Satu Malam Bersama CEO Arogan

Satu Malam Bersama CEO Arogan
Tentang Jambret


__ADS_3

"Walaupun sedih tapi kau harusnya tidak malas-malasan begini, Lil. Aku itu sudah lelah karena seharian bekerja. Pulang bukannya rumah sudah bersih ini malah berantakan seperti kapal pecah. Heran!" gerutu Ilona sambil menyusun barang-barang yang berserakan di lantai.


"Na, jangan salah paham dulu padaku. Tadi itu aku tak sengaja bertempur dengan seekor tikus. Kami lalu terlibat kejar-kejaran sampai akhirnya kau pulang sebelum aku sempat membereskan kekacauan ini. Begitu ceritanya," sahut Elil menjelaskan titik masalah yang menyebabkan rumah terlihat begitu kacau.


"Begitu ceritanya begitu ceritanya. Lagipula kau ini kenapa kurang kerjaan sekali sih. Pada tikus saja kau berani, masa menghadapi gertakan wanita sumo itu kau takut? Pemulung macam apa kau!"


Elil mendengus pelan. Jangan bandingkan seekor tikus dengan wanita gemuk yang memarahinya tadi siang. Dari ukuran tubuh mereka saja sudah beda jauh. Wajarlah jika Elil merasa tertekan.


"Eh, Lil. Kau tahu tidak. Tadi saat pulang dari kantor aku dijambret orang lho!" ucap Ilona. "Tadinya aku ingin menangkap penjambret itu dan membawanya ke kantor polisi. Akan tetapi niat itu aku batalkan setelah mengetahui kebenarannya."


"Hah? Kau dijambret? Astaga, lalu hartamu bagaimana? Aman, kan?" cecar Elil panik sambil berjalan cepat menghampiri Ilona. Setelah itu dia memutar-mutarkan badan gadis ini untuk memeriksa apakah ada luka atau tidak. "Fyuhhh, syukurlah tubuhmu masih utuh. Aku khawatir sekali tangan atau kakimu ada yang hilang."


Pletakkkk


Sebuah centong sayur mendarat tepat di kepala Elil hingga menimbulkan suara yang cukup nyaring. Sungguh, Ilona benar-benar tak habis pikir dengan perkataan gadis bodoh ini. Dikira dirinya bertemu dengan psikopat apa bagaimana. Segala tangan dan kaki diperiksa apakah masih utuh atau tidak. Tuhan-Tuhan, tolong beri Ilona kesabaran.


"Aku rasa kecepatan tanganmu jauh lebih unggul ketimbang kecepatan kereta api, Na. Baru juga aku selesai bicara, tanganmu sudah mendarat saja di kepalaku. Heran!" keluh Elil sembari mengusap bekas pukulan di kepalanya. Andai saja memiliki keberanian, Elil pasti sudah membalas perbuatan Ilona. Tetapi sayangnya dia tidak memiliki keberanian itu. Elil takut disantap hidup-hiduo oleh gadis galak ini.


"Jangan menyalahkan tanganku. Salahkan saja otakmu yang bodoh itu. Jelas-jelas ku bilang kalau aku ini dijambret, kenapa kau malah bersyukur karena tangan dan kakiku masih utuh. Yang kutemui itu penjambret, Elil. Bukan psikopat. Bagaimana sih!" amuk Ilona mulai habis kesabaran.


"Tapi mereka sama-sama orang jahat, kan?"


"Memang iya, tapi penjambret yang ini adalah pengecualian."


Kening Elil tampak mengernyit mendengar ucapan Ilona. Penjambret, tapi memiliki pengecualian. Ini maksudnya apa ya? Membingungkan sekali.

__ADS_1


"Haihh, benar-benar otak lembu. Begini saja tidak tahu. Ayo duduk. Biarkan aku menjelaskan satu-persatu kepadamu!" ucap Ilona berusaha keras untuk bersabar menghadapi sikap Elil yang tidak hanya bodoh, tapi juga lambat dalam berpikir.


Elil patuh mengikuti langkah Ilona yang tengah menarik tangannya menuju ruang tamu. Berhubung rumah yang mereka tempati memiliki fasilitas lengkap, Elil dan Ilona bisa dengan santai menghabiskan waktu untuk bercengkerama. Ya meskipun Elil harus tabah dalam menghadapi sikap Ilona yang galak dan suka main tangan.


"Orang yang menjambret tasku ternyata sedang terdesak masalah keuangan. Anak dan istrinya sakit, sedang uang yang dia miliki tidak cukup untuk membawa mereka pergi berobat. Karena sudah terdesak, dia nekad menjambret tasku. Akan tetapi dia malah menolongku saat aku hampir mati karena kehabisan nafas. Dari sanalah aku tahu kalau dia bukanlah orang jahat," ucap Ilona pelan. Hatinya masih terguncang akan apa yang baru saja terjadi.


"Sudah dijambret, hampir mati pula karena kehabisan nafas. Nasibmu malang sekali, Na. Aku prihatin!" celetuk Elil iba.


"Coba katakan sekali lagi, Lil. Aku bersumpah akan menjejalkan kaus kaki ke dalam mulutmu. Cepat ulangi!"


Dengan gerakan yang sangat cepat Elil segera menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tak terbayangkan jika seandainya Ilona benar-benar menyumpalkan kaus kaki ke mulutnya. Pasti dia muntah.


"Heran. Sudah tahu aku sedang bicara serius kenapa kau malah mencari gara-gara?" amuk Ilona seraya melayangkan tatapan tajam pada Elil yang tengah ketakutan.


"Kasihan kepalamu itu. Yang harusnya dikasihani itu bukan aku, tapi penjambretnya. Kalau saja pemerintah memberikan gaji sesuai tanggal, dia pasti tidak akan sampai melakukan tindak kriminal. Tapi mau bagaimana lagi. Kita hanya orang kecil. Di mata mereka kita tak ubahnya sampah yang tidak berharga. Wajar jika diabaikan. Benar tidak?"


Obrolan Elil dan Ilona tiba-tiba berubah arah pada pembahasan soal keadilan dan kinerja pemerintah. Tak ada lagi kekesalan. Yang ada hanya kata saling menguatkan untuk masing-masing dari mereka.


"Oya, Ilona. Kalau penjambret itu tidak jadi merampas tasmu lalu apa yang dia dapatkan dari perbuatannya? Dan juga darimana dia bisa mendapatkan uang untuk membeli obat? Kalian tidak mungkin bersekongkol untuk menipu orang, kan?" tanya Elil penuh rasa penasaran.


"Gila saja kau ya. Walaupun aku miskin, aku juga tidak akan sudi melakukan tindakan yang menyalahi hukum. Kau ini!" jawab Ilona sambil menahan diri agar tidak menjitak kepala Elil. Kesabarannya benar-benar diuji tiap kali bicara dengan gadis ini. Sungguh.


(Aku jadi penasaran siapa yang akan menjadi jodohnya Elil kelak. Dijamin kewarasan orang itu pasti akan terganggu karena memiliki pasangan yang kelewat bodoh dan juga polos. Xixixixi)


"Aku hanya penasaran saja, Na. Lalu setelah kau meminum obat, apa yang terjadi dengan kalian? Kembali baku hantam kah?"

__ADS_1


"Sembarangan. Ya tidaklah. Karena aku tersentuh dengan ceritanya, aku memutuskan untuk membagi dua uang hasil lembur pemberian Tuan Andreas. Dari uang ini juga pemulung itu membelikan obat untukku. Dia ....


"APAA? KAU MEMBAGI UANGMU DENGAN PENJAMBRET ITU?!"


Suara teriakan Elil membuat Ilona tersulut emosi. Segera dia menubruk tubuh gadis bodoh ini hingga mereka sama-sama terjatuh ke lantai.


"Awwhhhh, otakku sepertinya geser," keluh Elil saat merasakan pusing setelah kepalanya terantuk lantai.


"Itu bagus. Semoga saja kau bisa lebih pintar setelah otakmu geser," sahut Ilona dengan kejamnya.


"Jahat sekali. Teman macam apa kau!"


"Tentunya adalah satu-satunya teman yang peduli dengan denganmu."


"Masa?"


"Boleh kubenturkan lagi tidak kepalamu ke lantai supaya tidak hanya otaknya saja yang geser, tapi saraf-sarafnya juga. Mau?!"


"Ilona, kau kenapa galak sekali sih. Tidak takut jadi perawan tua apa?"


"Sialan kau!"


Baku hantam kembali terjadi dengan Elil yang pasrah menjadi korban. Dia tak seberani itu melawan Ilona yang kini tengah mengacak-acak rambutnya. Sangat brutal.


***

__ADS_1


__ADS_2