Satu Malam Bersama CEO Arogan

Satu Malam Bersama CEO Arogan
Terlalu Gengsi


__ADS_3

Wajah Andreas langsung pias begitu mendengar pengaduan Karl yang baru saja mengatakan kalau Elil membahas soal tawaran kerjasama untuk menculik Ilona di saat Ilona ada di dekatnya. Bukannya apa. Dalam hal ini dia juga ikut terlibat. Andreas mendatangi Elil dan mengingatkan gadis itu supaya tidak memberitahu Ilona. Tetapi hasilnya? Seperti yang kalian tahu kalau Elil terlampau polos hingga tidak memiliki rem di mulutnya. Dan inilah yang terjadi sekarang. Karl dalam bahaya.


"Bagaimana ini, Yas. Aku takut sekali kalau harus bertemu dengan Ilona," tanya Karl panik sendiri. Sejak semalam dia sama sekali tak bisa memejamkan mata. Takut, panik, resah, gelisah. Semua perasaan itu bercampur aduk menjadi satu.


"Kalau kau bertanya padaku lalu aku harus bertanya pada siapa, Karl?" sahut Andreas yang juga ikut merasa panik. Dia duduk di samping Karl kemudian menghela napas panjang. "Memangnya apa yang kalian bicarakan sampai Elil bisa tiba-tiba mengungkit masalah itu? Sudah tahu Ilona ada di sana, kenapa kalian malah mengobrol?"


"Kami tidak sengaja mengobrol, Yas. Tadinya aku itu sedang bicara dengan Ilona, lalu tiba-tiba Elil menimbrung dan sepertinya dia familiar dengan suaraku. Sebenarnya aku sudah sempat mengelak, tapi gadis itu malah menceritakan semua pembicaraan kami di hadapan Ilona."


"Lalu?"


"Ya aku langsung mematikan panggilannya lah. Gila saja kalau terus melanjutkan obrolan kami. Bisa-bisa Ilona kesurupan!"


"Tetapi Ilona tidak tahu kan kalau nanti malam dia akan datang kemari?"


"Sepertinya tidak. Renata hanya bilang ada pertemuan keluarga saja. Tidak menjelaskan secara rinci di rumah siapa pertemuan itu akan berlangsung." Karl menatap Yas. "Kenapa kau bertanya seperti itu?"


"Setidaknya kau masih aman untuk hal ini. Kalau Ilona sampai tahu pertemuan itu diadakan di rumahmu, kau benar-benar berada dalam masalah besar, Karl. Gadis itu pasti akan sangat murka dan memusuhi kita semua karena merasa ditipu. Tetapi syukurlah kalau Renata tidak memberitahunya. Masih ada celah untukmu bisa menculik Ilona."


Kedua mata Karl langsung berbinar-binar saat dia mendengar ucapan Andreas. Walau kedengarannya sedikit mustahil terjadi, tapi tak apalah. Dia tinggal mengatur rencana saja supaya nanti malam Ilona tak bisa lagi pergi dari sini.


"Ngomong-ngomong kau sudah ada persiapan kata belum untuk menghadapi Ilona di perusahaan nanti? Aku berani bertaruh kalau gadis itu pasti akan menyindir kita habis-habisan. Oh tidak, bukan menyindir. Lebih tepatnya kita akan menjadi korban kebrutalannya. Benar tidak?" tanya Andreas sembari mengusap tengkuknya. Agak ngeri dia saat membayangkan kemarahan Ilona yang lumayan bar-bar.


"Kalau aku sudah ada persiapan, aku tidak akan mungkin memanggilmu kemari, Yas. Inilah alasan kenapa kau bisa ada di sini sekarang," jawab Karl langsung stress begitu diingatkan tentang Ilona. Kepalanya berdenyut, sakit sekali.

__ADS_1


"Ini petaka, Karl. Entah benar atau tidak, tapi feelingku mengatakan kalau Elil pasti sudah memberitahu Ilona tentang perkataanku yang melarangnya agar tidak membiarkan gadis itu tahu. Ck, semua ini gara-gara kau!"


"Kenapa aku?"


"Tentu saja kau. Harusnya sebelum menemui Elil kau itu bertanya dulu padaku. Sudah tahu mulut gadis itu tidak ada remnya, malah mengajaknya melakukan penculikan. Ingat, Karl. Walaupun Elil dan Ilona adalah gadis miskin, mereka sama sekali tak tergoda dengan harta kekayaan. Buktinya Elil memilih untuk kabur saat kau menawarkan uang sebanyak itu. Haisshhh!"


(Aku kira semua masalah di dunia ini bisa diselesaikan dengan uang, ternyata tidak. Dan pengecualian ini berlaku untuk Elil dan Ilona. Huftt, jadi menyesal sudah menawarkan kerjasama pada gadis bodoh itu. Gara-gara kebodohanku sendiri sekarang aku berada dalam bahaya. Nasib-nasib, sekalinya bertemu gadis yang sudah kucari bertahun-tahun, aku malah berubah menjadi seekor keledai dungu. Ke mana perginya sosok Karl yang kejam dan pemberani? Apa jangan-jangan semua itu musnah begitu tahu kalau pawangku sudah datang? Sialan sekali!)


"Begini saja, Karl. Bagaimana kalau kita minta bantuan Ayah dan Ibumu untuk menghadapi Ilona. Setidaknya agar hari ini kita berdua bisa selamat. Setuju tidak?" ucap Andreas memberikan ide.


"Yas, bahkan Bibi Levita pun kehabisan kata-kata saat menghadapi Ilona. Kau yakin ingin meminta bantuan dari orangtuaku?"


"Astaga, jadi kita benar-benar sudah tidak terselamatkan lagi ya?"


"Wahhh, malang sekali,"


Karl dan Andreas sama-sama terdiam setelahnya. Mereka berdua bingung, tak mengerti mengapa bisa setakut ini menghadapi seorang gadis yang belum lama mereka kenal. Kalau saja Ilona tidak memiliki kartu as yang begitu penting, gadis itu mustahil masih bisa hidup sampai hari ini. Itulah mengapa mereka sulit untuk berkutik menghadapi kemarahannya yang selalu meluap-luap. Padahal yang meniduri Ilona hanya Karl, tapi imbasnya mengena pada semua orang yang terhubung dengan keluarga Ma. Sungguh karma yang sangat menyebalkan sekali.


"Kalau dipikir-pikir lagi rasanya lucu juga ya, Karl. Semenjak Ilona datang, hari-hari kita berubah menjadi semakin berwarna. Kau juga tidak lagi arogan seperti dulu. Kau mendadak berubah seperti singa ompong yang sudah tidak berdaya. Benar tidak?"


"Apa kau sedang mengejekku?" tanya Karl seraya menaikkan satu alisnya ke atas. Agak tersinggung dia mendengar ucapan Andreas barusan.


"Tergantung bagaimana caramu menyikapi ucapanku. Kalau menurutku sih tadi bukan ejekan, tapi sekedar pertanyaan biasa," jawab Andreas santai.

__ADS_1


"Sialan kau!"


"Kenapa jadi memakiku?"


"Ya karena aku merasa kalau ucapanmu itu benar. Sejak bertemu dengan Ilona hari-hari yang kujalani memang terasa sedikit aneh. Aku jadi tidak fokus bekerja, juga mudah merasa takut jika berhubungan dengan gadis itu. Belum lagi dengan otakku yang selalu dan selalu memikirkan Ilona. Pokoknya hanya tentang dia lah!"


Andreas menoleh. Dia lalu menepuk bahu Karl sambil tersenyum kecil.


"Enak tidak menikmati rasa dari jatuh cinta?"


"Jatuh cinta?" beo Karl bingung. Sedetik setelahnya dia langsung memasang ekpresi jengkel. "Kau jangan asal bicara ya. Aku begini bukan karena sedang jatuh cinta, tapi karena Ilona adalah gadis yang bisa menyelamatkan hidupku. Jangan sampai salah mengartikan!"


"Masa?" ledek Andreas sambil menaik-turunkan kedua alisnya. Dia suka sekali melihat respon sepupunya ketika tertangkap basah mulai menaruh hati pada seorang gadis. Lucu. Dan itu membuatnya jadi ingin tertawa.


"Sudah, Yas. Jangan diteruskan lagi. Aku tidak mau ya masalah ini sampai didengar oleh orang lain."


"Kenapa memangnya kalau didengar oleh orang lain? Paling-paling kau hanya akan digoda oleh mereka saja!"


"Itu yang aku benci. Sudah sana keluar, aku mau mandi. Bukankah hari ini ada meeting di luar kantor?"


Walaupun masih ingin menggoda Karl, Andreas dengan sangat terpaksa keluar dari kamar saat sepupunya itu mengusirnya dengan kejam. Dia lalu memutuskan untuk memberitahu Bern guna menceritakan hal lucu yang baru saja dia ketahui.


"Sudah jatuh cinta begitu masih saja tak mau mengaku. Karl-Karl, gengsimu terlalu tinggi. Ilona diambil orang baru tahu rasa kau. Hehehe,"

__ADS_1


***


__ADS_2