
Harap-harap cemas Karl menanti kembalinya Justin dan Renata. Saking dia cemas, telapak tangannya sampai lembab keringat. Belum lagi dengan tenggorokannya yang terasa sangat kering. Padahal dia berada dalam suhu ruangan yang terhitung sangat dingin.
Tok tok
"Paman!!"
"Dia kembali!" seru Karl seraya menunjuk ke arah pintu. Dengan penuh semangat dia pun bergegas membukakan pintu untuk keponakan tersayang. "Justin, bagaimana hasilnya? Kau ....
Gubraakkkk
Ilona menaikkan satu alisnya ke atas saat melihat Karl yang langsung jatuh terduduk di lantai begitu melihat kedatangannya. Aneh. Ada apa lagi dengan pria ini? Perasaan dia tidak melakukan apa-apa kepadanya, tapi kenapa reaksinya sampai sebegitu takut?
"Nah, benarkan apa kata Justin? Paman Karl itu sangat takut pada bibi singa. Lihat, Paman sampai terjatuh gara-gara melihat kemunculan kita. Hahahhaa," ejek Justin seraya terkikik lucu melihat kondisi sang paman yang sedang ketakutan.
"Memangnya apa yang pamanmu takutkan dariku?" tanya Ilona terheran-heran sendiri. Sudah heran melihat tingkah laku Karl, ditambah lagi heran karena mendengar ucapan Justin. Entah kenapa anak ini selalu saja menyebut kalau Karl takut padanya. Sangat membingungkan.
"Karena Bibi sangat galak."
"Galak?"
"Iya. Buktinya Paman Karl sampai terjatuh begitu kita datang. Paman takut kan pada bibi singa?"
Cio yang baru saja datang bersama Bern dan Renata rasanya ingin sekali jungkirbalik menertawakan Karl yang baru saja diejek oleh Justin. Sumpah, dia berani bertaruh kalau monster itu pasti merasa terhina sekali. Bayangkan saja. Dihadapan calon wanitanya, Karl diejek habis-habisan oleh anak berusia tiga tahun. Beruntung Justin adalah keponakannya. Kalau bukan, anak itu pasti akan berakhir di kandang Rocky, si loreng yang galaknya tidak ada obat.
"Justin, bukankah Ibu sudah bilang supaya tidak kurang ajar pada orang yang lebih tua? Kenapa melakukannya lagi?" tegur Renata tak membiarkan putranya bersikap semena-mena. Dia lalu melambaikan tangan, meminta putranya yang menggemaskan agar datang mendekat. "Sekarang minta maaf pada Paman Karl ya. Justin tidak boleh seperti itu. Mengerti?"
Tahu telah membuat kesalahan, dengan patuh Justin meminta maaf pada sang paman. Setelah itu dia menyembunyikan wajahnya di kaki sang ibu. Takut.
"Ekhmmm! Mau sampai kapan kau duduk di lantai, Karl?" tanya Cio berusaha menahan tawa. Perutnya benar-benar sangat kaku sekarang.
"Hah?" Karl tergagap. Sadar posisinya yang sedang terbengang sambil menatap Ilona, segera Karl bangun kemudian berjalan cepat menuju sofa. Melihat Andreas yang duduk dengan santai tiba-tiba saja Karl tersulut emosi. Dia lalu mendorongnya agar menjauh. "Dasar sepupu sialan kau, Yas. Kenapa tidak membantuku saat aku jatuh?"
__ADS_1
"Memangnya sejak kapan seorang Karl Wufien Ma membutuhkan uluran tangan dari orang lain?" tanya Andreas tanpa merasa tersinggung. Sangat mudah tertebak kalau sikap kasar Karl adalah karena panik akan kehadiran Ilona.
"Kau!!"
"Maaf, saya permisi. Masih ada pekerjaan yang belum saya selesaikan!" ucap Ilona. Kalau bukan karena Nyonya Renata meminta bantuan untuk mengantarkan Justin, Ilona tak akan mau datang kemari. Terlalu malas untuknya bertemu dengan pemilik ruangan ini.
"Oh, iya silahkan. Terima kasih banyak ya karena sudah menemani Justin," sahut Renata mewakilkan yang lain. Dia mencium aroma permusuhan yang begitu kuat di diri Ilona.
"Sama-sama, Nyonya. Permisi,"
Cio memberi jalan untuk Ilona pergi dari sana. Setelah itu dia menepuk bahunya Bern, bersiap melancarkan beberapa patah kata untuk mengejek sepupunya yang sok jual mahal dengan tidak mau melihat kepergian Ilona.
"Menurutmu aneh tidak jika seekor harimau bertaring tajam takut pada anak ayam yang baru menetas?"
"Cukup aneh, tapi aku bisa maklum. Mungkin taring harimau tersebut sudah mulai tumpul. Makanya mudah takut bahkan pada seekor anak ayam," sahut Bern usil menanggapi perkataan Cio.
"Lucu ya? Ingin tertawa tidak?"
"Kapan? Perasaan aku tidak melihat ataupun mendengar suara tawamu."
"Di dalam hati."
Karl mendengus kasar. Jengkel sekali dia mendengar olok-olokan yang dilontarkan oleh Bern dan Cio. Merasa yakin kalau Ilona telah benar-benar pergi dari sana, Karl segera menghampiri Renata guna menanyakan apa saja yang wanita ini obrolkan saat sedang bersama gadis itu.
"Apa katanya?"
"Apanya yang apa?" tanya Renata bingung.
"Ilona. Dia bilang apa padamu?"
"Gadis itu tidak bilang apa-apa. Kenapa memangnya?"
__ADS_1
"Ck!"
Bern tanggap. Dia lalu berbisik di samping telinga Renata. "Karl ingin tahu apakah kau berhasil membujuk Ilona atau tidak."
Renata membulatkan bibirnya setelah diberitahu apa maksud pertanyaan Karl. Sambil mengelus rambut Justin, dia menceritakan soal percakapannya dengan Ilona.
"Tadi aku mengajak Ilona agar ikut bergabung dalam pertemuan keluarga kita. Awalnya sih dia menolak. Tapi setelah aku dan Justin membujuknya, dia akhirnya bersedia,"
"Pertemuan keluarga? Kapan? Di mana?" cecar Karl bingung. Seingatnya tidak ada pertemuan apapun yang akan dilakukan oleh keluarganya. Lalu pertemuan apa yang dimaksud oleh Renata?
"Hehe, ini hanya akal-akalanku saja, Karl. Dan juga tadi Justin ikut membantu membujuk Ilona. Dia menggunakan nama Elil dan nama paman dino agar Ilona mau datang ke rumahmu. Begitu," jawab Renata agak malu mengakui kebohongannya. Mau bagaimana lagi. Hanya itu cara yang terpikir di kepalanya saat sedang bicara dengan Ilona tadi.
"Tidak masalah."
Andreas tanggap. Segera dia menghubungi pelayan di rumah Karl agar menyiapkan acara perjamuan keluarga. Acara mendadak bukanlah suatu masalah selama mempunyai uang. Dan ya, dalam hitungan detik kebohongan Renata berubah menjadi nyata.
"Sudah beres," ucap Andreas melaporkan. "Tinggal orang-orangnya saja kapan akan datang."
"Kerja bagus, Yas," puji Karl puas akan kegesitan sepupunya. Sedetik setelah itu Karl tiba-tiba tersenyum tanpa sebab. Dia lupa kalau di sana ada orang lain yang tengah menyaksikan kegilaannya. "Akhirnya sampai juga kau di rumahku, Ilona. Kini aku tinggal mencari tahu bagaimana cara memutuskan rantai karma itu. Jika dengan menahanmu di rumah bisa membuat semua itu usai, dibenci pun aku rela. Aku sudah sangat muak dengan bayang-bayang kegelapan itu. Aku ingin pensiun."
"Pensiun itu apa, Paman? Dan kenapa juga bibi singa mau ditahan di rumah Paman? Paman kan bukan polisi," protes Justin penuh selidik. Dia merasa tak rela jika bibi singanya di kurung.
Celetukan Justin sukses membuat semua orang tertawa. Kecuali Karl tentunya. Wajahnya masam. Ingin marah, tapi tak sanggup. Alhasil Karl memilih untuk menggendong Justin lalu membawanya pergi meninggalkan perusahaan. Dia berniat memborong semua keluarga dinosaurus yang ditemuinya di mall nanti.
"Bern, Karl mau membawa Justin ke mana?" tanya Renata penasaran.
"Biarkan saja. Kau jangan cemas. Karl tidak mungkin menyakiti putra kita. Justin adalah pembawa keberuntungan baginya. Paling-paling Karl hanya mengajak Justin berbelanja sepuas hati," jawab Bern santai.
"Hmmm, kalau begini ceritanya lama-kelamaan putra kita jadi terbiasa dimanja. Susah memang kalau memiliki ayah dan paman yang kaya raya. Sejak kecil sudah diajarkan cara menghamburkan uang."
Bern, Cio, dan juga Andreas pura-pura menjadi batu saat Renata mulai mengeluhkan soal sikap mereka yang memang suka sekali memanjakan Justin. Mau bagaimana lagi. Hanya bocah itu satu-satunya anak kecil di sekitar mereka. Jadi mereka menjadikan Justin sebagai obyek penghabis harta meski pada kenyataannya harta mereka tak bisa habis.
__ADS_1
***