Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 26


__ADS_3

#Happy Reading's🌻


.


.


.


.


"Aahhh!! Jangan tante... Aku takut!! Hiks... Hiks... Jangan tante!!" Nara berteriak histeris. Keringat dingin memenuhi keningnya, dan tubuhnya semakin gemetar.


Di satu sisi, Ansel terus menyusuri lorong dan ruangan-ruangan rumah hantu.


"Nara!! Lo dimana Ra!" Teriak Ansel. Ia pun berhenti sejenak di depan ruangan di ujung lorong.


"Nara, lo dimana sih! Jangan buat gue khawatir gini!" Tiba-tiba saja ia mendengar suara rintihan dan tangisan seseorang. Karna penasaran, ia pun memasuki ruangan itu.


"To~tolong... Hiks."


"NARA!!" Ansel melihat Nara di dekat meja, meringkuk seorang diri. Mendengar namanya di panggil, Nara pun menoleh kearah Ansel.


"Ansel?" Lirih pelan Nara yang tak kuat menahan takutnya dan...


BRUK


Nara pingsan, Ansel pun berlari menghampiri Nara. "Nara!! Ra... Sadar Ra! lo harus bertahan, gue ada disini. Lo jangan takut ya..." Ucap Ansel memeluk Nara dan langsung membopong nya dengan ala bridal style. Ia teegopoh-gopoh dan terlihat sangat cemas.


"Nara... Lo harus kuat! Gue gak akan ngijinin lo kenapa-napa! Nara sadarlah!!" Teriak Ansel disela-sela ia menggendong Nara.


Viana sudah berada di luar. Sesegera mungkin ia mencari bantuan. Ia langsung menemui penjual tiket didepan rumah hantu itu. Dan penjual tiket itu pun menelpon manajernya mengabari kejadian yang diceritakan Viana.


Semuanya tampak ricuh ketika melihat Ansel keluar dari rumah hantu itu dengan membawa Nara di gendongannya.


"NARA?!" Viana berlari menghampiri Ansel yang menggendong Nara.


"Ans, Nara..." Panggil Viana dihadapan Ansel.

__ADS_1


"Minggirlah Viana!! Dan segera panggilkan ambulan!!" Ansel menaikan nada bicaranya pada Viana, dan itu membuatnya terkejut. Ia melihat Ansel begitu sangat khawatir pada Nara. Viana terdiam sesaat dan dikejutkan kembali oleh teriakan Ansel.


"Viana! Kamu tak dengar ucapanku barusan?! Cepat panggilkan ambulan!" Geram Ansel yang tak sabaran. Ia sangat kesal dengan tingkah Viana, di situasi begitu genting ini Viana malah bengong.


"Ah... Ba~baiklah!" Viana merogoh handphone nya dan memanggil ambulan.


"Nara... Sadarlah!!" Ansel semakin khawatir ketika Nara mengerutkan alisnya dan mengeluarkan keringat dingin.


Viana semakin heran dengan tingkah Ansel. Yang ia lihat selama ini, Ansel begitu membenci Nara begitupun sebaliknya. Hatinya sedikit sesak karna cemburu melihat Ansel begitu mengkhawatirkan Nara.


"Huft..." Viana menghembuskan nafas kasarnya, membuang pikiran kotornya. Ia pun mendekati Nara dan merogoh tasnya mengambil minyak angin dan memberikan nya pada hidung Nara sebagai pertolongan pertama.


"Apa yang kau lakukan Viana?" Heran Ansel.


"Aku hanya mengoleskan minyak angin ini pada hidung Nara sebagai pertolongan pertama." Viana mengerutkan kedua alisnya.


"Tapi kenapa Nara semakin mengerutkan alisnya dan keringatnya semakin banyak?!" Omel Ansel.


"Kenapa kamu mengkhawatirkan Nara segitunya?" Viana tak menghiraukan pertanyaan Ansel. Ia malah menanyakan pertanyaan lain.


"Kau ini kenapa hah?! Aku cuman memberikan pertolongan pertama saja! Kenapa sikap mu aneh seperti ini?!" Viana sedikit mengencangkan suaranya.


Ansel menoleh pada Viana. Ia tersadar dengan ucapannya. "A~aku..." Ansel tak mampu menjawabnya. Ia juga bingung kenapa ia begitu mengkhawatirkan Nara. Padahal ia begitu kesal setiap melihatnya.


"Ada apa dengan diriku?" Batin Ansel bingung.


Ninuninuninu....


Suara ambulan terdengar nyaring di keramaian pasar malam. Semuanya terlihat berkemurun melihat kejadian di depan rumah hantu. Ansel pun langsung menggendong Nara dan membawanya kedalam ambulan.


"Vi, lo temani Nara. Gue akan nyusul nanti..." Ansel meninggalkan Viana dan Nara. Ia menemui manajer pasar malam itu yang sudah berada di sana.


"Ada apa denganmu Ans?" Gumam Viana melihat punggung Ansel.


Wajah Ansel terlihat dingin. Matanya menatap kearah manajer pasar malam itu dengan horor. Merasa ditatap, manajer itu pun melihat kearah Ansel. Ia merasakan sekujur tubuhnya merinding, suasana ini terasa berada di rumah hantu yang sesungguhnya. Sungguh seram sekali tatapan horor Ansel.


"Kau manajer pasar malam ini?" Tanya Ansel dengan dingin.

__ADS_1


"I~iya... Saya sendiri. Maafkan atas keteledoran saya tuan... Akibat keteledoran saya, kekasih anda menjadi tak sadarkan diri." Manajer itu menunduk meminta maaf pada Ansel. Sebenarnya, ini bukanlah kesalahan manajer itu. Ini adalah murni kecelakaan tak di sengaja.


Ansel mendengar Nara adalah kekasihnya, amarahnya sedikit meredam. Entah kenapa, hatinya sedikit tenang dan bahagia mendengar itu.


"Baiklah aku memaafkan mu. Asal kau tau saja, aku bisa saja melaporkan tempat mu ini kepada pihak berwajib. Tapi, untunglah aku masih berbaik hati." Ucap Ansel.


"Terimakasih tuan..." Manajer itu beberapa kali memberikan hormat terimakasih pada Ansel. Dan Ansel pun pergi dari tempat itu, dan melanjukan mobilnya ke rumah sakit.


.


.


.


.


Mansion keluarga Wihama.


Abraham dan Riani sedang berada di ruang keluarga. Kedua membicarakan tentang masalah kejadian di rumah Dani dan Ranty.


"Sayang... Kenapa kamu malah membicarakan perjodohan dengan Dani?!" Tanya Riani.


"Aku kan hanya asal berbicara saja tadi, dan aku tak menyangka Dani akan menganggapnya serius." Abraham menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Kau ini! Aku kan jadi tak enak pada mommy nya Elsa jika perjodohan itu terjadi." Ucap Riani.


"Kan lagian apa salahnya jika kita jodohkan Ansel dengan putrinya Dani. Malah aku lebih setuju dengan putrinya Dani dibandingkan putrinya Alex yang terlihat sangat manja itu."


"Kamu kan tak tau bagaimana sifat putrinya Dani. Bagaimana kamu bisa membandingkannya dengan Elsa? Ya, aku tau jika Elsa itu sangat manja tapi jika perjodohan itu terjadi mau ditaruh dimana muka mommy ini?!"


"Ya ditaruh di tempatnya lah... Masa di pantat sih! Ngaco deh mommy lama-lama." Balas ucapan Abraham.


PLAK


Riani memukul lengan suaminya dengan geram. "Aku juga tau itu bod*h! Ini hanya perumpamaan saja... Dasar!" Riani bangun dari duduknya, dan pergi menaiki tangga sambil menghentakan kakinya kesal.


"Apa aku salah bicara ya? Ah, rasanya tidak." Gumam Abraham mengingat-ingat ucapannya. Lalu ia pun menyusul Riani keatas.

__ADS_1


__ADS_2