Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 29


__ADS_3

#Happy Reading's🌻


.


.


.


.


PLAK


"DASAR GILA! KAPA*AT! BRE**SEK!" Nara menampar Ansel. Ia mengusap-usap bibirnya yang telah di sentuh oleh bibir Ansel. Ia begitu marah dengan tindakan Ansel.


Nara berusaha membuka pintu mobil, tetapi Ansel tidak membukakan nya. Ia semakin kalut dan takut. "Buka pintunya!" Kini nada berbicara Nara bergetar menahan rasa takut.


Ansel merasa kasihan dan hatinya sakit melihat Nara ketakutan bahkan ia melihat air matanya sudah menggenang di pelupuk mata.


"Maafkan aku." Ansel langsung memeluk Nara, dan Nara berusaha meronta. Ansel semakin mengeratkan pelukan nya.


"Lepas!" Nara semakin melemah. Lalu ia menyerah dan diam dalam pelukan Ansel. Ia juga sudah menangis.


"Maafkan aku..." Ansel memejamkan matanya merasakan jantung nya semakin berdetak. Setelah insiden ciuman tadi, ia yakin bahwa hatinya sudah terpincut oleh Nara.


"Kenapa? Kenapa lo ngelakuin ini sama gue dan Viana? Kenapa?!" Nara mencengkram baju di dada Ansel.


"Maaf." Hanya itu yang Ansel katakan saat ini. Entah kenapa ia saat ini ia ingin sekali menghentikan waktu, dan berlamaan di pelukan Nara.


"Maaf? Hanya itu yang lo katakan?" Ucap Nara.


"Lepas!" Ucap Nara kembali. Dan kini Ansel sudah mengendurkan pelukan nya. Ia menangkup kedua pipi Nara. Ia menatap dalam mata Nara.


"Gue cinta sama lo."


JDER


Bagaikan tersambar petir yang terdengar di telinga Nara. Ia diam dan hanya membalas tatapan Ansel saja tanpa ada niatan untuk menjawab.


"Gue cinta sama lo Ra. Entah kapan perasaan ini datang, tapi hati gue selalu ada nama dan wajah lo ini." Tutur Ansel lembut sembari menatap lembut Nara.


"Turunin gue disini!" Nara tak percaya dengan perkataan Ansel. Ia menganggap perkataanya hanya angin lalu saja. Ansel mendengar itu, ia mengeratkan tangkupan nya di pipi Nara sampai-sampai bibir Nara mengerucut kedepan dan menggaduh kesakitan.


"Aww..."


"Gue serius Nara!" Geram Ansel.


"Mau lo serius atau pun nggak, gue gak akan peduli. Dan saat ini gue mengaku kalah dari lo! Jadi gue mohon, jangan pernah ikut campur hidup gue lagi!" Nara berusaha menyingkirkan lengan Ansel di pipinya.


"Buka pintunya Ansel!"


Trek


Ansel membuka pintu mobil yang terkunci. Nara tak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia langsung membuka pintu mobil. Tetapi sebelum Nara keluar, Ansel terlebih dahulu menariknya.


"Gue juga gak peduli lo nolak gue. Gue akan selalu ikut campur di hidup lo! Lo itu milik gue! Hanya milik gue! Camkan itu!" Ansel pun melepaskan tangannya.


Nara tercengang mendengarnya, lalu ia segera keluar dari mobil dan berjalan cepat meninggalkan mobil Ansel. Ansel memukul stirnya dan melajukan mobilnya kembali dengan kecepatan diatas rata-rata.

__ADS_1


"Minum obat apa tu si cobul gila! Benar-benar aneh... Dan ini..." Nara memegang bibirnya mengingat first kiss nya itu diambil oleh sosok Ansel yang ia benci.


"First kiss gue! Sialan tu cobul! Tapi tunggu-tunggu.... Apa cobul gila itu tadi nyatain cintanya sama gue? Oh my god! Mimpi buruk apa gue semalem!" Nara terus menggerutu di sepanjang jalan, lalu ia meliat sebuah pangkalan taxi dan segera menghampiri nya.


.........


Di satu sisi, Viana mengelilingi rumah sakit. Ia tadi sempat menanyakan keberadaan Nara kepada resepsionis rumah sakit. Tetapi jawaban resepsionis itu tak membuahkan hasil menemukan Nara. Ponsel Nara tidak bisa di hubungi. Ketika Viana hendak memasukkan ponselnya kedalam tas, ponselnya itu berdering.


"Halo Ans?"


"Viana, kamu mencari Nara?" Tanya Ansel di sebrang telpon.


"Kok kamu tau?" Heran Viana.


"Nara sudah pulang. Kebetulan tadi di jalan aku menemuinya."


"What?! Pulang? Sejak kapan? Wah bener-bener tu anak!" Kesal Viana.


"Aku melihat nya tadi pagi, mungkin dia sudah ada di rumah. Kamu sekarang ada dimana?" Tanya Ansel.


"Di rumah sakit. Aku mencari Nara sedari tadi, tapi dia malah pulang tanpa sepengetahuanku!" Adu Viana.


"Eumm, oke aku akan kesana menjemputmu. Kamu tunggu saja di depan rumah sakit ya."


"Baiklah, Terimakasih sayang... Aku tutup dulu, bye." Viana menutup sambungan telpon nya.


"Sayang? Andaikan itu Nara yang menyebut ku seperti itu." Ansel tersenyum kecut lalu menaruh ponselnya kembali ke dashboard.


Nara dengan gontai memasuki rumah. Ia hendak membuka pintu, tetapi terkunci.


"Kemana Viana?"


Tin...


Sebuah motor terparkir di depan rumah kontrakan Nara. Seseorang itu membuka helmnya dan turun dari motor menghampiri Nara.


"Bayu?" Nara tersenyum melihat kehadiran Bayu secara tiba-tiba di rumahnya.


"Hai Ra..." Bayu tersenyum.


"Hai juga Bay..." Nara berdiri dan mempersialahkan Bayu untuk duduk.


"Kenapa lo diluar Ra? Terus kemana Viana? Tumben gak berduaan." Bayu tak tau mengenai insiden Nara dan kondisinya. Ia menemui Nara karna ingin memberitahu nya jika pekan besok ia akan wisuda. Memang, Bayu di jadwalkan wisuda terlebih dahulu dibanding dengan Nara yang masih sibuk dengan skripsi nya.


"Emmm, gue juga gak tau di mana Viana. Oh ya, ada apa lo kesini?" Tanya Nara mengalihkan pembicaraan.


"Ekhem. Gue kesini cuman mau kasih tau lo kalo gue pekan besok wisuda. Dan lo harus dateng sebagai pendamping gue selain orang tua gue." Ujar Bayu yang terlihat malu dan wajahnya memerah.


"Pftt... Lo kesini cuman kasih tau itu? Ya ampun, Bayu... Bayu. Kan lo bisa kabarin gue di telpon, gak usah repot-repot kayak gini." Nara terkekeh.


"Gue udah berusaha ngabarin lo lewat ponsel. Tapi ponsel lo gak aktif terus dari kemarin."


"Oh iya gue lupa." Nara lupa jika ponsel nya belum di cas dari kemarin.


"Heheh maaf. Oke, gue bakal dateng nanti. Lo tenang aja..."


"Beneran lo mau datang ke wisudaan gue?" Bayu mengulang kembali perkataan Nara dan Nara mengangguk.

__ADS_1


"Terima... Eh maaf, terimakasih Ra." Bayu hendak memeluk Nara tapi ia urungkan kembali niatnya.


"Iya sama-sama. Gue kan udah janji sama lo sebelumnya, kalo gue akan kasih lo kesempatan buat dekat sama gue." Nara menepuk bahu Bayu.


"Terimakasih." Bayu tersenyum menatap Nara begitu juga Nara. Ketika mereka sedang saling tatap menatap, tiba-tiba saja mereka berdua di kejutkan oleh laksonan mobil yang sangat memekakan telinga.


TIN... TIN... TIIIIIIINNNNNN


Mobil Ansel sudah terparkir di depan rumah kontrakan Nara dan Viana. Ia tak sengaja melihat Nara dan Bayu saling menatap dengan mesra. Hatinya dongkol dan kesal. Ia dengan sengaja menekan klakson mobil dengan kuat sehingga membunyikan klakson dengan begitu memekakan telinga.


"Ans, biasa aja membunyikan klaksonnya." Viana terlihat bingung ketika melihat wajah Ansel yang sangat kesal. Ansel tak menanggapi ucapan Viana, ia langsung turun menghampiri Nara dan Bayu. Viana semakin bingung dibuatnya lalu menyusul Ansel. Sedangkan Nara dan Bayu menatapnya dengan terkejut.


"Ngapain lo disini?" Tanya Ansel pada Bayu dengan sinis.


"Terserah gue dong mau ngapain aja. Ini kan bukan rumah lo." Jawab Bayu.


"Lo..."


"Lo yang ngapain disini!" Ucapan Ansel terpotong oleh Nara.


"Dia nganterin gue." Viana menyela.


"Nara, lo kenapa gak bilang sama gue kalo lo keluar dari rumah sakit?" Tanya Viana tegas.


"Rumah sakit? Maksud lo, Nara udah di rawat gitu? Ra, kenapa lo gak cerita sama gue?!" Ucap Bayu.


"Nanti gue ceritain." Ujar Nara dan Bayu mengangguk.


"Cih." Ansel berdecih.


"Lo yang ninggalin gue di rumah sakit semalam. Jadi gue putusin buat pulang." Datar Nara menjawab pertanyaan Viana. Ansel terkejut mendengar hal itu.


"Gue gak ninggalin lo. Tadi malam, gue pulang sebentar setelah itu gue pergi lagi kerumah sakit. Dan apa yang gue temui disana? Lo udah gak ada di tempat tidur." Jelas Viana.


"Tadi gue udah jelasin kenapa gue gak ada di tempat tidur. Cepet buka pintunya, gue mau istirahat." Jawab Nara singkat.


"Huft..." Viana menghela panjang menahan rasa kesalnya. Ingin sekali ia memaki Nara, tapi ia urungkan karna melihat Nara yang begitu lemas dan kelelahan.


Setelah pintu di buka, Nara masuk dan tak lupa ia mempersilahkan Bayu masuk. Tapi Bayu menolak karna ia masih ada urusan lain. "Masuk dulu Bay." Ucap Nara mempersilahkan Bayu.


"Tidak usah, gue ada urusan lain." Tolak Bayu dengan lembut.


"Emm baiklah, hati-hati dijalan." Ujar Nara tersenyum. Ansel menyaksikan adegan itu, ia merasa kesal tangannya mengepal.


"Berani banget lo senyum dihadapan cowok lain. Sedangkan lo gak pernah nunjukin senyuman itu ke gue." Batin Ansel.


Sebelum Bayu pergi, ia membalas tatapan sengit dari Ansel menandakan permusuhan diantara keduanya.


"Ans, ayo masuk." Tawar Viana pada Ansel.


"Gak usah, aku juga ada urusan lain." Tolak Ansel.


"Tap..."


"Aku pergi dulu." Baru saja Viana ingin melanjutkan ucapannya, Ansel menyela dan pergi begitu saja.


"Ada apa dengan Ansel?" Lirih Viana lalu ia juga masuk kedalam.

__ADS_1


......


TBC


__ADS_2