
"Apa? Kau diajak bermain ke rumah pamannya Justin?" ucap Elil tak percaya. Kedua matanya sampai membelalak lebar saking kaget mendengar ucapan Ilona.
"Ya." Ilona menjadikan kedua tangannya sebagai bantalan kepala. Dia lalu menatap lurus ke langit-langit kamar. "Sebenarnya aku tak ingin pergi, tapi Justin bilang aku bisa miskin seumur hidup jika menolak rejeki. Jadi ya sudah. Mau tidak mau aku mengiyakan tawaran Nyonya Renata."
"Wah, beruntung sekali kau. Baru menjadi cleaning service saja sudah diajak berkumpul dengan keluarga mereka. Lalu apa jadinya kalau kau bisa masuk menjadi bagian keluarga Ma? Aku yakin aku pasti akan menjadi orang paling bahagia di dunia ini."
"Hati-hati kalau bicara. Selamanya aku tidak akan mau bergabung dengan keluarga mereka!" tegur Ilona agak jengkel mendengar ucapan Elil yang malah bersyukur jika dia menjadi bagian dari keluarga Ma. Memang tak ada otak gadis bodoh satu ini.
"Kenapa memangnya?" Dengan bodohnya Elil bertanya. Dia lupa kalau Ilona bermusuhan dengan salah satu anggota keluarga tersebut.
"Kau mau ku kuliti hidup-hidup apa bagaimana, Lil. Sudah tahu kalau aku sangat membenci Karl. Kenapa masih bertanya? Heran!"
Elil meringis. Dia lalu menggaruk keningnya yang tak gatal. Teringat dengan rencananya yang ingin mengorek informasi, dia mendekatkan tubuhnya ke samping Ilona lalu berbaring menyamping menghadapnya. Elil lalu menatapnya seksama.
(Kali ini aku harus berhasil. Aku harus tahu penyebab kenapa Ilona bisa begitu membenci Tuan Muda Karl. Tidak mungkin Ilana membencinya tanpa sebab. Pasti ada alasannya)
"Mau apa kau dekat-dekat?" tanya Ilona agak risih ketika Elil mendekatkan tubuhnya. Meski begitu, dia tak berniat mendorong gadis ini menjauh. Biar sajalah.
"Hehehe, begini. Aku perhatikan hubunganmu dengan Tuan Muda Karl sangat tidak harmonis. Apa sebelumnya kalian itu pernah pacaran?" ucap Elil sehati-hati mungkin. Tadinya dia bukan ingin bertanya seperti ini, tapi kata pacaran malah meluncur mulus dari mulutnya. Alamat kena sembur ini namanya.
"Berani bicara seperti itu lagi aku bersumpah akan memasukkanmu ke dalam karung lalu menghanyutkannya ke tengah laut. Mau!" ancam Ilona dongkol sekali saat Elil salah mengartikan permusuhannya dengan Karl. "Kau ini sebenarnya gila atau bagaimana sih, Lil. Dari sudut mana kau bisa menyimpulkan kalau aku dan Karl pernah berpacaran?"
"Habisnya kau terlihat begitu membenci Tuan Muda Karl sejak kita bekerja di Group Ma. Dari pengalaman yang sering aku lihat, jika ada seorang gadis membenci seseorang secara berlebihan itu tandanya pernah ada sesuatu yang terjadi di antara mereka berdua. Sebenarnya aku sendiri kurang percaya kalau kalian pernah berpacaran. Secara, kau itu kan pemulung yang sangat jelek dan juga dekil. Sedangkan Tuan Muda sendiri adalah pria kaya raya yang hidupnya lebih dari kata berkecukupan. Rasanya mustahil kalau kalian pernah menjalin hubungan, tapi ....
"Tapi apa hah??"
__ADS_1
"Tapi apa ya? Aku lupa,"
Jtaakkk
Satu jitakan mendarat indah di kening Elil setelah dia tak dapat melanjutkan perkataannya. Ilona yang merasa kesal pun memutuskan untuk pergi dari sana. Bukan kesal sih, tapi lebih ke menghindari pertanyaan Elil. Walaupun tidak sepenuhnya benar, tapi faktanya diantara dia dan Karl memang pernah terjadi sesuatu. Sesuatu memalukan yang membuatnya harus kehilangan keperawanan.
"Kalau Elil sampai tahu tentang kejadian malam itu, aku yakin dia pasti akan mengejekku habis-habisan. Dasar Karl brengsek. Andai aku tidak bertemu dengannya, sekarang aku pasti masih menjadi gadis yang utuh. Arrgghhh, sial sial sial!" gerutu Ilona seraya mendudukkan bokongnya ke sofa. "Apapun caranya Elil tak boleh tahu tentang hal ini. Tidak boleh!"
Sementara itu di dalam kamar, Elil yang ditinggal sendirian dengan senangnya mengepak-ngepakkan kedua tangan di atas kasur yang luas tanpa hambatan. Rasanya dunia ini seperti miliknya sendiri. Bebas.
"Untung saja aku bertemu dengan Ilona. Kalau tidak, nasibku pasti masih terkatung-katung tak jelas di jalanan. Memang sih lidah gadis galak itu sangat luar biasa tajam, tapi berkatnya sekarang kehidupanku jadi terjamin. Tinggal di tempat yang layak, punya pekerjaan, juga tidak lagi mengalami kelaparan. Betapa senangnya aku,"
Drtt drtt drtt
Sebelum menjawab panggilan, Elil melirik ke arah pintu terlebih dahulu. Dia takut Ilona tiba-tiba muncul kemudian memasukkannya ke dalam karung karena ketahuan menjawab panggilan tanpa ijin.
"Halo? Ini siapa ya?"
["Akan ada paket kiriman untuk Ilona. Tolong minta dia untuk memakainya besok malam."]
"Hanya Ilona saja ya yang dapat?" tanya Elil sedikit kecewa. "Lalu buatku mana? Kami kan tinggal berdua. Masa hanya dia yang dapat, sedangkan aku tidak. Pilih kasih sekali. Kami ini sama-sama yatim piatu. Kau bisa sial jika berlaku tidak adil pada kami berdua."
Mungkin Elil adalah manusia satu-satunya yang berani merengek meminta keadilan pada seseorang yang entah siapa. Kepolosannya sampai membuat si penelpon terdiam lama. Sepertinya orang tersebut syok mendengar ucapan Elil yang sangat kasihan.
"Eh, ngomong-ngomong kau itu siapa sih. Apa mungkin kau adalah orang yang sama yang mengirimkan ponsel ini kemari?" tanya Elil tiba-tiba merasa penasaran.
__ADS_1
["Kau tidak perlu tahu siapa aku. Sampaikan saja apa yang ku katakan barusan pada Ilona. Dan untukmu, nanti aku akan mengirimkannya juga."]
"Benarkah? Terima ka ....
Klik. Panggilan diputus sepihak. Harusnya ya, Elik itu merasa kesal atas sikap tak sopan si penelpon. Akan tetapi reaksi yang muncul tidaklah seperti itu. Dia dengan riangnya keluar dari kamar lalu melangkah menuju pintu depan.
"Mau ke mana kau?" tanya Ilona heran melihat Elil membuka pintu rumah. "Ini sudah malam. Jangan cari penyakit. Di perk*sa orang baru tahu rasa kau!"
"Memangnya siapa yang mau memoerk*osa gadis sepertiku, Na. Aku kurus, juga tidak cantik. Yang ada mereka malah kesakitan karena beradu dengan tulang di tubuhku," jawab Elil asal. Dia sedang bahagia, jadi tak terlalu peduli dengan kata pemerk*saan yang dilontarkan oleh Ilona.
"Walaupun kurus kau tetap punya lubang 'kan?"
"Punyalah. Kalau tidak punya lalu darimana granat di dalam tubuhku bisa keluar."
"Nah itu tahu. Tandanya kau tetap bisa dipakai meskipun kurus. Kalau tidak percaya, tetaplah berdiri di sana dan tunggu orang jahat datang menghampiri. Lalu saat itu terjadi, aku tidak akan menolongmu. Aku akan berpura-pura menjadi orang buta dan juga tuli supaya bisa menonton gratis!"
"Astaga, jahat sekali kau, Na. Tega ya pada teman sendiri!" pekik Elil syok. Dia tak menyangka kalau Ilona akan sekejam ini terhadapnya.
"Ya kalau tidak mau itu terjadi cepat tutup pintunya dan masuk ke dalam. Cepat!" sahut Ilona sambil menahan tawa.
Braakkkk
(Hahhahahaaaa)
***
__ADS_1