Satu Malam Bersama CEO Arogan

Satu Malam Bersama CEO Arogan
Uang Merubah Segalanya


__ADS_3

(Bom komentar + gift + dan votenya bestie)


***


Seperti biasa, Elil dan Ilona sibuk membersihkan semua sudut ruangan di Group Ma. Sesekali mereka juga tampak bercengkrama, lalu berakhir dengan Ilona yang mengomel panjang karena kesal. Tindakan kedua gadis tersebut kadang menarik perhatian beberapa karyawan yang tak sengaja memperhatikan. Kalau ada yang usil, Elil akan mendapat bullyan tipis-tipis dari mereka. Biasalah, keakraban layaknya sesama pekerja.


"Na, kau merasa ada yang aneh tidak akhir-akhir ini?" tanya Elil memulai rencana penyelidikan.


"Apanya yang aneh?" sahut Ilona acuh tak acuh. Dia bicara sembari menyiram bunga.


"Itu, si Tuan Muda kita. Sejak kalian adu mekanik beberapa hari lalu, aku tak pernah melihatnya menampakkan batang hidung di perusahaan lagi."


"Malah bagus itu. Setidaknya aku bisa melewati hari-hari dengan tenang." Ilona menyeringai tipis. Sebenarnya dia bukan tak menyadari hal ini, sangat sadar malah. Namun hal itu tak dihiraukannya. Alih-alih merasa bersalah karena telah bersikap kurang ajar pada Karl, Ilona dengan bangga malah menunjukkan kebahagiaannya dengan cara semakin bersemangat dalam bekerja. "Kalau bajingan itu datang ke kantor, hidupku pasti tidak akan setenang sekarang. Aku harap dia lebih sering absen ketimbang menampakkan diri di sini. Benar tidak?"


Elil mengerutkan kening. Keyakinannya semakin menguat saja kalau memang benar ada sesuatu yang telah terjadi antara Ilona dengan bos mereka. Curiga, diapun memulai rencana untuk menggali lebih jauh informasi dari gadis ini.


"Ekhmmm, ngomong-ngomong kenapa kau terkesan benci sekali pada Tuan Muda Karl, Na. Apa mungkin kalian pernah terlibat adu mulut sebelum kau bekerja di sini?" tanya Elil hati-hati. Takut disiram oleh gadis galak ini.


"Jangan sok tahu." Ilona sedikit berdebar. "Antara aku dengan baj ... maksudku bos kita, itu tidak pernah terjadi apa-apa. Aku membencinya karena dia selalu menyusahkanku. Tahu!"


"Masa sih? Kok aku tidak percaya ya,"


"Tidak percaya ya sudah. Itu bukan urusanku!"


Ilona segera pergi meninggalkan Elil saat menyadari gadis itu tengah memperhatikannya diam-diam. Walaupun bodoh, ternyata gadis itu memiliki insting yang tajam juga. Bisa gawat jika Elil sampai mengetahui soal percintaannya dengan Karl. Pasti mulut embernya akan meluber ke mana-mana.


"Kenapa Elil jadi curiga begini ya. Apa jangan-jangan Karl telah mengatakan sesuatu padanya. Awas saja jika itu benar. Habis dia ditanganku!" gumam Ilona sembari berjalan hendak mengambil kanebo.


"Nona Ilona!"

__ADS_1


Srettt


Langkah Ilona terhenti. Segera dia berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya.


(Tuan Cio. Mau apa dia datang kemari?)


"Selamat pagi, Tuan Cio," sapa Ilona dengan sopan.


"Pagi juga." Cio tersenyum lebar. Ekor matanya melirik ke sana kemari mencari keberadaan seseorang. "Di mana temanmu yang bodoh itu? Dia belum mati 'kan?"


"Sayangnya Elil sehat-sehat saja, Tuan. Dan sekarang dia sedang ada di ruangan lain. Sedang bekerja."


"Oh,"


"Kalau boleh tahu kenapa Anda menanyakan soal Elil ya? Anda menyukainya apa bagaimana?" tanya Ilona penasaran. Tidak biasanya ada pria yang sekalinya datang langsung menanyakan keberadaan Elil. Kan jadi curiga dia.


Bukannya menjawab, Cio malah melenggang pergi begitu saja. Dia tak terlalu tertarik bicara dengan gadis yang notabennya telah mendapat tanda kepemilikan dari sepupunya. Terlebih Ilona mempunyai ujung lidah yang tajamnya hampir mengalahkan tajam sebuah samurai. Jadilah Cio memilih untuk menghampiri Andreas saja, sekalian menanyakan soal kondisi Karl yang tiba-tiba lenyap dari permukaan.


Sementara itu di luar kantor, sebuah mobil sport berwarna hitam terlihat memasuki halaman. Tahu yang datang adalah orang-orang besar, para penjaga yang ada di sana langsung berlari mendekat kemudian membukakan pintu untuk orang tersebut.


"Selamat pagi, Nyonya Elea. Selamat pagi, Nyonya Levita," sapa para penjaga seraya membungkuk hormat. Setelah itu tidak ada satupun penjaga yang berani mengangkat wajah mereka guna menatap kedua tamu tersebut. Bukan keduanya sih, tapi lebih tepatnya pada wanita mungil yang adalah orangtua dari pemilik perusahaan. Walaupun sudah bertahun-tahun terlewat, peraturan untuk tidak boleh memandangnya lewat dari tiga detik masih berlaku hingga sekarang. Dan jika berani melanggar, maka mereka harus rela biji mata mereka diganti dengan biji mata buaya.


"Selamat pagi kembali," sahut Elea dengan ramah.


"Cihhh, lihatlah ulah suamimu, Elea. Kau bahkan sudah punya cucu, tapi Gabrielle masih tidak membiarkan pria lain boleh menatapmu. Menjengkelkan sekali 'bukan?" ucap Levita sinis. Mulutnya boleh saja bicara demikian, tapi tidak dengan hatinya. Levita sangat kagum akan besarnya rasa cinta Gabrielle terhadap Elea. Namun karena gengsinya terlalu tinggi, jadilah kata-kata seperti tadi yang keluar dari mulutnya.


"Itu tandanya cinta suamiku tak lekang oleh waktu." Elea tersenyum. Dia lalu menatap lama ke arah pintu masuk perusahaan. "Kak Levita, di dalam nanti kita akan menemui seseorang yang menjadi cikal bakal perubahan hidup salah satu anakku. Aku harap kau tidak mengacau!"


Sebelah alis Levi terangkat ke atas. Dia lalu mendekatkan diri ke tubuh Elea guna mengorek informasi lebih jelas.

__ADS_1


"Maksudmu gadis berbulan sabit itu sudah muncul dan sekarang berada di Group Ma?"


"Benar sekali. Namanya Ilona, hampir mirip dengan mendiang nama Ibu. Dari pengakuan Karl gadis itu memiliki sikap yang sedikit bar-bar. Tolong nanti kau jangan mengajaknya bertengkar ya. Karena tujuanku mengajakmu kemari adalah untuk mencari celah agar gadis itu mau tinggal bersama Karl!" jawab Elea menjelaskan tujuannya menyambangi perusahaan.


"Itu sih tergantung dari seberapa banyak berlian yang bisa kubawa pulang nanti. Kalau cuma sedikit, kemungkinan besar aku akan mencari masalah dengan gadis itu. Tapi jika jumlahnya ....


"Pilihlah berlian sesuka hatimu, Kak. Suamiku kaya raya. Kami tidak akan jatuh miskin hanya karena memuaskanmu yang begitu tergila-gila pada benda berkilau itu!"


Levita tersenyum malu-malu saat dipuji oleh Elea. Tak sabar ingin segera pergi berburu berlian, dia menggaet lengan Elea lalu mengajaknya masuk ke dalam gedung. Sikap Levi menjadi sangat ramah ketika menjawab sapaan dari karyawan yang berpapasan dengan mereka. Sungguh definisi uang bisa merubah segalanya. Hmmm.


Sementara itu Ilona yang tengah bersiap melanjutkan pekerjaannya dibuat bingung saat salah satu karyawan menyampaikan pesan seseorang kepadanya. Karena tak merasa melakukan kesalahan, diapun menanyakan apa penyebab dirinya diminta untuk pergi ke ruangan utama perusahaan ini.


"Nyonya Ma ingin bicara denganmu!"


"Nyonya Ma?" beo Ilona seraya mengerutkan kening. "Maksudnya orangtua dari bos kita?"


"Iyalah. Siapa lagi menangnya. Sudah sana cepat temui beliau. Jangan sampai kau membuat Nyonya menunggu. Nanti pawangnya marah."


"Suaminya?"


"Bukan."


"Lalu siapa?"


"Aduuhh, kenapa kau cerewet sekali sih, Na. Pokoknya sekarang cepat kau pergi ke ruang utama. Jangan takut. Nyonya Ma adalah wanita yang sangat baik hati sekali. Semua karyawan di Group Ma memanggil beliau dengan sebutan ibu peri kaya raya. Beliau juga adalah orang yang sangat dermawan. Dan kau harus merasa beruntung karena bisa bicara secara pribadi dengan orangnya langsung. Ini kesempatan langka, Na. Sungguh!"


Karena terus didesak, mau tak mau Ilona akhirnya pergi ke ruang utama. Banyak pertanyaan berkecamuk di dalam benak. Bertanya-tanya mengapa wanita yang disebut sebagai ibu peri tersebut begitu ingin bicara dengan.


(Apa mungkin Karl telah mengadu yang tidak-tidak pada ibunya soal diriku? Wahh, pengecut sekali dia. Awas saja ya kalau di dalam nanti aku sampai kena marah. Biar bersembunyi di lubang semut pun aku pasti akan mencarinya. Huh!)

__ADS_1


***


__ADS_2