Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 74


__ADS_3

#Happy Reading's🌻


.


.


.


Keduanya saling diam tidak menyapa satu sama lain dan tanpa membuka bicara. Mereka tampak sangat terkejut. Viana memundurkan langkahnya.


"To~Tony?" Viana berbicara terbata-bata.


"Bukankah kamu tinggal di unit 125?" Tanya Tony tak percaya.


"A~aku... Emmm, anu... Itu..." Viana sangat bingung ingin menjelaskannya seperti apa, karna Tony sudah benar-benar mencurigainya.


Tony mendorong Viana kedalam. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apakah benar, Viana adalah wanita malam itu? Tony melihat-lihat area dalam apartemen Viana.


Tony membalikan tubuhnya melihat kearah Viana. "Apa kamu wanita malam itu?" Tanya nya mengintrogasi Viana.


Viana bungkam. Tony pun mendekati Viana dan memegang pundaknya. "Jawab Viana! Apa benar kamu adalah wanita yang menghabiskan malam bersamaku?" Kedua mata Tony sudah tampak memerah.


Viana tetap bungkam, dan terus menunduk enggan menunjukan wajahnya.


"Bagaimana ini?!" Batin Viana


Tony geram karna Viana terus saja diam dan menunduk. "JAWAB AKU VIANA!" Teriak Tony.


"YA ITU AKU!" Viana menatap Tony dengan narnar. Air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya.


Tony melepaskan pegangannya di pundaknya. Tony masih sedikit tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia megusap kasar wajahnya, merasa bersalah dengan semua ini.


"Kenapa kamu tidak memberitahuku dari awal?! Dan kenapa kamu bisa bersamaku malam itu?! Apa kamu memanfaatkan ku disaat aku lagi mabuk?" Cecar Tony dengan nada tinggi.


"Apa kamu bilang? Memanfaatkan mu? Aku bukan wanita murahan seperti itu! Malam itu aku hanya ingin membantumu di bar. Karna aku tidak tau alamat mu, jadi aku bawa kamu ke apartemen ku! Tapi..." Viana menghentikan ucapannya.


"Tapi apa? Kamu benar-benar sudah memanfaatkan ku disaat aku mabuk! Aku tidak menyangka kamu semurahan itu!"


PLAK


"Sudah aku bilang, aku tidak memanfaatkan mu dan aku juga bukan wanita murahan!" Air mata Viana lolos. Hatinya sungguh sakit mendengar ucapan Tony.


Tony memegang pipinya yang baru saja ditampar oleh Viana.


"Kamu yang mencium ku terlebih dahulu!" Ucap Viana menahan isaknya.


"Heh..." Tony menyeringai, tersenyum kecut.


"Kamu kan tau aku melakukannya tidak sadar! Tapi kenapa kamu membalasnya?!" Ujar Tony.


"A... Aku... Aku terbawa." Viana menundukan kepalanya. Ia sungguh malu.


"Aku tidak menyangka, kamu wanita seperti itu! Aku kira kamu wanita yang berbeda dari wanita lain. Tetapi kenyataannya sama saja! Baiklah, ini bukan salahku. Aku melakukannya karna tidak sadar." Tony membalikan tubuhnya hendak pergi. Sebelum itu, ia membalikan tubuhnya lagi.


"Satu hal lagi. Jangan pernah menemuiku lagi!"


Setelah mengatakan itu, Tony pun pergi dari apartemen Viana. Kedua kaki Viana terasa sangat lemas, ia pun langsung menjatuhkan dirinya ke lantai.

__ADS_1


"Hiks... Memang ini salahku! Ini salahku! Hiks." Tangis Viana.


.....


Malam harinya, Ansel baru pulang ke mansion. Pekerjaannya sangat menumpuk hari ini, sampai-sampai ia harus pulang malam. Ansel berjalan menuju kamar tidurnya. Ia melihat Nara sudah tertidur di atas kasur. Ansel pun menghampiri istrinya dan mencium keningnya dengan lembut. Lalu, ia segera membersihkan tubuhnya.


Setelah membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian, Ansel kembali menyusul Nara. Ia melihat Nara duduk diatas kasur.


"Kenapa bangun?" Tanya Ansel duduk dihadapan Nara.


"Aku tidak bisa tidur." Jawab Nara lirih.


Ansel naik keatas kasur dan berbaring. "Kemarilah..." Pinta Ansel. Nara pun mengikuti permintaan Ansel.


Ansel meminta Nara tidur disampingnya. Ansel memeluk Nara. "Bagaimana terapinya tadi? Maaf aku tidak bisa mengantar, karna pekerjaan ku sangat banyak." Ucap Ansel seraya memainkan rambutnya.


"Sangat baik. Aku sudah bisa berjalan dengan baik bahkan sudah bisa menggerakan kaki. Lihatlah..." Nara mengangkat kakinya dan menggerak-gerakannya.


Ansel tersenyum, ia ikut bahagia melihat kaki Nara membaik. "Kamu memang istriku yang terbaik. Dengan kegigihan mu, kaki mu bisa membaik secepat ini."


Nara tersenyum mendengarnya. Walaupun Ansel memeluknya, tetapi Nara tidak membalas pelukannya.


"Besok, aku akan membawamu ke suatu tempat." Ujar Ansel.


"Kemana?" Tanya Nara.


"Rahasia!"


"Ish!" Nara mencubit pinggang Ansel.


Pagi harinya, dengan janji Ansel semalam yang ingin membawa Nara kesuatu tempat ia tepati. Kini mereka sedang di dalam mobil.


"Tutup matamu." Ansel menyerahkan kain penutup mata kepada Nara.


"Untuk apa menutup mata segala?!"


"Udah tutup aja..." Ansel memasangkan penutup matanya.


Ansel turun dari mobil karna tujuan mereka sudah sampai. Ia membukakan pintu Nara dan menuntunnya. Nara sudah bisa berjalan, jadi ia tidak perlu memerlukan kursi roda lagi.


Ansel membawa Nara ke sebuah pantai yang sudah di dekorasi. Suasanya sungguh romantis. Ansel baru pertama kali memberikan kejutan kepada seorang wanita. Bahkan dekorasi yang terlihat romantis dan mewah ini, dibuat satu hari saja. Ansel meminta itu demi istri tercintanya.


Perlahan Ansel membuka penutup mata Nara. "Surprise!" Ucap Ansel antusias.


Nara melihat pemandangan di depannya. ia menutup mulutnya tak percaya. "Ini untukku?" Tanya Nara yang dibalas anggukan Ansel.


Nara tampak berkaca-kaca.


"Apakah Ansel benar-benar mencintaiku?" Batin Nara.


Awalnya ia meragukan cintanya Ansel. Ia mengira selama ini Ansel hanya menyukainya sekedar suka saja dan hanya main-main dengan perasaannya.


Nara menatap Ansel. "Benarkah kamu mencintaiku?" Tanya nya.


Ansel memegang kedua tangan Nara. "Aku sudah mengatakannya beberapa kali. Aku mencintaimu dengan tulus. Sampai kapan pun, aku akan mencintaimu Nara."


"Terimakasih... Tapi aku..."

__ADS_1


Ansel menghentikan ucapannya dan menempelkan telunjuknya di bibir Nara.


"Jangan mengatakan itu lagi... Kamu tau? Aku sangat jengah mendengarnya. Aku juga sudah beberapa kali berkata, kalo aku akan membuatmu jatuh cinta denganku." Ucap Ansel.


Nara mengangguk. Hatinya perlahan mulai luluh dengan Ansel.


"Ayo..." Ansel menuntun Nara dan mendudukannya di kursi.


Meja sudah dihidangkan oleh beberapa makanan dan minuman. Tak lupa, bunga mawar merah yang indah terpajang ditengah-tengah meja yang menambahkan suasana keromantisan.


"Makanlah salmon ini..." Ansel menyuapi Nara.


"Enak?" Tanya Ansel setelah menyuapi Nara.


"Enak." Jawab Nara seraya menganggukan kepalanya.


Ansel tersenyum bahagia. Lalu mereka pun menghabiskan makan dengan lahap. Setelah itu, keduanya berjalan-jalan di pinggir pantai. Ansel menggandeng tangan Nara, begitu juga dengan Nara. Mereka menikmati angin segar pantai.


Ansel melihat sebuah kayu. Ia pun mengambilnya lalu menuliskan sesuatu di atas pasir.


Ansel love Nara


Begitulah yang dituliskan Ansel diatas pasir. Nara hanya tersenyum melihat itu.


"Tunggu sebentar." Pinta Ansel.


Ia berjongkok dan tiba-tiba saja menyiramkan air laut kearah Nara. Nara menerima siraman Ansel tentu terkejut. Nara tak ingin kalah, ia pun membalas siraman Ansel. Terjadilah saling menyiram diantara keduanya. Setelah saling siram, mereka pun berlari saling mengejar.


"Aduh." Nara terjatuh. Ansel menghentikan larinya dan berjalan kearah Nara.


"Kenapa? Kaki mu sakit lagi?" Tanya Anak khawatir dan mengecek kaki Nara.


Nara tertawa melihat betapa khawatirnya Ansel. "Hahaha... Kamu tertipu!"


"Apa? Kamu menipuku?" Ansel berdiri dan berkacak pinggang.


Nara pun ikut berdiri. "Hahaha... Iya, memangnya kenapa? Wlee..." Nara menjulurkan lidahnya lalu berlari menghindari amukan Ansel.


"Nara!" Ansel berteriak dan langsung berlari mengejar Nara. Karna lari Ansel sangat cepat, ia berhasil menangkap Nara. Ansel memutarkan tubuh Nara seraya memeluknya.


"Ah... Ampun Ansel. Aku sangat pusing!"


Ansel menghentikan putarannya. "Sangat nakal!" Ansel mencubit hidung Nara.


"Aww!"


"Yasudah, kita istirahat di pondok itu." Tunjuk Ansel ke salah satu pondok bambu di sekitar pantai.


Mereka duduk di pondok bambu itu seraya meminum air kelapa yang telah di pesan. Tak terasa keduanya semakin dekat dan saling terikat satu sama lain. Memang pada dasarnya kita tidak akan tahu takdir membawa kita kemana dan seperti apa. Yang perlu kita lakukan hanya menjalankannya saja.


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2