
#Happy Reading's🌻
.
.
.
Setelah berjoging, mereka bertiga beristirahat di rerumputan taman kota. Ketiganya terlihat lelah.
"Wah... Gue gak nyangka lo kuat banget joging. Sampe 15 putaran taman pula, gue aja yang laki-laki cuman kuat 9 putaran." Ucap kagum Ansel pada Nara.
Nara memang suka berolahraga, ia dulu melakukan joging setiap hari di kampung nya. Maka tak heran jika Nara bisa mengelilingi taman kota yang sangat luas dan besar kawasannya. Ansel saja yang notabe nya seorang laki-laki yang suka berolahraga, ia tak kuat mengelilingi taman itu sebanyak lebih dari 10 putaran.
Nara yang mendengar ucapan Ansel hanya tersenyum kecut saja tanpa membalasnya. Nara meneguk habis air mineral yang ditangannya tanpa menghiraukan Ansel.
"Nara di lawan... Dia dari dulu juga sering joging di Bandung, setiap pagi sebelum berangkat sekolah dia joging keliling kampung." Viana membalas ucapan Ansel.
"Waw... Pantas saja dia bisa berlari sebanyak itu." Ucap Ansel kembali.
"Ck... Lebay banget sih, biasa aja kali. Udah yuk Vi kita pulang." Nara menarik Viana bangun.
"Eh-eh tunggu... Gue pengen disini dulu Ra." Viana melepaskan tangan Nara.
"Lo buru-buru amat. Yaudah lo aja yang pergi, biar Viana aja disini sama gue." Ansel mencegah Nara membawa Viana. Mendengar hal itupun Viana merasa senang karna Ansel menyuruhnya tetap berada dengannya.
"Gak! Viana harus ikut pulang sama gue, karna sebentar lagi orang tua gue ke rumah." Tegas Nara.
"Yakan itu orang tua lo, bukan orang tua Viana. Apa hubungannya?" Ansel dan Nara berdebat mereka saling menatap tajam yang terlihat sengatan listrik yang terhubung di kedua mata keduanya, bahkan jika di dalam sebuah komik mereka sudah menunjukan tanduk mereka.
"Ada! Udah yuk Vi..." Nara kembali menarik Viana tetapi Ansel langsung memegang sebelah tangan Viana.
"Gak! Viana tetap disini sama gue!" Ansel dan Nara saling menarik Viana di kedua belah sisi. Viana merasa kesakitan di kedua tangannya.
"Aduh... Hei kalian bisa gak sih gak usah tarik-tarik tangan gue! tangan gue putus mau nyambungin lagi kalian berdua hah!?" Kesal Viana yang sedari tadi yang tanganya ditarik-tarik oleh Nara dan Ansel.
"Viana, mending lo disini dulu sama gue. Kan tadi pagi gue yang ngajak lo joging." Bujuk Ansel yang memelaskan wajahnya dan berharap Viana lebih memilihnya.
__ADS_1
"Lihat saja Nara... Pasti Viana lebih milih gue." Ucap pede Ansel dalam hati.
"Vi... Ayo ikut gue pulang aja, masa lo tega sih biarin gue siapin sendirian buat nyambut kedatangan orang tua gue. Lo kan udah di anggap anak sama orang tua gue."
Nara menunjukan wajah sedihnya plus menunjukan mata puppy nya di depan Viana, berharap Viana lebih luluh padanya. Viana benar-benar bingung ingin mengikuti Nara atau Ansel.
"Baiklah... Maaf ya Ansel gue harus bantu Nara di rumah." Viana melepaskan tangan Ansel dari tangannya.
Nara yang melihat Viana lebih memilihnya, ia tersenyum kemenangan ditujukan pada Ansel. Ansel pun menjadi geram dan kesal, ia kalah dengan Nara kali ini.
"Shit!! Gue kalah sama Nara." Ansel mengacak-ngacak rambutnya dengan kesal.
"Hahaha... Lo gak bisa ngalahin gue cobul gila!" Lirih Nara dalam hati dengan kemenangan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesampainya di rumah kontrakan mereka, Viana menanyai perihal orang tua Nara.
"Ra, kok lo gak bilang sih sama gue kalo orang tua lo mau kesini." Protes Viana pada Nara.
Mereka berdua pun membersihkan rumah dan menyambut kedatangan orang tua Nara yang ingin berkunjung hari ini. Nara terlihat semangat begitupun dengan Viana, sudah hampir 6 bulan Nara tidak bertemu dengan orang tuanya.
Jam menunjuk pukul 11:10 WIB. Semuanya sudah beres mereka bersihkan dan makanan pun sudah tersedia di meja makan dengan rapih dan terlihat lezat.
"Ahh akhirnya beres juga..." Letih Viana merenggangkan tubuhnya dan duduk di sofa.
"Nih minum, makasih ya Vi lo udah bantuin gue nyiapin ini semua." Ucap Nara sambil memberikan jus jeruk yang dibuatnya kepada Viana.
"Iya Ra, santai aja sama gue mah..."
"Huft... Untungnya lo tadi milih gue, kalo lo lebih milih cobul gila itu... Huh kewalahan banget gue ngerjain sendirian." Keluh Nara.
"Maafin gue ya... Tadi gue sempat nolak ajakan lo."
"Iya gak apa-apa, lagian juga akhirnya lo ikut gue kan?"
"Iya Hahaha..."
__ADS_1
"Hahahaha..."
Mereka tertawa mengingat kejadian di taman kota tadi. Ketika mereka sedang asyik bercanda gurau, sebuah ketukan pintu memberhentikan keseruan keduanya. Nara bangun dari duduknya dan membukakan pintu. Alangkah terkejutnya ketika Nara membukakan pintu, ternyata kedua orang tuanya dan adik laki-lakinya yang berumuran 16 tahun itu ada di hadapannya.
"Ayah, Mamah, Rio?" Nara terkejut.
"Assalamualaikum nak, apa kabar?" sapa kedua kedua orang tua Nara.
"Waalaikumsalam..." Jawab Nara.
"Hai kak Nana..." Sapa Mario adik Nara. Mario Sanjaya anak kedua dari Dani Sanjaya dan Ranty Lathesia. Mario yang biasa dipanggil Rio itu biasa memanggil kakaknya dengan nama Kak Nana. Nara yang melihat keluarganya pun langsung memeluk mereka satu persatu, begitu pun dengan Viana yang menyambut keluarga Nara dengan hangat.
"Hallo apa kabar Mama, ayah dan Rio..." Sapa Viana menghampiri kedua orang tua Nara dan adiknya.
"Kami baik nak... Kalian bagaimana kabarnya?" tanya Ranty
"Kami baik-baik saja Ma... Ayo masuk." Ucap Nara mempersilahkan mereka masuk. Mereka masuk kedalam dan mulai berbincang-bincang di ruang tamu.
"Bagaimana kuliah kalian? Oh ya, katanya kalian juga bekerja paruh waktu?" Tanya Dani sembari menyeruput kopinya yang sudah di sediakan Nara.
"Iya Yah, kita bekerja di restoran Mars. Restorannya gak jauh dari kampus kok. Kalau masalah kuliah, Alhamdulillah lancar yah. Tinggal satu semester lagi kita lulus." Jawab Nara.
"Alhamdulillah kalo begitu." Ujar Ranty dan Dani serentak.
"Eh bocil, Lo makin cakep aja sih... Makin gede pula." Dengan gemas Viana mengacak-ngacak rambut Mario. Sudah kebiasaan Viana mengacak-ngacak rambut Mario sedari kecil. Mario terlihat kesal dengan tingkah Viana yang tak berubah sedari dulu.
"Aduhh kak Viana... Kebiasaan banget suka berantakin rambutnya Rio." Mario membenarkan rambutnya yang sudah berantakan akibat Viana. Semua yang ada di ruangan itu hanya terkekeh saja melihat Viana dan Mario.
"Eh ya, mending kita makan siang dulu yuk. Inikan udah jam makan siang, kita udah siapin makannya." Ajak Viana dan semuanya pun mengangguk menyetujui ajakan Viana.
.
.
.
TBC
__ADS_1