
🌻Happy reading's
.
.
.
Di kampus
"Lo aneh banget sih Vi. Lo kenapa senyam-senyum sendiri kayak gitu dari tadi pagi? Herman deh gue. Gue ragu sama kejiwaan lo ini." Tanya heran Nara yang melihat Viana senyum-senyum sendiri sejak dari pagi.
"Yee... Lo kira gue gila apa! sampe ngeraguin kejiwaan gue. Lo mau tau?" Tanya Viana yang tak lepas dari senyumannya. Dan Nara mengangguk tanda menjawab pertanyaan Viana.
"Sini gue bisikin..." Dengan spontan, Nara pun mencondongkan kuping nya kearah Viana.
"Gue sama Ansel pacaran!" Bisik Viana.
"WHAT?!" Teriak Nara terkejut.
"Aduh... Biasa aja kali Ra gak usah teriak-teriak gitu, emang gue budeg apa?!" Kesal Viana sambil mengusap-ngusap kedua telinganya yang merasa kebas karna teriakan Nara.
"Lo becanda kan Vi?" Nara tak menghiraukan keluhan Viana.
"Mana ada gue becanda. Gue serius Nara!"
"Viana!! Udah berapa kali gue bilang, kalo Ansel itu..."
"Gak baik buat gue." Sela Viana.
"Itu lo tau! Kenapa lo harus pacaran sama cobul gila itu?!"
"Karna gue..." Belum sempat Viana menjawab, tiba-tiba saja seseorang menyelanya.
"Karna gue dan Viana saling suka!" Sela Ansel yang baru saja datang dan tak sengaja dengar percakapan Nara dan Viana. Lalu Ansel dengan sengaja mencium pucuk kepala Viana di depan Nara.
"Ckck... Liat? Lo liat Vi, dia tuh gak baik buat lo. Udah dateng aja langsung nyosor kayak induk bebek!" Celoteh Nara yang tak suka dengan tindak tidak sopan Ansel yang langsung mencium pucuk kepala Viana didepannya. Bukan hanya di depannya saja, tetapi didepan umum.
"Lo katain gue apa hah?! Induk bebek lo bilang!!" Ansel tak terima dirinya dibilang induk bebek oleh Nara.
"Iya, lo itu kayak induk bebek!"
"Lo!!" Tunjuk Ansel pada Nara dan langsung dilerai oleh Viana.
__ADS_1
"Ya ampun!! Kalian bisa gak, sehari aja akur?!" Kesal Viana.
"GAK!!" Serentak Nara dan Ansel.
"Haish, dasar keras kepala!" Keluh Viana.
"Huft, sayang... Antar aku ke perpustakaan yuk." Ujar Ansel.
"Hah?" Viana kaget mendengar Ansel mengucapkan kata 'sayang'.
"Antar aku ke perpustakaan sayang. Aku mau ingin pinjam buku di perpustakaan..." Ulang Ansel kembali.
"Cih, lebay pake minta antar segala." Cibir Nara dan membuka buku novelnya.
"Kenapa? Lo iri yah, karna gak punya pacar?" Sinis Ansel.
"Gue bukan gak punya, belum mau punya pacar! Inget, belum mau bukan gak punya!" Elak Nara yang tak kalah sinis nya.
"Caelah, sama aja kali." Ansel mengelengkan kepalanya.
"Udah-udah... Ayo katanya mau minta anter. Ayo sekarang..." Viana yang tak tahan mendengar ributan dari Nara dan Ansel, ia pun menarik lengan Ansel keluar dan menuju perpustakaan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kedua orang tua Nara, Ranty dan Dani sedang duduk di ruang keluarga. Walaupun umur mereka sudah menginjak kepala empat, tetapi keharmonisan serta keromantisan tidak terputus diantara keduanya. Ranty dan Dani sedang menikmati cemilan sambil mengobrol. Sedangkan Mario adik dari Nara sedang sekolah.
Tring... Tring...
Suara telpon dari Dani berbunyi.
"Halo?" Sapa Dani.
"Halo... Hei apa kabar bro?" Ucap seorang pria disebrang telpon milik Dani.
"Ini siapa ya?" Dani mengkerutkan kedua alisnya karna bingung siapa yang menelponnya itu.
"Hei-hei... Apa kau lupa dengan sobat masa kecil mu?" Ujar seorang pria itu lagi.
"Sobat masa kecil?" Dani kembali mengingat-ingat.
"Astaga... Umurmu masih kepala empat! Kenapa sudah pikun?! Ini aku, Abraham." Ucap Abraham, yang tak lain ayah Ansel.
"Oh... Aku ingat sekarang. Ternyata kau si Bocah ingusan yang selalu mengikuti aku kemanapun itu. Hahaha..." Dani mengingat kembali masa kecilnya bersama Abraham si bocah ingusan blasteran inggris yang selalu mengikuti Dani kemanapun ia pergi.
__ADS_1
Kejadian itu bermula saat Dani dan mendiang kedua orang tuanya tinggal di jakarta di perumahan dekat mansion Abraham. Keduanya bertemu ketika mereka menginjak sekolah dasar. Waktu itu Abraham kecil yang kurang lincah dalam berbahasa indonesia, selalu menjadi bahan bullyan teman-temannya di sekolah.
Dani yang melihat hal itu tak bisa diam begitu saja melihat bocah yang seumur dengannya bahkan satu kelas dengannya selalu dirundung oleh teman-teman kelas nya. Dani kecilpun selalu membela Abraham dan melindungi nya dari bullyan teman-temannya.
Dan dari situ pula, Abraham kecil selalu mengikuti Dani kemanapun ia pergi. Mereka berpisah ketika lulus sekolah menengah atas karna Abraham harus meninggalkan indonesia dan pergi ke negara kelahirannya dan melanjutkan pendidikannya disana.
"Dasar! Aku sekarang bukan bocah ingusan lagi seperti yang kamu bilang." Elak Abraham.
"Ya... Ya... Aku tau, aku tau. Dan kenapa kau bisa tau nomor ponselku?" Tanya Dani heran.
"Aku ini kan Abraham Wihama, yang tau segalanya dan pintar dalam segala hal. Hanya nomor ponselmu saja itu gampang aku cari." Sombong Abraham di sebrang telpon.
"Cih kau ini. Masih saja narsis seperti dulu..."
"Hahaha..." Tawa Abraham.
"Kawan, aku sekarang sudah di jakarta. Apa kau tidak mau menemui ku disini?" Ujar Abraham.
"Tidak." Jawab singkat Dani.
"Lihatlah... Kau juga sama saja, kau tetap Dani yang cuek seperti dulu."
"Ck dasar."
"Hahaha... Oh ya, aku dan istriku akan berkunjung kerumah mu lusa nanti." Ucap Abraham.
"Baiklah." Jawab Dani.
"Siapkan segalanya untuk menyambut ku oke... Bye." Abraham pun langsung mematikan telponnya secara sepihak, dan itu membuat Dani berdecak kesal.
Ranty yang sedari tadi hanya mendengarkan obrolan suaminya itu terlihat bingung.
"Siapa?" Tanya Ranty.
"Abraham..." Jawab Dani.
"Abraham? Teman yang waktu itu kamu ceritakan?"
"Iya. Aku tak menyangka, bocah ingusan itu semakin handal dan juga masih mengingatku." Terlihat senyuman terukir di wajah Dani tatkala ia mengingat Abraham, teman satu-satunya sewaktu ia kecil.
Ya, Dani waktu dulu sangat cuek dan tak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Dan ia juga terkesan sangat galak, sehingga tak ada satupun orang yang dekat dengannya tak terkecuali Abraham yang berbeda dengan orang-orang yang takut kepada Dani. Abraham kecil malah berbanding terbalik. Ia sangat suka dengan sifatnya Dani yang terlihat galak.
Dani yang pada saat itu melihat Abraham kecil yang selalu jadi bahan bullyan teman-teman kelasnya, merasa kasihan dan tak tega melihatnya. Dengan adanya Dani yang selalu membela Abraham, semua teman-temannya yang membully Abraham jadi takut dan tak berani lagi untuk membully Abraham. Walaupun Dani sangat cuek, tetapi ia masih memiliki hati yang baik dan tulus.
__ADS_1