Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 70


__ADS_3

#Happy Reading's🌻


.


.


.


Matahari sudah menyingsing. Sinarnya sudah begitu terang dan menerpa kedua pasangan yang masih memberikan kehangatan di atas kasur. Karna Ansel tepat menghadap kearah jendela, dan wajahnya terasa silau ia pun terbangun.


Perlahan Ansel membuka matanya. Yang pertama ia lihat adalah wajah wanita yang begitu ia cintai. Siapa lagi kalau bukan Nara. Tangannya masih memeluk tubuh Nara. Sejenak ia memandangi wajah istrinya yang begitu manis tanpa beralaskan make up diwajahnya.


"Cantik."


Satu kata yang disebutkan oleh Ansel ketika memandang wajah Nara. Ia mengelus perlahan wajah Nara. Dimulai dari mata, hindung, hingga bibirnya. Ketika ia menyentuh bibirnya, ia membayangkan kejadian semalam. Ansel tersenyum mengingatnya. Ia pun dengan perlahan mendekati bibir Nara dan mengecupnya.


"Kau milikku... Akan selalu menjadi milikku Nara." Lirih Ansel dan ia pun bangun dari tidurnya menuju kamar mandi.


Nara membuka matanya dan memegang bibirnya yang dikecup Ansel tadi. Sebenarnya, ia sudah terbangun. Ia berpura-pura masih tertidur agar ia tidak merasa malu karna untuk pertama kalinya ia memeluk Ansel.


"Haruskah aku benar-benar menyematkan namamu dihatiku? Tetapi bagaimana dengan Bayu?" Nara begitu bimbang. Hatinya perlahan menerima Ansel, tetapi pikirannya masih tertuju pada Bayu.


Nara berusaha menyenderkan tubuhnya ke kepala ranjang dengan menyeret tubuhnya menggunakan tangannya.


"Maafkan aku Ansel, Bayu..." Nara memejamkan matanya.


Beberapa menit berlalu, Ansel sudah berpakaian rapih. Ia akan berangkat ke kantor pagi ini. Ia melihat Nara sudah terduduk di atas kasur. Ansel menghampirinya.


"Mau mandi? Aku akan panggilkan bik Ijah..." Ucap Ansel dan Nara pun mengangguk.


Sebelum Ansel pergi memanggil bik Ijah, ia membalikan tubuhnya.


"Hari ini adalah hari terapi kamu. Aku akan pulang lagi kesini untuk mengantarmu ke tempat terapi."


"Tidak usah... Pasti pekerjaan mu banyak kan? Aku akan pergi sama mommy saja." Tolak Nara.


"Tidak. Aku akan tetap mengantar mu. Ingat, jangan pergi dulu sebelum aku datang." Setelah berkata seperti itu, Ansel pun pergi memanggil bik Ijah.

__ADS_1


Nara hanya menggelengkan kepalanya saja mendengar hal itu. Setelah bik Ijah datang, ia mulai membantu Nara mandi. Sedangkan Ansel, ia membawakan sarapan pagi ke kamarnya. Saat ini ia ingin makan bersama Nara di dalam kamar.


"Ayo makan..." Ucap Ansel sudah menyiapkan meja dan beberapa sarapan pagi yang dibantu oleh beberapa asisten rumah tangga.


"Kenapa sarapan disini? Aku kan nanti turun kebawah bersama bik Ijah." Ujar Nara yang tengah duduk dikursi roda di dorong bik Ijah.


"Hanya ingin saja. Yasudah ayo kita sarapan..." Ansel menghampiri Nara dan menggantikan bik Ijah mendorong kursi roda Nara.


Ansel mengunci kursi roda Nara agar tetap pada tempatnya, sesudah itu Ansel pun duduk dikursinya berhadapan dengan Nara. Mereka memulai sarapan, awalnya Ansel ingin menyuapi Nara tetapi Nara menolaknya. Setelah mereka selesai dengan sarapan pagi, Ansel hendak berangkat kerja.


"Tunggu." Cegah Nara.


"Ada apa?" Tanya Ansel menghampiri Nara.


"Membungkuklah..." Pinta Nara. Dan Ansel menuruti permintaannya.


Setelah membungkuk, Nara membenarkan dasi Ansel yang terlihat miring dan sedikit berantakan.


"Kamu ini bagaimana sih? Dasi miring gini gak dibenerin!" Omel Nara seraya membenarkan dasi Ansel. Ansel tersenyum mendengar ocehannya.


"Sudah." Senyum Nara setelah membenarkan dasi Ansel.


Cup


Ansel mengecup dahi Nara. "Terimakasih istriku..." Ucap Ansel menatap Nara.


Jantung Nara berdegub kencang. Mukanya memerah karna perlakuan manis Ansel.


"Ekhem... Iya sama-sama. Sudah sana berangkat kerja." Ucap Nara memalingkan wajahnya menahan malu.


"Iya-iya... Eh tapi kenapa muka mu memerah? Kamu demam?" Ansel menempelkan telapak tangannya di dahi Nara untuk mengeceknya panas atau tidak.


Nara menepis tangan Ansel. Mukanya semakin memerah. "A~aku gak apa-apa... Cepet sana ke kantor, nanti telat!"


"Baiklah... Aku pergi dulu." Ansel mengelus puncak kepala Nara dan setelah itu pergi ke kantor.


Nara memegangi dadanya yang terus saja berdegub kencang. "Kenapa dia bersikap seperti itu sih?! Wah... Sangat tidak aman untuk kesehatan jantungku jika setiap hari dia bersikap seperti itu terus." Lirih Nara.

__ADS_1


......


"Hoam... Aduh badan ku sakit semua! Apa ini karna semalam aku tidur di kursi kerja? Ah sakit sekali!" Gaduh Viana merengangkan tubuhnya. Semalaman Viana mengerjakan dokumen yang ia tinggalkan beberapa hari.


Viana kini dikantornya. Ia sudah menghabiskan dua gelas kopi karna rasa kantuknya selalu saja menyerangnya.


"Kenapa aku masih ngantuk sih?" Gerutu Viana menidurkan kepalanya di meja kerja. Perlahan matanya menutup karna ia sangat mengantuk.


Bagaimana tidak mengantuk? Viana baru tertidur jam 3 dini hari. Dan ia harus ke kantor jam 7 pagi. Suara ketukan pintu tidak menggubris Viana yang sudah tidur terlelap.


"Kenapa dia semakin cantik?"


Ternyata Maxim lah yang mengetuk pintu tadi. Karna tidak ada jawaban apapun dari dalam, ia pun membuka pintunya dan melihat Viana tertidur dengan menumpu kepalanya diatas meja. Perlahan Maxim menghampiri Viana yang tengah tidur. Ia pun memandangi wajah Viana yang beberapa minggu ini tidak bertemu.


Maxim sempat bertanya pada uncle nya Viana yaitu Edward pemilik Swift Corp. Maxim menanyakan alamat kantornya karna ingin menemui Viana. Awalnya Edward kebingungan, kenapa Maxim tidak mengetahui kantornya sedangkan yang ia tahu Maxim terlihat dekat dengan Viana. Dan pada akhirnya Edward pun memberitahu alamat kantornya.


Maxim menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah Viana. Karna merasa kasihan melihat betapa lelahnya Viana, Maxim pun menggendong Viana dan menidurkannya diatas sofa. Maxim duduk disebrang Viana seraya memandangi Viana yang tengah terlelap.


Tiga jam berlalu, Viana baru terbangun dari tidurnya. Setelah kesadarannya penuh, ia terkejut melihat sosok Maxim dihadapannya yang tengah tersenyum.


"Kau?! Kenapa bisa ada disini? Dan aku juga kenapa ada di sofa?" Heran Viana.


"Aku tadi mengetuk pintu mu tetapi kamu tidak menyahut. Jadi aku masuk saja kedalam dan aku melihat mu tertidur diatas meja, lalu aku memindahkan mu ke sofa." Jelas Maxim.


"Kenapa kamu tidak membangunkan ku? Dan ini sudah jam..."


"What? Aku tidur 3 jam? Oh my god! Aku kan ada rapat dengan dewan direksi! Kenapa tidak membangunkan ku sih bodoh! Apa tadi asisten ku masuk kesini?" Tanya Viana dengan gusar.


"Ya, 20 menit lalu dia kesini. Dan aku menyuruhnya kembali karna kamu masih tidur. Aku tidak tega membangunkan mu karna kamu terlihat begitu kelelahan."


"Ah benar-benar bodoh! Ini rapat penting, kenapa tidak membangunkan ku saja! Ah..." Viana pun membereskan berkas-berkasnya dan pergi dengan tergesa-gesa keluar ruangan meninggalkan Maxim yang masih terduduk di sofa.


"Aku salah ya?" Ucap Maxim berbicara padanya sendiri seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2