Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 43


__ADS_3

#Happy Reading's🌻


.


.


.


Nara berjalan menuju ruangannya. Ia tak menyadari Ansel mengikutinya dari belakang. Semua orang tampak memperhatikan Ansel, mereka berdecak kagum melihat ketampanan Ansel.


"Itu siapa? Dia ganteng banget..."


"Dia itu Ansel, CEO dari perusahaan IT Wihama Corp."


"Apa? CEO dari perusahaan IT Wihama Corp? Kok bisa disini sih? Terus itu ngapain ngikutin Nara ya?"


"Mana gue tau... Emang gue emak nya apa! Tanya aja langsung sama orangnya."


Dan masih banyak lagi perbincanagn mengenai Ansel. Nara melihat kesekelilibgnya, ia melihat orang-orang tampak saling berbisik seraya melihat kearahnya. Ia pun berhenti, lalu melihat kearah belakang.


"Lo ngapain ngikutin gue?!" Nara mengerutkan keningnya melihat Ansel.


"Kamu lupa, kalo hari ini ada rapat?" Jawab Ansel dengan santai. Wajah sedihnya telah berubah menjadi wajah semula yang terlihat tak terjadi apapun.


"Kan ini masih satu jam lagi! Masih lama!!"


"Biarin..." Ansel melenggang melewati Nara.


"Dimana ruanganmu?" Tanya Ansel.


"Huft... Sabar Nara! Lo gak boleh gila sama cobul ini, oke! Lo harus kuat..." Batin Nara menggerutu kesal.


Nara pun masuk kedalam ruangannya di ikuti oleh Ansel. Nara duduk dikursinya dan membuka laptop tanpa menghiraukan Ansel yang sudah duduk di sofa dekat mejanya.


"Kamu gak kasih aku minum atau apa gitu?" Tanya Ansel yang merasa di cueki oleh Nara.


"Ngambil sendiri!" Acuh Nara tetap fokus pada pekerjaannya.


"Aku kan tamu, masa disuruh ngambil sendiri." Gerutu Ansel. Nara diam saja tak menyahuti. Ia sangat lelah jika menyahuti Ansel, yang selalu mampu membuat emosinya muncul.


"Oke kalo kamu tidak menganggap aku ada disini, aku akan lapor pada pak Tian selaku manajer disini. Atau... Aku langsung laporkan saja pada pak Edward?" Ancam Ansel yang mampu menghentikan Nara dari pekerjaannya.


"Baiklah tuan Ansel yang terhormat... Anda ingin dibuatkan apa? Kopi atau teh?" Tanya Nara sopan dengan terpaksa.


"Atau air comberan?" Lanjut Nara dalam hati, tak berani mengeluarkan pertanyaan itu.


"Aku ingin kopi tanpa gula." Pinta Ansel.


"Baiklah, tuan tunggu disini... Saya akan buatkan kopi tanpa gula untuk tuan." Nara tersenyum sebisa mungkin. Perkataannya penuh dengan penekanan, membuat Ansel terkekeh dengan itu.


Nara pun pergi ke pantry, membuatkan Ansel kopi. Disana ia mengerutuki Ansel dengan kesal. Setalah menyiapkan kopi ia ingin pergi kembali kedalam ruangannya, tetapi tangannya di senggol oleh Mira. Kopi ditangannya tumpah, membuat Nara menggaduh kesakitan. Air kopi yang panas itu mengenai tangan Nara hingga memerah.


"Kau gila?!" Bentak Nara.


"Heh, itu balasan mu karna telah mendekati Ansel." Mira melipatkan kedua tangannya di dada.


"Siapa yang mendekati Ansel? Matamu rabun ya?!" Kesal Nara, ia memegang tangannya yang terkena air panas tadi. Ingin sekali Nara membalas perbuatan Mira dengan mengguyurnya dengan air panas. Tetapi ia urungkan karna takut membuat keributan dikantor.


"Mata mu yang rabun! Dasar penggoda!"


"Hah... Kenapa sih kamu selalu saja mencari keributan denganku?!"

__ADS_1


"Karna kamu mengambil semuanya dariku!" Geram Mira mendorong pundak Nara dengan telunjuknya.


"Mengambil semuanya? Aku tidak mengambil apapun..." Nara mengerutkan kening nya tak mengerti yang dimaksud Mira.


"Ya!! Kau mengambil semuanya dariku, mulai dari perhatian pak Tian, perhatian para pegawai, dan juga perhatian Ansel!"


"Ckck... Hanya karna itu kamu membenciku? Aku merasa kasihan padamu, selalu haus dengan perhatian."


Mira mendengarnya sangat marah, ia ingin menampar Nara tetapi Nara menahan tangannga dan menghempaskannya.


"Jangan sentuh tubuhku dengan tangan kotor mu itu!" Nara menatap tajam Mira membuat Mira merinding ketakutan melihat tatapan itu.


"Awas kamu Nara! aku akan membalas mu..." Mira pun pergi dari pantry dengan wajah kesal.


"Ya ampun... Gini amat hidupku!" Nara mengelus-elus dada nya. Lalu membuat lagi kopinya.


Ansel tengah bermain dengan ponselnya sambil menunggu kedatangan Nara. Ia sedang saling membalas chat dengan Tony.


Ansel


"Bagaimana caranya agar cewek yang gue suka itu jadi milik gue seutuhnya?"


Tony


"Hei bro... Lo sendiri kan playboy, ngapain nanya kayak gitu sama gue?!"


Ansel


"Diem lo! Jawab aja pertanyaan gue..."


Tony


"Pacar doang dibanyakin, tapi otak sendiri gak dipacarin. Makanya rada beg* begini..."


Ansel


Tony


"Santai bro... Oke gue bakal kasih tau jawabannya tapi dengan satu syarat."


Ansel


"Ngapain pake syarat segala sih?! Ribet lo! Yaudah apaan?"


Tony


"Sebagai syaratnya, lo harus beliin gue kapal ferry."


Ansel


"Ck, gue gak nyangka ternyata lo matre juga ya! lo tenang aja gue bakal beliin. Cepet kasih tau gue!"


Tony


"Hei bro, gak matre gak hidup... Menurut gue, kalo pengen cewek lo itu terikat sepenuhnya dengan lo. Lo harus tidurin cewek yang lo suka itu. Nah setelah itukan dia bakal jadi milik lo seutuhnya.


Ansel


"Ton... Coba lo sini mendekat ke gue, biar naboknya gampang😈 Eh keong racun! Otak lo mesum semua ya isinya! Gue serius oncom bin gehu! Cepet kasih gue cara lain selain cara mesum lo itu!"


Tony

__ADS_1


"Hahaha... Iya-iya gue serius nih. Kalo lo mau tu cewek jadi milik lo seutuhnya, ya tinggal lo nikahin aja... Tapi perkiraan gue sih, cewek yang lo suka kan susah buat lo taklukin jadi lo berusaha dulu buat dia jatuh cinta sama lo."


Ansel


"Ada benernya juga lo! Yaudah thanks ya udah ngasih tau gue. Nanti gue beliin kapal ferry yang lo mau."


Tony


"Siap, gua tunggu😋"


Ansel menyudahi chatannya dengan Tony. Dan tak lama kemudian Nara pun datang membawa secangkir kopi. Ansel melihat wajah Nara cemberut kesal.


"Kenapa tu muka? Gak ikhlas ya?" Tanya Ansel.


"Ya gue gak ikhlas! Puas lo?! Nih..." Jutek Nara seraya menyimpan kopi itu diatas meja.


"Tunggu...." Cegah Ansel.


"Ada apa lagi?!"


"Tangan lo kenapa merah?" Tanya Ansel melihat tangan Nara memerah.


"Bukan urusan lo!" Nara hendak pergi ke kursinya, tetapi Ansel menarik lengannya sampai terduduk di pinggirnya.


"Aww..." Nara merintih kesakitan karna ditarik Ansel.


"Ini jadi urusan gue!" Ansel memegang tangan Nara yang melepuh itu.


"Dimana kotak obatnya?" Tanya Ansel.


"Gak usah! Nanti aja gue obatin sendiri!" Tolak Nara hendak bangun. Ansel kembali menariknya.


"Dimana kota obatnya?!" Tanya Ansel lagi.


"Ansel, ini..."


"Diamlah jangan keras kepala! Kataku, dimana kotak obatnya?!" Tegas Ansel membuat Nara terdiam membeku.


"Di... Disana." Tunjuk Nara. Ansel pun mengambil kotak obat itu.


Ansel membuka kotak obatnya. Ia mengambil sebuah salep dan di olesinya ketangan Nara. Ansel begitu teliti mengolesi tangan Nara yang melepuh.


"Kenapa jantungku berdebar seperti ini?! Ayolah Nara... Lo gak usah baper sama Ansel!" Batin Nara menahan jantungnya yang berdetak ketika melihat Ansel yang tengah sibuk mengolesi salep ketangannya.


"Sudah." Ucap Ansel. Nara pun menarik tangannya.


"Kenapa ini bisa terjadi?" Tanya Ansel.


"Tadi gak sengaja kesenggol orang." Ujar Nara.


"Gak sengaja atau sengaja?" Tanya Ansel meyakini.


"Ga~Gak sengaja. Udah lah itu gak penting! Sebentar lagi rapat dimulai, sebaiknya lo keruangan pak Tian aja." Nara kembali ke kursinya.


"Baiklah..." Ansel pun menyetujui ucapan Nara.


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2