
#Happy Reading's🌻
.
.
.
Beberapa hari kemudian...
Viana termenung, sedari tadi ia hanya memutari kursi kerjanya saja. Beberapa hari ini entah kenapa dirinya merasa gelisah. Semenjak kejadian dimana Tony mengetahui kebenarannya, Tony sudah tidak pernah menghubunginya lagi.
"Ah~ kenapa kepalaku sakit sekali." Viana menghentikan putarannya, ia memegangi kepalanya yang terasa sakit.
"Aku berputar-putar hanya pelan-pelan aja... Kenapa tiba-tiba kepalaku sangat sakit. Ah!"
Viana bangun dari duduknya, lalu ia melangkah hendak keluar ruangan. Tetapi belum sempat ia memegang handle pintu, Viana terjatuh dan pingsan. Kebetulan sekali seorang pegawai yang hendak meminta tanda tangannya menemukan Viana yang sudah terkapar dilantai. Pegawai itu sangat terkejut, lalu ia pun memanggil bantuan.
Di rumah sakit...
Perlahan Viana membuka matanya. Ia melihat sekelilingnya yang ia nampak hanya dinding berwarna putih khas rumah sakit. Ia juga mencium aroma obat disekitarnya.
"Kenapa aku bisa dirumah sakit?"
"Ah!"
Baru saja Viana hendak bangun, tiba-tiba saja kepalanya terasa sangat sakit. Seorang dokter pun datang menghampiri Viana.
"Dokter... Kenapa kepala saya sangat sakit sekali?" Ucap Viana memegangi kepalanya yang sakit.
"Apakah ada kerabat anda yang datang?" Tanya dokter itu.
"Tidak ada dok."
"Baiklah, saya akan memberitahu anda mengenai keluhan anda ini. Sebenarnya anda terkena kanker otak stadium 3." Jelas dokter.
"Apa? Kanker otak dok? Ba... Bagaimana bisa?" Viana mendengar penjelasan sang dokter sangat-sangat terkejut.
"Faktor yang mempengaruhi penyebab anda kanker otak, mungkin anda terlalu banyak pikiran atau tekanan, terlalu sering minuman beralkohol atau juga anda terlalu menghabiskan waktu pada pekerjaan dan itu akan menyebabkan radiasi serta lelah di otak anda." Jelas dokter itu lagi.
"Do... Dokter... Apa aku akan sembuh?"
"Kanker otak anda sudah stadium 3. Untuk itu, anda perlu giat kontroling kerumah sakit agar kami bisa tau perkembangan penyakit anda. Saya pastikan anda akan sembuh jika tidak terlalu banyak pikiran dan menjaga kesehatan anda. Jangan terlalu berat bekerja serta perbanyak istirahat. "
"Terimakasih dok."
__ADS_1
"Iya sama-sama, saya permisi dulu."
Dokter itu pun keluar dari ruangan Viana. Ia sungguh takut dengan penyakit nya. Dirinya pun tidak menyangka akan mendapatkan penyakit seberat ini.
"Apa umurku tidak lama lagi?" Lirih Viana memejamkan matanya. Wajahnya sudah sangat pucat.
"Bunda, Ayah... Aku sangat takut hiks."
Di ruangan gym, Tony berjam-jam menghabiskan waktunya disana. Sampai-sampai ia membatalkan meetingnya dengan beberapa kolega. Pikirannya sama kacaunya dengan Viana saat ini. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah insiden waktu itu ia mengetahui bahwa Viana lah wanita yang menghabiskan malam bersamanya.
"Kenapa harus kamu Viana?" Tony duduk di sebuah kursi. Ia mengelap keringatnya dan meneguk sebotol air mineral.
"Apakah selama ini aku salah menilai mu? Awalnya aku kira, kamu wanita yang berbeda. Tapi sama saja... Heh." Diakhir kalimat, Tony menyeringai.
"Seharusnya Maxim juga tidak mencintai wanita seperti mu. Tapi, kamu sudah mengikatnya dihatinya." Tony memikirkan Maxim yang mencintai Viana.
"Ah sial! Malam itukan aku tidak pakai pengaman! Bagaimana jika Viana hamil?" Tony menjambak rambutnya sendiri karna frustasi.
Tok... Tok...
Asisten Tony masuk kedalam gym dan menghampirinya.
"Ada apa?" Tanya Tony.
"Apa?"
"Tuan harus segera menghadiri rapat ini."
"Baiklah, aku akan kesana. Urus beberapa dokumen." Tony pun berdiri dan pergi bersiap pergi ke kantornya.
......
Pericikan minyak beberapa kali meletus di udara. Tetapi dengan lihai nya, Nara membalikan ikan yang sedang digorengnya tanpa takut percikan minyak yang menyembur. Awalnya Ansel melarang Nara agar tidak perlu memasak, tetapi Nara bersikukuh ingin memasak. Mau tak mau, Ansel pun menuruti permintaan istrinya itu.
Ketika sedang asik-asiknya menggoreng ikan, Ansel datang dan memeluknya dari belakang. Nara mencoba melepaskannya tapi Ansel semakin menguatkan pelukannya.
"Baunya sangat harum..." Ucap Ansel yang masih memeluk Nara dari belakang.
"Ansel... Lepaskan! Aku sedang menggoreng ikan, kalo ikannya gosong gimana?"
"Ya tinggal kamu buang, terus goreng lagi ikan yang baru." Sergah Ansel tak menghiraukan omelan Nara.
Nara mencubit lengan Ansel yang masih memeluk pinggangnya.
"Aw! Kok kamu cubit aku sih?" Ansel memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Bodo amat! Udah sana... Jangan ganggu aku masak!" Usir Nara.
"Hei... Kenapa kamu marah-marah terus sih dari pagi? Ada apa hem?" Ansel kembali memeluk Nara.
"Kenapa kamu bilang?" Nara menyikut perut Ansel. Dan Ansel kembali menggaduh kesakitan.
"Aduh... Kamu gak boleh kasar-kasar sama suami. Mau kualat kamu? Atau mau aku kutuk?"
"Kutuk aja kalo berani!" Ketus Nara seraya mematikan kompornya dan membuka celemeknya. Ia berjalan menuju ruang tv. Ansel pun mengekori Nara.
Nara duduk di sofa depan tv dan menyalakan tv. Ansel duduk disampingnya mencoba merayu Nara agar tidak marah lagi dengannya karna kejadian semalam. Malam itu Nara meminta ijin pada Ansel agar ia bisa kembali bekerja lagi di perusahaan Viana. Tetapi Ansel menolaknya mentah-mentah. Ia melarang Nara bekerja, Ansel meminta Nara agar tetap dirumah saja. Ia ingin Nara menjadi ibu rumah tangga saja untuknya dan anak-anaknya kelak.
Tapi Nara tak gentar untuk kembali meminta ijin kepada Ansel. Keputusan Ansel sudah bulat dan tidak boleh diganggu gugat. Nara sangat kesal karna Ansel tidak mengijinkannya bekerja lagi. Bahkan yang paling membuat Nara semakin marah dan kesal, ternyata Ansel sudah mengajukan pengunduran diri bekerja Nara ke HRD perusahaannya bekerja. Hingga sampai saat ini Nara masih marah dan merasa kesala pada Ansel.
"Sayang... Udah dong ngambeknya. Jangan marah-marah lagi... Aku udah bela-belain gak kerja demi kamu."
"Sayang-sayang... Sayang mata lo katarak! Itukan derita lo, siapa suruh gak berangkat kerja!" Ketus Nara.
Ansel menarik lengan Nara dan menjatuhkannya di pelukannya. "Aku sudah pernah katakan, semarah apapun kamu jangan pernah memanggil ku dengan sebutan lo atau gue! Kamu akan rasakan konsekuensinya karna melanggar ucapan ku!"
Nara menelan ludahnya kasar dan beberapa kali mengedipkan matanya.
"Kenapa dia yang emosi ya? Terus, kenapa sekarang aku yang takut?" Batin Nara.
"Ma... Maafkan aku... Aku keceplosan."
Ansel menatap tajam Nara. "Keceplosan ataupun bukan, kamu tetap melanggarnya. Sebagai konsekuensinya..." Ansel memotong ucapannya, dan perlahan mendekati telinga Nara.
"Nanti malam, kamu harus membayarnya dengan tugasmu sebagai istri."
Nara membulatkan kedua matanya. "A... Apa?" Gagapnya.
"Gak mungkin kan yang dimaksud Ansel itu hubungan suami istri? Oh my god! Aku harus gimana?" Batin Nara cemas.
Ansel melepaskan Nara dan pergi meninggalkannya. "Ingat nanti malam!" Teriak Ansel seraya menaiki tangga menuju kamarnya.
Nara memukul kepalanya. "Bodoh! Kenapa harus keceplosan sih... Ah sial!"
.
.
.
TBC
__ADS_1