
#Happy Reading's🌻
.
.
.
Viana terlihat begitu resah. Ia mundar-mandir tak karuan memikirkan bagaimana caranya agar Tony tak mengetahui bahwa unitnya adalah kamar yang waktu itu tempat kejadian mereka bercinta.
"Bagaimana ini?" Viana mengigit kuku jempolnya.
"Hanya ini yang bisa aku lakukan!" Viana yang sudah bersiap pun mengambil tas selempangnya dan berjalan keluar apartemen nya.
Beberapa kali Viana melihat arlojinya. Ia pun mengetuk pintu apartemen unit 125 yang waktu itu Viana memberitahu Tony bahwa dirinya tinggal di unit tersebut. Tak lama kemudian, keluar lah pemilik apartemen itu. Seorang wanita paruh baya menanyai Viana kenapa dirinya mengetuk pintu apartemen nya.
"Maaf nyonya... Saya..." Baru saja Viana hendak memberitahu alasannya, tiba-tiba saja seseorang menepuk pundaknya.
"To... Tony?" Viana terkejut melihat Tony sudah berada di belakangnya.
"Kamu sudah bersiap ternyata. Eh ini ibu mu?" Tanya Tony ketika melihat wanita paruh baya berdiri diambang pintu.
"Ibu? Bukan, saya..."
"Dia nenek ku! Ya... Nenek ku. Ayo kita jalan... Nenek aku pamit pergi dulu ya..." Viana pun langsung menarik lengan Tony.
"Hei siapa yang kau sebut nenek mu! Aku bukan nenek mu!" Teriak wanita paruh baya itu melihat kepergian Viana dan Tony.
"Muka ku masih terlihat muda begini dikatai seorang nenek! Ah dasar anak muda yang tak tau sopan santun!" Kesal wanita paruh baya seraya meraba wajahnya sendiri.
"Siapa sayang?" Tanya seorang pria paruh baya yang tak suaminya.
"Aku juga tidak tau. Tiba-tiba saja seorang wanita mengetuk pintu dan menyebutku neneknya!"
"Yasudah, jangan dipermasalahkan. Mungkin wanita itu tersesat dan salah melihat."
"Masa sih? Keliatannya wanita itu masih muda... Masa matanya sudah rabun?"
"Sudah-sudah... Ayo kedalam." Pria paruh baya itupun mengajak istrinya masuk kembali kedalam apartemen.
Viana terus menarik lengan Tony hingga masuk kedalam lift. Tony melihat tingkah Viana yang menurutnya aneh. Ia juga sempat mendengar teriakan wanita paruh baya itu jika dirinya bukan neneknya. Tetapi Viana menyebut wanita paruh baya itu neneknya.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Tony melihat Viana begitu resah dan banyak sekali cucuran keringat di pelipisnya.
"Ti... Tidak apa-apa." Viana mengusap keringatnya dan berusaha tersenyum.
"Tenanglah Viana..." Batin Viana menenangkan dirinya sendiri.
"Sungguh tidak apa-apa? Tapi keringatmu banyak sekali."
"I... Ini.. Aku hanya kepanasan saja." Elak Viana mengibas-ngibaskan wajahmu menggunakan tangannya.
"Oh... Tapi disini sangat dingin menurut ku."
"Itu kan kau! Ah sudahlah diam."
"Iya-iya..." Akhirnya rasa penasaran Tony ia kubur dalam-dalam ketika Viana sudah terlihat sangat kesal.
Mereka sudah berada di basement parkiran. Tony membukakan pintu untuk Viana. Setelah itu Tony pun melajukan mobilnya menuju mansion Ansel dan Nara.
"Emm... Aku tadi mendengar wanita yang kamu sebut nenek mu itu, katanya dia bukan nenek mu." Tony akhirnya mengucapkan isi pikirannya.
__ADS_1
"Di... Dia... Dia nenek ku. Sebenarnya nenek ku sudah agak pikun jadi dia kadang tidak mengenaliku."
"Benarkah? Memang masuk akal... Tapi, kenapa nenekmu masih terlihat muda? Seperti bukan seorang nenek-nenek."
"Kenapa dia bawel banget sih!" Batin Viana kesal.
"Tony... Kenapa kamu cerewet sekali! Diam saja dan tetap fokus pada kemudi mu!"
Tony mengkerutkan alisnya. Ia menyadari ada hal aneh yang disembunyikan Viana darinya.
"Aku harus mencari tau, apa yang disembunyikan Viana dariku." Batin Tony.
Setelah sampai di mansion Ansel dan Nara, Tony dan Viana turun dari mobil dan berjalan memasuki mansion. Beberapa pelayan menyambut keduanya dengan ramah. Kebetulan sekali keluarga Ansel sedang makan malam. Jadi, mereka meminta Tony dan Viana ikut bergabung.
"Bagaimana kabarmu nak Viana?" Tanya Riani.
"Kabarku baik tan." Jawab Viana dengan ramah.
"Syukurlah... Apa kalian berdua berpacaran?" Tanya Riani pada Viana dan Tony. Spontan keduanya terkejut mendengar hal itu.
"Kami tidak berpacaran tan..." Elak Viana.
"Benarkah? Tapi kalian terlihat sangat serasi."
"Benar, kalian sangat serasi." Timpal Ansel.
"Betul itu... Kenapa kalian tidak pacaran saja?" Timpal Abraham yang ikut meladeni istri dan anaknya.
Viana dan Tony terlihat tak nyaman mendengar beberapa ucapan yang dilontarkan Riani, Abraham dan Ansel. Nara melihat kecanggungan mereka berdua.
"Sudahlah, kenapa kalian berkata seperti itu... Lihatlah, mereka terlihat sangat canggung." Ujar Nara.
Semuanya tampak diam.
"Tidak apa-apa kok tan." Sela Viana.
"Aku sudah kenyang." Ansel menyimpan sendoknya dan berdiri lalu pergi menuju kamarnya.
Entahlah, hatinya begitu cemburu karna ia mengira Nara berkata seperti itu karna ia masih menyukai Tony dan cemburu jika Tony dan Viana benar-benar berpacaran. Nyatanya tidak seperti itu. Nara hanya merasa kasihan saja melihat kecanggungan Viana dan Tony. Tanpa ada kaitannya dengan hati.
Nara melihat kearah piring Ansel yang masih tersisa banyak. Nara juga kebingungan dengan tingkah Ansel yang tiba-tiba saja pergi tanpa mengajaknya dan tidak menghabiskan makanannya.
"Ada apa dengan Ansel?" Batin Nara.
Mereka melanjutkan makan malam, walaupun Nara ingin sekali menjemput Ansel ke kamar tetapi ia tidak bisa karna masih ada kedua temannya dan tidak enak hati juga dengan kedua mertuanya.
Makan malam pun berakhir. Bik Ijah menuntun kursi rodanya menuju ruang tamu. Awalnya bik Ijah menawarkan membawanya untuk ke kamar. Tetapi Nara menolak, karna ia ingin bersama Viana saat ini. Sudah lama sekali Nara baru bisa mengobrol dan bersama Viana.
"Kabar lo gimana Ra? Apa kaki lo masih belum bisa jalan?" Tanya Viana.
"Iya Ra, gimana kabar kamu?" Timpal Tony.
"Ya seperti yang kalian lihat. Gue belum bisa jalan... Tapi sedikit demi sedikit gue bisa." Jawab Nara.
"Oh... Kalo begitu kalian lanjutkan mengobrolnya. Aku akan ke atas menemui Ansel." Pamit Tony. Nara dan Viana mengiyakannya.
Nara dan Viana melanjutkan obrolan mereka. Sedangkan Tony menemui Ansel di dalam kamarnya. Tony melihat Ansel yang tengah berdiri di depan balkon kamarnya seraya menyesapkan nikotin atau rokok di tangannya.
"Hei bro, kenapa lo tadi tiba-tiba ninggalin tempat makan?" Tony merangkul pundak Ansel.
Ansel melepaskan rangkulan tangan Tony. "Kenapa harus lo sih yang nyamperin gue dikamar!" Ketus Ansel.
__ADS_1
"Emangnya harusnya siapa? Nara? Dia lagi ngobrol sama Viana dibawah."
"Ck... Istri macam apa dia yang lebih mementingkan orang lain daripada suaminya sendiri!" Kesal Ansel mengesap rokoknya dalam-dalam.
"Hei bro! Viana kan sahabatnya... Dan mereka baru bisa seperti itu lagi dari sekian lamanya. Masa gitu aja cemburu sih!" Tony menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sama aja! Dia harusnya lebih mementingkan suaminya dari hal apapun!"
"Sudahlah... Jangan seperti ini."
"Lo masih cinta sama istri gue?" Ansel tiba-tiba saja mengalihkan obrolannya.
"Emm... Mungkin sedikit." Jawab Tony.
Ansel mencengkram kerahnya. "Jangan coba-coba lo ambil Nara dari gue! Dia udah milik gue seutuhnya, dan seharusnya lo menyerah!"
"Santai bro! Lagian kan cuman sedikit. Mungkin dengan seiringnya waktu kata sedikit ini, perlahan menjadi kata tidak ada. Dan mungkin juga, hati gue terukir nama lain." Tony melepaskan cengkraman Ansel.
"Maksud lo?" Tanya Ansel dengan bingung.
Tony mengedikan bahunya dan berjalan menuju tempat tidur. Ia membaringkan tubuhnya disana.
"Eh jelasin dulu maksud lo apaan tadi!" Teriak Ansel.
"Nanti juga lo ngerti!"
Ansel mematikan rokoknya dan menghampiri Tony yang tengah berbaring diatas kasurnya. Dengan kasarnya Ansel menarik kaki Tony hingga terjatuh.
"Aduh! Kenapa lo tarik gue sih?!" Tony bangun dari jatuhnya.
"Kalo mau tidur di sofa atau di kamar tamu aja! Jangan tidur di kasur gue sama Nara!" Ansel berkacak pinggang.
"Ye... Emangnya gue virus apa! Sampe segitunya lo sama sepupu sendiri!"
"Gue gak ijinin siapapun itu tidurin tempat tidur gue sama Nara."
"Iya-iya... Terserah lo! Dasar bucin akut!" Tony pun keluar dari kamar Ansel.
Waktu berlalu dengan cepat. Hingga tengah malam, Nara dan Viana masih mengobrol yang diselingi canda tawa. Sedangkan Tony, ia sudah terlelap tidur di kamar tamu karna saking lelahnya ia tertidur dengan cepat.
"Vi, mending lo nginep aja disini. Ini udah tengah malem... Lagian Tony juga udah tidur kayaknya." Ucap Nara.
"Oke... Badan gue juga udah capek banget." Timpal Viana.
"Yaudah, gue antar lo ke kamar tamu. Kebetulan kita punya 3 kamar tamu. Lo pake aja yang deket kamar gue..." Jelas Nara. Dan Viana mengangguk mengiyakan.
Viana pun mendorong kursi roda Nara ke kamarnya. Ketika Viana membukakan kamar untuk Nara, ia melihat Ansel sudah tertidur.
"Mungkin dia sangat lelah seharian ini. Ansel juga udah nemenin gue terapi, dan dia harus balik lagi ke kantornya." Jelas Nara seraya tersenyum membayangkan betapa tulusnya Ansel.
"Lo beruntung Ra... Andaikan gue diposisi lo." gumam Viana pelan.
"Apa? Lo ngomong apa Vi?" Tanya Nara mendengar sedikit gumaman Viana tetapi tidak jelas.
"Emmm gak apa-apa kok. Yaudah, gue ke kamar ya... Selamat malam Nara." Ucap Viana, lalu menutup pintu.
.
.
.
__ADS_1
TBC