
#Happy Reading's🌻
.
.
.
"Ra, ayo antar gue ke butik."
"Kenapa gak sama Tony aja sih? Pinggang gue lagi sakit nih."
"Tony lagi sibuk... Nanti juga dia nyusul kesana. Gue cuman minta lo temenin gue doang kok, gak minta lo buat jaga upacara. Ayolah Ra... Masa lo tega biarin gue sendirian disaat lagi hamil gini." Viana memelas.
"Oke-oke, Tapi gak pake lama! Yaudah gue ganti baju dulu." Nara bangun dari duduknya seraya memegang pinggangnya yang sakit.
"Ansel pasti mainnya kasar ya? Sampe pinggang lo sakit kayak gitu." Kekehan Viana.
Nara memukul pundak Viana. "Ini bukan perbuatan Ansel! Ini gara-gara Mommy nyuruh gue yoga. Katanya supaya cepet-cepet hamil." Ucapnya mengingat Riani menyuruhnya yoga.
"Pfftt... Baguslah kalo gitu biar lo juga ngerasain hamil kayak gue."
"Doain aja ya, gue juga pengen cepet hamil. Lo tunggu gue disini sebentar."
Setelah berganti pakaian, Nara dan Viana pun pergi ke butik untuk mengambil baju pengantin Viana dan Tony. Hari pernikahannya semakin dekat, tinggal menghitung hari saja.
"Gimana Ra cocok gak?" Tanya Viana mencoba baju pengantinnya.
"Cocok... Lo cantik banget pake baju pengantin ini." Timpal Nara.
"Syukur deh. Yaudah gue ke kasir dulu ya."
"Iya."
Ketika Viana sedang melakukan transaksi pembayaran, Tony mengiriminya pesan bahwa dirinya tidak bisa datang ke butik karna pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan.
"Ck selalu saja sibuk. Huft..." Viana meghela nafasnya merasakan kekecewaannya.
Setelah melakukan pembayaran, Viana menghampiri Nara yang sedang duduk menunggu. "Ra, lo pulang duluan aja. Gue mau nunggu Tony dulu." Ucap Viana. Sebenarnya ia ingin pergi kemoterapi kerumah sakit dan menyuruh Nara pulang lebih dahulu dengan alasan menunggu Tony.
"Emmm... Gue temenin lo dulu disini sampai Tony datang. Gue gak tega ninggalin lo sendirian."
"Ng~nggak usah Ra. Gue sendiri aja disini, gak usah ditemenin."
Nara menyipitkan matanya. Viana meneguk salivanya kasar. "Lo lagi gak sembunyiin apa-apakan dari gue?" Curiganya.
"Se~sembunyiin apaan maksud lo? Gue gak sembunyiin apapun dari lo. Udahlah mending lo pulang duluan aja, takutnya Ansel nyariin lo."
"Tenang aja, gue udah ijin kok."
"Bukannya tadi pinggang lo lagi sakit? Lo pulang aja istirahat Ra... Beneran deh gue gak apa-apa ditinggal sendirian disini." Viana berusaha meyakini Nara.
"Kenapa gue semakin curiga ya sama lo Vi. Lo pasti lagi sembunyiin sesuatu dari gue." Batin Nara.
"Oke... Gue pulang." Nara lalu pergi.
"Hah..." Hela Viana lega.
"Gue minta maaf Ra, belum bisa ceritain masalah penyakit gue ini." Lirih Viana.
Viana pun keluar dari butik. Ia melihat sekitar memastikan Nara sudah benar-benar pulang. Lalu ia menghentikan sebuah Taxi dan pergi menuju rumah sakit. Tanpa sepengetahuannya, mobil Nara mengikutinya dari belakang. Sedari tadi Nara memarkirkan mobilnya dibalik pohon yang tak jauh dari butik.
"Gue pengen tau apa yang sebenarnya lo sembunyikan dari gue." Ucap Nara.
Viana sampai dirumah sakit. Dan Nara pun segera turun dari mobilnya lalu mengikuti Viana secara diam-diam.
"Apa mungkin Viana cuman periksa kandungannya aja ya? Tapi kalo dia hanya ingin memeriksa kandungannya, kenapa harus berbohong?" Pikir Nara.
"Eh kenapa Viana lawan arah? Bukankah ruangan kandungan disebelah kanan, kenapa dia berbelok kearah kiri?" Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang ada dibenak Nara.
"Aku harus lihat ruangan apa yang Viana masuki." Baru saja ia melanjutkan langkahnya, tiba-tiba saja ponselnya berdering."
"Halo?"
"Apa kamu masih di butik." Tanya Ansel dibalik telepon.
"Eeee... I~iya aku masih di butik. Ada apa?" Bohongnya.
__ADS_1
"Cepat pulang sekarang ada yang ingin aku sampaikan."
"Kenapa harus sekarang? Memangnya gak bisa nanti malam?"
"Tidak. Ini sangat penting dan darurat. Cepat pulang aku tunggu." Ansel memutuskan sambungan teleponnya.
"Hais... Kenapa harus disituasi sekarang sih!" Gerutu Nara lalu membalikan badannya dan pergi meninggalkan rumah sakit. Padahal satu langkah lagi ia akan mengetahui rahasia yang Viana disembunyikan.
Dengan tergesa-gesa Nara memasuki Mansion. Ia melihat semua orang tengah berkumpul di ruang tamu. Ketegangan menyelimuti ruangan itu. Nara semakin bingung lagi ketika melihat koper dan beberapa barang berada disitu.
"Ada apa ini?"
"Akhirnya kamu sudah pulang."
"Ada apa? Kenapa ada koper dan beberapa barang disini?"
"Kita harus ke London sekarang." Ucap Ansel.
"Apa? Sekarang juga?" Nara terkejut mendengarnya.
"Perusahaan Daddy disana hampir bangkrut karna ulah uncle Mike. Aku harus menyelamatkannya sebelum benar-benar bangkrut seutuhnya. Perusahaan itu kerja keras Daddy dari nol. Aku harus merebutnya kembali." Jelas Ansel.
"Tapi kenapa harus sekarang? Bukankah beberapa hari ini pernikahan Viana dan Tony?"
"Kamu tenang aja, kita akan kembali dihari pernikahan Viana dan Tony."
"Mommy dan Daddy tidak ikut?"
"Mommy dan Daddy tetap disini. Kami tidak bisa ikut karna perusahaan disini juga membutuhkan Daddy." Jawab Abraham.
"Baiklah... Aku akan mengganti pakaianku dulu."
"Tidak usah. Jadwal penerbangan kita sebentar lagi, kita harus segera ke bandara."
"Astaga..."
Keduanya pun berpamitan pada Abraham dan Riani.
Di dalam pesawat....
"Makan permen ini supaya mual mu reda"
"Terimakasih."
Ia membaringkan kepalanya dipundak Ansel. "Ansel... Berapa lama lagi kita sampai? Kenapa lama sekali..." Lirihnya menahan rasa sakit.
"Masih sekitar satu jam lagi."
"Oh astaga..."
Ansel memeluknya dari samping. "Kamu tahan sebentar ya... Tidurkan dulu." Ucapnya dan Nara menuruti perkataannya.
Dua jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di London. Ansel mengajaknya ke apartemennya yang dulu. Selama perjalanan Nara terlihat lemas, ia benar-benar sudah tidak berdaya. Ansel dengan sigap selalu memapahnya. Bahkan pernah sekali ia ingin menggendong Nara tetapi Nara menolaknya.
"Kita sudah sampai. Untuk sementara waktu kita tinggal di apartemen ku dulu." Ansel lalu menekan beberapa kode password pintu apartemennya.
"Uhuk-uhuk... Kenapa banyak sekali debu. Oh my god! Ansel kenapa berantakan sekali?" Ucap Nara.
"Oh shiiit! Pasti ini ulah Elsa. Kenapa aku lupa mengubah password apartemen ku!"
Mereka sangat terkejut melihat seisi apartemen berantakan. Banyak sekali pecahan kaca dilantai dan semua barang berserakan. Ansel menduganya bahwa Elsa lah yang melakukan ini semua. Tidak ada yang tau password pintu apartemennya selain Elsa.
"Butuh waktu membereskan semua ini. Kita cari hotel saja." Ujar Ansel.
"Ya ampun... Kapan perjalanan ini berakhir? Aku ingin secepatnya beristirahat." Gerutu Nara memelas.
Tanpa ada pilihan lain, mereka harus tinggal di hotel untuk beberapa hari kedepan sampai apartemen Ansel dibersihkan. Sesampainya di hotel, Ansel dan Nara segera memesankan kamar hotel VIP untuk mereka tinggali.
"Nara... Ganti bajumu dulu."
"Nanti saja..." Lirih Nara pelan membaringkan tubuhnya dikasur.
"Yasudah, kalo begitu aku akan mandi sebentar dan berangkat ke perusahaan Daddy. Kamu tidak apa-apakan tinggal sendiri disini sebentar?"
"Hmmm..." Balas Nara dengan deheman. Ansel menggelengkan kepalanya lalu mencium keningnya singkat.
"Istirahatlah..." Ia pun pergi ke kamar mandi dan bersiap-siap.
__ADS_1
BRAK
"Kenapa tidak ada satupun perusahaan yang membantu kita hah?!" Teriak Mike uncle Ansel.
"Maaf tuan, setelah tuan Abraham tidak memegang perusahaan ini semua kolega tidak tertarik untuk bekerjasama. Dan setelah semua orang tau bahwa anda menggelapkan dana perusahaan ini, semua perusahaan yang sebelumnya bekerjasama dengan kita mencabut saham mereka. Bahkan mereka semua memutuskan kontrak dengan kita." Jelas sekretatisnya.
"Shiitt.... Fu*k!" Umpat Mike mengacak-ngacak rambutnya frustasi.
Perusahaan yang seharusnya milik Abraham direbut oleh adiknya yaitu Mike. Kini setelah ia sepenuhnya memiliki perusahaan itu, ia malah menggelapkan dana perusahaan untuk kesenangan pribadinya. Ada seorang kepercayaan Abraham yang masih bekerja diperusahaan ini. Abraham manfaatkan ia untuk menggali informasi dan perkembangan perusahaannya yang di ambil alih oleh adiknya. Tak disangka Mike justru tidak bertanggungjawab dan membuatnya diujung kebangkrutan.
"Tu~Tuan... Ada seseorang yang ingin menanamkan sahamnya diperusahaan kita. Mereka juga ingin membayar semua kerugian besar pada perusahaan kita." Ucap seorang pegawai.
"Benarkah? Hahahah... Akhirnya aku tidak jadi bangkrut. Cepat bawa mereka menemui ku sekarang." Pinta Mike.
"Baik tuan..." Seorang pegawai itu pun meminta Ansel dan Jack menemui Mike di ruangannya.
"Sebentar lagi kau akan tamat Mike!" Batin Ansel.
Tok... Tok...
"Masuk..." Ujar Mike.
Ansel dan Jack berjalan kearah Mike yang menunjukan mimik terkejut diwajahnya. Melihat itu senyum Ansel mengembang. Ia ingin perusahaanya beralih kembali pada Daddy nya.
"Selamat sore tuan Mike..."
"Kau? Kenapa kau bisa ada disini? Dan janga-jangan apakah kau yang..."
"Ya, aku yang akan menanam saham ku disini dan membayar semua kerugian mu." Ansel duduk di sofa menyilangkan kakinya dengan angkuh.
"Tidak mungkin! Kau dan Daddy mu sudah tidak memiliki apapun." Ucap tak percaya Mike.
"Kau salah uncle Mike... Daddy ku masih memiliki beberapa cabang perusahaannya di Indonesia yang hampir setara dengan kesuksesan perusahaan ini. Kau benar-benar bodoh!" Ansel meremehkan Mike.
"Kau pasti sedang membohongiku kan bocah ingusan?! Hahaha aku tidak mudah ditipu."
"Jack..."
Jack memberikan sebuah dokumen perusahaan dan koper berisikan Dollar. Melihat itu Mike sulit untuk percaya. Ia benar-benar merasa bodoh karna yang ia pikirkan waktu itu siasat untuk merebut perusahaan Abraham di London saja tanpa tau cabang-cabangnya.
"Apakah kau sudah percaya setelah melihat ini? Aku tau tidak ada perusahaan manapun yang bisa membantu mu saat ini. Aku sedang berbaik hati padamu, maka dari itu aku akan membantu mu memulihkan perusahaan ini."
"Ck... Angkuh sekali bocah ingusan ini! Baiklah aku akan menerima bantuannya. Setelah itu aku akan memberinya perhitungan." Batin licik Mike.
"Baik, aku akan menerima bantuan mu." Mike ingin mengambil koper itu tapi Ansel mencegahnya.
"Eits... Aku ingin memberikanmu satu syarat terlebih dahulu."
"Syarat apa?"
"Tandatangani dokumen ini."
"Oke aku akan tandatangani. Awas saja kau menipuku!"
"Tidak akan."
Mike pun menandatangani dokumen tersebut. "Sudah. Berikan kopernya..." Ucapannya tak sabaran. Ansel pun memberikannya.
"Ini benar-benar keberuntunganku... Hahaha..."
"No... No... No... Kau salah sangka, ini bukan keberuntunganmu tapi hari kesialan mu. Jack, bawa sampah ini keluar dari perusahaan ku." Perintah Ansel.
"Apa? perusahaan mu? Mimpi saja kau bocah ingusan! jelas-jelas ini adalah perusahaan ku. Aku yang seharusnya mengusirmu dari sini!" Gertak Mike.
"Hahaha... Loluconmu sangat lucu! Kau benar-benar bodoh Mike! Lihatlah dokumen yang kau tandatangani, kau sudah menyerahkan kembali perusahaan ini padaku dan Daddy ku."
Mike membaca kembali dokumen yang telah ia tandatangani, dan benar saja ia telah menandatangani dokumen penyerahan kembali aset perusahaan pada Ansel.
"AHH!! KAU MENIPUKU BRENG*EKK!!" Mike mencengkram kerah Ansel.
"Jack seret dia keluar."
"Baik tuan..." Jack pun menyeret Mike keluar.
"AKU AKAN MEMBALAS SEMUANYA PADAMU DAN ABRAHAM!! KALIAN AYAH DAN ANAK BRENG*EK!!" Teriak Mike. Ansel menghiraukannya.
Ansel bangun menghampiri tempat yang biasa ditempati Daddy nya dulu. "Aku sudah mengembalikannya padamu Dad... Kerja kerasmu membangun perusahaan ini sudah menjadi milik mu lagi."
__ADS_1