sakit!!" Teriak Nara.
Viana yang tadinya sempat membelakangi Nara, kini menatap Nara dengan ekspresi yang terkejut. " Lo kenapa?" Tanya Viana mengerutkan kedua alisnya melihat Nara menggaduh kesakitan.
"Cih, trik macam apa itu!" Batin Ansel meremehkan Nara.
"Vi... To... Tolong gue!! Perut gue tiba-tiba sakit!!" Nara merintih kesakitan.
Viana pun menghampiri Nara, begitu juga Ansel ia ingin tahu lebih lanjut trik dari Nara.
"Sakit kenapa?" Khawatir Viana tanpa curiga bahwa itu hanyalah trik Nara.
"Maag gue kambuh Vi... Gue lupa makan tadi!! Aduh sakit... Tolong lo disini aja Vi, perut gue sakit banget nih."
"Aktingnya sangat hebat! Heh!" Smrik Ansel di dalam hati.
"Yaudah-yaudah, gue tetep disini. Bentar gue ambil lo obat dulu..." Viana tanpa basa-basi langsung pergi mengambil obat Nara di kamar Nara.
Sepeninggalan Viana, Nara dan Ansel saling menatap dengan tajam.
"Trik lo murahan!" Ucap Ansel dengan ketus dan meledek.
__ADS_1
"Murahan? lebih murahan lagi kalo Viana ikut sama lo!!" Bisik Nara dengan penuh penekanan. Ansel mengepalkan kedua tangannya karna tak terima dengan ucapan Nara yang berani menghinannya.
"Lo...." Baru saja Ansel ingin melangkah mendekati Nara seakan ingin mencabik dan menguliti Nara, terhenti oleh kedatangan Viana dengan membawa obat ditangannya.