Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 38


__ADS_3

#Happy Reading's🌻


.


.


.


Di ruang rapat, Nara terlihat gugup. Ia beberapa kali menghembuskan nafasnya, untuk menghilangkan rasa nerveous nya. Temen se devisi nya juga berusaha menenangkan Nara dengan sesekali memandang dan memegang tangannya. Nara berusaha bersikap biasa saja di depan rekan-rekannya, agar mereka tak ikut gugup seperti dirinya.


Kini saatnya bagian Nara yang menerangkan proposal devisinya. Nara berdiri tanpa membawa apapun, lalu ia kedepan menjelaskan semua yang ia tahu menyangkut proposal nya. Semua orang yang berada di ruangan itu terheran-heran, karna pasalnya untuk menerangkan sesuatu itu pasti membutuhkan sebuah dokumen. Tetapi Nara tidak membawa apapun.


Tari dan Dania sangat gugup, takut jika Nara salah dalam berbicaranya. Tetapi setelah mereka mendengar penjelasan demi penjelsan yang diterangkan Nara, mereka sangat terpukau dengan bagaimana cara Nara menerangkan proposal di devisi mereka begitu lancar tidak terbata-bata ataupun terlihat gugup. Nara sangat tenang menjelaskan semua isi proposal, tanpa melihat dokumen proposal.


"Jadi, begitulah yang saya sampaikan mengenai beberapa cara kerja di devisi kami. Saya harap, kita bisa bekerjasama untuk melaksanakannya agar program ini terjalani. Sekian dari saya, Terimakasih." Nara menunduk hormat, menandakan ucapan terimakasih.


Prok prok


Semuanya bertepuk tangan. Mereka begitu antusias mendengar penjelasan yang disampaikan Nara. Terutama Tari dan Diana yang sedevisi dengannya juga begitu antusias dan terpukau.


"Bagaimana bisa?" Batin Tari melihat kearah Nara yang ingin duduk di kursi nya.


"Saya sangat senang mendengar penjelasan bu Nara yang begitu detail dan jelas, walaupun tanpa sebuah dokumen proposal. Saya sangat kagum denganmu bu Nara." Ujar pak Tian memuji kinerja Nara. Begitu juga dengan yang lainnya disana. Mereka memuji Nara akan kepintarannya.


Rapat pun telah usai, semuanya tampak kembali keruangan mereka masing-masing.


"Saya tak salah memilih mu sebagai kepala bagian produksi periklanan." Puji pak Tian sebelum ia pergi.


"Terimakasih pak, karna telah mempercayakan saya." Ucap Nara.


"Sama-sama, yasudah saya permisi." Pamit pak Tian.


Di perjalanan menuju keruangan devisi mereka, Tari dan Diana tak henti-hentinya memuji Nara.


"Oh ya, aku ketoilet dulu sebentar ya." Ucap Diana dan dibalas anggukan oleh Nara dan Tari.


......


"Bagaimana rapatnya?" Ucap Rani setelah melihat Nara, dan Tari menuju ke ruangan mereka.


"Sempurna!" Tari mengacungkan kedua jempolnya.


"Benarkah? Wah... Kita harus rayakan ini!" Teriak Rani. Semuanya pun terlihat senang. Terkecuali Tiara. Ia terlihat sangat kesal, kedua tangannya mengepal. Lalu, ia pun pergi. Tetapi ketika ia hendak melangkah, langkahannya di hentikan oleh Nara.


"Ekhem! Kamu mau kemana Tiara? Bukankah ini belum selesai?" Nara melipatkan kedua tangannya di dada nya. Ia pun menghampiri Tiara. Tiara terlihat gugup melihat tatapan Nara begitu tajam seakan-akan mengintimidasi nya.


"A~aku... Aku ingin mengerjakan pekerjaan ku, Memangnya ada yang salah?" Tiara berusaha menyembunyikan ketakutannya.


Nara semakin mendekatkan dirinya. "Ya, salah. Kesalahan mu saat ini, adalah...." Nara mendekatkan dirinya ke Tiara lebih dekat dan membisikan sesuatu di telinga Tiara yang membuat Tiara mematung.


"Aku tau, jika kamu yang mengambil dokumen proposal itu." Bisik Nara.

__ADS_1


Tiara mematung. "Bagaimana dia bisa tau?" Batin Tiara yang masih mematunv tanpa mengucapkan seoatah pun.


"Kau pasti penasaran bagaimana aku bisa mengetahui nya bukan?" Ujar Nara.


"A~aku... A~aku tidak tau apapun!" Elak Tiara memalingkan wajah nya.


"Benarkah? Lalu, ini apa?" Nara menunjukan sebuah vidio rekaman yang berada di ponsel nya.


"Ini..." Tiara membulatkan bola matanya melihat vidio tersebut. Semua orang yang melihatnya pun tak kalah terkejutnya.


"Ternyata kau, yang mengambil dokumen itu Tiara?!" Ucap tak percaya Hani.


"Kenapa kamu melakukan ini Tiara? Padahalkan ini juga devisi mu! Bagaimana kamu setega itu?!" Timpal Rani kesal.


"Vidio ini palsu! Ba... Bagaimana mungkin aku melakukannya!" Elak Tiara yang tak mau mengakui kesalahannya.


"Palsu bagaimana maksud mu? Aku mengambilnya dari cctv sebelah sana." Tunjuk Nara pada salah satu cctv, yang tak diketahui Tiara.


"Bagaimana cctv itu bisa menyala?! Bukankah cctv itu mati?" Batin Tiara terlihat cemas.


"Kau pasti penasaran, kenapa cctv itu bisa menyala? Sebelumnya memang cctv itu tak berfungsi lagi. Tetapi, kemarin pagi aku meminta pak Tian untuk meminta cctv itu diperbaiki untuk keamanan kita." Jelas Nara. Dan semua orang mengangguk mengerti.


"Kau pasti berbohong! Jangan mempercayainya! Vidio itu pasti sudah di edit!" Elak Tiara kembali. Ia berusaha untuk tidak mengakui ulahnya.


Nara menyeringai. "Tari, kemarikan bukti selanjutnya." Perintah Nara pada Tari. Semuanya tampak bingung. Dan Tari pun menyerahkan sebuah gelang pada Nara.


"Bukankah ini milik mu?" Nara menunjukan gelang itu pada Tiara.


"I... Itu bukan milik ku!" Tiara lagi-lagi mengelak.


"Lalu, apakah disini juga ada yang namanya Tiara selain kau?" Nara memperlihatkan sebuah ukiran didalam gelang itu, yang tertera nama Tiara.


"Ah!! Baiklah-baiklah... Aku mengaku, kalo aku yang menyembunyikan dokumen itu!" Teriak Tiara mengakui kesalahannya.


"Huh...." Semuanya bersorak, meneriaki Tiara.


"Kenapa?" Tanya Nara to the point.


"Aku melakukan ini karna aku tak suka dengan mu Nara! Semua orang yang berada di devisi ini juga tidak suka denganmu! Kalian juga mengaku saja kalo kalian juga tidak suka dengannya!" Tunjuk Tiara pada Nara.


"Ya! Memang sebelumnya kami tidak menyukai bu Nara... Tetapi, setelah insiden ini, rasa tak suka kami sudah hilang." Ujar Rani. Dan semua mengiyakan ucapan Rani.


"Sudah-sudah... Aku ingin tau, kenapa kamu tidak menyukai ku? Apa sebelumnya kita saling mengenal, sampai-sampai kamu sebegitu tidak menyukai ku? Apakah aku pernah ada kesalahan yang melibatkan mu selama ini?" Tanya Nara pada Tiara dengan serius.


Tampak semua orang terdiam mendengar ucapan Nara. Mereka merasa, apa yang diucapkan Nara menyenggol hati mereka yang awalnya tak menyukai Nara tanpa sebab. Hanya karna Nara seorang anak magang, dan ia bisa langsung dijadikan kepala bagian. Itu yang mereka sempat salah pahamkan tentang Nara. Mereka baru mengakui kepintaran Nara baru-baru ini.


"A~aku..." Tiara sangat bingung ingin mejawab seperti apa. Karna apa yang dikatakan Nara itu ada benarnya juga. Apa yang ia ta sukai dari Nara? padahal Nara sama sekali tak mempunyai kesalahan apapun dengannya. Dan saling mengenal juga tidak. Tiara hanya lah iri semata dengan kemampuan yang dimiliki Nara.


"Maafkan aku... Hiks, maafkan aku Nara... Aku hanya iri saja padamu. Hiks... Maafkan aku Nara." Tiara menutupi wajahnya menggunakan tangannya guna menyembunyikan wajahnya yang sudah basah karna air matanya.


Nara memeluk Tiara. "Sudahlah... Jangan ditangisi. Ini bukan kesalahan mu, ini hanya kesalahpaham saja. Kamu tidak suka denganku karna aku mempunyai kelebihan yang tak kamu miliki bukan? Apa kamu pernah mencari kemampuan mu sendiri? Berusaha lah mencarinya... Aku yakin, kamu juga memiliki kemampuan yang lebih dariku." Nara mengelus-elus punggu Tiara. Dan Tiara pun membalas pelukannya.

__ADS_1


"Kesalahpahaman akan membuat seseorang terlihat bodoh. Aku tidak suka itu!" Batin Nara, ia memejamkan matanya mengingat hubungannya dengan Viana yang rusak karna kesalahpahaman saja.


Semuanya tampak haru melihat itu. Mereka juga menyesali perbuatan mereka pada Nara.


"Ternyata kita salah menilainya." Ucap Hani.


"Iya, aku juga merasa bersalah pada bu Nara karna salah paham." Rani menyeka air matanya.


"Mulai sekarang, kita harus selalu mendukung bu Nara!" Ujar Tari.


"Benar!" Serentak semuanya.


"Bu Nara, maafkan kami juga ya... Kami awalnya juga salah paham dengan bu Nara." Ucap Hani.


"Iya bu, maafkan kami ya..." Serentak semuanya.


Nara melepaskan pelukannya dari Tiara, lalu ia menoleh kesemua pegawai devisinya.


"Aku sudah memaafkan kalian..." Ucap Nara tersenyum tipis.


"Terimakasih... Kita akan selalu mendukung ibu, sampai kapanpun."


"Baiklah... Eh ya, aku meminta kalian untuk tidak memanggilku ibu. Aku tidak setua itu. Jadi, kalian panggil aku Nara saja." Pinta Nara.


Semuanya pun mengangguk mengiyakan.


"Yasudah, ini sudah jam makan siang. Sebaiknya kalian makan siang dulu, sebelum waktunya berakhir." Ujar Nara kembali.


"Baik..." Semuanya pun tengah keluar dari ruangan, dan pergi ke kantin perusahaan.


Nara lebih memilih duduk di kursinya.


"Viana... Maaf." Nara menitikkan air matanya mengingat Viana.


Ketika Nara sedang memejamkan matanya, ia dikejutkan oleh seseorang.


"Nara..." Panggil Tiara membawa beberapa makanan.


"Tiara?" Nara segera menghapus air matanya.


"Aku membawakan makanan untuk mu. Ini sebagai ucapan maafku... Aku minta maaf ya." Ucap Tiara menyerahkan beberapa makanan di meja Nara.


"Aku sudah memaafkan mu. Sebaiknya kita keluar saja makannya... Tidak baik untuk makan didalam." Ajak Nara. Mereka pun keluar dari ruangan.


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2