Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 20


__ADS_3

#Happy Reading's🌻


.


.


.


Author pov:


Mata kuliah sudah selesai, kini beralih dengan jam istirahat. Semua orang menuju kantin tak terkecuali Viana dan Ansel yang sudah duluan ke kantin, meninggal Nara seorang diri di dalam kelas. Awalnya Viana sempat mengajak Nara ke kantin bersama, tetapi Nara menolaknya karna Nara teringat janjinya dengan Bayu yang ingin ke kantin bersama.


"Hai Nar..." Sapa Bayu menghampiri Nara.


"Eh hai... Ayo." Nara dengan singkat langsung mengajak Bayu ke kantin.


"Iya ayo."


Nara dan Bayu kini sudah duduk di meja yang sama dengan Viana dan Ansel.


"Ekhem... Ada yang mulai PDKT nih ye..." Goda Viana yang duduk di sebrang Nara.


"Apaan sih lo!" Nara melototi Viana.


"Lo liat sendiri kan Vi, gimana garang nya sahabat lo ini. Makanya gue gak ngajak dia ( Nara ) dinner takut suasananya horor." Ejek Ansel.


Mendengar hal itu, Nara sangat kesal. Ia mencoba untuk menurunkan emosinya karna ia takut itu akan memicu keributan. Bayu yang berada di sebelah Nara mencoba menenangkannya, karna Bayu melihat Nara menahan kekesalannya.


"Gak usah dengerin." Senyum manis Bayu menenangkan Nara.


"Cih, lebay." Gerutu Ansel.


Mereka ber-empat mengahabiskan istirahat mereka dengan makan, dan mengobrol. Walaupun sesekali ada saja keributan diantara Nara dan Ansel. Mereka berdua bagaikan kuda dan kambing, eh salah! Maksudnya mereka bagaikan anjing dan kucing.


......................


Akhirnya mata kuliah pun sudah selesai. Nara dan Viana bersiap-siap untuk pergi ketempat kerja mereka. Ketika mereka hendak pergi dari kelas, tiba-tiba saja Ansel menghalangi mereka berdua.


"Eh tunggu..." Cegah Ansel. Nara dan Viana pun menoleh kearahnya.


"Vi, jangan lupa ya malam ini gue tunggu di depan cafe lo." Ucap Ansel dan dibalas anggukan dan senyuman dari Viana.


"Yaudah, sampai jumpa nanti malam." Ansel dengan tiba-tiba mengusap lembut kepala Viana, membuat muka Viana memerah tersipu malu.


Dan Ansel melihat hal itu terkekeh geli. Pada akhirnya, Viana dan Ansel saling menatap satu sama lain bagaikan sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Nara yang berada di sebelah Viana, merasa diabaikan seperti patung hidup. Dia merasa muak dengan dua sejoli yang memandang dengan cinta itu.

__ADS_1


"Cih." Nara berdecih dan melangkah meninggalkan Viana dan Ansel. Viana menyadari hal itu, ia pun langsung berpamitan pada Ansel dan menyusul Nara. Dan mereka berdua pun menuju restoran tempat mereka bekerja.


Jam menunjukan pukul 7 malam. Viana yang kini ada janji untuk dinner bersama Ansel, ia terlebih dahulu meminta ijin pada manager restoran. Dan tak lupa, ia juga sempat berpamitan terlebih dahulu pada Nara.


"Ra, gue pergi dulu ya..." Pamit Viana.


"Iya, walaupun gue gak setuju lo dinner sama cobul gila itu, lo juga gak bakal dengerin gue." Cibir Nara.


"Udahlah Ra... Lo gak usah berburuk sangka terus sama Ansel. Dia baik kok..." Elak Viana membela Ansel. Ia merasa tak terima jika Ansel di jelek-jeleki oleh Nara.


"Baik mata lo pe'a!" Lirih pelan Nara.


"Yaudah bye Ra... Gue duluan yah." Viana tak ingin mereka berdebat terus menurus, ia pun mengakhirinya dengan langsung memeluk Nara dan pergi menghampiri Ansel yang sudah berada di depan restoran.


......................


Viana pov:


Saat ini aku sangat senang sekali karna Ansel mengajak ku untuk dinner. Aku awalnya tak percaya bahwa Ansel mengajakku dinner. Bagaimana tidak? Kita baru saja beberapa hari ini dekat dan saling mengenal, Ansel sudah mengajak ku dinner. Aku tidak berfikiran bahwa Ansel memiliki niat yang tidak baik, seperti yang Nara pikirkan.


Aku mengira, mungkin Ansel mengajakku dinner hanya untuk membuat hubungan kita lebih dekat saja dan tidak lebih. Pandangan ku terhadap Ansel awalnya biasa-biasa saja, hanya sekedar kagum dengan ketampanannya saja. Aku yang sangat menyukai pria tampan, sangat senang bisa dekat dengan Ansel.


Aku juga awalnya tidak berfikiran bahwa aku mencintai Ansel. Tetapi kini? Aku rasa itu ada sedikit di hatiku. Karna setiap aku berdekatan dengan Ansel, hatiku berdebar tak karuan. Tatapannya membuatku mabuk kepayang. Haha! mungkin aku terlalu lebay dengan ungkapan itu. Entah kenapa aku merasa Ansel itu penuh dengan pesona dan kharisma.


Tetapi apa yang aku pikirkan tentang Ansel itu sangat terbalik dengan apa yang di pikirkan oleh sahabatku Nara. Ia berpikir, jika Ansel itu bukan pria yang baik dan dia mempunyai niatan tersembunyi untuk mendekatiku. Tapi, entahlah aku tak percaya dengan apa yang Nara katakan. Aku menilai dengan apa yang aku lihat, bahwa Ansel itu baik dan tidak terlihat memiliki niatan apapun.


Ansel menggandengku kedalam restoran dan ia juga menarik kursi untuk aku duduk. Sungguh manis dan romantis sekali sikap Ansel yang membuatku semakin terpesona dengannya.


"Vi, mau pesen apa? Ini buku menu nya. Kamu pilih aja apa yang kamu mau." Ucap Ansel yang menghilangkan kata gue-lo menjadi aku-kamu. Ah! Sungguh manis sekali.


Aku pun membuka buku menu dan mulai memilih makanan dan minuman. Ya, walaupun aku tak pernah ke restoran mewah ini, aku tak sekampungan itu yang tak tau harus memilih apa karna tak pernah makan di restoran ini.


"Eummm... Aku pilih stik dan lemon tea." Ucap ku pada Ansel.


"Oke. Dua stik, satu lemon tea dan satu blackberry." Ujar Ansel pada pelayan restoran.


Setelah memesan pesanan kami terdiam karna merasa canggung dan bingung ingin memulai percakapan apa. Beberapa menit kemudian, Ansel membuka suaranya.


"Vi..." Panggil Ansel.


"Iya?" Jawab ku.


"A~aku mau ngomong sesuatu..." Gugup Ansel.


"A~apa?" Aku tak kalah gugupnya dengan Ansel.

__ADS_1


"Aku sama suka sama kamu Vi." Ucap Ansel to the point.


"Apa?!" Sontak saja aku terkejut mendengar kalimat yang dilontarkan Ansel. Apa aku tak salah dengar, Ansel mengatakan jika dia menyukai ku?


"Aku suka sama kamu." Ucap Ansel kembali.


"Ka~kamu suka sama aku? Apa aku gak salah denger?!" Aku pun menepuk-nepuk kedua telinga ku karna tak percaya dengan apa yang dikatakan Ansel.


"Nggk, kamu gak salah denger. Aku memang suka sama kamu Viana..."


"....." Aku membisu mendengar kembali penuturan Ansel. Dengan keterdiamanku, Ansel pun akhirnya memegang tangan ku yang posisinya sedang diatas meja. Aku pun sontak terkejut, dan pandangan ku kini beralih pada tangan Ansel yang memegang tanganku.


"Aku bener-bener suka sama kamu Vi... Sejak aku melihat kamu, aku sudah menyukaimu. Kamu mau kan jadi pacar aku?"


DEG


Apakah ini mimpi? Jika mimpi, tolong jangan bangunkan aku saat ini. Sungguh, ini membuat jantungku semakin berdetak kencang, dan meronta-ronta ingin keluar. Ansel menyatakan cinta? Apakah ini tidak terlalu cepat? Aku terdiam sejenak, setelah itu Ansel menjentikan jarinya di depan wajahku sehingga kesadaranku kembali.


"Ah... Maaf, apa aku terlalu cepat?" Ujar Ansel yang terlihat canggung.


"I~itu... Anu... Itu... Apa kamu becanda?" Ucapku memastikan.


"Tidak." Singkat Ansel.


"Emmm itu... Sebenarnya, aku juga suka sama kamu Ans." Ucapku malu.


"Benarkah? Sejak kapan?" Semangat Ansel ketika mendengar pengakuanku.


"Aku juga tidak tau... Awalnya aku hanya terpesona saja. Tetapi kini, aku sedikit memiliki perasaan terhadap kamu Ans." Aku menunduk malu, menyatakan perasaan ku yang sebenarnya. Aku bukanlah orang yang berbelit-belit jika tentang perasaan. Aku langsung mengatakan dengan spontan perasaan ku terhadap Ansel.


"Aku senang mendengar pengakuanmu Vi. Jadi gimana?" Ansel kini sudah memegang kedua tanganku. Jantungku berdegub kencang saat ini.


"I~iya, aku mau..." Jawab ku dengan malu sambil menunduk.


"Jadi kita pacaran?! YESS!! APA KALIAN DENGAR? VIANA MENERIMA MENJADI PACARKU!" Ansel berteriak dan semua pengunjung-pengunjung restoran ikut bersorak serta bertepuk tangan.


"Ansel apa-apaan sih!" Bisik ku pada Ansel karna aku sangat malu menjadi pusat perhatian semua pengunjung restoran.


Kini aku dan Ansel sudah resmi menjadi sepasang kekasih, aku bahagia sekali. Ansel begitu bersikap romantis terhadapku dan aku sangat senang dengan itu. Setelah kami mengahabiskan dinner, Ansel mengajakku ke sebuah taman hiburan tetapi aku menolak karna ini sudah sangat larut malam. Aku kasihan sama Nara yang tinggal sendiri di rumah kontrakan. Aku pun meminta Ansel untuk mengantarku pulang.


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2