
(BOM KOMENTAR DI SINI. BESOK KARL SAMA BERN BAKALAN CRAZY UP SEHARIAN. YUK KOMEN SAMA DUKUNGANNYA YANG BANYAK BIAR EMAK SEMANGATNYA NULIS)
***
Waktu yang ditunggu-tunggu oleh semua orang akhirnya tiba. Di kediaman Karl saat ini terlihat para pelayan yang sedang sibuk menata ini dan itu. Sedang pemiliknya sendiri entah ada di mana sekarang. Yang jelas rumah yang biasanya sunyi kini berubah menjadi ramai sekali.
"Bibi, tolong letakkan buah-buahan ini di meja yang ada di luar ya," ucap Elea seraya memberikan buah yang telah dicuci kepada pelayan.
"Baik, Nyonya."
"Terima kasih. Kalau lelah istirahatlah dulu. Aku tahu kalian sudah sibuk sejak pagi,"
Seperti biasa. Keberadaan Elea selalu memberikan magnet kekuatan pada siapapun yang ada di sekitarnya. Hal itu membuat para pelayan menjadi sangat sayang padanya sehingga memutuskan untuk tetap tinggal meski pemilik rumah ini sangat kejam dan juga dingin.
"Sayang, Karl di mana?"
Gabrielle yang tengah asik bermain dengan Justin langsung menoleh saat Elea memanggilnya. Segera dia datang mendekat setelah menitipkan sang cucu pada penjaga.
"Ada apa, sayang?"
"Karl di mana. Anak itu belum kelihatan sejak tadi," ucap Elea sambil melihat ke sana kemari. Tuan rumah ini tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Membuat Elea jadi merasa khawatir.
"Mungkin Karl di kamar. Biasalah. Sedang mempersiapkan diri sebelum bertemu dengan pawangnya yang galak," jawab Gabrielle setengah bercanda. Dia lalu tertawa saat Elea memukul lengannya pelan. "Memang benar yang aku katakan, sayang. Seharian ini Karl dibuat galau oleh Ilona. Bahkan pertemuan dengan klien harus Andreas yang turun tangan untuk membereskan. Putra kita uring-uringan dan menjadikan klien sebagai tempat pelampiasan."
"Separah itu?"
Gabrielle mengangguk. "Maaf ya. Tadi siang aku diam-diam datang ke perusahaan untuk melihat langsung seperti apa gadis bertanda lahir bulan sabit itu. Dan setelah berbincang langsung dengannya, aku jadi paham semenderita apa Karl dalam menghadapinya. Ilona ternyata sangat cerdik dan pandai memutar-balikkan fakta, sayang. Sungguh!"
__ADS_1
Elea agak kaget saat diberitahu kalau Gabrielle pergi menemui Ilona di perusahaan. Namun, kekagetannya tak berlangsung lama karena si pelakor halal sudah lebih dulu datang bersama Reinhard.
"Halo ATM berjalanku. Sedang apa kalian di sini?" tanya Levita.
"Siapa yang kau sebut sebagai ATM berjalan?" tegur Gabrielle jengah melihat pelakor halal ini datang ke hadapannya.
"Tentu saja kau," sahut Levita. "Dan Elea adalah bandarnya. Hehe,"
Keakraban yang terjadi di halaman depan rumah Karl sangat berbanding terbalik dengan yang sedang terjadi di kamarnya. Saat ini Karl tengah disibukkan dengan terus mengganti pakaian yang akan dia kenakan. Dan tindakannya itu membuat saudara serta sepupunya menggelengkan kepala.
"Ck, lama-lama aku jadi berpikir kalau kau itu sebenarnya bernaluri seorang wanita, Karl. Lihatlah ulahmu. Sudah hampir dua lemari kau keluarkan semua isinya. Kasihan para pelayan yang harus kelelahan karena membereskan kekacauan ini nanti!" omel Reiden tak habis pikir dengan kelakuan sepupunya.
"Diam kau. Banyak bicara, akan kusumpal mulutmu dengan kaos kakiku yang masih kotor!" ancam Karl sambil menatap Reiden lewat pantulan cermin. Tangannya sibuk mengancingkan kemeja berwarna navy, senada dengan warna gaun yang dia kirimkan untuk Ilona. "Ah, sepertinya yang ini cocok untukku. Fyuhhh, akhirnya beres juga masalah baju. Sekarang tinggal memilih jam tangan dan sepatu."
Jika Reiden dan Russell terkesan geli sendiri mendengar ucapan Karl barusan, lain halnya dengan reaksi yang muncul di diri Bern, Cio, Oliver dan juga Andreas. Keempat pria tersebut sama-sama menahan tawa menyaksikan calon pembucin yang baru akan terlahir. Sungguh sangat menggelitik hati sekali. Seorang Karl yang dikenal dingin dan anti wanita, mendadak jadi peduli pada penampilan hanya karena akan kedatangan tamu yang adalah seorang mantan pemulung. Kalau saja tak takut pria ini akan mereog, mereka pasti sudah menertawakan Karl sejak tadi. Tetapi karena hati nurani mereka masih berfungsi dengan baik, mereka memilih menahan tawa sampai sakit perut.
"Menurut kalian Ilona akan kerasukan setan tidak saat tahu kalau rumah yang dia datangi adalah rumahnya Karl?" tanya Bern.
"Lalu apa yang akan kita lakukan jika seandainya Ilona sampai melarikan diri dari sini?"
"Tentu saja menangkap dan menculiknya." Andreas unjuk gigi. "Karena rencana ini sudah diketahui oleh Ilona, sekalian saja kita mewujudkannya menjadi nyata. Toh hanya dengan cara ini saja gadis itu baru bisa tinggal di sini. Benar tidak?"
"Benar sih, tapi apa kau yakin berani melakukannya?"
"Ini yang masih mengusik pikiranku. Karl saja tidak berkutik saat di hadapan Ilona. Lalu apa kabar dengan kita?"
Karl bukannya tidak tahu kalau Bern dan para sepupunya yang lain tengah menggunjingkan tentang dirinya. Dia tahu, juga bisa menebak rencana apa yang tengah mereka bahas. Namun karena itu menyangkut tentang Ilona, Karl memilih diam membiarkan. Kan lumayan jika dampaknya bisa membuat Ilona tinggal di rumah ini.
__ADS_1
Tok tok tok
"Masuk!"
Seorang penjaga masuk ke dalam kamar kemudian membungkukkan badan. Karl lalu meminta penjaga tersebut untuk segera menyampaikan berita yang dibawanya.
"Tuan Muda, Nona Ilona dan temannya sudah dalam perjalanan kemari. Mereka pergi dengan menaiki angkot samaran anak buah kita."
"Oh, baguslah. Kau awasi terus mereka selama berada dalam perjalanan. Jangan biarkan ada masalah yang muncul sampai mereka tiba di sini," sahut Karl penuh sukacita. Hatinya seketika membuncah membayangkan pertemuannya dengan Ilona.
"Baik, Tuan Muda. Saya permisi,"
Tak tahan melihat Karl yang tengah berbunga-bunga, Cio memutuskan untuk menggodanya. Dia beranjak dari sofa kemudian mendekati sepupunya yang sedang bersiul sambil mematut diri di depan cermin.
"Jangan senang dulu, Karl. Pikirkan apa yang akan kau lakukan saat Ilona tahu kalau ini adalah rumahmu," bisik Cio dengan tengilnya.
Kedua mata Karl langsung terbelalak lebar begitu mendengar ucapan Cio. Benar. Sampai detik ini Ilona masih belum tahu kalau rumah yang akan gadis itu datangi adalah rumahnya. Bagaimana ini? Bagaimana cara dia menjelaskan nanti?
"Bingung ya?"
"Sialan kau! Kenapa baru bilang soal ini padaku? Arggghh, waktunya sudah mepet. Apa yang harus aku lakukan sekarang?!" umpat Karl kebakaran jenggot.
"Mana aku tahu. Aku ada di sini hanya sebagai tamu undangan saja. Yang lain bukan urusanku!" sahut Cio sambil menahan tawa. Rasakan itu. Hahahaha.
"Kau!"
Tanpa membuang waktu Karl segera keluar dari kamar guna mencari Justin dan Renata. Dia berniat meminta bantuan pada mereka.
__ADS_1
(Mati aku. Kenapa aku bisa tidak ingat soal ini? Ya Tuhan, tolong aku)
***