Satu Malam Bersama CEO Arogan

Satu Malam Bersama CEO Arogan
Menenangkan Diri


__ADS_3

"Kontrak macam apa ini!"


Braakkk


Dengan kasar Karl membanting berkas yang disodorkan oleh klien ke atas meja. Rasanya sungguh gondok sekali. Bagaimana mungkin ada manusia yang berani memberikan keuntungan kecil untuk perusahaan raksasa sekelas Group Ma? Ini penghina. Karl tidak bisa menerimanya.


"T-Tuan Muda, se-semuanya bisa dibicarakan lagi. Tolong jangan marah,"


"Jangan marah kau bilang?" Karl mendengus kasar. Dia kemudian menoleh saat Andreas menepuk bahunya. "Yas, sebenarnya kau bisa bekerja tidak? Kenapa orang seperti dia bisa lolos dan melakukan pertemuan denganku? Apa yang kau lakukan selama ini?"


Andreas yang tahu penyebab Karl uring-uringan begini santai saja saat menanggapi kemarahannya. Sebenarnya pihak sebelah tidaklah memberi keuntungan yang kecil. Matanya Karl saja yang tidak bisa melihat angkanya dengan jelas sehingga salah paham dan langsung mengamuk. Lawak sekali. Gara-gara tertekan menghadapi Ilona, kini orang lain yang harus menjadi pelampiasan.


"Tuan Andreas, tolong bantu saya menjelaskan pada Tuan Muda Karl. S-saya sama sekali tidak ada niat untuk meremehkan Group Ma. Keuntungan yang tertera di dalam sini sudah kami sesuaikan sebaik mungkin. Kami mana berani bermain-main dengan perubahan kalian. Tolong saya!" ucap si klien ketakutan. Keringat tampak mengalir deras di keningnya.


(Aduhh, bagaimana ini. Kalau Tuan Muda Karl sampai tertinggi, perusahaanku bisa hancur. Apa yang harus aku lakukan sekarang?)


"Tidak usah panik, Tuan. Tuan Muda begini karena dia sedang banyak masalah di kantor. Kau tenang saja. Aku pastikan perusahaan kita bisa bekerja sama," sahut Andreas mencoba menenangkan kepanikan si klien.


"Baik, Tuan. Saya bergantung kepada Anda kali ini."


Andreas menganggukkan. Setelah itu dia meminta waktu sebentar untuk bicara empat mata dengan Karl. Kalau monster ini tidak segera ditenangkan, bisa-bisa meetingnya tidak berjalan lancar. Padahal Karl tahu benar kalau pertemuan ini akan membawa keuntungan yang sangat besar untuk Group Ma. Hmmm.


"Kenapa membawaku kemari?" tanya Karl setengah membentak.


"Relaks, Bro. Bersikaplah secara profesional. Aku tahu kau tegang karena memikirkan ucapan Ilona, tapi bukan berarti kau menjadikan klien sebagai sasaran emosi. Orang yang di dalam tidak tahu apa-apa soal ini. Tolong tenanglah," jawab Andreas sembari memperhatikan perubahan emosi di wajah sepupunya ini. Kasihan. Sebegini stressnya Karl menghadapi pawangnya sendiri. Sepertinya dia dan yang lain perlu turun tangan untuk membantunya.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin aku bisa tenang, Yas. Nanti malam Ilona akan datang ke rumah. Belum lagi dengan ancamannya yang ingin membuat perhitungan dengan kita berdua. Harusnya kau bisa memahami kalau aku sangat stres menghadapi kedua hal ini. Bukan malah memarahiku dan lebih membela orang itu!"


"Tidak ada yang memarahimu, Karl. Aku hanya sekadar menenangkanmu saja. Jangan salah paham."


Tahu kalau amarah sepupunya masih belum akan mereda, Andreas segera memikirkan cara agar masalah ini tidak merembet ke mana-mana. Dia lalu terpikir untuk meminta Karl menunggu di mobil saja. Sedangkan dia sendiri akan mengurus klien yang tadi terkena amukannya. Kasihan. Pasti sekarang orang itu sedang kebingungan.


"Sekarang kau tunggulah saja di mobil. Istirahat. Sekalian mencari cara untuk menahan Ilona agar tetap berada di rumahmu. Oke?"


"Lalu kontrak kerjasama itu bagaimana?"


"Aku yang akan mengurus. Sudah, kau pergilah saja ke mobil. Masalah ini biar aku yang membereskan."


Dengan sangat terpaksa Karl akhirnya menuruti saran dari Andreas. Jujur, dia sebenarnya ingat kalau pertemuan kali ini sangatlah penting untuk Group Ma. Akan tetapi bayang-bayang Ilona yang mengancamnya membuat pikiran Karl menjadi kacau. Dan kekacauan itu disebabkan oleh dua hal. Pertama, Karl emosi karena dirinya tak berani melawan Ilona yang hanya seorang gadis biasa. Kedua, pikirannya menjadi kacau memikirkan ucapan gadis itu. Kata-kata bahwa urusan mereka belum selesai membuat pikiran Karl menjadi kacau sekacau-kacaunya. Inilah mengapa di dalam tadi dia tak bisa mengontrol emosi.


Ketika Karl sedang menggila seorang diri, ponsel di saku celananya berdering. Awalnya Karl abai, terlalu malas untuk menjawabnya. Namun ketika ponsel kembali berdering, setengah emosi dia akhirnya menjawabnya.


"Berani kau mengatakan sesuatu yang tidak penting, aku akan langsung menghancurkan hidupmu!"


["Kau kenapa, Karl. Nada bicaramu kenapa tinggi sekali. Ayah salah apa?"]


Glukkkk


Segera Karl mengusap wajah begitu mengetahui kalau yang baru saja dia bentak adalah ayahnya. Dia lalu meminta maaf dan juga menjelaskan alasan mengapa dirinya bersikap tidak sopan.


"Maaf, Ayah. Aku sedang ada masalah sekarang. Pikiranku kacau. Jadi tak sengaja membentak Ayah tadi."

__ADS_1


["Apa itu karena Ilona?"]


Ingin sekali Karl menjawab iya, tapi masih dia tahan. Karl tak ingin ditertawakan oleh ayahnya. Karena selama ini tidak ada satu pun orang yang mampu membuat pikirannya menjadi kacau selain Ilona mimpi-mimpi sialan itu.


["Tidak perlu menutupi kebenaran itu dari Ayah, Karl. Ayah sudah tahu semuanya."]


"Maksudnya?"


["Tadi Ayah ke kantor dan bertemu langsung dengan Ilona. Pawangmu itu ... sulit ya,"]


Sebelah alis Karl terangkat ke atas saat diberitahu kalau ayahnya datang ke perusahaan dan bertemu dengan Ilona. Ini tidak baik. Gadis brutal itu pasti mengatakan sesuatu yang berhubungan dengannya.


["Ayah benar-benar tak menyangka kalau Ilona akan sepintar itu dalam berkata-kata. Awalnya Ayah mengira kalau dia adalah gadis biasa yang sedikit pemalu. Namun begitu bertatap muka dengannya, Ayah baru tahu kalau sekarang kau dalam masalah besar. Ilona sangat pandai memutar-balikkan fakta, Karl. Mirip sikap mendiang Nenekmu yang selalu berhasil membuat orang diam tak berkutik meski dia adalah pelakunya!"]


"Memangnya apa yang Ilona lakukan, Ayah? Dia tidak mengatakan hal yang buruk tentangku 'kan?" tanya Karl jadi merasa penasaran.


["Manalah mungkin Ilona mengatakan sesuatu yang baik tentangmu, Karl. Dia menyebutmu sebagai b*jingan."]


"A-apa? B*jingan??"


Ekpresi di wajah Karl terus berubah-ubah saat dia mendengar cerita ayahnya. Andreas memintanya menunggu di mobil supaya bisa menenangkan pikiran, tapi apa yang sedang terjadi sekarang? Bukannya tenang, yang ada Karl malah semakin bertambah kesal saat diberitahu kalau Ilona menyebutnya sebagai seorang b*jingan. Nikmat manalagi yang harus didustakan sekarang? Karl benar-benar menyesal telah menjawab panggilan ini. Harga dirinya kembali terluka.


(Brengsek!! Argghhhhh!)


***

__ADS_1


__ADS_2