
Maaf readers, Author baru up🙏 Karna banyak sekali pekerjaan yang harus Author kerjakan di kehidupan nyata🙏
🌻Lanjut ke cerita👇🏻
Happy Reading's...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mereka menghabiskan malam mereka yang lelah itu, dengan meminum secangkir cokelat hangat. Keduanya duduk di teras depan, menatap langit yang dipenuhi bintang-bintang. Rasa lelah dan letih mereka terobati dengan gurauan dan candaan-candaan dari keduanya. Ketika mereka tengah asyik bercanda-gurau, tiba-tiba saja ponsel Viana berdering.
Tring... Tring... Tring...
"Siapa Vi?" Tanya Nara yang diseling seruputan coklat hangatnya.
"Gak tau, nomor tak dikenal. Angkat jangan yah?" Ragu Viana menatap ponsel nya, karna bimbang untuk diangkat atau tidaknya.
"Angkat aja, takut penting." Saran Nara. Dan akhirnya Viana mengangkat telpon tersebut.
"Halo?"
"Halo Viana..." Terdengar suara laki-laki disebrang telpon tersebut.
"Si... Siapa yah?" Tanya Viana pada penelpon itu.
"Ini aku, Ansel..." Ujar seseorang itu di balik telpon, yang tak lain Ansel.
Mendengar hal itu, Nara dan Viana terkejut. Memang Viana sengaja mengeraskan suara telpon itu agar Nara juga dapat mendengarnya. Alangkah terkejutnya mereka mendengar jika si penelpon itu adalah Ansel. Mereka sempat terdiam karna bingung, lalu mereka dikejutkan oleh suara Ansel kembali.
"Hey Viana... Apakah kamu masih disana?" tanya Ansel disebrang telpon.
"Ah i... Iya... Gue masih disini." Gugup Viana dan matanya menatap Nara dan Nara hanya mengangkat bahunya saja ketika melihat tatapan bingung Viana. Ia juga heran, kenapa Ansel bisa tahu mengenai nomor telepon Viana.
"Ansel, kenapa lo bisa tau nomor telpon gue?" Tanya Viana.
"Oh itu, gue minta nomor lo dari manager tempat lo kerja." Jawab Ansel dengan santainya.
"Oh gitu yah..."
"Pssttt..." Deset Nara pada Viana, dan Viana pun mengalihkan pandangannya pada Nara.
"Kenapa lo malah jawab kaya gitu? Bukannya marah, atau apa kek karna dia berani-beraninya ngambil nomor telpon lo tanpa sepengetahuan lo!" Geram Nara.
Nara sengaja mengeraskan suaranya, agar Ansel bisa mendengar omelan nya. Dan benar saja, Ansel kini hanya bisa terkekeh geli mendengar ocehan plus omelan Nara.
"Hei nona cabe... Memangnya salah, kalo gue minta nomor telpon Viana tanpa sepengetahuannya? Ini namanya surprise! Oh gue tau, apa lo iri yah kalo gue lebih telpon Viana ketimbang lo?" Ucap Ansel yang berhasil membuat Nara naik darah karna kesal.
"lo bilang apa tadi? nona cabe?! hei! cobul gila... berani-beraninya ya lo ngomong gitu! dan siapa juga yang iri di telpon sama cobul gila bin gesrek kaya lo!" teriak Nara dengan kencang, Ansel pun menghindari teriakannya dengan menjauhkan handphone nya. Begitupun dengan Viana yang sudah menutup kuping nya.
Cobul ( Cowok Bule ).
__ADS_1
"Gue salah ngomong ya? Memang kenyataannya gitu kan? Udah... Lo ngaku aja, gak apa-apa." Ujar Ansel yang menambah kekesalan Nara.
"LO!!!" Nara dengan kesalnya mengangkat ponsel Viana yang terletak di atas meja itu, ia hendak membantingkannya. Tetapi langsung di cegah oleh Viana.
"Ahh Nara... Jangan!!" Teriak Viana, Nara pun seketika menghentikannya ponsel Viana yang hampir saja dilayangkan oleh Nara, tetapi itu tidak sampai terbanting.
"Hehehe... Maaf, gue lupa." Cengir Nara sembari mengembalikan ponsel Viana.
"Ekhem... Maaf Ansel, gue tutup dulu yah...."
"Baiklah, lain kali kita ngobrol lagi tanpa seorang pengganggu." Ucap Ansel di sebrang telpon dan langsung mematikan sambungan telponnya.
Nara sangat kesal, ia menghentakkan kakinya dan duduk kembali. Viana yang melihatnya pun hanya menggelengkan kepalanya saja. Baru kali ini, melihat Nara se-sensitif itu kepada pria. Biasanya Nara hanya acuh dan terkesan cuek saja, ketika menghadapi pria-pria yang bersama dengan Viana. Biasanya Nara hanya memperingati hal-hal yang tak boleh dilakukan oleh Viana terhadap pria yang mendekatinya.
"Ra, lo kenapa sih? Sensitif banget sama Ansel." Tanya Viana.
"Denger ya Vi, gue gak suka cowok macam si Ansel. Gue bisa liat dari sikap, tampilan gayanya, kalo dia itu playboy dan cuman main-main doang." Jawab Nara.
"Tapi yang gue liat, Ansel gak kayak gitu Ra. Gue ngeliat Ansel itu tulus, dan juga apa adanya."
"Ck... Kayaknya lo udah kepincut sama tu cobul gila deh! Deuhh punya pelet apaan sih dia." Ujar Nara.
"Ra, kayaknya lo perlu periksa mata deh..." Ucap Viana pada Nara yang terlihat serius.
"Kenapa? Mata gue sehat-sehat aja." Elak Nara sembari meraba-raba matanya.
"Kayaknya mata lo berjamur deh... Buktinya aja, lo gak terpesona sama Ansel yang notabenya pria tampan... Malah tampan buangeettt." Ucap Viana yang membayangkan wajah tampan Ansel.
"Mata lo yang berjamur! Tampan si tampan, tapi gak ada akhlak!" Nara menoyorkan kepala Viana.
"Yee... Main noyor-noyor kepala aje!" Kesal Viana.
"Vi, gue peringatin sama lo yah... Jauhin Ansel! Gue ngeliat kalo dia punya niatan gak baik ngedeketin lo." Nasihat Nara dengan tampang yang serius.
"Pffttt... Pengliatan lo salah kali Ra, gak mungkin Ansel punya niatan gak baik ke gue. Dia baik kok, bahkan dia bilang kalo dia bakal antar jemput gue ke kampus." Sumringah Viana.
"WHAT!! Kapan dia bilang kayak gitu ke lo?!" Nara terkejut mendengar penuturan Viana.
"Pas di restoran... Sebelum dia pamit pulang, dia bilang bakal antar jemput gue besok." Jawab Viana dengan semangat, mengingat perkataan Ansel di restoran tadi.
"Gak, gak Vi, lo harus jauhin Ansel! Dia gak baik Vi..." Nara berusaha meyakini Viana agar menjauhi Ansel.
"Ra, ada apa sih sama lo! Jangan bilang... Kalo lo suka lagi sama Ansel? Makanya lo nyuruh gue jauhin Ansel! Benarkan?!" Tanya Viana yang sedikit menaikan nada bicaranya.
"Kenapa lo ngomong kayak gitu? Lo nuduh gue suka sama si cobul gila itu?! Oh my god... Gue bingung sama pemikiran lo Vi! Terserah lo deh, lo mau percaya atau nggak sama gue!" Kesal Nara.
Nara pun melangkah kedalam meninggalkan Viana yang masih terdiam di teras depan. Nara begitu marah dan kesal pada Viana yang berani-beraninya menuduh Nara menyukai Ansel. Padahal Nara hanya memperingati sahabatnya saja agar tak terlalu percaya pada Ansel. Nara menaruh curiga pada Ansel, ia takut jika Viana kenapa-kenapa karna Ansel. Ia tak mau kisah cintanya dulu yang menyakitkan itu terjadi pada Viana.
Viana sangat bingung saat ini. Ia merasa bersalah karna berbicara keras dan menuduh Nara yang tidak-tidak. Ia tak tau mengapa dirinya bisa seperti itu, ketika Nara menyebutkan Ansel seorang playboy dan pria yang tak baik, Viana merasa kesal pada Nara.
__ADS_1
"Apa gue keterlaluan yah?" Viana mengigit ujung kuku jempolnya.
"Gue harus minta maaf besok sama Nara." Viana melangkah ke kamarnya. Ia berencana untuk meminta maaf pada Nara esok hari.
.........
Keesokan Harinya...
Nara dan Viana sudah bersiap-siap berangkat ke kampus. Tetapi mereka Berdua terlihat saling diam, karena kejadian perdebatan semalam lah membuat mereka canggung satu sama lain. Baru saja Viana membuka mulutnya ingin berbicara pada Nara, tiba-tiba saja terdengar klakson mobil.
Tin... Tin...
Keduanya saling menatap, mereka heran mengapa sepagi ini ada seseorang yang memarkirkan mobilnya di depan rumah kontrakan mereka. Klakson mobil itu berbunyi lagi, membuyarkan lamunan keduanya. Dan Viana menepuk dahinya, karna hari ini Ansel akan mengantar jemputnya ke kampus. Viana pun berlari ke depan dengan tergesa-gesa, dan benar saja itu adalah Ansel. Ansel keluar dari mobilnya dan menghampiri Viana yang berdiri di depan rumah kontrakan.
"Selamat pagi Viana..." Sapa Ansel melambaikan tangannya dan tersenyum sembari menghampiri Viana. Viana tercengang, melihat betapa tampan dan cool nya Ansel pagi ini.
"Se... Selamat pagi." Gugup Viana.
"Kamu sangat cantik Viana." Goda Ansel dengan mengedipkan satu matanya, yang membuat Viana terkesima. Kedua pipi Viana merah merona.
"Ayo..." Ajak Ansel.
"Sebentar, bolehkah Nara juga ikut sama kita?" Tanya Viana.
"Boleh..." Ansel mengangguk.
"Ra... Lo mau..."
"Gak usah!"
Belum sempat Viana melanjutkan bicaranya, Nara menyelanya yang tiba-tiba saja muncul di balik pintu.
"Ra, Ayo lah... Bareng kita aja." Ajak Viana.
"Gak perlu! Gue bisa bawa motor!" Nara menatap Ansel dengan sinis, Ansel hanya membalasnya dengan senyuman saja. Dan Nara pun menaiki motornya dan melajukan nya.
"Haish... Dasar keras kepala!" Viana cemberut.
"Yasudah, ayo kita juga berangkat."
Viana dan Ansel juga menyusul Nara menggunakan mobil Ansel. Sesampainya di kampus, Nara tidak ke kelas nya ia memilih pergi ke perpustakaan. Nara sangat terlihat kesal, ia menggerutu mengutuk Ansel dan juga Viana sedari tadi, sumpah serapah ia keluarkan dari mulutnya.
"Huh, kenapa coba Viana mau di jemput sama si cobul gila bin gesrek itu! Ahh pengen gue buldosher tu cowok!" Gerutu Nara dengan kesal, sembari menghentakkan kakinya. Ia menggerutu di sepanjang jalan menuju ke perpustakaan.
.
.
.
__ADS_1
TBC