
#Happy Reading's🌻
.
.
.
"Hallo dad, aku akan ke kantor dad hari ini." Ucap Elsa, menelpon daddy nya.
"......."
"Huft, baiklah lain kali saja." Elsa melempar ponselnya kesembarang arah dan membaringkan tubuhnya di kasur king size nya.
Elsa kesal karna daddy nya tak bisa ditemui hari ini karena sedang berada di luar negeri mengurus pekerjaan kantornya. Elsa tengah berfikir mengenai Ansel kekasih nya selama ini. Elsa tau, jika sebenarnya keluarga nya hanya memanfaatkan Ansel saja untuk kepentingan bisnis mereka. Tetapi, Elsa tidak seperti itu. Ia begitu sangat mencintai Ansel. Bahkan cinta itu sedikit demi sedikit menjadi sebuah obsesinya terhadap Ansel.
"Hah... Daddy tidak bisa ditemui hari ini. Apa aku kesana tanpa izin langsung dari daddy ya. Aku hanya perlu memberitahunya lewat telpon saja, atau aku akan menelpon Simon sekretaris daddy. Tapi bagaimana aku ke indonesia, aku saja tidak tahu dimana Ansel tinggal." Elsa menatap langit-langit kamarnya.
"Ah iya, aku kan tinggal telpon aunty Riani dan uncle Abraham saja. You smart Elsa! Hahhaa." Elsa pun kembali meraih ponsel nya dan menelpon Riani.
"Halo?" Ucap Riani disebrang telpon.
"Halo aunty.... Bagaimana kabar aunty?" Tanya Elsa berbasa-basi.
"Aunty baik-baik saja. Kamu sendiri bagaimana?"
"Aku juga baik aunty. Ah ya aunty, Elsa ingin pindah ke kampus nya Ansel." Terang Elsa to the point.
"Benarkah? Bukankah kamu sudah memasuki semester akhir, begitu juga dengan Ansel. Apa tidak terlanjur ya?" Tanya Riani.
'Iya juga ya, kenapa aku tidak berfikir kesana. Oh my god! Aku malu sekali..." Gerutu Elsa dalam hati.
"Aku lupa tante, kalo aku sudah semester akhir dan sedang mengurusi skripsi. Hehehe..." Elsa tertawa garing.
"Kamu ini! Jika kamu ingin kesini, nanti saja setelah kamu selesai dengan kuliah mu." Jelas Riani.
"Iya aunty."
"Yasudah, aunty tutup telponnya dulu." Riani pun mematikan sambungan telponnya.
"AAHHH!! DAMN IT! Kenapa banyak sekali halangan untuk aku bertemu dengan Ansel!" Kesal Elsa.
........
Nara dan Viana kini tengah berbincang. Nara masih terlihat berbaring di kasur rumah sakit. Ia masih tak di ijinkan keluar karna kesehatannya masih lemah.
"Vi, gue pengen pulang! Gue gak suka disini..." Keluh Nara.
"Ra, sabar aja... Lo kan masih sakit. Lagian, kenapa juga lo harus sok-sok an berani ke rumah hantu! Kan jadinya kayak gini." Cerocos Viana.
"Ck, lo sama aja kayak si cobul gila itu! Yakan gue cuman mau nyelamatin harga diri gue doang. Mana mau gue bilang kalo gue takut sama hantu di depan si cobul gila itu! Harga diri gue bakal jatuh Vi!"
"Nyelametin harga diri sih iya, tapi nyawa lo jadi taruhannya! Lagian, kenapa sih harus segitunya sama Ansel. Lo harus berbaikan sama Ansel, dia itu baik Ra... Gak jahat seperti yang lo pikirin selama ini. Buktinya aja tadi dia nolongin lo." Tutur Viana sembari memakan apel ditangannya.
"Dia seperti itu cuman cari muka doang!" Kesal Nara.
"Hah... Terserah lo deh, gue cape ngasih tau lo kayak gimana kalo Ansel utu sebenar nya baik."
"Gue juga capek ngasih tau lo, kalo Ansel itu gak sebaik yang lo kira. Dia itu jahat! Dia lagi berusaha buat pisahin persahabatan kita. Dan dia juga gak cinta sama lo!"
__ADS_1
"Cukup Ra! Cukup! Jangan pernah lo tuduh Ansel yang enggak-enggak. Yang membuat persahabatan kita renggang itu bukan salah Ansel, tapi lo sendiri! Dan satu lagi, Ansel cinta sama gue!" Viana bangkit dari duduknya dan hendak pergi tapi ia langsung berhenti ketika mendengar perkataan Nara.
"Lo sebegitu cinta nya sama Ansel, sampai-sampai lo gak percaya sama ucapan gue sebagai sahabat lo sendiri? Begini kah persahabatan kita? Saling tidak percaya satu sama lain? Apa arti dari persahabatan kita selama ini?" Air mata Nara turun begitu saja melewati pipinya.
Viana mengepalkan kedua tangannya, menahan sesuatu yang mengganjal di relung hatinya. Air matanya juga ikut turun membasahi pipinya. Lalu Viana mengusap air matanya dan pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Nara.
"Lo berubah Vi... Gue kecewa sama lo." Nara menghapus air matanya dan melelapkan matanya. Hatinya begitu sakit ketika sahabatnya selalu tak percaya padanya.
Viana berjalan dengan gontai, air matanya kembali membasahi pipinya. Lalu ia duduk di kursi taman rumah sakit. Ia menangkupkan wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.
"Maaf Ra... Maafin gue! Gue terlalu cinta sama Ansel. Hiks..."
Setelah Ansel pulang dari rumah sakit, ia tak langsung pulang ke mansion utama melainkan ia pergi ke sebuah apartemen milik keluarganya. Ia membuka satu persatu pakaian yang dikenakan nya lalu ia pergi ke kamar mandi membersihkan seluruh tubuhnya yang terasa lengket.
Dibawah guyuran shower, Ansel terpikir akan satu hal, yaitu Nara. Tiba-tiba saja ia teringat dengan Nara. Ia teringat waktu pertama kali ia bertemu dengannya. Ia tak menyadari bahwa hatinya kini terpincut oleh sosok Nara. Ansel tersenyum mengingat semua hal mengenainya.
"Lo cantik dan lo unik, gue penasaran sama lo. Seperti apa sebenarnya lo itu?" Ucap Ansel.
Ansel pun kembali melanjutkan mandinya. Setelah itu, ia keluar dari kamar mandi dan menuju walk closet untuk berpakaian. Ia membaringkan tubuhnya dan membuka ponsel. Hal pertama yang ia buka di ponselnya yaitu akun instagram Nara. Disana ia bisa melihat beberapa postingan Nara.
"Cantik." Ansel tersenyum melihat foto Nara yang sedang tersenyum ditambah lagi posisi Nara di foto itu berada di pinggir pantai dan rambut nya terkesiap oleh angin menambahkan kecantikan Nara.
"Apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan mu Nara? Aku saat ingin memastikan hatiku, apa benar aku jatuh cinta padamu?" Ucap Ansel kembali yang masih betah menatap foto Nara di ponselnya.
"Kamu harus bertanggung jawab Nara karna telah membuatku bimbang dan gelisah seperti ini."
Ansel menyimpan salah satu foto Nara dan membuat fotonya menjadi wallpaper ponsel nya. "Kau milikku." Ansel pun menyimpan ponselnya lalu tertidur.
.
.
.
Tak lama dari itu, tiba-tiba saja pintu ruang rawat Nara terbuka. Dan ternyata Viana lah yang membukanya. Ia membuka pintunya dengan perlahan karna ia mengira Nara masih tertidur dan takut membangunkannya. Tapi ketika Viana melihat kearah tempat tidur Nara, ia tak menemukannya. Waktu semalam, Viana pulang kerumah kontrakan mereka untuk beristirahat sejenak disana. Lalu pagi-pagi sekali ia berangkat kembali ke rumah sakit.
"Kemana Nara?" Lirih nya lalu kembali keluar ruangan hendak mencarinya di luar.
Nara membuka pintu kamar mandi dan berbaring kembali di tepat tidurnya.
"Kemana Viana? Apa dia masih marah ya? Huft... Aku harus segera keluar dari rumah sakit hari ini juga." Nara bangkit lagi lalu pergi ke luar hendak mengajukan untuk keluar hari ini.
"Tunggu dok, apa saya sudah bisa keluar hari ini?" Tanya Nara menghentikan seorang dokter.
"Atas nama siapa?" Tanya dokter tersebut.
"Nara Lathesia dok."
"Tunggu sebentar." Dokter itupun membuka sebuah dokumen.
"Bisa saya periksa terlebih dahulu kondisi anda?" Ujar sang dokter.
"Oh, boleh dok." Nara pun kembali ke dalam kamar rawatnya dan dokter pun mengikutinya.
"Kondisi anda sudah stabil dan bisa pulang hari ini." Ucap dokter itu setelah memeriksa Nara.
"Baik dok, Terimakasih."
Dokter itupun mencabut selang infus Nara. Dan Nara mengganti pakaian rawatnya, dan bersiap untuk pergi. Nara berjalan menuju koridor rumah sakit. Setelah sampai di luar rumah sakit, ia menunggu sebuah taxi lewat. Bukannya taxi yang lewat, tetapi ia malah berjumpa dengan Ansel.
__ADS_1
Tin... Tin...
Ansel membunyikan klakson mobilnya.
"Lo udah bisa keluar hari ini?" Tanya nya.
"Seperti yang lo liat." Ketus Nara mengalihkan pandangan nya dari Ansel dan menengok kesana kemari mencari taxi lewat.
Ansel tersenyum kecut. "Ayo ikut sama gue. Mumpung gue baik hati sama lo." Tawar Ansel.
"Gak perlu." Singkat Nara, lalu melangkah melewati Ansel.
Ansel mencengkram stir, dan kemudian ia turun dari mobilnya menghampiri Nara.
"Kerasa kepala!" Ansel dengan kasar menarik lengan Nara dan membawanya masuk kedalam mobil.
"Aduh!! Apa-apaan sih lo! Lepasin tangan gue!" Nara meronta. Karna ia masih lemah, dengan berat hati ia mengikuti perintah Ansel.
Ansel pun kembali melajukan mobilnya. Niatnya ia ingin menjenguk Nara di rumah sakit, tetapi ia melihat Nara sudah keluar dan berdiri tepat di depan rumah sakit. Keadaan dalam mobil begitu hening. Keduanya terlihat saling diam, Ansel diam karna jantung nya tiba-tiba saja berdetak kencang dan ia terlihat gugup dan selalu melirik kearah Nara yang sedang menghadap kearah jendela.
Nara diam karna ia sangat kesal dengan Ansel yang seenaknya saja memaksanya untuk ikut dengannya. Ketika ia sedang menikmat pemandangan setiap jalan yang ia lewati, tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh Deheman Ansel.
"Ekhem!" Ansel berdehem dan Nara menoleh melihatnya lalu kembali mengalihkan padangannya kearah jendela mobil. Ansel yang melihatnya sedikit kesal, lalu ia berdehem untuk kedua kalinya.
"Ekhem!" Kali ini Nara tak menengok dan membuat Ansel bertambah kesal.
"EKHEM!" Ansel menaikan volumenya.
"Kalo tenggorokan lo gatel, ya minum! Jangan berdehem terus... Berisik!" Kini Nara menyahuti Ansel, tetapi dengan kegarangannya.
"Siapa juga yang tenggorokannya gatel. Tenggorokan gue sehat! Ngerti lo?" Celoteh Ansel.
"Terserah!". Singkat Nara.
"Lo kenapa sih jutek terus. Kali-kali kek lo lembut sedikit sama gue." Ansel mencoba membuka pembicaraan.
"Lo amnesia? Atau otak lo udah kepentok sesuatu? Denger ya, gak ada lembut-lembutan sama cobul breng*ek kayak lo!"
Ckikkk
"Ahhh!" Nara terpantul kedepan karna Ansel mengerem mobilnya secara tiba-tiba. Dan untungnya saja Nara memakai sabuk pengaman dan jalanan juga tampak sepi.
"LO GILA YA?!" Teriak Nara terkejut.
"JANGAN TERIAK DI HADAPAN GUE!" Ansel memukul stirnya dengan sangat kencang. Lalu ia melepaskan sabuk pengaman nya dan mendekati Nara.
Nara tersentak kaget melihat Ansel yang terlihat begitu marah. Nara sangat takut melihat kemarahan di mata Ansel. Ia pun mencoba melepaskan sabuk pengaman nya dan mencoba juga untuk membuka pintu mobil. Tetapi usahanya nihil, Ansel mencekal lengannya dan menarik Nara mendekat ke arahnya.
"Asal lo tau, gue gak suka di bantah atau di bentak! lo mau tau kata berengsek itu seperti apa hem?" Ansel mendekati wajah nya ke wajah Nara. Ansel tersenyum smirk melihat ketakutan di wajah Nara. Lalu...
CUP
.
.
.
TBC
__ADS_1