Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 75


__ADS_3

#Happy Reading's🌻


.


.


.


Ansel dan Nara sedang menikmati sunset di pinggir pantai. Perlahan keduanya menyaksikan matahari terbenam di upuk timur.


"Sangat indah." Lirih Nara melihat sunset seraya tersenyum bahagia.


Ansel mendengar lirihan Nara. Ia pun melihat kearahnya, dan melihat rambut Nara menari-nari di wajahnya. "Iya, sangat indah." Ucap Ansel yang tak lepas pandangannya dari Nara.


"Dan cantik." Lanjut Ansel.


Nara pun memalingkan wajahnya kearah Ansel. Ia tersenyum melihat Ansel yang terus saja memandangnya. Beberapa menit mereka saling pandang, seakan-akan mata mereka terpikat satu sama lain.


"Ekhem..." Nara berdehem menyadari bahwa ia membalas tatapan Ansel.


"Matahari sudah benar-benar tenggelam. Sebaiknya kita pulang..." Ucap Nara, lalu ia bangkit dari duduknya.


"Ah!" Disaat Nara hendak berdiri, tiba-tiba saja kakinya terasa lemas. Ansel sepontan berdiri dan menangkap tubuhnya.


"Kamu gak apa-apa?" Tanya Ansel.


"Kaki ku terasa lemas."


Tanpa aba-aba ia menggendong Nara ala bridal style. Ia membawanya ke dalam mobil.


"Pasti kaki mu seperti itu karna berlari. Maafkan aku ini semua salahku. Kalo bukan karna aku, kamu tidak akan berlari-lari dan kaki mu sakit seperti ini." Tutur Ansel seraya mengemudi mobilnya.


Nara menoleh kearah Ansel. "Tidak apa-apa, ini bukan salah mu. Ini karna aku yang ceroboh."


Ansel memegang tangan Nara. "Apa kamu sudah menerima aku? Terutama hatimu."


"A~aku..." Nara bingung ingin menjawabnya seperti apa. Ia juga tidak tahu hatinya sudah menerima Ansel atau tidak. Yang ia rasakan hanya kenyamanan saja ketika berada di dekat Ansel.


Ansel mengelus-elus tangan Nara yang dipegangnya. "Tidak usah dijawab, pasti belum kan? Tidak apa-apa, aku akan menunggu." Sekilas ia menoleh kearah Nara dan tersenyum singkat.


"Terimakasih."


Sesampainya mereka di mansion, Ansel menggandeng Nara. Awalnya ia ingin menggendongnya, tetapi Nara menolak. Ketika mereka masuk kedalam mansion, seorang wanita tiba-tiba saja memeluk Ansel.


"Ansel... Aku merindukan mu."


Melihat itu, Nara melepas gandengannya. Ansel langsung kembali memegang tangan Nara dan kembali menggandengnya.


"Apa-apaan kamu Elsa!" Ansel mendorong Elsa.


"Kamu yang apa-apaan! Kenapa kamu menggandeng wanita ini!" Elsa melepaskan gandengan Nara dan Ansel.


Sebelumnya, Elsa memohon meminta bantuan kepada Mark agar membawanya pergi ke indonesia untuk menemui Ansel. Mark sudah beberapa kali menolaknya, tetapi lagi-lagi Elsa memohon. Ia juga sudah menceritakan semuanya pada Mark mengenai hubungannya dan Ansel.


Mark memintanya untuk menelpon mommy nya Ansel saja, karna Mark benar-benar tidak mengetahui alamat kediaman Ansel di indonesia. Elsa pun mengikuti saran Mark untuk menghubungi mommy Ansel yaitu Riani agar bisa memberitahunya tempat tinggal keluarga Ansel. Awalnya Riani tidak ingin memberitahu alamatnya pada Elsa. Ia takut pernikahan anaknya akan kacau jika Elsa datang ke indonesia.


Elsa memberi alasan untuk menemui Ansel hanya satu kali saja, karna ia ingin mengucapkan terimakasih karna sudah menjadi pacarnya. Mendengar alasan yang logis dari Elsa, akhirnya Riani memberitahu alamatnya. Tetapi ia lupa tidak memberitahu Elsa bahwa Ansel sudah menikah.


Untuk daddy nya, Elsa memberikan alasan yang sama dengan alasan yang ia ucapkan pada Riani. Dengan berat hati, daddy nya menyetujui asalkan Elsa memegang janjinya untuk menemui Ansel satu kali saja setelah itu ia harus pulang ke London.

__ADS_1


Kembali pada situasi saat ini. Nara melihat wanita yang didepannya, ia sangat kebingungan. Ia tidak mengetahui bahwa Elsa adalah mantan Ansel. Tak lama dari itu, Riani menghampiri mereka.


"Ans, maafkan mommy... Mommy yang memberitahu Elsa alamat rumah kita."


"Kenapa mom?" Tanya Ansel.


"Mom..." Belum sempat Riani berbicara, Elsa menyelanya.


"Apa karna wanita itu kamu memutuskan aku?!"


Nara terkejut dengan pernyataan Elsa.


"Jadi wanita ini mantan nya Ansel?" Batin Nara.


"Jaga ucapanmu! Aku memutuskan mu bukan karna nya. Aku memutuskan mu karna aku tidak pernah mencintaimu!"


Elsa mendengus kesal mendengarnya. "Kamu bohong Ansel! Pasti karna wanita perebut ini yang menggoda mu! Iya kan?" Elsa menarik rambut Nara.


"Ah~" Nara kesakitan karna ia diserang tiba-tiba dan tak bisa melawan karna kondisi kakinya begitu lemah.


"Apa yang kamu lakukan!" Teriak Ansel mendorong keras tubuh Elsa dan memeluk Nara yang ingin terjatuh.


Elsa tersungkur. "Kamu membelanya?!"


"Ya! Aku membelanya karna dia istriku! Sedangkan kamu bukan siapa-siapa ku lagi!"


Elsa membulatkan kedua matanya mendengar hal itu. Ia mengalihkan pandangannya pada Riani, ingin meminta perjelasannya atas apa yang diucapkan Ansel.


"Maafkan tante Elsa... Tante lupa memberitahu mu kalo Ansel sudah menikah." Riani membantu Elsa bangun.


"Tante... Bilang padaku, jika semua ini prank! Ini prank kalian untuk mengerjaiku kan? JAWAB!"


"Bohong! Ini pasti bohong! Kalian pasti sedang mengerjaiku kan?" Elsa menjambak rambutnya. Air matanya mengalir, dirinya benar-benar tak percaya dengan kebenaran ini.


Riani memeluk Elsa. Ia sangat iba melihat Elsa begitu terpuruk mendengar kenyataannya. "Elsa... Lupakan Ansel ya. Carilah pria yang benar-benar mencintaimu... Ansel bukan jodohmu."


"Tidak! Aku mencintai Ans tante!" Elsa mendorong Riani.


"Bawa aku kedalam, dan cepat selesaikan masalah mu!' Ucap Nara dengan dingin. Tak tau kenapa hatinya begitu panas mendengar Elsa mencintai Ansel.


Ansel mengerti bahwa Nara pasti sangat lelah. Ia pun membawa Nara kedalam dengan menggedongnya. Kakinya sudah tak sanggup lagi untuk berjalan.


"Ansel! Lepaskan perempuan penggoda ini!" Elsa mencoba mencegah dan melepaskan Nara dari Ansel. Tetapi Ansel mendorong nya dengan keras.


"Jangan menyentuhnya! Pergi dari sini... Urusan kita sudah selesai! Mulai saat ini jangan pernah temui aku lagi!" Gertak Ansel.


"Tidak! Aku akan menemui mu setiap saat! Kamu milikku... Ansel!" Histeris Elsa. Riani mencoba menenangkan Elsa.


"Elsa tenanglah sayang..." Lerai Riani.


"Tante, minta Ansel menceraikan wanita penggoda itu!"


"LANCANG! Aku tidak akan menceraikan istriku sampai kapanpun! Bahkan kau meminta pada kedua orang tua ku pun, aku tidak akan pernah menceraikannya! Pergi dari sini, sebelum aku meminta satpam menyeretmu keluar!"


"Ansel..." Lirih Nara pada Ansel. Ia sungguh kasihan melihat Elsa yang begitu terpukul.


"Tenanglah, aku akan membereskan ini semua di depanmu."


"Tapi Ans, dia..."

__ADS_1


"Dan kau perempuan penggoda! Kau tidak bisa lagi menggoda Ansel, setelah dia tidak lagi mencintaimu! Baiklah, aku akan pergi. Tetapi ingat, perempuan penggoda sepertimu tidak ada apa-apanya bagi Ansel. Aku yakin, suatu saat nanti kamu akan seperti ku... Ansel akan mencampakkan kau!" Ancam Elsa.


Plak


Satu tamparan yang dilayangkan Riani pada Elsa. Ia tak terima mendengar ancaman Elsa.


"Jaga ucapanmu! Sebrengsek apapun anakku, dia tidak akan pernah meninggalkan menantuku!"


Elsa memegang pipinya. "Kita liat aja tante..." Elsa pun pergi dari mansion.


"Sudah, jangan. dipikirkan ucapan Elsa tadi. Kalian pergilah tidur." Ujar Riani.


"Iya mom."


Ansel membawa Nara kedalam kamar. Karna Ansel merasakan tubuhnya lengket, ia pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sedangkan Nara, ia merenung memikirkan ucapan Elsa. Walaupun ia tidak peduli dengan itu, tapi entah apa yang terjadi hatinya bertolak belakang dengan pikirannya.


"Benarkah Ansel akan mencampakan ku?" Gumamnya.


"Hah... Sebaiknya aku membataskan diriku dengan Ansel, agar aku tidak terlalu baper." Nara menghembuskan nafasnya berat, lalu ia menidurkan dirinya.


Beberapa saat kemudian, Ansel sudah selesai dengan ritual mandinya. Ia pun membaringkan tubuhnya disamping Nara dan memeluknya dari belakang.


"Kenapa?" Ansel tau, jika Nara belum tidur.


Nara menggelengkan kepalanya.


"Jangan terlalu dipikirkan ucapan Elsa tadi. Aku tidak akan pernah mencampakan mu. Aku sudah berjanji, jika aku akan selalu mencintaimu sampai kapanpun."


Nara melepaskan pelukannya. "Mau dicampakan, ditinggalkan, ataupun diceraikan, aku tidak peduli!" Ketus Nara yang masih membelakangi Ansel.


Ansel membalikan tubuh Nara menghadap kearahnya.


"Benarkah tidak peduli? Lalu, kenapa mukamu terlihat kesal seperti ini hem?" Tanya Ansel yang kembali memeluknya.


Nara mencoba melepaskan pelukannya, tetapi Ansel semakin mengeratkan pelukannya.


"Tidurlah... Pasti kamu cape." Ansel mengecup sekilas keningnya.


"Lepaskan dulu!"


"No! Tetap seperti ini!" Pinta Ansel.


"Menyebalkan!"


Dengan terpaksa Nara pun membiarkan Ansel memeluknya. Ia sangat capek jika terus saja menanggapi Ansel.


.


.


.


TBC


Tunggu up selanjutnya besok tgl 17 agustus😉


***Mohon maaf sekali Author akhir² ini jarang up🙏 Author sebenarnya sedang fokus dengan belajar Author🙏 Tapi Author akan usahakan akan up dan selesaikan cerita ini sampai tamat...


Mohon maklumi ya🙏 Terimakasih buat kalian yang selalu mendukung karya Author🌹***

__ADS_1


__ADS_2