
(Bisa kali 70 komentarnya 🤪 Jangan lupa gift dan votenya juga ya gengsss biar emak makin semangat nulis)
***
Karl diam termenung di meja kerjanya tanpa menghiraukan keberadaan Bern dan Andreas. Sampai detik ini jantungnya belum berhenti berdebar, terlalu tertekan pada pertemuannya dengan Ilona.
"Mengapa aku jadi selemah ini. Gadis itu kan hanya seorang pemulung yang tidak memiliki kemampuan apa-apa. Apa yang harus ku takutkan?"
Gumaman Karl mengalihkan perhatian Bern dan Andreas. Mereka lalu sama-sama menutup bibir menahan tawa, tergelitik menyaksikan monster kejam itu tak berdaya karena seorang gadis. Padahal Ilona belum melakukan apa-apa, tapi Karl sudah lebih dulu merasa tak berdaya. Sungguh lawak. Kalau saja tak kasihan, mereka pasti sudah terbahak-bahak menertawakan Karl.
"Sebenarnya kau takut bukan karena dia Ilona, tapi karena dia adalah seseorang yang bisa memutus rantai karma di hidupmu. Itu sebabnya kau tidak bisa berkutik meski sangat ingin menghajar gadis itu. Iya 'kan?" ucap Bern santai.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Karl tak menampik ucapan saudaranya. Memang benar yang dia takuti dari Ilona adalah karena gadis itu merupakan orang yang dimaksud oleh sang nenek. Ditambah lagi pertemuan mereka diawali dengan sesuatu yang sangat tidak baik. Wajar kalau Karl merasa takut sekaligus gugup.
"Apalagi. Tentu saja kau harus memikirkan bagaimana cara untuk membawa Ilona pulang ke rumah."
"Kau sudah gila ya!"
Bern menghela nafas. "Gila tidak gila hanya cara ini saja yang bisa kau lakukan supaya rantai karma itu segera terputus. Memangnya mau sampai kapan kau hidup dalam bayang-bayang bisikan makhluk tak kasat mata itu?"
"Aku setuju dengan Bern." Andreas ikut berkomentar. "Sebaiknya kau mulailah atur rencana untuk membujuk Ilona. Dengan begitu kau bisa segera menemukan ketenangan."
"Membujuknya?"
Karl tertawa sumbang. Jangankan membujuk, berpapasan saja rasanya dia seperti mau dicabut nyawanya. Kalau benar dilakukan sih namanya bom bunuh diri itu. Gila saja.
(Tapi kalau dipikir-pikir lagi mereka ada benarnya juga ya. Mau sampai kapan aku terus begini sedangkan orang yang aku cari sudah ada di depan mata? Ah, tapi Ilona terlalu mengerikan. Bagaimana kalau nanti dia mengamuk dan melakukan sesuatu yang jahat kepadaku. Menjadi OB saja dia berani meracuniku. Lalu apa kabar jika aku memaksanya tinggal bersama? Aku rasa Karl Mufien Ma akan segera menjadi almarhum. Heh)
"Oya, Bern. Ngomong-ngomong Justin betah sekali mengejar bibi singanya. Dia tidak sedang mengacau 'kan?" ucap Andreas yang baru teringat kalau Justin tidak sedang bersama mereka. Bocah kecil itu pergi menyusul calon bibinya yang sedang sibuk bekerja.
"Kalau kau senggang aku tidak keberatan kau pergi menjemput Justin. Sekalian titip salam untuk Ilona," sahut Bern penuh maksud.
"Maaf, aku sedang sibuk. Sebagai ayah yang baik harusnya kau sendiri yang pergi menjemput putramu. Bukan malah duduk santai di sini."
"Aku memang ayahnya Justin, tapi kan kau juga pamannya."
__ADS_1
"Alasan. Bilang saja kau tidak mau berurusan dengan Ilona."
"Tepat sekali. Aku masih belum lupa dengan aura mencekam yang gadis itu keluarkan saat kita berpapasan dengannya di lobi tadi. Terlalu mengerikan."
"Mau sampai kapan kalian bergosip?" sindir Karl dongkol mendengar percakapan Bern dan Andreas. Setelah itu dia mendengus kasar, mengusap jakunnya yang sejak tadi tak henti bergerak menelan air ludah. "Kalian jangan acuh beginilah. Tolong aku. Bantu pikirkan cara bagaimana mendapatkan Ilona. Kalau hanya aku sendiri yang turun tangan, takutnya aku mati di tengah jalan. Tahu sendiri kan dia seperti apa. Jadi aku minta kalian ikut andil juga untuk membujuknya. Oke?"
"Harus ya?" ledek Bern.
"Jangan macam-macam, Bern. Ini masalah serius."
"Lalu aku harus mengatakan wow gitu?"
"Brengsek!!"
Sementara itu di halaman depan Group Ma terlihat Ilona yang tengah berkacak pinggang sambil menatap bocah kecil yang asik menarik-dorong janitor trolly (kereta alat kebersihan). Ingin marah, tapi wajah menggemaskan anak ini membuatnya merasa tak tega. Tidak marah, tapi pekerjaan menjadi terganggu. Alhasil Ilona memutuskan untuk mendekati Justin guna membujuknya berhenti bermain.
"Kau bocah cilik, kenapa tidak masuk sekolah? Memangnya kau tidak dimarahi oleh gurumu?" tanya Ilona sembari merapihkan rambut Justin yang berantakan tersapu angin. Sayang masih kecil. Kalau sudah besar, mungkin Ilona akan terpikir untuk mengejarnya. Hehehe.
(Masih kecil saja sudah sebegini tampan. Lalu bagaimana kalau anak ini sudah besar nanti? Aku jamin dia pasti akan menjadi incaran wanita yang ada di kota ini. Hmmm)
"Oh, jadi kau adalah keponakan pria cabul itu ya?"
"Pria cabul itu apa?"
Glukk
Elil yang menguping pembicaraan Ilona dengan Justin segera datang menghampiri kemudian ikut mengobrol. Dia penasaran mengapa Justin memanggil Ilona dengan sebutan bibi singa.
"Ekhhmm, pria cabul itu ....
"Justin, kau kenapa memanggil bibi ini dengan sebutan bibi singa? Kan dia bukan binatang. Taring, bulu, dan juga ekornya juga tidak ada. Kenapa bibi singa?" tanya Elil memotong perkataan Ilona. Dia sudah penasaran sejak tadi.
"Karena bibi ini galak seperti singa. Juga karena Justin pernah melihatnya berjalan dengan paman singa."
"Hah?"
__ADS_1
Elil dan Ilona sama-sama cengo mendengar jawaban polos Justin. Aneh sekali. Kapan-kapan Ilona berjalan bersama seekor singa? Kalaupun pernah, yang tersisa sekarang pastilah hanya arwahnya saja. Mustahil dia masih bisa hidup setelah berada di samping si raja rimba. Nyawa Ilona pasti sudah melayang entah ke mana.
"Na, kau keturunan siluman singa ya?" bisik Elil agak takut. Bisa jadi santapan segar dia jika benar gadis ini adalah keturunan siluman.
"Mulutmu benar-benar ya, Lil. Bisa tidak sih kalau bicara itu jangan ngawur. Sembarangan saja menyebutku siluman singa. Kau pikir aku ini mahluk jadi-jadian apa!" murka Ilona. Darahnya langsung naik ke puncak ubun-ubun saat dirinya disebut sebagai siluman.
"Aku tidak ngawur, Na. Tadi kau dengar sendiri kan apa kata Justin. Katanya dia pernah melihatmu berjalan bersama paman singa. Itu artinya kau adalah klan mereka!" tukas Elil penuh curiga.
"Ya Tuhan!!!"
Geram, Ilona segera mengambil pengki lalu mengarahkannya pada Elil. Gadis bodoh ini makin menjadi-jadi saja. Harus diberi pelajaran supaya tidak asal bicara.
"Buka mulutmu!"
"Mau apa kau, Na?" cicit Elil ketakutan.
"Aku mau membersihkan sisa kotoran yang ada di dalam mulutmu. Sepertinya saat memulung barang rongsok kau memakannya juga. Makanya cara bicaramu selalu membuat darahku mendidih. Cepat buka!"
Melihat bibi singa marah, Justin malah bertepuk tangan dengan hebohnya. Hal itu membuat para penjaga merasa heran. Cucu dan cicit pertama di keluarga Ma dengan mudahnya berteman dengan dua gadis yang bekerja sebagai cleaning servis. Mereka jadi penasaran mengapa dua pria mengerikan di keluarga tersebut malah terkesan membiarkan. Bahkan tidak ada tanda-tanda kedua orang itu datang untuk menjemput Justin. Aneh sekali.
"Apa Justin bilang. Bibi ini adalah bibi singa. Paman Karl saja takut padanya. Hahaha," ucap Justin sambil menunjuk ke arah si bibi singa. Bertemu dengan orang ini rasanya jauh lebih menyenangkan ketimbang bermain dengan dinosaurus kesayangannya.
"Tuan Muda Karl takut pada bibi singa ini?" beo Elil terheran-heran mendengar ucapan Justin.
"Iya, Bibi. Mau Justin buktikan tidak?"
"Maulah, tapi bagaimana caranya?"
"Emmm ayo kita pergi ke ruangan Paman Karl. Nanti di sana Justin akan meminta Paman Karl dan bibi singa untuk mengobrol. Yuk!"
Bak terkena sihir, Ilona patuh-patuh saja mengiyakan keinginan Justin. Dia lalu diminta untuk mendorong janitor trolly di mana Justin duduk di atasnya. Sedangkan Elil, pikirannya melanglang buana memikirkan kemungkinan kalau bosnya takut pada Ilona.
(Darimana Justin tahu soal ini ya. Apa jangan-jangan bocah ini adalah seorang cenayang? Ah tidak mungkin. Di dunia ini tidak ada yang namanya cenayang, tapi adanya adalah dukun tukang tipu. Iya benar)
***
__ADS_1