Satu Malam Bersama CEO Arogan

Satu Malam Bersama CEO Arogan
Badai Dilema


__ADS_3

(Maaf gengs libur panjang. Habis ada acara do'a untuk keluarga yang meninggal. Besok Senin kan? Jangan lupa kasih vote untuk novel ini ya. Sorenya emak janji crazy up sampe kalian puas. Kebetulan si pelakor halal muncul di beberapa bab ke depan. Jadi pastikan kalian dukung novel ini ya. Terima kasih ❤)


***


Setelah insiden Karl ditampar oleh Ilona, sejak saat itu pria tersebut menolak untuk datang ke perusahaan. Alasannya klise. Takut. Entah apa yang ditakutkan. Jelasnya sikap Karl berubah seperti seorang pecundang yang kehilangan jati diri semenjak Ilona menolak untuk tinggal bersamanya.


Tok tok tok


Mendengar pintu kamarnya diketuk oleh seseorang, bukannya bangun Karl malah menarik selimut hingga menutupi wajahnya. Dia sedang tidak mau bicara dengan siapapun. Ingin sendiri saja merenungi nasibnya yang naas karena harus ditakdirkan bertemu dengan sosok gadis yang sangat menyebalkan.


"Karl, ini Ibu, Nak. Buka pintunya ya. Ibu mau bicara!"


(Untuk apa Ibu datang kemari? Cihh, pasti Yas telah mengadu yang tidak-tidak pada Ibu. Awas saja dia)


"Sebentar saja, Karl. Tolong buka pintunya ya?"


Tak mau membuat sang ibu menunggu, Karl segera meraih remot di atas nakas kemudian menekan salah satu tombolnya. Setelah itu dia duduk, sengaja membiarkan ruangan dalam kondisi gelap karena tirai yang belum dibuka.


"Selamat pagi, sayang," sapa Elea seraya memasang senyum manis di bibirnya. Dia melangkah masuk ke dalam kamar kemudian menutup pintu. Tak langsung menghampiri putranya, Elea memilih untuk berdiri diam sambil menyender ke pintu. Satu yang dia pikirkan. Lega.


"Apa Yas mengatakan sesuatu yang aneh pada Ibu?" tanya Karl. "Kalau iya, jangan percaya apa katanya. Dia bohong."


"Yas tidak mengatakan apapun pada Ibu." Elea kembali tersenyum. "Tapi ....


"Tapi???"


"Tapi Justin tak henti membahas soal bibi singa yang membuatmu ketakutan. Keponakanmu memberitahu Ayah dan Ibu kalau kehadiran bibi singa adalah orang yang sangat dinantikan kehadirannya oleh semua orang. Dan beberapa hari yang lalu kau terkena auman bibi singa tersebut. Makanya sekarang kau sakit."


Gluukkk

__ADS_1


Sialan sekali bocah menggemaskan itu. Bisa-bisanya membuatmu fitnah yang sangat menjatuhkan harga diri seorang Karl Wufien Ma. Yang benar saja. Ya kali dia jatuh sakit gara-gara diteriaki oleh Ilona. Bukan sakit, tapi hampir copot jantung rasanya.


"Karl, apa benar gadis itu adalah orangnya?" tanya Elea seraya melangkah perlahan ke arah ranjang. Jujur, saat ini matanya sudah memanas. Bertahun-tahun semua anggota keluarga Ma menantikan sosok gadis yang bisa mematahkan penderitaan putranya, dan sekarang sosok tersebut telah muncul ke permukaan. Wajar kalau Elea terharu. Kebahagiaan hidup putranya sudah ada di depan mata sekarang.


"Iya, Ibu. Namanya Ilona. Dia orang yang dimaksud oleh Nenek Liona," jawab Karl tak menampik. Dia lalu menggerakkan tangan menepuk kasur, memberi kode agar sang ibu duduk di sana. "Bu, aku sedang sekarat sekarang. Dan gadis itu adalah penyebabnya."


Elea tak menjawab. Dia duduk di samping Karl lalu menarik pelan bahunya agar berbaring di atas pangkuan. Sambil memberikan belaian lembut di rambut hitamnya, Elea meminta Karl agar melanjutkan cerita.


"Aku tahu yang kuceritakan akan sangat salah di mata Ibu. Tetapi ketahuilah, Bu. Yang terjadi pada kami sama sekali tak ada niat yang mendasari. Semuanya terjadi begitu saja tanpa ada unsur kesengajaan. Tolong nanti Ibu jangan langsung menghakimiku ya!" ucap Karl agak malu-malu kaku saat ingin menceritakan soal percintaan panas yang dilakukannya bersama Ilona.


"Nak, Ibu adalah orang yang telah melahirkan dan membesarkanmu. Terlepas dari apa yang pernah terjadi dulu, Ibu sangatlah memahami perangai semua anak-anak Ibu. Jadi kau tidak perlu merasa sungkan untuk bercerita. Jika memang ada yang salah dengan tindakanmu, sebisa mungkin Ibu akan menyikapinya dengan tidak sebelah mata. Jangan khawatir. Oke?" sahut Elea dengan sangat bijak.


"Baiklah." Karl memejamkan mata. Selain menikmati sentuhan tangan sang ibu, juga karena dia tengah mengingat kejadian panas malam itu. Ah, tiba-tiba saja jantung Karl berdebar kuat. "Aku telah merenggut kesucian Ilona."


Hening. Napas Karl tertahan sejenak saat menunggu reaksi di diri sang ibu. Merasa aman, dia kembali melanjutkan ceritanya.


"Malam itu kami tak sengaja bertemu saat Ilona tengah bersembunyi di belakang mobilku karena dikejar-kejar oleh penagih hutang. Awalnya tidak ada yang salah dengan pertemuan kami. Sampai pada titik di mana aku meminum air pemberian Renata yang ternyata telah dicampur dengan obat perangsang."


"Benar, Ibu. Katanya sih Bern sengaja membeli obat itu untuk dia dan Renata. Akan tetapi Bern tidak hati-hati saat menyimpannya lalu diambil oleh Justin. Ibu tahu sendirilah kalau pria kecil itu memiliki kecerdikan dan juga kemampuan yang cukup mengerikan. Dan setelah kupikir-pikir lagi, sepertinya semua ini adalah rencana Justin dengan Nenek Liona. Karena jika aku tidak meminum air itu, aku pasti tidak akan bertemu dengan Ilona."


"Oh begitu. Berarti di sini kau yang memaksa Ilona untuk bercinta denganmu?" tanya Elea tak tahu harus mengucap kata terima kasih atau malah merasa kasihan dan marah. Ternyata oh ternyata cucunya terlibat dalam hal ini. Hmmm.


"Astaga, aku tidak seburuk itu, Ibu. Karena aku sudah dalam pengaruh obat, aku sempat meminta baik-baik agar Ilona mau melayaniku. Akan tetapi gadis itu menolak, lalu menyarankan untuk mencari wanita panggilan saja. Dari sanalah percintaan kami terjadi. Entah karena kehausan atau bagaimana, Ilona meminum sisa air jahanam tersebut. Lalu ... tahu kan apa yang terjadi?"


Dengan lancarnya Karl bercerita soal bagaimana cara Ilona bisa bekerja di perusahaan. Termasuk juga dengan insiden dia yang kena tampar gara-gara Ilona salah paham pada ucapannya.


"Jadi Ilona bekerja di kantor ya?" tanya Elea seraya memasang senyum penuh maksud. Beruntung suasana kamarnya Karl gelap, jadi Elea bisa menyembunyikan senyum tersebut.


"Iya, Bu. Di bagian kebersihan, bersama temannya juga. Namanya Elil."

__ADS_1


"Lalu apa rencanamu untuk membuatnya takluk dan mau tinggal di sini?"


"Entahlah, aku tidak tahu. Kemarin saja aku harus dilecehkan gara-gara dia salah memahami ucapanku. Rasanya canggung kalau aku harus melaksanakan hal yang sama lagi padanya. Malu Bu kalau harus ditampar lagi," keluh Karl sambil mengerucutkan bibir.


"Karl, Ilona bereaksi seperti itu mungkin karena masih marah atas perbuatanmu. Berikan saja waktu untuknya bisa memahami kalau kau sama sekali tak mempunyai niat buruk. Ibu yakin lama-kelamaan Ilona akan mengerti juga," ucap Elea mencoba memberi saran.


"Tidak mudah, Bu. Ilona sudah terlanjur punya dendam kesumat padaku. Mustahil bisa mengajaknya secara baik-baik."


"Jadi?"


"Jadi apa maksudnya?"


"Kau mau menculiknya paksa apa bagaimana?"


"Ini masih kudalami dulu. Sekiranya tidak berbahaya untuk nyawaku, kemungkinan besar aku akan menculik Ilona dan memaksanya untuk tinggal bersamaku di sini."


Elea terus membahas soal Ilona sampai akhirnya Karl terlelap di pangkuannya. Merasa perlu melakukan sesuatu, Elea segera menghubungi Levita guna meminta bantuan pada pelakor abadi itu. Dan tentunya ini Elea lakukan setelah meninggalkan kamar putranya yang tengah barada dalam badai dilema.


"Halo, Kak Levi. Siang ini kau senggang tidak?" tanya Elea begitu panggilan tersambung.


["Maaf, aku sedang sibuk. Reinhard bilang dia sedang tidak ingin jauh-jauh dariku."]


"Oh begitu. Ya sudahlah. Tadinya aku berniat mengajakmu pergi melihat pameran berlian setelah melakukan sesuatu, tapi karena kau sedang sibuk ya sudah aku pergi bersama yang lain saja."


["Elea, share lock sekarang. Lima belas menit aku pastikan sudah ada di hadapanmu. Oke?"]


Klik. Panggilan diputus begitu saja. Elea yang sudah tahu kalau Levita tak akan bisa menolak sogokan, dengan santai berjalan keluar. Dia lalu duduk cantik di kursi taman sembari mengirimkan titik lokasi pada pelakor abadi tersebut.


"Uang memang tidak bisa membeli segalanya. Tetapi ada sebagian orang yang bisa mati jika tidak memiliki uang. Hmmm, lucu."

__ADS_1


***


__ADS_2