Satu Malam Bersama CEO Arogan

Satu Malam Bersama CEO Arogan
Pura-Pura Mati


__ADS_3

(Komen di atas 50, fix, sore crazy up)


***


Bukan Ilona namanya kalau tidak membuat ubun-ubun Karl serasa mengeluarkan asap tebal. Tadi begitu dia mencicipi kopi maut yang rasanya sangat luar biasa asin, Karl langsung pergi mencari keberadaan gadis ini. Dan setelah menemukannya, bukannya melampiaskan kemarahan, yang ada darah di tubuh Karl malah dibuat semakin mendidih.


Bagaimana tidak. Gadis yang entah mengapa seperti menyimpan dendam padanya, Karl temukan dalam keadaan terkapar di lantai dan lidah terjulur keluar. Terkejut? Oh, tentu saja. Niatnya tadi dia ingin menyeret dan mengusirnya keluar dari perusahaan, tapi ketika banyak karyawan berdatangan, Karl akhirnya mengurungkan niat tersebut. Dia tiba-tiba merasa malu, entah karena apa. Alhasil, Karl memilih pergi dan membiarkan gadis itu lolos meski kini emosi serasa membakar badan.


Braaaakkk


Cio yang tengah asik berbincang dengan Andreas sontak terlonjak dari duduknya karena terkejut mendengar suara dentuman pintu yang begitu keras. Belum juga hilang keterkejutan di dirinya, seseorang yang tengah membuat kegaduhan ini kembali berulah dengan membanting vas bunga ke lantai.


Praannggg


"Hmmmm, ada apa ini. Kau sedang datang bulan apa bagaimana, Karl?" tanya Cio iseng. Di pikirannya ada satu dugaan. Monster ini telah menemukan pengkhianat yang bersembunyi di balik karyawan Group Ma.


"Aku benar-benar sangat ingin membunuhnya. Aku ingin menghabisinya, tapi tidak bisa!" seru Karl sambil berjalan mondar-mandir. Tak puas dengan itu, tangan Karl cepat menyambar asbak yang berada di atas meja kemudian hendak membantingnya.


"Jangan begini, Karl. Kalau ada masalah selesaikanlah dengan cara baik-baik!" ucap Andreas sambil menangkap gerakan tangan Karl yang terayun ke atas. Setelah itu dia dengan santai merebut asbak dari pria ini kemudian mengajaknya untuk duduk. "Ini adalah asbak buatan Justin. Peyot-peyot begini kau bilang adalah asbak terbaik yang pernah ada di dunia. Nanti kau bisa menyesal tujuh turunan kalau sampai pecah!"


"Cihh, jangan bicara omong kosong kau!" sahut Karl setengah membentak.


"Asbak ini benar buatan Justin 'kan?"


Dengan sangat terpaksa Karl menganggukkan kepala. Dadanya nampak bergerak naik-turun dengan cepat. Karl masih terbakar emosi akibat perbuatan Ilona yang telah berbuat kurang ajar lalu pura-pura mati saat dia ingin membalas dendam. Sangat menjengkelkan.


"Ilona membuat ulah!"


Cio dan Andreas langsung menegakkan tubuh mereka begitu nama Ilona disebut. Ternyata tebakan mereka salah. Bukan pengkhianat yang membuat Karl marah, tapi si petugas kebersihan itu yang membuat monster ini mengamuk.


(Xixixi, lucu juga melihat Karl dibuat tak berdaya oleh seorang gadis. Mana gadis itu mantan pemulung pula. Lawak sekali!)


Kalau saja Cio tahu Karl bisa mendengar isi pikirannya, dia pasti tak akan berani membatin seperti itu. Sayangnya Cio tidak tahu. Dan apa yang dia pikirkan barusan membuat sepupunya ini meradang.

__ADS_1


"Hei hei hei! Apa yang kau sedang lakukan sih, Karl. Akukan tidak melakukan apa-apa padamu!" teriak Cio kaget setengah mati saat sebuah senjata tertodong ke arahnya.


"Bicara sekali lagi aku bersumpah akan langsung menghabisimu di tempat. Coba saja!" ancam Karl seraya mendengus kasar.


"Bicara apa yang kau maksud? Dari tadi aku hanya diam mendengar ocehanmu. Iyakan, Yas?"


"Cio benar. Kami berdua sama sekali tak mengatakan sesuatu yang aneh sejak kau datang. Mungkin kau hanya salah dengar karena terlalu kesal!" jawab Andreas agak waspada. Dia tak kalah kaget saat Karl tiba-tiba menodongkan senjata ke arah Cio. "Karl, setan ada di mana-mana. Cepat simpan kembali senjata itu dan ceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang telah Ilona lakukan padamu sehingga kau jadi begini marah?"


Luluh, Karl menyimpan kembali senjatanya ke dalam saku jas. Setelah itu dia menyenderkan badan ke sofa sembari menekan pinggiran kepalanya.


"Dia meracuniku."


"APA??"


"Ilona membuatkan kopi yang dicampur dengan garam satu lautan!" ucap Karl hampir frustasi. "Rasa asin yang muncul membuat lidahku kesemutan dan juga kebas."


"Haaaa?"


"Aku kesal, lalu pergi mencarinya. Dan aku menyesal pernah terpikir untuk mengusirnya pergi dari sini!"


"Kenapa bisa begitu? Kau takut pada Ilona apa bagaimana?" tanya Cio setelah tersadar dari keterkejutannya. Otaknya bleng mendengar keberingasan yang telah Ilona lakukan.


"Dia pura-pura mati!" ucap Karl seraya mend*sah panjang. Teringat dengan pose yang gadis itu lakukan membuat nafas Karl menjadi sesak. Sungguh, baru sekali ini dia bertemu dengan manusia yang berkamuflase menjadi mayat. Mana posenya buruk sekali, membuat hati kian merasa dongkol.


"Pura-pura mati? Memangnya bagaimana cara gadis itu melakukan?"


"Dia terkapar di lantai dengan lidah terjulur keluar. Kalau saja para karyawan di sini tak datang melihat, aku akan membuatnya benar-benar merasakan yang namanya kematian. Pose gadis itu membuat amarahku membakar sekujur badan. Sungguh!"


Saat mendengar penuturan Karl yang menyebut kalau Ilona telah memberinya kopi yang telah dicampur dengan garam, Cio dan Andreas masih kuat menahan diri. Akan tetapi saat mendengar tentang perbuatan Ilona yang pura-pura mati, mereka tak lagi bisa mengontrol mulut. Dalam hitungan detik, suara gelak tawa sudah memenuhi ruangan tersebut. Cio bahkan sampai jatuh terduduk ke lantai saking tak tahan membayangkan pose yang dimaksud oleh Karl.


"HAHAHAHHAHAHAAA!!"


"Brengsek kalian!" umpat Karl dongkol mendengar suara tawa kedua sepupunya.

__ADS_1


"Hahahaha, Karl. Hahahahhaa!" ucap Andreas tak kuasa menghentikan suara tawanya. Dia lalu membenamkan wajahnya ke atas bantal. Berharap tawanya bisa berhenti, tapi sayang, gagal. Hahaha.


Karl tak henti-hentinya mengumpat kasar saat Cio dan Andreas tak kunjung berhenti menertawakannya. Sangat menjengkelkan. Di saat dirinya tengah terbakar emosi, kedua orang ini malah membuat emosinya semakin membesar. Entah apa yang lucu, Karl tak paham.


"Ya ampun, baru kali ini aku tahu ada seorang gadis yang dengan terang-terangan berani mencari masalah denganmu, Karl. Apa gadis itu tidak tahu kalau kau adalah manusia bertangan pembunuh yang ditakuti oleh banyak orang? Astaga!" ejek Cio setelah berhasil mengendalikan suara tawanya. Dia kembali duduk di sofa sambil memegangi perutnya yang kaku. "Pura-pura mati, ya ampun. Darimana gadis itu menemukan pemikiran tersebut demi agar bisa melarikan diri dari amarahmu? Lawak sekali!"


"Jangan bahas masalah ini lagi. Aku sudah muak!" geram Karl. Ya muak, ya emosi, ahhh, entahlah.


"Jangan bagaimana. Justru karena hal inilah kau sampai mengamuk tadi. Tapi Karl, sungguh, aku sama sekali tak menyangka kalau Ilona adalah alasan dibalik kemarahanmu. Aku kira kau marah karena pengkhianat itu. Ternyata bukan!"


"Aku satu pemikiran dengan Cio!" tambah Andreas dengan wajah memerah seperti tomat. "Ilona sungguh aneh. Di saat para musuh hanya berani bertindak diam-diam untuk menyerangmu, dia malah dengan begitu terbuka mengibarkan bendera perang. Aku jadi penasaran mengapa Ilona sampai nekad berbuat demikian. Apa mungkin dia mempunyai dendam kesumat terhadapmu?"


"Dendam kesumat apa. Kami kan tidak saling kenal. Mustahil sekali dia menaruh dendam kepadaku!"


"Ya siapa tahu kau pernah merenggut sesuatu dari diri Ilona. Makanya dia begitu gencar melakukan balas dendam. Iya 'kan?"


(Merenggut sesuatu dari gadis itu? Apa? Aku saja baru melihatnya setelah bekerja di sini. Tidak mungkin sekali aku pernah bermasalah dengannya di luaran sana)


"Kau ingat tidak dengan gadis yang kesuciannya kau ambil?" tanya Andreas.


"Jangan bilang Ilona adalah gadis itu, Yas. Mereka berdua adalah orang yang berbeda. Ilona bukan ....


"Yakin bukan dia? Masalahnya hanya alasan ini saja yang paling masuk akal untuk mengetahui penyebab Ilona bisa begitu berani padamu. Selain itu tidak ada. Coba kau ingat-ingat lagi, Karl. Aku yakin pasti ada sesuatu yang pernah terjadi di antara kalian!"


"Kau perkosa lagi saja si Ilona. Kalau butuh bantuan, aku dengan sukarela akan datang membantu. Hehehe!"


"Sudah bosan hidup kau ya!" geram Karl sambil melayangkan tatapan tajam pada Cio.


"Hehehe. Just kidding, Bro!"


"Dasar sialan!"


***

__ADS_1


__ADS_2