Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 56


__ADS_3

#Happy Reading's🌻


.


.


.


"Bagaimana perasaan mu saat ini?" Tanya Ansel seraya menyetir mobilnya.


"Lumayan." Jawab Nara dengan senyum nya. Hatinya sedikit terobati.


Ansel mendengarnya ikut bahagia.


"Eh ya, katanya kamu keluar kota satu minggu? Tapi kan ini belum satu minggu? Bagaimana bisa?" Tanya Nara dengan serius.


Mendengar itu, Ansel sedikit salah tingkah. Tak mungkin ia mengatakan bahwa itu hanya sandiwara nya saja untuk memisahkan Nara dan Bayu. Ansel berdehem dengan keras menghilangkan rasa groginya.


"Sebenarnya, waktu kemarin aku berniat pulang untuk mengambil berkas ku yang tertinggal. Habis itu mommy malah menyuruhku untuk meninggalkan pekerjaan ku terlebih dahulu karna mommy memintaku untuk datang di anniversary pernikahan sahabatnya dan ternyata itu adalah orang tua kamu." Jelas Ansel beralibi.


Keringatnya mengucur di sela pelipisnya. Ia takut jika ia hanya beralasan saja, ia tau jika Nara sangat sulit di bohongi. Benar saja, Nara terlihat berfikir panjang dan mencerna setiap perkataan Ansel.


"Benarkah?" Ucap Nara mengerutkan keningnya.


"Apa aku terlihat berbohong?" Tanya Ansel berusaha tenang.


"Emmm..." Nara melihat raut wajah Ansel yang tengah bercucuran keringat, padahal AC di dalam mobil sudah menyala.


"Apa kamu merasa kepanasan? AC nya menyala kok." Nara membenarkan AC mobil Ansel dengan mem full kannya.


"Ti~tidak." Ujar Ansel.


"Semoga saja Nara tidak curiga." Batin Ansel resah.


"Apa kamu tidak percaya?" Tanya Ansel kembali.


"Aku percaya... Aku percaya. Cepatlah bawa aku pulang kerumah, badanku sangat sakit." Ucap Nara menyenderkan kepalanya sembari memegang tangannya yang terluka.

__ADS_1


Sesampainya di rumah Nara, Ansel memberhentikan mobilnya di teras rumah Nara. Ia mematikan mesin mobil dan melihat kearah Nara yang tengah tertidur pulas. Ansel mendekatkan wajahnya kearah wajah Nara. Ia memandanginya lalu tersenyum simpul melihat ke imutan Nara ketika tertidur.


"Aku mencintaimu Nara." Ucap Ansel mengecup singkat dahi Nara dan memundurkan kepalanya.


Ia turun dari mobil membuka pintu sebelah dan menggendong Nara yang tengah tidur pulas. Disaat bersamaan dengan Ansel menggendong Nara, ia di kejutkan dengan seseorang yang tengah menatapnya. Ansel mematung seketika dan mengeratkan pelukannya di tubuh Nara yang berada di gendongan nya seakan-akan ia takut kehilangannya.


Viana berdiri di ambang pintu pagar rumahnya. Ia baru saja hendak menutup pagar rumahnya, tetapi ketika sebuah mobil berhenti di pekarangan rumah Nara ia memperhatikan nya karna merasa familiar dengan mobil itu. Benar saja dugaannya, itu adalah Ansel.


Hatinya membara disaat Ansel menggendong Nara yang sedang tertidur. Pegangan nya di pintu pagar sangat kuat menahan gejolak hatinya. Hatinya berkata jujur jika dirinya masih mencintai sosok yang menatapnya.


"Benar-benar pasangan menjijikan!" Viana semakin mengeratkan tangannya di pintu pagar. Giginya menggertak lalu berlalu lalang masuk kedalam rumah.


"Apa itu Viana? Aku harap dengan hadirnya Viana lagi, tidak akan merusak hubungan ku dengan Nara yang akan semakin membaik. Aku tidak akan biarkan itu terjadi." Lirih Ansel lalu membawa Nara kedalam rumah. Untungnya saja di rumah Nara ada pamannya Nara yang menjaga rumah itu.


"Nak Ansel, mau kemana?" Tanya paman Nara yang melihat Ansel hendak pergi setelah ia membaringkan tubuh Nara di kasurnya.


"Saya ingin pulang paman." Ucap Ansel.


"Menginaplah disini. Ini sudah larut malam, tidak baik untuk pulang di jam segini. Tidurlah di kamar tamu, paman akan siapkan." Ujar Paman Nara.


"Baiklah paman... Terimakasih banyak."


Jam 3 dini hari, Nara merasakan tenggorokan nya kering. Ia pun bangkit dari tidurnya dan mengambil minum di dapur. Setelah terasa tenggorokannya sudah tidak kering lagi, ia pun ingin melanjutkan tidurnya. Sesaat Nara terdiam, lalu menengok kearah pintu ruang tamu yang terbuka lebar. Ia heran mengapa pintu itu terbuka lebar padahal setiap saat pintu kamar tamu selalu di tutup jika tidak di tempati.


Perlahan Nara menghampiri kamar tamu dengan membawa sebuah sapu injuk untuk berjaga-jaga jika itu adalah maling. Setelah sampai di ambang pintu kamar tamu, Nara melihat kesekeliling tidak ada siapapun. Dengan berani, ia berjalan masuk kedalam memastikan jika di dalam aman.


"Hah... Tidak ada apa-apa." Ucap Nara menghela nafasnya lega.


Ketika ia ingin berbalik keluar kamar tamu ia mendengar suara gemericik air didalam kamar mandi ruang tamu itu. Dengan sigap, Nara sudah aba-aba melayangkan sapu injuk. Perlahan ia menghampiri kamar mandi.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka.


"Hiatt!!!" Nara melayangkan beberapa pukulan kencang kearah Ansel yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ansel sebenarnya sempat bangun tadi karna badannya terasa sangat lengket lalu ia pun menyegarkan tubuhnya.


"Aduh! Aduh! Hei..." Rintih Ansel terkena pukulan Nara yang bertubi-tubi.

__ADS_1


"Dasar maling! Mati kau maling!!" Nara terus saja memukul-mukul Ansel.


Ansel pun berusaha menghentikan pukulan Nara. Lalu ia pun memegang tangkai sapu mencoba menghentikan nya. Dengan kuatnya Ansel melempar sapu yang di tangan Nara ke sembarang arah. Karna Ansel terlalu kuat melempar sapu dari tangan Nara, ia pun terpeleset menyentuh tubuh polos Ansel yang hanya memakai handuk saja di pinggang nya.


"Ahk!" Nara terjatuh di dada polos Ansel dan tak sengaja menyentuh dada bidang Ansel. Ia memejamkan matanya sedangkan tangan nya menepuk-nepuk dada bidang Ansel yang polos.


"Apaan nih?!" Masih di posisi semula, setelah Nara menepuk-nepuk dada bidang Ansel ia menusuk-nusuk dada bidang Ansel dengan jarinya.


"Apa sudah puas bermain di dada ku?" Tanya Ansel menyadarkan Nara.


"Kenapa aku merasa familiar dengan suara ini?" Fikir Nara tak menghiraukan ucapan Ansel. Dengan gemas, Ansel pun memeluknya dan mendekap Nara dengan sangat kuat sehingga Nara tersentak.


"Apa-apaan ini?!" Nara berusaha melepaskan pelukan Ansel.


Ansel melepasnya. Nara melihat kearah Ansel. Tidak! Nara melihat kearah dada bidang Ansel yang polos dan menggiurkan batin itu. Ia membulatkan matanya dan beralih ke wajah Ansel yang tengah tersenyum penuh arti padanya.


"AAHKK!! MESUM!" Nara menutup kedua matanya dan berbalik memunggungi Ansel.


"Hei! Siapa yang mesum? Kamu yang mesum! Siapa tadi yang nepuk-nepuk bahkan mencolek-colek dadaku?" Tanya Ansel dengan senyum nakal nya.


"A~aku ta~tadi tidak sengaja! Lagian kenapa kamu ada disini?! Aku gak tau kalo kamu disini!" Gugup Nara. Wajahnya sudah memerah semerah cherry.


"Paman mu menyuruhku untuk menginap dan menyiapkan kamar ini untukku. Karna sudah larut malam dan aku tak tahu ingin tinggal dimana jadi aku terima saja tawaran paman mu." Jelas Ansel lalu duduk di pinggir kasur tanpa berniat untuk memakai baju.


"Yaudah, kalo begitu!!" Nara pergi terburu-buru karna ia merasa sangat malu saat ini.


"HEI NARA! APA KAMU TIDAK MAU MEMAKAI KAN AKU BAJU SEKALIAN?!" Teriak Ansel menggodanya, membuat Nara semakin malu.


"DASAR GILA!" Teriak Nara membanting pintu kamarnya. Ya, kamarnya dan kamar tamu bersebelahan.


Ansel menggelengkan kepalanya seraya tersenyum bahagia karna sudah mengerjai Nara. Ia berharap waktu tetap seperti ini. Ia berharap juga Nara akan bersikap manis padanya dengan seiringnya waktu.


.


.


.

__ADS_1


TBC


Ditunggu up selanjutnya besok ya😉


__ADS_2