
(Gift, vote, sama komentarnya mana BESTie !!!! Ayo keluarkan semua kebar-baran kalian supaya emak semangat update!)
***
Bekerja sebagai OB di perusahaan besar sangatlah tidak mudah. Apalagi di sana sedang kekurangan tenaga kerja. Hal ini menyebabkan Elil dan Ilona bekerja lembur. Meski begitu, mereka sama sekali tak mengeluh. Setiap peluh yang menetes keluar selalu dibarengi dengan ucapan rasa syukur yang begitu besar. Seperti malam ini.
"Akhirnya selesai juga semua pekerjaan kita, Lil. Fyuuhhh, lelahnya. Tapi hati senang karena makan dan istirahat kita terjamin. Benar tidak?" tanya Ilona sembari membantu memegangi rambut Elil yang tergerai.
"Benar sekali. Untung saja kita dipertemukan dengan orang sebaik Tuan Andreas. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi dengan kita di sini," jawab Elil. Selesai mengikat tali sepatu, Elil segera bangun kemudian membantu Ilona untuk berdiri. "Ayo kita pulang. Memasak sepanci mie yang dicampur dengan keju, telur, sayur dan juga udang sepertinya enak. Kau mau tidak?"
"Memangnya kita punya udang ya?"
"Punyalah. Kan Tuan Andreas yang membelikan untuk kita waktu itu. Kau sudah lupa?"
Ilona mengangguk.
"Umur belum seberapa tapi sudah pikun. Malang sekali nasib pria yang akan menjadi suamimu nanti," celetuk Elil dengan polosnya.
Untung sekarang tenaga Ilona hanya tersisa sedikit. Kalau masih banyak, Elil pasti tidak akan selamat dari amukannya.
Berusaha sabar, Ilona mengabaikan celetukan Elil yang sangat menggores jiwa. Mereka kemudian masuk ke dalam lift sambil bergandengan tangan. Karena Group Ma memiliki keamanan yang sangat tinggi, di dalam lift ada tiga kamera yang mengawasi. Iseng, Ilona menjulurkan lidah ke salah satu kamera. Tujuannya? Tidak ada. Ilona hanya mencari kesibukan saja.
(Berani sekali dia menjulurkan lidah ke arahku. Dia tidak mungkin tahu kan kalau aku sedang memantaunya lewat CCTV?)
"Mau sampai kapan kau menguntit seperti ini, Karl? Langsung saja datangi Ilona. Aneh sekali," tanya Andreas geli sendiri melihat kelakuan sepupunya yang malah asik sendiri mengambil alih pekerjaan pihak keamanan. Terhitung sudah dari dua jam yang lalu pria ini membajak ruangan tersebut hanya untuk memantau pergerakan Ilona.
"Aku masih kesal dengan insiden tadi siang. Besok saja baru menemuinya," jawab Karl malas-malasan.
"Tidak baik menunda-nunda sesuatu yang bisa kau lakukan sekarang. Lagipula apa bedanya besok dan hari ini? Sama-sama akan bertemu juga 'kan?"
"Ck!"
Karl berdecak. Setelah itu dia beranjak dari duduknya dan berjalan keluar. Andreas yang ditinggal begitu saja nampak menahan tawa. Tak disangka ternyata monster itu lumayan mudah dihasut juga. Dan sepertinya Ilona akan kembali menjadi satu-satunya orang yang bisa membuat Karl jadi seperti ini.
__ADS_1
Ting
Pintu lift terbuka. Karena sama-sama sudah kelelahan, Elil dan Ilona saling dorong saat akan keluar. Tak lama setelah itu mereka tertawa, merasa konyol dengan perbuatan tersebut.
"Andai saja aku adalah pemilik perusahaan ini, aku pasti akan membawamu pergi jalan-jalan keluar negeri. Mau tidak?" ucap Ilona mulai berandai-andai.
"Tidak mau." Elil tegas menolak. Dia lalu berpegangan di pintu lift saat Ilona akan mendorongnya keluar. "Aku menolak bukan karena tak tahu diri, tapi karena itu tidak mungkin terjadi. Kau pemulung, begitu juga dengan aku. Lalu bagaimana caranya kau bisa naik kasta kalau status kita sama? Benar tidak?"
"Ya kan tidak ada salahnya berandai-andai, Lil. Kau ini!"
"Tetap saja dampaknya terasa sampai ke tulang belulang."
"Masa?"
Elil mengangguk.
"Ya sudah ayo kita pulang. Kau bukan orang yang asik untuk diajak menghayal," ajak Ilona sesaat sebelum menguap. Rasa lelah membuatnya mengantuk.
"Ayo!"
"Bagaimana ini, Lil. Ada yang bilang di Group Ma ada seorang monster pemakan manusia. Jangan-jangan lampunya padam karena monster itu sedang lapar. Kalau dia benar-benar muncul, kau dulu saja yang dimakan. Aku biar pergi mencari pertolongan," bisik Ilona mulai panik. Tubuhnya seperti kaku.
"Tidak mau ah. Tubuhku kan jauh lebih kurus darimu. Monster itu tidak akan kenyang kalau hanya memakanku. Kau sajalah," sahut Elil sudah hampir kencing di celana.
"Kau lah,"
"Kau,"
Dalam kegelapan, seseorang dibuat jengkel sekali oleh perdebatan Elil dan Ilona. Orang tersebut berdiri tepat di hadapan mereka. Namun karena lampu tiba-tiba padam, kedua gadis ini tidak ada yang menyadari keberadaannya.
Tap
Lampu kembali menyala. Dan di saat yang bersamaan Elil dan Ilona berniat melanjutkan langkah. Namun betapa terkejutnya mereka saat mendapati sosok tinggi besar tengah berdiri menghadang jalan.
__ADS_1
"WAAAAAAAA! ADA MONSTER. TOLOOONGGGG!"
Tanpa babibu lagi, Elil dan Ilona bergegas mengambil langkah seribu. Mereka tak siap jika harus mati sekarang.
"Siapa yang kalian maksud sebagai monster?" tanya Karl dingin. Dia bicara sambil menarik kerah baju Elil dan Ilona. Membuat kedua gadis ini tak bisa melarikan diri dari sana.
"Hah? Suaranya seperti tidak asing," ucap Ilona. Dia kemudian menoleh. "Lil, kau kenal dengan suara monster itu tidak?"
"Kenal. Suaranya mirip dengan suara Tuan Muda Karl," jawab Elil sembari menelan ludah. Peluh tiba-tiba membanjir di keningnya ketika satu pemikiran mengerikan melintas di dalam kepala. "Na, jangan-jangan orang yang menjadi monster adalah bos kita. Bagaimana ini? Aku belum siap mati sekarang. Malaikat bisa mengusirku karena aku mati sebagai orang miskin. Kan kau sendiri yang bilang kalau orang miskin selalu di diskriminasi di manapun mereka berada. Tolong aku, Na!"
Andreas yang mendengar langsung betapa polosnya Elil hampir saja kelepasan tertawa jika Karl tak melirik ke arahnya. Sungguh konyol. Jadi selama ini sepupunya dianggap sebagai monster oleh kedua gadis ini? Astaga.
"Jangan memantik kekesalanku. Siapa yang bilang kalau aku adalah monster?" tanya Karl mati-matian menahan kesal. Posisinya masih menarik kerah bajunya Elil dan Ilona. Membuat kedua gadis ini hanya bisa berlari di tempat.
"Tuan Muda, tolong jangan makan kami. Saya dan Elil mengidap penyakit menular. Anda cari orang lain saja," ucap Ilona mencoba membujuk Karl.
(Jadi malam itu aku bercinta dengan monster ya? Untung aku tidak hamil. Kalau sampai hamil, dipastikan aku akan dibully oleh seisi dunia. Amit-amit)
Karl yang kesal akhirnya melepaskan cengkraman tangannya. Namun karena Ilona tak henti berontak, menyebabkan tangan Karl terlilit bagian baju belakangnya. Alhasil, Ilona terjatuh dengan baju yang koyak di bagian leher hingga setengah punggung.
Sraaakkkk
"Tidak mungkin. B-bagaimana bisa?" ucap Karl terbata-bata. Kedua matanya terbelalak lebar sekali melihat sesuatu di punggung Ilona. "K-kau ... bagaimana bisa memilikinya? Kau s-siapa?"
"Siapa-siapa kepalamu itu. Dasar monster sialan. Lihat, bajuku jadi robek 'kan!" teriak Ilona berapi-api. Dia lalu meminta Elil meminjamkan tasnya untuk menutupi kulit bahunya yang terbuka. "Kalau mau makan orang ya makan saja, kenapa harus berbuat cabul juga. Heran. Memang benar ya orang kaya itu suka berbuat sesuka hati. Cihhh!"
"Na, apa bahumu koyak dimakan oleh monster?" tanya Elil dengan tubuh gemetaran. Secara perlahan kran khusus miliknya mulai bocor. Menyebabkan tetesan air berwarna sedikit kuning menetes keluar lewat kakinya. Elil mengompol karena ketakutan.
"Kau juga. Ayo pulang!" sentak Ilona. Dia lalu menyeret paksa tangan Elil untuk segera pergi dari sana. Ilona merasa dilecehkan oleh perbuatan Karl yang lancang merobek bajunya.
Karl membatu di tempat setelah melihat sesuatu yang sudah bertahun-tahun ini dia cari. Sedetik setelah itu tulang di kakinya bagai melebur. Karl lalu jatuh terduduk di lantai. Tubuhnya lemas seketika.
"Nenek, aku menemukannya. Dia sudah datang. Dia datang," ....
__ADS_1
***