
(Jangan lupa gift dan vote nya ya BESTie)
***
Mata elang Karl langsung menatap tajam ke arah Ilona yang tiba-tiba datang ke ruangannya. Dia yang sedang bersantai seketika tersulut emosi saat teringat dengan kejadian tadi pagi.
"Permisi, Tuan Muda. Saya diminta mengantarkan kopi untuk Anda," ucap Ilona seraya memasang senyum semanis mungkin. Dengan gerakan yang sangat luwes, dia meletakkan segelas kopi panas ke atas meja. Setelah itu dia mundur ke belakang dengan posisi bibir yang masih menyunggingkan senyum.
(Gadis gila ini kenapa terus menatapku sambil tersenyum ya. Membuat orang jadi takut saja)
"Kenapa masih di sini. Sana pergi!" usir Karl merasa tak nyaman akan keberadaan Ilona.
"Tuan Muda?"
Tengkuk Karl merinding hebat saat Ilona memanggilnya dengan suara rendah. Dia lalu menelan ludah untuk menormalkan detak jantungnya yang tidak beraturan. Sungguh sialan. Baru sekali ini Karl merasa terintimidasi oleh seseorang. Padahal seseorang ini tidak melakukan apa-apa kepadanya. Aneh.
"Ada orang yang bilang kalau musuh paling berbahaya adalah orang terdekat kita. Jika itu benar, apakah Anda merasa kalau saat ini seseorang tengah merencanakan sesuatu untuk mencelakai Anda?" tanya Ilona terang-terangan mengirim sinyal peperangan. Kalau pria ini memiliki otak yang cerdik, dia pasti akan langsung mengetahui makna dibalik ucapan Ilona barusan.
"Apa maksudmu bicara seperti itu?" sahut Karl langsung waspada.
"Hanya sekedar bertanya saja. Jawablah."
"Ingat status. Kau di sini bekerja sebagai bawahanku. Jadi jangan coba-coba memerintah. Tahu!"
"Dasar dungu," gumam Ilona tanpa suara. Dia kembali memasang senyum saat pria ini menatapnya intens. "Ya sudah kalau Anda keberatan menjawab. Mumpung kopinya masih panas silahkan langsung dinikmati. Kalau sudah dingin rasanya pasti sudah tak enak lagi. Saya permisi!"
Tanpa Karl ketahui, begitu Ilona berbalik badan dia langsung menyunggingkan seringai yang sangat mengerikan. Karl yang masih belum paham maksud perkataan Ilona hanya bisa memandang punggungnya dengan tatapan penuh rasa penasaran. Dia bingung mengapa gadis itu tiba-tiba menyinggung soal musuh. Apa jangan-jangan memang ada musuh yang sedang mengincar keselamatannya?
__ADS_1
"Ini tak bisa dibiarkan. Aku harus segera mengambil tindakan!" ujar Karl sembari mengambil ponsel hendak menghubungi seseorang.
Sembari menunggu panggilan dijawab, Karl berniat menyesap kopi buatan Ilona. Namun niat itu dia urungkan karena panggilan sudah lebih dulu tersambung.
["Halo, Tuan Muda. Ada yang bisa kami bantu?"]
"Seseorang mengatakan ada musuh di sekitarku. Kalian selidikilah. Jika sudah mengetahui identitasnya, segera hubungi aku. Ini penting!"
["Maaf, Tuan Muda. Kalau boleh tahu memangnya siapa yang bicara seperti itu? Selama ini kami selalu menempatkan keamanan yang sangat ketat untuk melindungi Anda. Rasanya agak mustahil jika ada orang terdekat yang ingin mencelakai Anda!"]
"Jangan banyak bicara. Lakukan saja apa yang kuperintahkan pada kalian. Mengerti!"
["Baik, Tuan Muda."]
Klik. Panggilan terputus. Karl meletakkan ponsel di atas meja kemudian menatap gelas kopi yang ada di hadapannya. Dia merenung.
(Darimana Ilona tahu ada orang terdekatku yang ingin berbuat jahat? Apa mungkin dia tak sengaja mendengar ucapan seseorang? Tapi siapa?)
Karena merasa tak ada yang perlu diresahkan, Karl segera mengangkat gelas kopi kemudian memejamkan mata untuk menikmati aromanya. Wangi dan sangat menenangkan. Karl suka ini.
"Seperti biasa. Kopi pahit kesukaanku. Hmm," gumam Karl sesaat sebelum mulai menyesap kopi favoritnya.
Namun, Karl tak pernah menyangka kalau musuh terdekat yang dimaksud oleh Ilona ternyata adalah gadis itu sendiri. Begitu kopi masuk ke dalam mulut Karl, darah ditubuhnya langsung mendidih saat merasakan rasa dari kopi tersebut. Alih-alih rasa pahit, yang muncul malah rasa asin yang sangat luar biasa sekali. Sepertinya gadis itu sengaja memasukkan garam satu lautan untuk meracuni Karl. Benar-benar kelewatan.
"ILONAAAAAA!"
Di luar ruangan, Ilona yang mendengar suara teriakan Karl yang begitu membahana langsung pergi melarikan diri sambil tertawa terbahak-bahak. Jebakannya berhasil. Akhirnya kopi maut itu sampai juga ke kerongkongan Karl. Senangnya hati ini.
__ADS_1
"Hahahaha, rasakan itu! Siapa suruh bermulut lemes. Memangnya enak meneguk kopi rasa lautan. Hahaha!" ucap Ilona sambil menyender ke dinding. Dia kini berada di ruang ganti. "Sekarang aku harus mencari cara untuk membuat Karl tak berani memarahiku. Dia bisa membantingku kalau aku ketahuan sedang mempermainkannya. Emmm, apa ya?"
Elil yang berniat istirahat tampak mengerutkan keningnya saat mendapati Ilona yang tengah mondar-mandir di dalam ruang ganti. Penasaran, segera dia menghampiri gadis tersebut kemudian menanyakan ada apa.
"Na, kenapa kau seperti setrika yang terus berjalan ke sana kemari. Apa yang sedang kau lakukan?"
"Ck, kenapa sih kau selalu saja muncul saat aku sedang kesal? Mau jadi pelampiasan apa bagaimana?" tanya Ilona sambil menatap tajam ke arah Elil.
"Tidak maulah. Cukup pagi tadi saja, tidak lebih," jawab Elil.
Ilona menekan pinggiran kepalanya. Teringat dengan insiden kopi maut, segera saja dia menarik tangan Elil kemudian membisikkan sesuatu kepadanya.
"Aku membuat kesalahan. Kemungkinan besar bos akan mencariku setelah ini. Tolong bantu lindungi aku ya supaya tidak dipecat,"
"Hah? Kau mencari masalah apalagi dengan bos, Na. Berani sekali. Para karyawan bilang memancing amarah pemilik perusahaan ini sama artinya dengan menggali lubang kubur sendiri. Kau sudah bosan hidup apa bagaimana?"
"Sudah jangan banyak protes. Lebih baik sekarang kau bantu aku mencari cara untuk melarikan diri dari amarah b*jingan itu. Oke?"
Mulut Elil terbuka lebar sekali saat Ilona dengan gamblang menyebut bos mereka seorang b*jingan. Ini gawat. Kalau dia masih bersedia untuk membantu, itu sama artinya Elil ikut masuk ke dalam lubang kubur yang digali oleh Ilona. Tidak-tidak, dia tak mau mati cepat.
"Hei, mau pergi ke mana kau?" Ilona memekik kaget saat Elil tiba-tiba mendorongnya kemudian berlari menuju pintu.
"Na, maaf sekali. Sepertinya untuk masalah satu ini aku tidak bisa membantu. Kau hadapi sendiri saja ya kemarahan Tuan Muda Karl. Aku masih muda. Ayah dan Ibuku bisa murka kalau aku mati sekarang. Tolong mengerti ya," jawab Elil sambil mengatupkan kedua tangan di depan dada.
"Kau!"
Ilona langsung menelan ludah saat dia mendengar suara familiar tengah berteriak memanggil namanya. Elil yang tahu kalau bosnya sudah datang segera pergi melarikan diri dari sana. Dalam hati dia tak henti meramalkan doa', berharap semoga Ilona tidak dijadikan tumbal proyek oleh bos mereka.
__ADS_1
(Bagaimana ini. Karl datang mencariku. Apa aku pura-pura mati saja ya supaya dia tidak jadi mengamuk? Arhhh, dasar Elil pengkhianat. Awas saja kau!)
***