
#Happy Reading's🌻
.
.
.
Nara berjalan menghampiri Ranty tanpa sadar jika di depannya ada sosok Ansel yang tengah menatap nya. Begitu pun dengan Riani, ia merasa pernah melihat gadis yang berjalan ke arahnya.
"Bukankah itu gadis yang ada di mall waktu itu?" Pikir Riani, setelah beberapa saat ia berpikir akhirnya ia mengingat wajah Nara.
"Ada apa mah?" Tanya Nara tersenyum.
"Cantik sekali tampilannya malam ini." Ansel terpukau ketika Nara sudah berada di depan Ranty.
"Nak, tolong kamu antar anak teman mamah ini ke toilet." Ucap Ranty.
Nara menoleh kearah Ansel. Dan ia sangat terkejut, Ansel hanya tersenyum sekilas melihat keterkejutan Nara.
"Ansel?!" Ucap Nara kaget.
"Loh? Kalian saling kenal?" Ujar Abraham melihat wajah Nara dan Ansel secara bergantian.
"Dia..."
"Bukankah kamu gadis yang saat itu diributkan di mall?" Ucap Riani menyela omongan Nara.
"Diributkan? Diributkan apa maksud mu?" Tanya Dani kebingungan.
"Anakmu ini..." Belum sempat Riani melanjutkan bicaranya, Ansel langsung menyelanya.
"Saya dan Nara teman kuliah kok tan, om, dad, mom. Yuk Ra antar aku ke toilet." Ansel langsung menarik Nara tanpa persetujuan nya.
"Eh-eh..." Nara dengan terpaksa mengikuti Ansel.
Setelah mereka sudah jauh dari kedua orang tua mereka, Ansel pun melepaskan pegangannya.
"Main tarik-tarik aja tangan gue!" Kesal Nara.
"Jangan bawel! Cepet dimana toilet nya?" Dingin Ansel seraya meletakkan kedua tangannya di saku celananya.
"Iya-iya..." Nara pun melangkah mendahului Ansel dan mengantarnya.
Sesampai nya mereka di toilet, Ansel langsung melenggang masuk kedalam tanpa berbicara sepatah pun tidak seperti biasanya.
"Ada apa dengannya? Benar-benar manusia aneh!" Lirih Nara bingung melihat tingkah Ansel.
Ansel yang berada di dalam toilet, ia mengusap-usap dadanya.
"Huft, sabar Ans! Kamu harus bersabar demi melancarkan misi mu..." Gumam Ansel. Ia sengaja bersikap dingin seperti itu pada Nara agar misinya tercapai.
Ansel pun menyelesaikan mengganti pakaiannya. Sedangkan Nara, ia sudah kembali berkumpul bersama keluarganya. Acara anniversary pun berlangsung, tetapi ada keresahan dan ke khawatiran di wajah semuanya.
"Yah, kenapa Mario belum pulang-pulang?" Khawatir Ranty.
Ya, Mario yang sedari tadi mengantarkan beberapa makanan ke anak jalanan belum pulang sampai saat ini juga. Awal ingin berbahagia, tetapi semua itu sirna. Semua tamu di pulangkan, tapi tidak dengan keluarga Ansel. Mereka masih menemani keluarga Nara yang terlihat begitu risau. Ansel yang melihat Nara begitu sedih, ia tak tega melihat nya.
"Tante, om, biarkan saya dan anak buah saya yang akan mencari keberadaan Mario." Ucap Ansel.
"Aku ikut." Ujar Nara menyela.
__ADS_1
"Terimakasih nak Ansel." Ucap Ranty, begitu juga dengan Dani.
"Iya sama-sama om, tan. Mom, dad aku dan Nara akan mencari Mario dulu. Ans pinjam mobilnya ya dad."
"Iya Ans, ini." Abraham menyerahkan kunci mobil.
Ansel dan Nara pun segera mengendarai mobil dan mencari keberadaan Mario. Nara beberapa kali menelpon ponsel adik kesayangannya itu, bahkan ia juga sudah menelpon teman-temannya. Tetapi hasilnya nihil, tak ada seorang pun yang tahu keberadaan Mario. Ansel melirik melihat ke khawatiran Nara.
"Kamu tenang saja, kita pasti menemukannya." Ucap Ansel menenangkan.
"Iya." Angguk Nara menoleh kearah Ansel.
Ansel terus mengendarai mobilnya dan mengelilingi setiap sudut jalanan. Tetapi mereka belum juga menemukannya.
Drrtt... Drrtt
Ponsel Ansel berdering.
"Ada apa?" Ucap Ansel menerima sambungna telpon.
"Saya sudah menemukan Mario tuan." Ucap salah seorang pengawal yang di utus Ansel.
"Bagus! Dimana keberadaannya?" Tanya Ansel. Nara mendengarkan perbincangan Ansel.
"Perbatasan kota bandung tuan. Di gang.... Ahk!" Tiba-tiba saja pengawal suruhan Ansel berteriak kesakitan dan memutuskan sambungannya.
"Halo? Halo?! Ah sialan!" Ansel memukul setirnya dengan geram. Dan memutar kemudinya menuju perbatasan kota bandung yang sempat di sebutkan pengawalnya tadi.
"Ada apa?" Tanya Nara semakin khawatir. Hatinya begitu risau tak karuan.
"Mario sudah di temukan oleh salah satu pengawal ku. Tapi..." Gantung Ansel.
"Tapi apa?" Nara semakin penasaran.
"Apa?!" Nara terkejut mendengarnya.
"Kamu tidak usah khawatir. Aku sudah menyerahkan beberapa anak buah ku lagi. Kita akan kesana." Jelas Ansel kembali menenangkan Nara.
Ansel semakin mempercepat kecepatan mobilnya. Ansel terus mencari gang-gang di sekitaran perbatasan kota bandung. Di saat berada di salah satu gang yang sangat gelap dan sepi, Ansel merasa ada yang aneh di gang tersebut. Ia pun berencana untuk turun dari mobil.
"Kamu tunggu di sini. Aku akan kedalam gang itu." Ucap Ansel melepaskan sabuk pengaman.
"Tunggu..." Nara mencegat Ansel.
"A~aku ikut..." Pinta Nara.
"Jangan. Kamu disini aja... Disana bahaya." Ansel berusaha mencegah Nara agar tak ikut. Tetapi dengan keras kepalanya Nara ia pun ikut turun tanpa sepengetahuan Ansel. Ia berfikir akan semakin khawatir jika berada di dalam mobil saja.
Ansel terus menyusuri lorong yang gelap itu. Di ikuti Nara dari belakang. Ansel mengambil ponselnya dan menyenteri keadaan sekitar. Di saat ia menyoroti bagian samping lorong ia di kejutkan dengan tembakan pistol yang mengarah kearahnya.
Dor
"Ah!"
Ansel menghindari tembakan itu. Tetapi ia di kejutkan dengan suara teriakan seseorang di belakang nya. Ia pun menoleh seraya menyoroti senter ke arah suara itu berasal.
"NARA?!"
Ansel yang terkejut melihat Nara lah yang terkena tembakan itu, ia segera menghampiri nya. Tetapi beberapa tembakan terus melesat kearah nya. Ansel dengan sengaja mematikan senternya agar tak di ketahui keberadaannya. Ia perlahan-lahan menghampiri Nara dalam kegelapan.
"Nara? Kamu tidak apa-apa?" Lirih Ansel yang memegang tubuh Nara.
__ADS_1
"A~aku... Ti~tidak apa-apa..." Nara menahan rasa sakit di bagian lengan kiri akibat tembakan tersebut. Tembakan tadi melesat kearah tangan Nara. Untung nya saja peluru itu hanya menyenggol saja, tidak sampai menembus lengannya.
"Kamu ikuti langkah ku. Jangan bersuara." Ansel menuntun tangan kanan Nara dengan perlahan di tengah kegelapan menuju keluar untuk mencari tempat aman.
Ketika hendak menuju mobil, Ansel dan Nara dihadang oleh sekelompok orang. Sepertinya itu orang-orang yang telah menembaki mereka di dalam gang tadi. Ansel memeluk Nara menyembunyikan dirinya agar tak takut dan melindunginya.
"Siapa kalian?!" Ucap Ansel dengan tegas.
"Kau tak perlu tau siapa kami! Semuanya! Habisi mereka berdua!!" Teriak salah seorang pemimpin kelompok itu.
"Nara... Larilah!" Ansel mendorong Nara menghindari sekelompok orang itu.
"Tapi..." Nara ingin membantu Ansel, tetapi Ansel menyuruhnya pergi.
"Pergi Nara!" Teriak Ansel dan menghajar sekelompok penjahat itu yang hendak menghampiri Nara. Dengan lihai Ansel memukulnya satu persatu. Sekelompok orang itu sangat banyak jumlahnya, kira-kira sampai 10 orang. Ansel kewalahan dengan itu.
Nara tak mengikuti perkataan Ansel, ia membantunya menghajar para kelompok penjahat. Dengan sekuat tenaga ia menahan rasa sakit di lengannya. Perlu kalian ingat, Nara sangat jago berkelahi. Sejak sekolah menengah pertama ia mengikuti organisasi taekwondo.
Ansel yang melihat itu menggerutu kesal karna Nara begitu keras kepala. Keduanya terengah-engah ketika para kelompok itu menyisakan lima orang karna setengah nya sudah mereka hajar. Punggung Ansel dan Nara saling menyentuh satu sama lain.
"Kenapa kamu tidak lari?! aku sudah menurutmu pergi!" Lirih kesal Ansel yang masih di posisi kuda-kuda nya dengan mengepalkan kedua tangannya hendak menyerang. Begitu juga dengan Nara.
"Aku tak ada pilihan." Jawab Nara.
Ketika keduanya hendak menyerang kelima kelompok penjahat itu lagi, tiba-tiba semuanya menodongkan pistol.
"Hahaha... Kalian akan mati!" Ketawa salah seorang kelompok penjahat itu seraya menodongkan pistol kearah Nara dan Ansel.
"Sial!" Ansel dan Nara mengangkat kedua tangan mereka.
"Bagaimana ini?" Lirih Nara pada Ansel.
"Kamu tenang saja, mereka akan menolong kita sebentar lagi." Ujar Ansel.
"Mereka? Mereka siapa?" Bingung Nara.
Dor... Dor...
Sebuah tembakan menghantam tubuh kelima kelompok penjahat itu. Dengan sigap, Ansel menangkap tubuh Nara kedalam pelukannya lalu berputar menghindari serangan tembakan.
"Ahh!" Teriak Nara ketika tubuhnya terasa melayang diangkat dan berputar oleh Ansel.
Ansel menghentikan putarannya, lalu menatap Nara. Tangannya menahan pinggang Nara agar tak jatuh. Nara pun membalas tatapan Ansel. Beberapa menit mereka saling menatap tanpa bicara dan menghiraukan sekitar.
"Ekhem! Tuan, semuanya sudah beres." Ucap Roni asisten Ansel yang telah membunuh kelima penjahat itu. Ansel dan Nara spontan memutuskan tatapan mereka dan terlihat salah tingkah.
"Dimana Mario adiknya Nara?" Tanya Ansel.
"Mario sudah kami bawa kerumah sakit terdekat tuan. Dia mengelami luka di beberapa bagian tubuhnya." Jelas Roni..
"Apa?! Mario di rumah sakit? Kita harus kesana Ans!"
"Aww!!" Nara hendak melangkah pergi menuju mobil, tetapi lengannya terasa sangat sakit akibat tembakan itu.
"Apa lukanya parah? Ayo kita harus obati luka mu dulu." Pinta Ansel lalu membawa Nara ke mobil.
.
.
.
__ADS_1
TBC