
~Happy Reading's🌻
.
.
.
Malam harinya...
Didalam kamar mandi, Nara sedang risau. Ia cukup lama berada didalam kamar mandi dan enggan keluar. Ia memikirkan bagaimana caranya agar dirinya bisa lolos dari hukuman Ansel. Sedangkan Ansel sedang menunggunya diatas kasur.
"Nara... Kamu tidur atau apa didalam kamar mandi? Ayo cepat keluar!" Teriak Ansel. Ia tertawa cekikikan dengan pelan membayangkan betapa lucunya Nara ketika sedang gelisah sekaligus takut dengan ancamannya tadi pagi.
Nara menggigit kukunya. "Aku harus gimana? Aku takut Ansel berbuat macam-macam. Ya, walaupun dia sudah menjadi suamiku tetap saja aku merasa takut."
Ansel perlahan jalan menuju pintu kamar mandi dan mengetuknya. "Nara... Kamu sudah belum? Cepet buka pintunya... Aku juga mau mandi. Apa perlu aku dobrak?" Ancam Ansel.
Mendengar itu, Nara langsung membuka pintunya. Dan ia pun berlari kearah kasur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Ansel melihatnya tersenyum geli.
"Ingatkan perkataanku tadi pagi? Kamu bersiaplah... Jangan tidur dulu." Setelah mengucapkan itu, Ansel masuk kedalam kamar mandi.
Nara membuka selimut diwajahnya. "Dasar picik! Ah... Aku harus bagaimana? Apa aku kabur aja ya ke Bandung kerumah Mamah sama Ayah? Tapi kejauhan. Atau aku kerumah Viana aja? Ah!! Itu juga gak mungkin..." Nara mengacak-ngacak rambutnya kesal.
"Aku pura-pura tidur aja deh."
Beberapa menit kemudian, Ansel sudah menyelesaikan mandinya. Ia naik keatas kasur. "Nara..." Ansel mencolek pipi Nara.
"Tahan Nara... Jangan sampe ketauan pura-pura tidur." Batin Nara.
"Oh... Pura-pura tidur ya biar bisa lolos dari hukuman?"
"Mati aku!" Batin Nara.
Ansel menyingkapkan selimutnya.
"Ah!" Spontan saja Nara bangun karna terkejut.
"Apa yang kamu lakukan?!"
"Nah benarkan kamu cuma pura-pura tidur supaya lolos dari hukuman? Baiklah, aku akan menambah hukumanmu." Ansel mendekati Nara.
"A~Ansel... Ka~kamu jangan macam-macam ya! A... Akukan tadi pagi cuman keceplosan doang. Masa gak dimaafin sih." Nara memanyunkan bibirnya.
"Aku suamimu, mau macam-macam juga tidak apa-apa. Dan sudah aku bilang, keceplosan maupun bukan kesalahan tetaplah kesalahan."
"Tunggu sebentar..." Ansel berdiri dan mengambil sesuatu didalam laci.
Nara baru menyadari bahwa Ansel tidak memakai baju dan hanya memakai celana saja. Ia meneguk salivanya kasar melihat betapa indahnya tubuh Ansel. Banyak roti sobek yang berlapis diperutnya. Nara mengandaikan dirinya memegang perut Ansel.
"Ayo kita mulai hukumannya..." Ucap Ansel yang sudah dihadapan Nara tanpa disadari olehnya karna fokus dengan pikiran nakalnya.
Nara menggeleng kepalanya. "Apa yang aku pikirkan? Kenapa otakku jadi mesum begini ya?!" Batin Nara mengerutuki dirinya sendiri.
"Hei ada apa?" Tanya Ansel bingung melihat tingkah Nara yang cukup aneh.
"Ng~nggak..." Gugup Nara.
"Yasudah, ayo kita mulai..."
"A... Apa?" Nara semakin gugup dibuatnya.
"Menghukum mu..." Seringai Ansel semakin mendekati Nara.
"A... Ansel... Ak~aku belum si... Siap! Ka~kamu taukan aku belum mencintai mu? Ba... Bagaimana aku bisa melakukannya tanpa cinta?" Tutur Nara menundukan kepalanya.
"Kamu melakukannya tidak perlu dengan cinta. Cukup gunakan tenagamu saja untuk memuaskan ku."
Nara membulatkan matanya. "A~Ansel... Aku... Aku..." Perlahan Nara memundurkan tubuhnya.
__ADS_1
Ansel memegang tangan Nara dan mendekatkan wajahnya. Nara memejamkan matanya kuat-kuat.
"Ini..." Ansel memberikan sesuatu ke tangannya.
"Pijat aku." Ucap Ansel.
Nara membuka matanya. "A... Apa? Pijat?" Ia melihat tangannya yang sudah diberi sebotol minyak pijat.
"Hanya pijat?" Ujar Nara.
PLETAK
Ansel menyentil jidat Nara. "Memangnya apa? Atau jangan-jangan kamu mengira kita akan... Emmm"
Nara langsung membekap mulut Ansel. Ia merasa sangat malu karna salah paham. Wajahnya pun sudah memerah.
"Mau pijat kan? Ayo cepet telungkup!" Nara membalikkan tubuh Ansel dan menelungkupkannya.
"Aduh! Aduh! Nara... Pelan-pelan! Kenapa kamu memijatnya kasar sekali? Ah..." Ansel menggaduh kesakitan karna Nara memijatnya dengan kasar.
"Biar kerasa pijatannya! Udah diem aja!" Nara berbicara seraya menahan geramnya. Ia naik keatas tubuh Ansel dan kembali memijatnya.
"AH!"
Ansel terus saja menggaduh kesakitan. Ia meminta Nara untuk meyudahi pijatannya itu, tetapi Nara tidak mendengarkannya. Ia benar-benar kesal, Ansel sudah berani mempermainkannya dan membuatnya merasa malu. Ini seperti senjata makan tuan bagi Ansel.
Pagi harinya, Nara dan Ansel beserta kedua orang tuanya sedang menikmati sarapan pagi dimeja makan. Abraham dan Riani melihat Nara dan Ansel saling diam merasa kebingungan.
"Ada apa dengan kalian berdua? Ada masalah? Atau kalian sedang bertengkar?" Tanya Riani.
Serentak Nara dan Ansel menggelengkan kepalanya. Membuat Abraham dan Riani semakin bingung dengan situasinya. Setelah selesai sarapan pagi, Ansel dan Abraham pamit pergi kerja. Ketika Abraham melihat punggung baju Ansel kotor, ia membersihkannya dengan menepuk-nepuk punggung nya.
"Ah... Sakit..." Rintih Ansel.
"Kenapa?" Ucap Abraham.
"Kepentok?" Abraham menautkan kedua alisnya.
"Iya Dad, sudah yuk berangkat... Ini sudah siang." Ansel pun langsung masuk kedalam mobil demi mengalihkan perbincangannya. Dan Abraham pun ikut masuk juga kedalam mobil.
"Emang enak!" Lirih pelan Nara seraya tersenyum.
Riani yang disampingnya melirik kearahnya. "Ada apa dengan kalian? Dan... Punggung Ansel bukan kepentok pintu kan?" Tanya Riani dengan rasa curiga.
Nara ditanya seperti itu cengengesan. "Anu... Itu... Sebenarnya Nara semalam memijat Ansel. Mungkin pijatannya terlalu keras." Nara menggaruk tengkuknya.
"Oh ya?"
"Iya, sebenarnya gini ceritanya Mom..." Nara mulai bercerita kejadian demi kejadian mengenai dirinya dan Ansel.
Mendengar cerita dari menantunya, Riani menepuk-nepuk pundak Nara. "Bagus! Akhirnya anak nakal itu kena batunya... Kalo perlu kamu jangan kasih pijatan maut mu saja, kasih dia tinju sampe babak belur! Mommy dengar kamu pemegang sabuk hitam taekwondo kan?" Tuturnya dan Nara hanya melongo saja seraya menganggukan kepalanya mengiyakan.
Riani tersenyum. "Yasudah, Mommy kedalam dulu."
Beberapa kali Nara mengedipkan matanya. "Apa benar dia ibu kandungnya? Kenapa dia lebih kejam dari ku? Luar biasa..." Nara menggelengkan-gelengkan kepalanya lalu masuk kedalam.
......................
Setelah diagnosa kanker otak, Viana semakin banyak pikiran. Sakit kepalanya selalu datang tiba-tiba. Ia berencana untuk menyembunyikan penyakitnya ini dari semua orang terutama pada Nara dan kedua orang tuanya. Ia tidak mau mereka mengkhawatirkannya.
"Ah kepalaku!" Viana mengambil obat pereda nyerinya di dalam tasnya.
"Kenapa aku harus mengalami ini?" Gumam Viana.
Drrtt... Drrtt...
Ponsel Viana berbunyi.
"Halo?"
__ADS_1
"Kak... Hiks..."
"Anya ada apa?"
"Ayah kak..." Anya adik perempuan nya yang berusia 10 tahun terdengar menangis sesegukan di sebrang telpon.
"Ayah kenapa?"
"Ayah~ Ayah... Meninggal... Hiks..."
Ponsel Viana langsung terjatuh. Ia sangat terkejut mendengar kabar bahwa ayahnya sudah tiada.
"Ha... Halo kak... Hiks."
Air mata Viana tidak terbendung lagi.
"AYAH!!!" Viana berteriak seraya menangis tersedu.
Viana mengambil ponselnya kembali. Dan langsung pergi dari ruangan. Ia berlari menuju parkiran mobilnya. Ia tidak menghiraukan tatapan-tatapan aneh dari semua orang dikantor. Yang ada pikirannya hanyalah sang Ayah saja.
"Hiks... Ayah... Maafkan Viana..." Viana menambah kecepatan mobilnya.
Tak cukup lama, Viana sudah sampai dipekarangan rumahnya. Bendera kuning berkibar di depan rumahnya, dan banyak orang berlalu lalang. Langkah Viana gontai melihat ayah yang ia sayangi sudah terkapar kaku ditutupi kain.
"Ayah..." Viana memeluk ayahnya.
Bundanya mengelus-elus punggungnya untuk menenangkannya.
"Ayah.. Hiks... Maafkan Viana... Hiks. Vi~Viana tidak sempat menemui ayah dihari terakhir ayah.... Maafkan Viana ayah..." Tangisnya begitu menyayat hati semua orang yang melihatnya.
"Sayang... Ikhlaskan ayahmu ya..." Ucap bundanya. Viana pun langsung memeluknya.
"Bunda... Kenapa ayah jahat sama Via! Kenapa ayah ninggalin kita bun? Hiks..."
"Hush... Kamu gak boleh berkata seperti itu. Ayahmu sangat menyayangi kamu... Mungkin tuhan lebih sayang padanya. Kita doakan saja ya ayahmu."
Viana melihat kembali wajah ayahnya. Ia mengingat setiap senyuman terukir dibibir ayahnya, kini hilang digantikan dengan wajah yang pucat pasi. Ia memegang tangan sang ayah, mengingat pula tangan itulah yang membuat Viana kecil bisa berjalan dan mengendongnya dikala ia menangis.
Kedua orang Nara mendekati keluarga Viana.
"Yang tabah ya nak Viana..." Ucap Ranty. Mereka juga ikut berkabung atas meninggalkannya ayahanda Viana.
"Rio, kabari kakakmu mengenai ini." Titah Dani.
"Iya yah..." Mario mengambil ponselnya.
Nara sedang menikmati udara pagi di taman belakang dan tiba-tiba saja ponselnya berdering.
"Iya Rio?"
"Kak... Ayah kak Viana..."
"Ayah Viana kenapa?"
"Ayah kak Viana meninggal kak."
"APA?!" Nara langsung berdiri karna terkejut.
"Sebaiknya kakak kesini sama kak Ansel."
"Oke, kakak akan kesana." Nara menutup sambungan telponnya dan bergegas pergi. Ia berpamitan pada Riani dan ia terlebih dahulu menemui Ansel dikantornya untuk mengajaknya ke kediaman Viana.
.
.
.
TBC
__ADS_1