Satu Malam Bersama CEO Arogan

Satu Malam Bersama CEO Arogan
Kelepasan Bicara


__ADS_3

Elil dan Ilona menatap datar ke arah cermin yang tengah memantulkan bayangan tubuh mereka. Sebenarnya tidak ada yang aneh. Mereka bersikap seperti itu karena terlalu takjub setelah mengenakan gaun yang sangat luar biasa indah pemberian tuan misterius.


"Hei, kau Ilona atau bukan?" tanya Elil dengan bodohnya.


"Kalau bodoh setidaknya jangan sampai ke akar-akarnya juga, Lil. Memangnya siapa lagi yang tinggal denganmu selain aku?" jawab Ilona tanpa mengalihkan perhatiannya dari cermin. Masih takjub.


"Aku kan hanya bertanya. Kenapa kau marah?"


"Siapapun pasti akan bereaksi sama sepertiku jika mendengar pertanyaanmu yang konyol itu. Sudah tahu bayangan di cermin adalah aku, masih saja kau bertanya ini aku atau bukan. Membuat orang kesal saja!"


Elil mengerucutkan bibir. Setelah itu dia berbalik menyamping, menatap lekat-lekat sosok cantik yang tengah berdiri terbengang di sebelahnya.


(Kenapa Ilona jadi cantik sekali ya memakai gaun itu? Biasanya dia itu kan terlihat kumal dan juga lusuh, kenapa sekarang tidak. Aneh. Apa jangan-jangan gaun itu ada mantranya ya?)


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Ilona seraya menaikkan satu alisnya ke atas. Saat ini dia tak berharap kalau Elil akan mengatakan sesuatu yang menyulut emosi.


"Na, kau kenapa cantik sekali memakai gaun itu. Aku sampai pangling loh tadi," jawab Elil lain dari apa yang ditanyakan oleh Ilona. Sungguh, dia tak bohong. Gadis galak ini benar-benar sangat cantik, berbeda jauh dari penampilan kesehariannya yang terkesan berantakan. Wajar kalau dia terheran-heran.


"Tentu saja aku cantik. Secara, aku ini kan wanita."


"Aku juga wanita, tapi kenapa aku tidak secantik dirimu? Apa mungkin pengirimnya telah mengguna-gunai gaun ini sebelum dikirim kemari?"


Ilona berdehem pelan. Suasana hatinya sedang baik, jadi dia berusaha menekan emosinya. Namun sekuat apapun dia berusaha, rasa jengkel itu tetap saja muncul. Bisa-bisanya Elil berpikir kalau gaun yang dia pakai telah diguna-gunai sehingga membuatnya menjadi cantik. Entah harus dengan cara apa Ilona menghentikan kebodohan gadis ini. Terlalu parah.


"Ngomong-ngomong kau penasaran tidak Na siapa sebenarnya yang mengirimkan gaun ini untuk kita. Kok dia bisa tahu ya kalau besok malam kau punya acara," ucap Elil sembari memainkan ujung gaunnya. Jika dilihat-lihat penampilannya sekarang mirip seorang putri. "Eh, ternyata aku cantik juga ya, Na. Lihat, kalau gaunnya dimainkan begini aku jadi terlihat seperti putri kerajaan. Benar tidak?"


"Ya benar, kau memang seorang putri. Putri keong maksudnya," jengkel Ilona. Dia lalu termenung. Ucapan Elil barusan membuatnya sadar tentang siapa sebenarnya sosok di balik pengirim gaun dan juga ponsel miliknya. Jadi penasaran.


(Harusnya ini bukan perbuatan Karl 'kan?Jika benar dia adalah pengirimnya, aku tidak akan sudi menyimpan gaun dan juga ponsel ini. Lebih baik aku memakai baju kebangsaanku saja. Masa bodo dengan penilaian keluarga Nyonya Renata nanti. Daripada harus memakai gaun pemberian bajingan itu lebih baik aku menjadi bahan tertawaan saja.)


Drrtt drrtt


Elil dan Ilona sama-sama memekik kencang karena terkejut mendengar dering dan getaran ponsel yang berada di atas meja. Setelah itu mereka saling pandang sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Aduhhh, perutku sampai kaku gara-gara tertawa. Kau ini ya, Na. Kenapa kau memasang ringtone seseram itu di ponselmu?" tanya Elil sambil memegangi perut.


"Jangan asal menuduh. Kau yang telah menggantinya dengan suara kuntilanak. Jangan pura-pura lupa ya," jawab Ilona.


"Masa aku?"


"Memangnya gadis bodoh mana lagi yang tinggal di rumah ini selain dirimu?"


"Oh,"


"Oh???"


Suara tawa kuntilanak kembali membuat kedua gadis tersebut terkaget-kaget. Segera Ilona mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang menelpon.


"Nomor ini lagi?" gumam Ilona sambil mengernyitkan kening. Terdorong oleh rasa penasarannya, dia memutuskan menginterogasi orang tersebut. "Halo? Kau siapa ya? Atas tujuan apa kau mengirimkan ponsel dan juga gaun untukku?"


Tak ada jawaban. Dari dalam ponsel hanya terdengar suara hembusan napas yang sangat pelan. Entah apa maksudnya, Ilona tidak tahu.


"Jangan diam saja. Ayo cepat jelaskan apa tujuanmu dan juga siapa dirimu. Cepat!" desak Ilona.


"Heiiii!"


Elil sampai berjengit kaget saat Ilona tiba-tiba berteriak. Bingung, dia memutuskan untuk mendekat.


"Ada apa, Na. Kenapa kau berteriak?"


"Orang ini penyebabnya," jawab Ilona seraya mengarahkan layar ponsel ke depan wajah Elil. "Bukannya menjawab pertanyaanku dia malah menanyakan apakah gaunnya pas atau tidak. Menjengkelkan sekali, bukan?"


"Oh, ini to penyebabnya," sahut Elil santai. Dia lalu mengambil ponsel dari tangan Ilona. "Ekhmm, halo. Apa ini dengan tuan misterius?"


["Ya,"]


(Eh, kenapa suaranya mirip suara Tuan Muda Karl ya? Tapi untuk apa dia menelpon Ilona?)

__ADS_1


["Apa gaun yang kukirimkan untuk Ilona pas di tubuhnya?"]


"Tuan Muda, apa ini kau?" tanya Elil penuh selidik. Dia ketar-ketir sendiri saat teringat dengan tawaran bosnya yang ingin agar dia membantu menculik Ilona. Elil takut diteror.


["Tuan Muda siapa yang kau maksud?"]


"Tuan Muda Karl. Apa itu Anda?"


["Bukan. Aku orang lain,"]


"Oh, syukurlah kalau begitu," ucap Elil sambil mengelus dada. "Tadi siang Tuan Muda menawarkan kerjasama padaku. Dia ingin agar aku membantunya membujuk Ilona. Bahkan aku dihalalkan untuk melakukan penculikan pada temanku sendiri demi agar temanku ini mau tinggal di rumahnya. Makanya barusan aku merasa cemas karena takut sedang diteror. Ternyata kau adalah orang lain. Syukurlah!"


Klik


Begitu Elil selesai bicara, tiba-tiba panggilan langsung dimatikan begitu saja. Dia kebingungan, lalu beralih menatap ke arah Ilona. Namun sayang. Alih-alih mendapat jawaban atas rasa kebingungannya, Elil malah dibuat menelan ludah saat mendapati raut wajah Ilona yang terlihat sangat seram dan juga bengis.


"N-Na, kau kenapa?"


"Kenapa kau tidak bilang padaku kalau Karl mengajakmu bekerjasama?" teriak Ilona dengan tatapan yang berapi-api. Ingin rasanya dia menelan gadis bodoh ini sekarang juga. Bisa-bisanya tidak bercerita kalau bajingan itu mempunyai niat jahat kepadanya.


"Emm itu ... itu ....


"ITU APA!!!"


"Tuan Andreas melarangku untuk memberitahumu. Dan tadi aku tidak sengaja kelepasan bicara. Tolong jangan memut*lasiku ya, Na. Please," sahut Elil ketakutan melihat Ilona murka.


"Oh, jadi Tuan Andreas juga terlibat dalam rencana jahat kalian ya?"


"Tidak, bukan seperti itu, Na."


Kedua mata Ilona langsung melotot lebar saat Elil berniat membela Tuan Andreas. Kesal sekali dia. Rasanya seperti dikhianati oleh orang terdekat sendiri. Untung saja tadi Elil kelepasan bicara. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi pada dirinya. Si bajingan Karl pasti benar-benar akan menculiknya lalu memaksanya untuk tinggal bersama. Keterlaluan.


(Karl, aku sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiranmu. Bukankah waktu itu aku sudah menegaskan kalau aku tidak akan pernah sudi tinggal bersamamu. Lalu kenapa sekarang kau malah melibatkan Elil? Ini sudah kelewatan. Aku tidak bisa tinggal diam. Kau harus diberi pelajaran. Harus!)

__ADS_1


***


__ADS_2