Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 14


__ADS_3

#Happy Reading's🌻


.


.


.


BRUK


"AAHHH" Teriak Nara dan menarik kerah baju seseorang yang ditabraknya dan ikut terjatuh juga.


"Nara!!" Teriak Bayu yang melihat Nara terjatuh.


"Mati gue!" Lirih Nara dalam hati sembari menutup matanya.


Semua orang pun ikut terkejut dengan itu. Posisi Nara kini ada berada dibawah seseorang yang ditabraknya. Nara yang awalnya menutup matanya, kini ia membuka matanya dengan perlahan. Alangkah terkejutnya Nara ketika melihat siapa yang ditabraknya tadi.


Nara membulatkan matanya ketika yang ditabraknya itu adalah Ansel. Ansel pun sama dengan Nara, ia juga terkejut ketika Nara menabraknya dan tiba-tiba saja menarik kerah bajunya sehingga ia juga ikut terjeramban. Tetapi ada hal aneh yang mengganjal di hati Ansel. Ia merasa jantung nya bereaksi, ketika melihat wajah Nara dari dekat. Ansel melihat wajah Nara secara rinci dan melihat nya dengan lekat.


"Ada apa dengan jantung ku? Kenapa jantungku berdebar cepat seperti ini, ketika melihat Nara dari dekat?! Tapi tunggu, Nara sangat cantik ketika dilihat dari dekat." Lirih Ansel dalam hati, sembari meneliti setiap inci wajah Nara.


"LO?! Cepet minggir!!" Nara mendorong dada Ansel. Tetapi, Ansel tetap diposisinya tidak tergeser oleh Nara. Dan itu membuat Nara kesal sekaligus malu karna dilihat oleh orang-orang.


"Heh! Lo apa-apaan sih! Minggir gak?!" Tunjuk Nara dengan kesal. Ansel mendekat kan dirinya ke Nara dan membisikan sesuatu padanya.


"Lo harus tanggung jawab karna lo udah membuat gue jatuh seperti ini!" Bisik Ansel di telinga Nara dengan senyum smriknya. Dan Ansel pun bangun, tetapi Nara masih berbaring karna terkejut dengan ucapan Ansel. Hembusan nafas Ansel menggelitik di telinga, membuatnya bergidik merinding.


"Lo terlihat cantik kalo di posisi seperti ini." Lirih Ansel. Nara tak bergeming, ia hanya menatap Ansel dengan tatapan tak terbaca. Beberapa detik mereka saling menatap dan pada akhirnya mereka disadarkan oleh teriakan Bayu.


"Nar... Lo gak apa-apa?" Tanya Bayu membantu Nara bangun. Ansel juga bangun, lalu ia melihat kearah Nara sejenak sebelum pergi dan tersenyum smrik.


"Gu... Gue gak apa-apa." Ucap Nara kepada Bayu. Dan Nara juga pergi dari perpustakaan menuju ruang kelasnya.


Selama di perjalanan menuju kelasnya, Nara memikirkan perkataan Ansel yang dibisikan tadi. Nara penasaran dengan maksud Ansel padanya.


"Tanggung jawab apa maksudnya?!" Gumam Nara.

__ADS_1


"Cih, dasar laki-laki playboy!" Gerutu Nara mengingat perkataan Ansel mengenai dirinya yang cantik ketika di posisi tadi.


Setelah sampai di ruang kelas, Nara disambut pelukan dari Viana dan Nara terkejut dibuatnya.


"Ra... Lo dari mana aja?" Tanya Viana lalu melepaskan pelukannya.


"Gue abis dari perpustakaan." Datar Nara dan duduk di kursinya.


Nara melihat kearah Ansel yang sedari tadi memperhatikannya. Ansel pun tersenyum dengan penuh arti, sehingga Nara sedikit bergidik melihatnya.


"Hih... Dasar gila!" Bergidik Nara dalam hati.


"Ra, gue minta maaf ya sama lo atas kejadian semalem..." Lirih Viana sembari memegang kedua tangan Nara.


"Huft... Vi, lo gak usah minta maaf. Seharusnya gue yang minta maaf sama lo, gue terlalu egois semalam. Dan gue udah bentak lo juga semalam... Maaf ya." Nara membalas pegangan Viana.


Mereka menyelesaikan masalah mereka sewaktu semalam, dengan saling meminta maaf dan berpelukan. Ansel yang melihatnya pun ikut terharu, tetapi otak liciknya merencankan sesuatu.


"*Benar-benar m*enarik! Gue akan mengetes kalian berdua, apakah masih bisa seperti ini jika kalian berdua sudah berada di genggaman gue?!" Pikir Ansel licik seraya memperhatikan Nara dan Viana.


"Kita baikan ya..." Ucap Nara tersenyum.


Tak lama kemudian, bel masuk pun berbunyi. Semua orang tengah memasuki kelasnya masing-masing.


........


Waktu pulang pun sudah tiba, semua mahasiswa dan mahasiswi keluar dari ruangan mereka. Semuanya tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Terutama Nara dan Viana. Mereka berdua kini tengah berada di parkiran. Viana yang hendak memakai helm motor Nara, tiba-tiba di cegat oleh Ansel yang sudah mengendarai mobil.


Tin...


Nara dan Viana pun menoleh kearah mobil yang membunyikan klakson, yang tak lain Ansel. Ansel menurunkan kaca mobilnya dan tersenyum manis kepada keduanya.


"Vi..." Panggil Nara pada Viana. Tetapi Viana tak menjawabnya, ia sibuk menatap Ansel yang tersenyum padanya.


"Vi..." Panggil Nara kembali, tetapi masih tak di respon oleh Viana yang tetap pada posisinya.


"VIANA!!" Karna kesal, Nara berteriak kencang memanggil Viana tepat di telinganya. Dan Viana pun terjingkrak kaget.

__ADS_1


"Eh ya..." Viana menoleh pada Nara.


"Vi, kenapa idung lo keluar darah?" Bingung Nara yang menatap Viana lebih tepatnya ketawa hidung Viana yang mengeluarkan darah atau mimisan.


"Darah?" Viana meraba bawah hidungnya yang terasa basah, dan benar saja itu adalah darah. Dengan segera Viana mengambil tisu di dalam tas nya dan membersihkannya dengan tisu yang selalu ia bawa setiap hari.


"Sial! Kenapa gue harus mimisan?! Pasti gara-gara tadi ngeliat senyuman Ansel. Ya ampun... Dia ganteng banget sih. Kenapa coba harus ganteng!" Gerutu Viana dalam hati. Ansel yang melihatnya pun terkekeh.


"Viana, ayo ikut gue pulang. Gue anter lo ke rumah lo." Ucap Ansel menawarkan pada Viana.


"Ah gak usah... Gue sama Nara aja, kasian Nara sendirian. Lagian juga, kita akan langsung ke tempat kerja. Jadi lo duluan aja." Tolak halus Viana.


"Yaudah, gue anter lo ke tempat kerja. Lagian kan gue juga udah terlanjur janji sama lo, bakal antar jemput lo." Ucap Ansel kembali.


"Tapi Nara..." Ujar Viana yang di sela langsung oleh Nara.


"Gak usah peduliin gue Vi, lo ikut aja sama dia. Kita ketemuan di tempat kerja yah, bye..." Nara memakai helmnya dan langsung melajukan motornya dengan cepat. Mau tak mau, Viana harus ikut dengan Ansel.


Setelah sampai di tempat kerja, Nara terlebih dahulu sampai disana. Dan di susul oleh Viana. Mereka pun bekerja di tempatnya masing-masing. Sedangkan Ansel, ia terlebih dahulu mampir dan memesan coffee.


"Nara, gue pesen satu coffee capucino yang tanpa gula yah." pesan Ansel pada Nara, dan Nara pun mencatat pesanan Ansel. Nara kembali kebelakang untuk membuatkan pesanan Ansel.


"Mbak Yati, coffee capucino tanpa gula satu." Ucap Nara pada Mbak Yati seorang koki restoran Mars.


"Eh Nar, kamu aja ya yang bikin. Mbak lagi banyak kerjaan nih..." Jawab mbak Yati yang terlihat tergopoh-gopoh memasak.


"Oke deh mbak." Nara pun membuatkan kopi pesanan Ansel.


Ketika Nara sedang membuatkan pesanan Ansel, tiba-tiba saja ada dagu seseorang yang menempel pada pundak Nara.


"Ehh..."


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2