Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 24


__ADS_3

"Nih Ra di minum obatnya..." Viana memberikan obat maag pada Nara, dan Nara pun meminumnya.


"Nah, udah di kasih obat kan? Jadi gue harus bawa Viana dulu keluar, ayo Vi..." Ujar Ansel pada Nara sambil menyempatkan tersenyum licik pada Nara. Nara melihat senyuman itu, ia bahkan memikirkan lagi apa yang harus ia lakukan untuk kembali mecegah Viana agar tak pergi bersama Ansel.


"Ra, gue pergi dulu ya sama Ansel. Gue janji deh sama lo, gak bakal pulang larut lagi dan gue... Gue gak bakal pergi ke bar lagi." Viana menunjukan wajah memohon.


Nara tak kuat melihat Viana memohon padanya. Tapi apa boleh buat, ia tetap harus mencegah Viana pergi. Nara terdiam sejenak memikirkan cara lain, dan aha!


"Oke gue ijinin, asal gue ikut sama lo." Ucap Nara dengan penuh arti.


"Mau apa ni bocah ngikut segala! Apa jangan-jangan, dia punya trik lagi..." Batin Ansel yang menyeliksik.


"Ini..." Viana menatap Ansel untuk meminta persetujuan.


"Tidak boleh! Hei inikan kencan gue sama Viana, buat apa lo ikut-ikut segala." Ansel menatap Nara dengan sinis.


"Kencan apaan lo!! Masa tiap hari kencan mulu, aneh lo! Gue ikut, karna gue mau nemenin Viana pergi gak lebih!" Galak Nara.


"Kan ada gue, ngapain nemenin segala. Gue gak akan ngijinin lo ikut sama gue dan Viana! Kalo lo ikut, bakal rusak acara gue sama lo!" Ansel melipatkan kedua tangannya.


Nara memutar bola matanya dengan malas mendengar celotehan Ansel. Dan ia harus ikut bersama Viana untuk rencananya yang kedua memisahkan Viana dan Ansel.


"Vi... Gue boleh ikut ya? Masa lo tega tinggalin gue sendirian lagi. Kan gue juga pengen ikut jalan-jalan sama lo... Gue bosen di rumah mulu." Nara mengeluarkan jurus aktingnya.


"Apa benar, alasan Nara hanya ini? Gue tau Ra, pasti lo kayak gini buat misahin gue dari Ansel. Tapi semoga aja lo gak melakukannya di luar batas, gue masih bisa memaklumi karna lo membenci Ansel. Tapi entahlah gue bingung kenapa lo bisa sebenci itu sama Ansel. Apa gue tanya aja ya nanti? Ide yang bagus! Gue akan tanyakan ini sama lo Ra." Batin Viana.


Melihat Viana hanya diam saja tanpa menjawab ucapannya, Nara memetikan jarinya di depan Viana agar sadar dari lamunannya. " Woy Viana!!" Teriak Nara.


"Eh ya?" Kaget Viana.

__ADS_1


"Gue boleh ikut kan?" Ucap Nara kembali.


"Emm... Bo~boleh." Senyum Viana dengan canggung karna tak enak hati jika menolak Nara.


"Oke, kita liat aja nanti. Gue pengen liat rencana lo selanjutnya Nara." Batin Ansel.


Mereka bertiga pun pergi ke sebuah taman hiburan atau biasa disebut dengan pasar malam. Ketiganya turun dari mobil, dan menuju beberapa wahana permainan. Nara sedari tadi sedang berusaha untuk memisahkan Viana dan Ansel, tetapi rencananya selalu gagal karna Ansel selalu mengecohkan rencananya.


Salah satunya saja ketika Nara meminta Viana untuk mengantarnya ke toilet, tetapi Ansel menyuruhnya untuk pergi sendiri dengan alasan bahwa Nara sudah besar dan tidak perlu diantar. Viana menuruti perkataan Ansel, dan mengiyakan alasan Ansel. Nara sangat kesal melihat itu, sepanjang perjalanan menuju toilet ia selalu menggerutu dan mengutuki Ansel.


"Pengen banget gue jejelin daleman superman ke mulutnya tu cobul gila bin konslet!!" Gerutu Nara dengan kesal.


"Awas aja lo, gue gak akan menyerah buat misahin lo sama Viana." Gerutunya kembali. Nara pun menyelesaikan hajatnya di kamar mandi, setelah selesai ia kembali menemui Viana dan Ansel.


"Udah selesai Ra?" Tanya Viana melihat Nara yang sudah kembali dari toilet.


"Hmmm" Dingin Nara.


Viana mengangguk dan berkata "Ide yang bagus. Tapi kita bertiga ya, soalnya kasian Nara kalo ditinggal sendirian." Ucap Viana pada Ansel dan Nara tersenyum dalam diam mendengar perkataan Viana yang mengkhawatirkan dirinya.


"Yaelah sayang... Dia kan bukan anak kecil lagi, ya gak apa-apa dong kalo ditinggal sendirian disini." Ujar Ansel kembali yang berusaha untuk menolak perkataan Viana.


"Cih... Pelit banget lo cobul!" Nara menatap Ansel dengan sinis, dan Ansel malah membalasnya dengan senyuman menantangnya.


"Gak apa-apa sih kalo lo mau ikut... Tapi gue kasian sama lo yang jomblo bakal ngeliat gue dan Viana berciuman diatas sana." Tunjuk Ansel ke kincir ria.


Nara dan Viana seketika melotot, dan Viana langsung mencubit pinggangnya Ansel.


"Kamu ngomong apaan sih! Jangan mesum deh ya!" Viana mencubit pinggang Ansel, sedangkan Nara hanya diam saja melihat itu.

__ADS_1


"Aww... Kan biar di film-film gitu loh sayang." Ansel meringis kesakitan.


"Gak usah ngikutin film! Yaudah, aku beli tiketnya dulu buat kita bertiga. Kamu dan Nara tunggu disini." Viana membeli tiket dan meninggalkan Nara dan Ansel yang sedang saling bertatapan dengan tajam.


Ditengah keramaian pasar malam, Nara dan Ansel masih tetap saling bertatapan dengan tajam. Dan setelah itu, tiba-tiba saja Ansel melangkahkan kakinya mendekati Nara yang berada dihadapannya dan menyisakan 1 cm saja. Nara tetap menatap Ansel dengan tajam walaupun jarak mereka sangat dekat. Ansel mendekati wajahnya ke telinga Nara lalu berkata.


"Lo gak akan menang dari gue." Bisik Ansel tepat di telinga Nara. Bagaikan tersengat listrik, Nara terjingkrak kaget dan merasa geli di telinga nya. Dan itu adalah titik sensitif Nara.


Nara sedikit mendorong Ansel agar menjauh dari telinga nya. "Dan gue gak akan biarin lo menang." Balas Nara datar.


Ansel tersenyum smirk. "Benarkah? Gue gak yakin lo bisa menang dari gue." Ansel semakin mendekatkan wajahnya pada Nara. Nara menahan nafasnya.


"Kita liat aja nanti." Nara berusaha untuk tak gugup ketika wajahnya dan wajah Ansel sangat dekat.


"Baiklah... Kita liat saja nanti. Dan oh ya, gue suka sama sikap lo ini." Ucap Ansel sembari meneliti setiap inci wajah Nara. Mendengar hal itu, Nara hanya diam saja tak menyahuti ucapan Ansel.


"Dan setelah gue puas bermain dengan Viana, gue mau lo jadi milik gue." Ucap Ansel kembali yang masih betah menyeliksik setiap inci wajah Nara.


"DASAR GILA!!" Teriak Nara lalu mendorong Ansel sangat kuat. Ansel berhasil terdorong oleh Nara tetapi tidak sampai jatuh karna Ansel langsung menyeimbangkan tubuhnya.


Disaat bersamaan dengan terdorongnya Ansel oleh Nara, Viana datang membawa tiket. Dan untungnya saja Viana tak melihat kejadian itu.


"Ada apa?" Viana memperhatikan Ansel dan Nara. Wajah keduanya memerah terlihat menahan emosi, dan itu membuat Viana terlihat kebingungan dengan situasi ini.


"Hey, ada apa dengan kalian? Ayo, aku udah beli tiket masuk kita." Ajak Viana.


"Lo aja, gue gak ikut." Nara berbalik arah dan berjalan meninggalkan Ansel dan Viana. Viana semakin bingung dengan situasi ini, lalu ia melihat kearah pacarnya yaitu Ansel sedang menatap kearah Nara yang sudah pergi.


"Ans, ada apa dengan kalian? Terus, Nara kenapa?" Viana menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa, ayo katanya kamu sudah membeli tiketnya." Datar Ansel dan langsung menarik lengan Viana menuju wahana Kincir ria.


__ADS_2