Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 62


__ADS_3

#Happy Reading's🌻


.


.


.


Matahari sudah menyingsing di upuk timur. Gorden dan jendela terbuka oleh angin pagi yang menyejukkan. Sinar matahari menyoroti dua pasang manusia yang saling berpelukan layaknya suami istri.


Tony merasakan wajahnya di terpa oleh sinar matahari. Ia mengerjap-ngerjap kan kedua matanya. Sedikit demi sedikit kesadarannya mulai pulih walau kepalanya masih terasa pusing akibat semalam. Ketika kesadarannya sudah pulih sepenuhnya, ia terkejut oleh seseorang yang tengah memeluknya.


"Apa ini?!"


"Oh astaga!" Tony mendorong tubuh polos Viana. Karna dorongannya yang lumayan kuat, selimut yang ditubuh Viana tersingkap sampai perut. Tony melihatnya langsung memalingkan wajahnya terkejut.


"Ah! Apa yang aku lakukan semalam! Dan siapa wanita ini?!" Tony melihat sekilas kearah Viana yang wajahnya tertutupi rambut dan tubuhnya polos tanpa mengenakan sehelai benang pun.


Tony memalingkan wajahnya kembali melihat setengah tubuh polos Viana yang tak terbaluti selimut. Tony menjambak rambutnya sendiri, ia sangat frustasi dengan ini karna dirinya tak mengingat apapun kejadian semalam.


"Sial! Sial!" Frustasi Tony. Lalu ia bangkit dari tempat tidurnya, dan mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai.


Setelah itu, Tony segera bergegas keluar. Sebelum ia keluar, Tony memberikan cek uang dan menulis beberapa kata di cek tersebut. Viana pun terbangun dari tidurnya. Ia merasakan sakit diseluruh tubuhnya. Kejadian-kejadian semalam mulai berputar di kepalanya.


"Astaga! Apa yang aku lakukan semalam dengan Tony?!" Viana melihat tubuh yang polos nya dan langsung menyelimuti dirinya dengan selimut.


"Tony... Kemana dia?" Ucap Viana melihat kearah samping nya tetapi Tony sudah tidak ada.


"Kenapa aku harus terbuai! Aahhh!!!" Teriak Viana. Ia bangkit ingin menuju kamar mandi dengan menahan rasa sakitnya di bagian selangkangannya.


"Hiks... Aku telah kehilangan ini! Hiks... Bagaimana jika aku hamil?!" Viana menangis melihat bercak darah di seprai nya. Ia mengutuki dirinya sendiri, mengapa ia bisa tak menahan hasratnya.


Viana melangkah kearah kamar mandi membersihkan dirinya yang kotor. Setelah membersihkan tubuhnya, ia kembali kedalam kamar dengan memakai handuk kimono. Ia mengeringkan rambutnya seraya duduk di pinggir kasur. Ketika wajahnya memaling kearah meja kecil di pinggir kasur nya, ia melihat sebuah kertas yang lebih tepatnya sebuah cek.


"Sialan! Apa dia pikir aku ******?!" Viana meremas cek itu setelah melihat berapa nominal yang tertulis di cek itu. Dan tak lupa satu kalimat yang di tuliskan Tony di cek tersebut.


Terimakasih untuk semalam.


Begitulah tulisan kalimat yang tertulis di cek itu. Dan uang yang berjumlah 20 juta rupiah.


Viana melemparkan cek yang telah di remas oleh nya kesembarang arah.


"Tony brengsek!" Geram Viana.


Tony sudah berada di apartemen nya. Ia segera membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi. Ia terkejut melihat beberapa kissmark di dada dan perutnya yang sixpek.


"Benar-benar gila yang aku lakukan semalam!!" Tony menggeleng-gelengkan kepalanya lalu kembali membersihkan tubuhnya.


Setelah membersihkan tubuhnya dan berpakaian, Tony mendapatkan telpon dari Ansel.


"Iya halo?" Tony menjawab telpon dari Ansel.


"Cepet ke mansion gue, dad sama mom ngadain makan siang bersama." Ujar Ansel di balik telpon.


"Oke, gue kesana sekarang." Tony langsung mematikan sambungan telponnya.


Tony mengambil kunci mobilnya di atas laci. Untungnya semalam ia ke club membawa mobil Maxim.

__ADS_1


......................


Di satu sisi, Nara tengah membantu memasak di rumah calon mertuanya yang tak lain ia berada di mansion Ansel. Nara tidak bersama keluarganya, hanya ia seorang diri saja ke mansion Ansel.


"Kamu benar-benar menantu idaman! Kamu sangat pintar memasak." Puji Riani melihat kelihaian Nara dalam memasak.


"Alhamdulillah... Ini berkat mamah, tante. Mamah yang mengajarkan Nara memasak sewaktu Nara masih duduk di kelas 4 SD." Ucap Nara.


"Jangan panggil tante dong... Tinggal beberapa hari lagi kamu dan Ansel menikah. Jadi panggil aja mommy, seperti Ansel." Pinta Riani.


"Iya tan, eh mom maksudnya." Nara masih kaku dengan sebutan mommy pada Riani.


"Nah ini kan udah selesai semua... Nara mau buat kue untuk makan penutupnya. Bagaimana tan, eh mom?"


"Ide yang bagus! Bentar mommy panggilkan Ansel dulu."


"Untuk apa mommy panggilkan Ansel?" Tanya Nara bingung.


"Untuk bantu kamu lah sayang... Mommy tidak bisa bantu kamu bikin kue. Mommy mau arisan dulu bentar sama teman-teman mommy." Jelas Riani.


"Oh..." Nara mengangguk-anggukan kepalanya.


"Nah itu Ansel... Kebetulan sekali. Ansel, kamu bantu Nara membuat kue ya mommy mau pergi arisan dulu sebentar." Ucap Riani pada Ansel.


"Oke mom."


Setelah kepergian Riani, Ansel mulai membantu Nara membuat kue.


"Tuangkan tiga gelas tepung terigu ke wadah di atas meja." Pinta Nara pada Ansel. Ansel pun menuruti perintah Nara. Tiba-tiba saja Ansel memiliki ide jahil di benaknya.


"Nara, kemarilah." Ucap Ansel memanggil Nara yang sedang mencairkan mentega di wajan.


"Ada apa?" Tanya Nara yang sudah berada di depan Ansel.


"Lihatlah di dalam terigu itu. Aku melihat ada yang aneh." Ansel menunjuk tepung di dalam wadah yang telah ia tuangkan.


"Ada yang Aneh? Masa sih... Mana?" Nara mendekatkan wajahnya ke wadah yang berisi tepung dan melihat-lihat tepung itu.


"Disini loh..." Ansel pun mendekatkan wajahnya juga disamping Nara.


"Mana?" Dengan polosnya Nara terus saja memperhatikan tepung itu.


Fiuhh....


"Ah Ansel!"


Dengan isengnya, Ansel meniup keras tepung itu sampai mengenai wajah Nara.


"Hahaha..." Ansel terbahak-bahak melihat betapa konyolnya wajah Nara yang di penuhi terigu.


"Ansel!!" Nara menepuk-nepuk wajahnya membersihkan tepung di wajahnya.


"Hacim..." Nara bersin karna tepungnya mengenai hidungnya.


"Hahaha..." Ansel tak henti-hentinya tertawa sampai memegangi perutnya.


"Awas ya! Nih rasain!" Nara meraup tepung dan di lemparkannya ke wajah Ansel.

__ADS_1


"Hahaha... Rasain!" Nara tertawa karna lemparan tepungnya tepat mengenai wajah Ansel. Wajah keduanya tampak di penuhi tepung.


"Oh... Balas dendam ya ceritanya!"


Ansel kembali membalas Nara dengan melempar-lemparkan tepung kearah Nara. Nara tak mau kalah, ia mengambil tepung di plastik dan menyerang balik Ansel. Dan terjadilah saling kejar-kejaran dan saling serang-menyerang dari keduanya. Mereka terlihat seperti anak-anak.


"Hah... Hah... Ss... Stop! Aku capek." Keluh Ansel menempelkan punggungnya di pinggir meja makan.


"Capek ya? Oh liat keringat di dahi mu Ansel." Nara mendekatkan dirinya. Ia diam-diam mengepalkan terigu di tangannya. Perlahan Nara mengusap keringat Ansel dengan kepalan tangannya yang di penuhi terigu itu.


"Nara!" Ansel tersentak Nara melumuri wajahnya dengan tepung.


"Hahaha... Sangat mirip dengan ondel-ondel! Hahaha..."


"Dasar!" Ansel hendak meraih Nara, tetapi ia terpeleset oleh terigu.


"Aww..." Desis Ansel terlentang di atas lantai. Melihat itu, Nara semakin tertawa.


"Aduh Nara! Tolong aku! Sepertinya tulang punggungku patah..." Ringis Ansel. Nara spontan menghentikan tawanya dan berjongkok melihat kondisi Ansel.


"Benarkah?"


"Iya... Ulurkan tangan mu dan bantu aku berdiri." Pinta Ansel kembali.


Nara mengulurkan tangannya. Melihat kesempatan itu, Ansel dengan sengaja menarik kencang lengannya dan menjatuhkan Nara ke lantai mengubah posisi nya. Posisi Ansel saat ini sudah berada diatas tubuh Nara.


"Ahh kau menipuku?! Dasar Ansel sialan! Cepat lepaskan aku!" Nara mendorong-dorong dada Ansel.


"Kamu sudah menyebabkan aku terjatuh seperti ini, dan berani menertawakan ku! Aku akan membalas nya!" Ansel mendekatkan wajahnya ke wajah Nara.


"A~apa?!" Nara gugup melihat wajah Ansel begitu dekat dengan wajahnya.


"Rasakan ini..."


"Ahahaha... Hahaha... Ahh!! Ansel hentikan! Ah... Hahaha." Ansel menggelitiki pinggang Nara.


"Ah Ansel! Hentikan!" Teriak Nara menggeliat kegelian.


Tony yang sudah berada di depan mansion Ansel, ia mendengar suara Nara berteriak.


"Itukan suara Nara? Kenapa Nara berteriak seperti itu?!" Tony berlari menuju suara teriakan Nara. Setelah ia melihat Nara dan Ansel, ia terpaku berdiri. Sungguh, hatinya sangat sakit melihat posisi Ansel dan Nara begitu intim.


"Apa-apaan ini hah?!" Teriak Tony mengepalkan kedua tangannya.


Ansel menghentikan gelitikannya. Mereka berdua melihat kearah Tony yang berdiri menatap dengan tatapan tajam. Mereka langsung berdiri.


"Sepatutnya kau Ansel, tidak melakukan posisi itu dengan Nara! Itu tidak pantas!" Gertak Tony.


"Memangnya kenapa? Kita kan beberapa hari lagi mau menikah. Jadi tidak apa-apa bukan diposisi seperti itu? Lagian juga, kenapa tiba-tiba lo ngomong kayak gitu?!" Ucap Ansel.


"Gue... Huft! Tidak ada. Maaf..." Tony melenggang pergi.


.


.


.

__ADS_1


TBC


Sebelumnya mohon maaf Author baru up hari ini🙏 Dan selamat Hari Raya Idul Adha, mohon maaf lahir dan batin dari Author🙏😊


__ADS_2