
Setelah ketahuan diajak kerjasama oleh bosnya, Elil sedikit menjaga jarak dari Ilona. Bukannya apa. Dia sangat takut dim*tilasi. Akibat dari tawaran itu mendadak sikap Ilona berubah menjadi seribu kali lebih galak dari singa buas yang siap menerkam mangsa. Dan karena Elil adalah gadis lemah, menghindar adalah jalan ninja paling baik untuk tetap bertahan hidup.
"Ruangan b*jingan itu sudah kau bersihkan belum, Lil?" tanya Ilona seraya menatap datar ke arah Elil yang tengah mengelap meja.
"B*jingan yang mana, Na?" sahut Elil dengan tampang bingung. "Seingatku di perusahaan ini tidak ada yang namanya b*jingan. Apa itu adalah nama karyawan baru?"
"Tidak usah berlagak bodoh. Kau tahu benar siapa orang yang aku maksud."
"Tapi aku memang bodoh."
Ilona menelan ludah. Payah sekali bicara dengan gadis satu ini. Bisa-bisanya malah mengakui kalau dirinya bodoh di saat ada banyak sekali cara untuk melakukan pembelaan diri. Haihhh.
Percakapan singkat Elil dan Ilona rupanya didengar oleh seorang karyawan yang tidak sengaja lewat di dekat mereka. Merasa tahu siapa yang dimaksud b*jingan, dengan kasar dia mendorong punggung Ilona dari belakang. Setelah itu dia berkacak pinggang, menatap penuh ejek pada gadis kumal yang bekerja di bagian kebersihan.
"Hei, Ilona. Tahu posisi kau. Berani sekali kau menyebut Tuan Muda Karl sebagai b*jingan. Punya nyawa berapa kau hah?!"
"Maaf, Nona. Saya tidak ada urusan dengan Anda!" sahut Ilona berusaha tenang. Karyawan satu ini terkenal suka menghina orang lain yang statusnya lebih rendah darinya. Dan kemungkinan besar Ilona akan menjadi korbannya kali ini.
"Di antara kita memang tidak urusan. Tetapi sebagai karyawan Group Ma, jelas aku tidak terima atasanku diperlakukan dengan hina. Asal kau tahu saja ya. Tuan Muda bisa menghabisimu jika dia tahu kau memanggilnya dengan sebutan b*jingan. Sadar diri sajalah. Kau itu kan hanya pegawai di bagian kebersihan. Jadi jangan sok besar kepala dan berlaku seolah kau adalah Nyonya di perusahaan ini. Tahu!"
"Maaf, tapi saya tidak merasa seperti itu." Ilona mengembuskan napas perlahan. "Saya punya alasan kuat mengapa bicara seperti itu. Dan saya rasa itu bukan hak Anda untuk mencampuri urusan pribadi orang lain."
"Lancang!"
Elil tercengang seperti orang bodoh melihat cara Ilona membela diri. Andai dia memiliki keberanian yang sama seperti gadis ini, dia pasti tidak akan mudah dibully. Sayang sekali Elil terlahir sebagai sosok gadis yang lemah dan juga penakut. Hmmm.
"Lil, ayo kita bersihkan ruangan lain. Jangan hiraukan manusia angkuh yang suka menyombongkan diri dengan hartanya yang tidak seberapa," ucap Ilona memutuskan untuk mengakhiri perdebatan. Dia sadar kalah status. Jadi lebih baik pergi sebelum hati semakin sakit karena dihina.
"Yakkk, Ilona! Aku belum selesai bicara ya!"
__ADS_1
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, Nona. Anda kembalilah saja ke tempat kerja Anda sendiri dan biarkan kami melanjutkan pekerjaan kami. Beres!"
"Kau ....
"Ada apa ini?"
Gabrielle yang sudah sangat penasaran pada Ilona memutuskan untuk datang ke perusahaan secara diam-diam. Dia pergi tanpa mengajak Elea bersamanya. Tujuannya? Sudah pasti agar bisa bicara empat mata dengan gadis yang telah ditakdirkan sebagai pemutus rantai karma di hidup putranya.
"Oh, Tuan Gabrielle. Selamat pagi,"
"Pagi." Ekor mata Gabrielle melirik pada dua gadis yang ikut membungkuk sambil memegang alat-alat kebersihan. Sepertinya Ilona adalah salah satunya.
(Pria ini siapa ya? Wajahnya kenapa sedikit mirip dengan Tuan Bern dan Tuan Muda Karl? Apa jangan-jangan Tuan Gabrielle adalah ayah mereka? Wahhh, perasaanku jadi tidak enak.)
"Ekhmmm, siapa nama kalian?" tanya Gabrielle sambil menatap salah satu gadis yang baru saja membatin tentang dirinya. Fikss, pasti itu adalah Ilona.
"Saya maksudnya?" tanya Elil seraya menunjuk dadanya sendiri.
Elil meringis. Dia memegangi kepalanya yang baru saja dipukul oleh Ilona. "Kenapa memukulku sih, Na. Aku salah apa?"
"Yang sopan, bodoh. Orang di depan kita bisa jadi adalah orangtua dari pemilik perusahaan. Kau mau dipecat karena bersikap tidak sopan padanya?" bisik Ilona penuh nada teguran.
"Hah? Benarkah?"
Segera Elil membungkukkan badan sambil terus meminta maaf pada pria yang berdiri di hadapannya. Melihat hal itu Gabrielle jadi seperti sedang berhadapan dengan Elea versi lama. Istrinya dulu juga sangat polos seperti gadis ini. Jadi serasa sedang bernostalgia.
"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bermaksud tidak sopan kepada Anda. Saya hanya ....
"Tidak apa-apa," sahut Gabrielle seraya tersenyum tipis. "Siapa namamu?"
__ADS_1
"Nama saya Elil, Tuan. Dan ini adalah teman sekaligus satu-satunya saudara yang saya miliki. Namanya Ilona."
Deg
Ilona agak speechless saat Elil menyebut dirinya sebagai satu-satunya saudara yang dimilikinya. Gembira, jelas. Sebagai yatim piatu yang hidup sebatang kara jelas dia merasa senang mendapat pengakuan dari orang lain.
"Elil dan Ilona. Nama yang cantik. Sama seperti orangnya," puji Gabrielle lega. Dia lega karena bisa langsung bertatap muka dengan gadis bertanda lahir bulan sabit tersebut. "Oya, tadi kalian kenapa? Sepertinya sedang terlibat pertengkaran. Apa benar?"
"Tuan Gabrielle, maaf menyela. Memang benar kalau kami tadi sedang bertengkar. Saya tidak sengaja mendengar Ilona menyebut Tuan Muda Karl sebagai b*jingan. Karena menurut saya itu sangat tidak sopan, jadi saya menegurnya. Begitu!" jelas karyawan yang tadi berdebat dengan Ilona. Raut wajahnya menunjukkan satu kepuasan setelah mengadukan gadis tersebut pada pria berkuasa ini.
"Benar begitu, Ilona?"
Tak langsung menjawab, Ilona memilih untuk meletakkan alat-alat kebersihan yang dipegangnya kemudian membungkuk hendak meminta maaf. Gabrielle yang melihat hal tersebut pun hanya diam terheran-heran, juga penasaran. Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh gadis ini ya?
"Tuan Gabrielle, benar saya menyebut kata b*jingan saat sedang berbincang dengan Elil. Namun, di sini perlu di garis bawahi kalau saya sama sekali tak menyebut nama Tuan Muda Karl. Kata b*jingan belum tentu tertuju untuk beliau, tapi Nona ini telah berspekulasi demikian tanpa mengkonfirmasi terlebih dahulu kepada saya. Jadi di sini saya simpulkan kalau Nona ini telah salah paham dan saya menunggu permintaan maaf darinya atas fitnah yang tidak benar tersebut!" tegas Ilona dengan mudah memutar balikkan fakta. Enak saja ingin menjadikannya kambing hitam. Tidak bisalah. Kan tidak ada bukti. Haha.
Elil dan karyawan yang tadi mendebat Ilona sampai melongo mendengar pembelaan diri yang dia lakukan. Sungguh, gadis yang sangat cerdik.
(Hahaha, mati kutu kan kau sekarang? Kau pikir bisa seenaknya menindasku? Tidak ya. Walaupun benar kalau kata b*jingan itu tertuju untuk Karl, tapi aku tidak pernah menyebutkan namanya secara jelas. Sudah pasti aku bisa mengelak dengan mudah kalau orang yang aku maksud bukanlah Karl. Hahahhaa!)
Andai Ilona tahu kalau Gabrielle bisa mendengar isi pikiran orang, dia pasti akan berpikir dua kali saat akan menyuarakan kebenaran lewat pikiran. Susah-susah akting membela diri, tanpa sadar dia malah mengungkap kejahatannya sendiri. Sungguh nasib yang sangat tidak beruntung sekali.
"Kalian kembalilah bekerja. Tidak usah ribut lagi. Lebih baik fokus pada tugas masing-masing supaya bos kalian merasa sepuas dengan kinerja yang kalian berikan. Oke?"
"Baik, Tuan. Kami permisi,"
"Iya,"
Gabrielle segera berbalik hendak meninggalkan perusahaan. Tanpa diketahui oleh siapapun, kedua sudut bibirnya nampak berkedut. Gabrielle tak menyangka kalau Ilona akan secerdas ini dalam hal memutar balikkan fakta.
__ADS_1
(Karl, kau dalam masalah besar sekarang, Nak. Pawangmu bukan orang yang mudah untuk dihadapi. Ayah doakan semoga kau kuat melewati semua ini. Demi hidupmu yang lebih baik. Xixixixi)
***