
#Happy Reading's🌻
.
.
.
Di pagi harinya, kedua orang tua Nara dan Ansel secara serempak mengunjungi rumah sakit. Disaat mereka membuka knop pintu ruang rawat Nara, Mereka di kejutkan dengan kedua sejoli yang saling berpelukan di atas kasur perawat. Ke empatnya menggelengkan kepala melihat tingkah pengantin baru itu.
Mereka memaklumi keadaannya. Dengan perlahan ke empat orang tua itu menghampiri Nara dan Ansel yang masih terlelap di atas kasur perawat. Dengan gemasnya, Riani menarik telinga Ansel membuat si empunya meringis kesakitan dan terbangun.
"Aduh! Aduh..." Ansel bangun dari tidurnya seraya memegangi tangan Riani yang tengah menjewer telinganya.
Nara pun juga terbangun mendengar kegaduhan yang terjadi. "Mamah, ayah?" Lirih pelan Nara.
"Aduh mom apa-apaan sih main tarik kupingku aja!" Gerutu Ansel mengusap-usap kuping nya setelah Riani melepaskan jeweranya.
"Kamu ngapain peluk-peluk Nara seperti itu? Kan bisa kamu tahan dulu setelah Nara benar-benar pulih." Omel Riani.
"Memangnya kenapa? Aku kan hanya memeluknya saja tidak lebih." Kilah Ansel.
"Nara masih belum pulih, dan kamu main nyosor aja..." Timpal Abraham yang kini membuka suaranya membenarkan ucapan sang istri.
"Hei sudahlah... Tidak apa-apa, wajar Ansel memeluk anakku seperti itu karna dia sudah menjadi suaminya." Ucap Ranty melerai keadaan.
"Tapi Ran, menantuku masih sakit..." Ujar Riani.
"Mommy kenapa sih... Bukannya belain anaknya, ini malah disalahin terus. Benar apa kata mamah, aku itu suaminya Nara jadi aku gak salah dong memeluknya."
"Tapikan kamu..."
"Mommy, aku tidak apa-apa kok... Ya, walaupun aku juga merasa sedikit sesak karna Ansel memelukku lumayan kencang tapi tidak apa-apa." Ucap Nara. Didalam hatinya ia bersorak ria karna Ansel mendapatkan omelan dari Riani dan Abraham.
"Tuh kan apa mommy bilang, kamu menyakiti menantuku bodoh!" Riani memukul bahu Ansel dengan tas jinjingnya.
"Aduh... Nara, aku tidak memelukmu kencang. Aku berusaha untuk tidak memelukmu mu kencang, karna aku tau kamu masih belum sehat."
"Tapi tanpa sadar kamu memelukku kencang Ans..." Nara menunjukan wajah memelasnya di hadapan semua orang.
"Hahaha... Rasain aku kerjain! Emang enak... Suruh siapa memelukku!" Batin Nara girang.
"Sekarang kamu tidak apa-apa kan?" Ucap Dani.
"Tidak yah..."
"Maafkan aku Ra karna memeluk mu terlalu kencang." Ucap Ansel.
"Iya, tidak apa-apa tapi lain kali jangan memeluk ku seperti itu. Untuk malam-malam lainnya aku harap kamu tidur di sofa." Tunjuk Nara. Ansel mendengar hal itu merasakan keganjalan.
__ADS_1
"Oh... Aku tau sekarang. Kamu pasti mengerjai ku Nara supaya aku tidak tidur dengan mu lagi. Dasar kau ini! Awas saja!" Batin Ansel menyadari bahwa Nara sedang mengerjainya.
"Mommy setuju... Selama Nara belum pulih, kamu jangan tidur seranjang dengannya."
"Baiklah, ini hanya Nara belum pulih saja... Setelah pulih, aku akan kembali sekasur dengannya." Ujar Ansel seraya melirik Nara dengan penuh arti.
"Mati aku! Apa Ansel menyadari jika aku mengerjai nya?" Batin Nara membalas tatapan Ansel.
Ansel terus saja menatap Nara tajam. Nara gugup dengan tatapan Ansel. Lalu Nara berdehem berusaha memutuskan tatapan Ansel.
"Ekhem! Mah, aku lapar..." Alasan Nara.
"Lapar? Yasudah, mamah belikan bubur ya." Ucap Ranty.
"Tidak usah mah, mungkin sebentar lagi perawat membawakan sarapan untuk Nara." Tutur Ansel.
Benar saja, tidak lama dari itu seorang perawat datang membawakan semangkuk bubur dan air putih pada Nara.
"Biarkan aku menyuapi mu." Ucap Ansel mengambil mangkuk itu.
"Tidak usah... Aku bisa sendiri." Tolak Nara.
"Tidak-tidak... Aku saja." Kekeh Ansel.
"Tidak usah Ansel... Aku bisa sendiri! Berikan bubur itu."
"Hei kenapa kalian berdua ribut? Biar ayah saja yang menyuapi Nara. Berikan..." Pinta Dani.
"Ah tidak usah yah... Aku kan suaminya. Jadi aku lebih berhak menyuapi Nara."
"Aku ayahnya! Aku juga berhak menyuapi anakku!"
"Aku saja yah..."
"Ayah saja..."
Ansel dan Dani saling menarik mangkuk bubur itu.
"Stop! Berikan bubur itu!" Ujar Ranty menghentikan Ansel dan Dani.
"Biarkan mamah yang menyuapi Nara! Mamah yang lebih berhak menyuapinya!" Ranty merebut mangkuk bubur itu dan menyuapi Nara dengan hati-hati.
Riani dan Abraham hanya menggelengkan kepalanya saja melihat itu terjadi. Sedangkan Nara terkekeh melihat keributan diantara kedua orang tuanya dan Ansel.
"Yasudah, mending kamu cari sarapan dulu untuk dirimu sendiri Ans di kantin rumah sakit atau di tempat makan lain." Ucap Riani.
"Baiklah mah... Ansel sarapan dulu dibawah, setelah itu Ans kembali lagi kesini."
"Iya sayang..."
__ADS_1
........
London, inggris.
PRANK
"Dad buka pintunya dad! Aku ingin menemui Ansel di indonesia! Dad buka!"
Elsa terus saja berteriak karna daddy nya mengurungnya di kamarnya. Alasan daddy nya mengurungnya, karna Elsa mencoba beberapa kali kabur dari rumah untuk menemui Ansel di indonesia. Semenjak kejadian dimana Ansel menghubunginya dan berbicara bahwa ia ingin memutuskan hubungannya, Elsa tak terima dengan itu.
Ia mencoba pergi ke indonesia, tetapi daddy nya mencegahnya agar tidak menemui Ansel kembali. Daddy nya yang bernama Johny, mengetahui jika perusahaan keluarga Ansel telah beralih ke tangan pamannya Mike. Johny pun bersyukur jika hubungan Elsa dan Ansel sudah putus. Ia tidak ingin lagi anaknya berhubungan dengan keluarga Ansel yang dia kira telah bangkrut dan tidak sepopuler dulu.
Ya, Johny dulu sangat mengharapkan ia bisa mempunyai menantu seperti Ansel agar perusahaannya bisa meningkat. Bisa dikatakan Johny ini hanya memanfaatkan Ansel dan keluarganya saja. Tetapi tidak dengan Elsa. Ia sudah tingkat obsessi mengenai perasaannya saat ini.
"Tidak! Aku tidak boleh berdiam diri sendiri saja disini. Aku harus menemui Ansel dan menjelaskannya bahwa aku tidak mau dia memutuskan ku!" Ucap Elsa.
Beberapa kali bahkan beratus kali Elsa sudah menelponi Ansel. Tetapi Ansel selalu memutuskan sambungannya bahkan tidak menerima telponnya. Elsa frustasi dengan semua itu. Ia memiliki cara agar ia bisa pergi ke indonesia.
"Ah aku tau! Aku akan meminta bantuan Mark saja." Elsa pun merogoh ponselnya dan mulai menelpon Mark sahabat dari Ansel.
"Ada apa Elsa?" Ucap Mark dibalik telpon itu.
"Mark aku ingin meminta bantuan mu..."
"Bantuan seperti apa? Tumben sekali." Bingung Mark di balik telpon.
"Bantu aku menemui Ansel di indonesia."
"Ansel? Bukankah kau kekasihnya? Minta saja Ansel yang menjemput mu." Mark masih tidak tau jika Ansel sudah memutuskan hubungannya dengan Elsa.
"Aku tidak bisa menghubunginya Mark... Sudah beberapa kali aku menelponnya, tetapi dia tidak sekalipun menerima panggilan ku. Ayolah Mark... Bantu aku."
"Aku tidak bisa Sa... Pekerjaanku tidak bisa ditinggalkan saat ini."
"Ah sialan!" Mendengar penolakan Mark, Elsa begitu kesal. Ia membantingkan ponselnya ke lantai karna ia terlalu kesal dan marah.
"Aku harus apa?! Ah... Ansel, kenapa kamu memutuskan hubungan kita?! APA KURANGNYA AKU ANSEL!" Diakhir kalimat, Elsa berteriak.
"Tidak mungkin kan Ansel mempunyai wanita lain selain aku? Ah tidak mungkin! Pasti Ansel memutuskan ku karna ia harus fokus membangun usahanya lagi. Ya, pasti seperti itu!" Lirih Elsa pada dirinya sendiri.
.
.
.
TBC
Mohon maaf Author hanya bisa up satu bab saja, karna pekerjaan Author di kehidupan nyata sangat menumpuk🙏
__ADS_1