
Dengan gerakan yang sangat hati-hati sekali Karl membaringkan Ilona di atas ranjang king size miliknya. Setelah itu dia memandangi wajahnya dari jarak yang lumayan dekat. Karl tersenyum. Bukan terpesona, tapi bahagia karena ketenangan hidupnya sudah berada di ambang mata.
"Ilona, terima kasih sudah datang ke kehidupan ini. Aku tahu cara yang kulakukan terkesan jahat dan pengecut. Tetapi ketahuilah kalau akupun terpaksa melakukannya. Tunggu setelah nanti hatimu tenang, aku akan mengajakmu ke tempat di mana tempat tersebut menjadi awal kehidupanmu dipaksa tinggal di rumah ini. Tolong bertahanlah," gumam Karl penuh maksud tersirat.
Tak langsung kembali berkumpul dengan anggota keluarga yang lain, Karl malah melepas kemejanya lalu berganti dengan pakaian biasa. Ekor matanya tak henti melirik ke arah ranjang, memastikan kalau Ilona masih ada di sana.
"Hmmm, hidup ini ternyata sangatlah aneh. Aku yang terbiasa membuat semua hal berada di bawah kendaliku, tiba-tiba saja dikendalikan oleh orang lain. Seorang gadis pula. Untung keluargaku sangat kompak dengan tidak membocorkan masalah ini keluar. Kalau sampai dilakukan, orang-orang pasti akan menghinaku habis-habisan," ujar Karl bicara pada pantulan dirinya di cermin. "Jendral Liang Zhu, lihatlah siapa yang sedang berbaring di ranjangku sekarang. Setelah ini kau bisa pergi ke alam baka dengan tenang karena semua karma perbuatanmu telah diputus oleh Ilona. Aku harap kau tidak akan lagi mengganggu Justin. Cukup aku saja yang menjadi akhir dari segala keanehan di keluarga Ma. Yang lain biarkan bahagia dengan kehidupan normal mereka. Bisakan?"
Namun, Karl tidak pernah tahu ada seseorang di tempat lain yang juga tengah mencari keberadaan Ilona. Dan orang tersebut adalah sepupunya sendiri. Jove. Ya, mafia itu butuh darah Ilona guna membebaskan Casandra dan juga racun kutukan yang ada di dirinya. Entah apa yang akan Karl lakukan jika seandainya dia mengetahui hal ini. Apalagi dibalik Jove ada si Pamela, psikopat muda yang suka sekali pada yang namanya dollar.
Sementara itu Ilona yang tertidur akibat pengaruh obat bius, kini tengah terjebak mimpi di alam bawah sadarnya. Suasana yang muncul membuat dahi Ilona mengerut tajam. Sepertinya mimpi yang dia lihat meninggalkan kesan yang lumayan berat. Mungkin.
Alam mimpi
"Terima kasih atas pertolonganmu, Jendral. Berkatmu kami semua berhasil selamat dari kejaran para pemburu itu. Mereka kejam. Selalu menjadikan suku kami sebagai buronan untuk bersenang-senang. Apalah arti kemampuan kami yang tak seberapa ini jika dibandingkan dengan mereka yang lengkap dengan senjata. Kami hanyalah sekelompok kaum wanita yang lemah. Sekali lagi terima kasih banyak atas kemurah-hatianmu, Jendral. Kami semua berhutang budi!" ucap Yao Weinyuan seraya bersujud di hadapan seorang jendral besar bermarga Zhu.
"Sudah seharusnya aku melindungi semua rakyat Kaisar Ming. Termasuk kalian juga. Walau kehidupan kita sedikit berbeda, aku tetap memiliki kewajiban untuk memberi perlindungan. Jangan sungkan," sahut Liang Zhu merasa terhormat mendengar ucapan terima kasih dari klan Yao yang terkenal dengan ilmu sihirnya. Namun karena klan ini banyak dinominasikan oleh wanita, banyak orang-orang berdatangan untuk memburu mereka. Tujuannya? Untuk memaksa mereka memberikan minyak sakti yang konon bisa membawa keselamatan di masa depan.
"Tapi, Jendral. Kami tak terbiasa bersikap demikian. Sudilah kiranya engkau menerima sedikit cindera mata dari suku kami sebagai bentuk ucapan terima kasih atas apa yang telah engkau lakukan."
Yao Weinyuan segera berdiri kemudian meminta seseorang untuk mengambil sesuatu di kamarnya. Liang Zhu yang melihat hal itupun hanya mengangguk saja. Ayahnya selalu mengatakan untuk tidak menolak apapun pemberian orang lain selama tidak mengancam nyawa. Walaupun niatnya tulus membantu, dia dengan senang hati akan tetap menerima apapun yang ingin diberikan oleh klan tersebut.
__ADS_1
"Jendral, orang-orang itu datang kemari adalah karena menginginkan benda ini. Jika berkenan, mintalah satu pengharapan untuk masa depan para penerusmu kelak," ucap Yao Weinyuan dengan sukarela menyerahkan barang paling istimewa yang dimiliki oleh sukunya kepada jendral baik hati ini.
"Apakah aku bisa bebas menentukan?" tanya Liang Zhu penasaran.
"Benar, Jendral. Terserah apa yang kau inginkan. Dengan minyak ini keinginan tersebut pasti terkabulkan."
Liang Zhu diam beberapa saat. Dia tengah memikirkan harapan apa yang pantas untuk diminta. Mengingat kalau minyak tersebut bukanlah minyak sembarangan, juga dengan banyaknya orang yang meninggal karena bermasalah dengannya, Liang Zhu akhirnya memilih satu keputusan demi masa depan para penerusnya nanti.
"Aku tak tahu apakah dibalik perbuatanku ada karma yang akan mengikuti atau tidak. Namun jika ada, aku ingin kau menggunakan minyak itu untuk mendatangkan seseorang yang bisa mematahkan karma tersebut. Tandai orang itu dengan mengukir tanda lahir di punggungnya dalam bentuk bulan sabit!"
"Mengapa bulan sabit?"
"Sungguh sangat mulia permintaanmu, wahai jendral. Semoga dewa senantiasa melindungimu dan juga para penerusmu," seru Yao Weinyuan takjub akan kepedulian sang jendral yang lebih memilih mengamankan masa depan para penerusnya alih-alih memilih untuk kepentingannya sendiri.
(Jendral Liang Zhu, untuk menghormati kebaikanmu, aku akan mengirim putriku untuk melindungi keturunanmu di masa depan. Semoga kau tidak pernah melupakan pertemuan kita)
***
"Ih, Tuan Cio. Kenapa kau tidak membiarkan aku pergi mencari Ilona? Tadi dia pingsan. Kalau Tuan Muda Karl sampai menjadikannya sebagai tumbal proyek bagaimana? Kan kasihan Ilona!" protes Elil jengkel karena dirinya seperti dihalang-halangi saat ingin mencari Ilona. Dia khawatir.
"Kau ini kenapa rewel sekali sih. Bisa tidak jangan berisik?" omel Cio.
__ADS_1
"Tidak bisalah. Kan aku punya mulut, wajar kalau berisik. Protes pada Tuhan saja sana dan tanyakan mengapa tidak membiarkan aku terlahir bisu. Huh!"
Cio tergelak mendengar ucapan Elil. Gadis ini benar-benar ya. Membuat kepala jadi pusing saja.
"Elil, kau tidak perlu khawatir. Karl tidak mungkin sejahat itu pada Ilona. Ya?" ucap Elea mencoba menenangkan Elil yang terlihat gelisah.
"Tapi Tuan Muda membawa Ilona pergi, Nyonya. Ilona pernah bilang padaku kalau beliau itu sangat berbahaya dan juga cabul. Bagaimana jika mereka sampai ... sampai ....
"Sampai apa?"
"Sampai itu,"
"Itu apa?"
Karena tak bisa menjelaskan secara rinci, Elil membuat gerakan menyatukan kedua telapak tangan dengan posisi saling tindih. Setelah itu mulutnya tampak komat-kamit menyebutkan sebuah kata yang mana membuat semua orang yang ada di sana tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, dasar gadis bodoh. Bilang saja kau takut Karl akan melubangi kue donat milik Ilona. Pakai membuat gerakan aneh segala kau. Astaga," ejek Cio sambil memegangi perutnya yang terasa kaku.
Elil tertunduk malu. Seketika dia lupa dengan kondisi Ilona yang sempat pingsan sebelum dibawa pergi oleh bos mereka. Sungguh teman yang tidak punya empati sama sekali. Hmmm.
***
__ADS_1