Satu Malam Bersama CEO Arogan

Satu Malam Bersama CEO Arogan
Terbakar Dendam


__ADS_3

(Bom komentar + gift + dan votenya bestie)


***


Tok tok tok


"Masuk!"


Tatapan Levi dan Elea langsung tertuju ke arah pintu yang dibuka perlahan. Dada mereka berdebar, tak sabar ingin segera melihat rupa dari gadis yang akan mematahkan rantai karma di hidup Karl.


"Selamat pagi, Nyonya," sapa Ilona sedikit canggung saat kedatangannya diperhatikan dengan sangat intens oleh dua orang wanita yang ada di dalam ruangan. Langkahnya terasa berat.


"Selamat pagi kembali. Masuklah," sahut Elea. Tak lupa dia menampilkan senyum manis di bibir sebagai ungkapan atas rasa puas terhadap penampilan gadis bernama Ilona ini.


(Ilona sangat manis. Dan sikapnya tidak semengerikan yang Karl ceritakan. Anak ini begitu santun dan juga ramah)


"Namamu Ilona?" tanya Levi. Ekor matanya terus menelusuri mulai dari ujung rambut hingga ujung sepatu Ilona. Tubuh yang kurus dengan kulit yang sedikit tidak terawat. Sepertinya Levi bisa menggunakan kesempatan ini untuk menguras harta kekayaan Karl. Hmm, ide bagus.


"Benar, Nyonya. Nama saya Ilona," jawab Ilona sedikit sungkan. Bokongnya seperti tumbuh duri saat ingin mendudukkan diri di kursi.


Tahu kalau Ilona merasa canggung, Elea segera turun tangan menarikkan kursi untuknya duduk. Dia lalu mengusap rambut gadis ini ketika mendengar ucapan terima kasih darinya.


"Sudah berapa lama kau bekerja di sini?"


"Baru beberapa hari, Nyonya. Saya pegawai baru di bagian kebersihan." Ilona menelan ludah. Bingung harus bicara apa pada ibu peri yang ternyata memang sangat lembut dan baik hati. Dalam hati Ilona jadi membatin mengapa wanita selembut ini bisa mempunyai anak yang bajingannya sangat tidak ada obat. Mungkinkah Karl adalah anak yang tertukar?


"Andreas bilang OB yang sebelumnya bekerja di sini satu-persatu mengundurkan diri tanpa sebab yang jelas. Padahal kami sudah memberikan kewajiban pada mereka lebih dari kata layak. Dan beberapa waktu lalu Group Ma memang sangat kekurangan tenaga kerja. Untung saja kau dan temanmu cepat datang. Kalau tidak, Karl pasti akan terus uring-uringan melihat keadaan kantor yang tidak bersih," ucap Elea mulai menyinggung soal Karl. Dia penasaran reaksi seperti apa yang akan muncul di diri Ilona.

__ADS_1


"Maaf, Nyonya. Sebenarnya ada masalah apa ya sehingga saya dipanggil kemari? Bukannya saya tidak tahu diri dan tidak menghormati Anda, tapi ada banyak pekerjaan yang harus segera saya selesaikan. Kasihan teman saya kalau bekerja sendirian. Nanti kalau dia mati karena kelelahan bagaimana?" ucap Ilona to the point. Dia mencium aroma-aroma bujukan di diri si ibu peri. Apapun kastanya, Ilona tidak akan membiarkan rencana Karl berjalan mulus. Tidak akan.


Levi dan Elea saling melemparkan pandangan begitu melihat langsung sikap Ilona yang ternyata suka bicara terus terang. Pantas Karl kewalahan menghadapinya sampai mengurung diri di rumah.


(Hmmm, kali ini kau benar-benar bertemu dengan dewa kematianmu, Karl. Kasihan sekali. Bibi doakan semoga kau kuat ya. Ilona cukup mengerikan ternyata. Malang nian nasibmu. Hehehe)


"Ilona, apa kau percaya dengan yang namanya reinkarnasi?" tanya Elea sembari menatap lembut ke manik mata gadis yang kemungkinan adalah calon mantunya. Dia berniat membujuk gadis ini agar bersedia melunak pada putranya.


"Reinkarnasi?"


"Iya, reinkarnasi. Lebih tepatnya reinkarnasi tentang seseorang yang memiliki hutang budi di masa lalu. Karena di masa itu orang tersebut belum sempat melaksanakan janji yang dibuat, dia meminta pada Tuhan agar para keturunannya yang melanjutkan janji tersebut. Kau percaya tentang hal semacam ini tidak?"


"Tentu saja saya sangat percaya, Nyonya," sahut Ilona dengan pasti. "Tapi, Nyonya. Apa hubungan antara reinkarnasi dengan kedatangan saya ke ruangan ini? Apa Anda bermaksud mengatakan kalau saya berhutang budi kepada Tuan Muda Karl?"


Glukkk


Tenggorokan Elea serasa kering sekali mendengar lontaran pertanyaan yang Ilona berikan. Bagaimana ini? Sadar dirinya tak mampu menghadapi ketajaman lidah gadis ini, Elea pun memberi kode agar Levita saja yang bicara. Dia takut salah berucap.


Nah benar 'kan? Dugaan Ilona sama sekali tak meleset kalau kedatangan dua wanita ini adalah atas perintah Karl. Memang benar-benar brengsek ya pria satu itu. Berani sekali Karl mengirim orang untuk membujuknya. Ini tidak bisa dibiarkan. Ilona harus mengatur strategi baru untuk menyerang kearoganan pria satu itu.


"Sebelumnya saya ingin minta maaf jika kata-kata saya nanti ada yang menyakiti perasaan Anda berdua. Tapi maaf, sekalipun dunia ini kiamat, saya tidak akan pernah mau untuk tinggal bersama bajingan ... bukan, maksud saya Tuan Muda Karl. Saya bukan wanita panggilan, Nyonya. Jadi dengan tegas saya menolak untuk tinggal bersama beliau!" tegas Ilona tak terbantahkan. Dia bicara sambil mengepalkan kedua tangan, berusaha sekuat mungkin menahan amarahnya agar tidak meledak. Bukan pada kedua wanita ini ya, tapi pada manusia yang menyebabkan mereka datang menemuinya. Ilona terbakar dendam.


"Jelaskan alasanmu mengapa menolak untuk tinggal bersama Karl!" desak Levi agak kaget mendengar penolakan Ilona. Keren juga gadis ini. Dia jadi semakin kasihan pada anaknya Elea. Pertahanan musuh sangat kuat. Kali ini Karl kena batunya.


"Karena saya adalah gadis baik-baik. Adalah hal yang sangat memalukan tinggal satu atap bersama pria yang bukan suami saya!" sahut Ilona kian jengkel.


"Kalau begitu kalian menikah saja. Beres 'kan?"

__ADS_1


"Atas dasar apa saya harus menikah dengan baj ... Tuan Muda Karl?"


"Tentu saja atas dasar butuh sama butuh!" Levita membuang napas kasar. "Ilona, kami semua telah mengetahui hubungan antara kau dengan Karl. Jadi tidak usah merasa sungkan lagi untuk tinggal bersamanya. Kami semua tidak ada yang keberatan kok. Benar tidak, Elea?"


"Benar sekali, Ilona. Kami semua sudah tahu tentang kalian. Tolong mau ya tinggal bersama Karl?" ucap Elea penuh harap.


Sayangnya perkataan Levi dan Elea disalahpahami oleh Ilona. Begitu mendengar kata kalau mereka telah mengetahui semuanya, darah ditubuh Ilona mendidih seketika. Karl benar-benar bajingan. Tega sekali pria itu membeberkan kejadian menjijikkan yang telah mereka lakukan malam itu.


(Aku tidak bisa tinggal diam. Makin lama mulut bajingan itu makin tidak terkontrol. Apa dia tidak malu menceritakan aib sebesar ini pada keluarga sendiri? Ya Tuhan, lama-lama bisa gila aku. Tolong berikan aku kekuatan dan juga otak yang cerdas untuk memberi pelajaran padanya. Aku tidak terima aib kami disebarkan luaskan seperti ini, Tuhan. Aku malu!)


Tak kuat menahan luapan dendam, Ilona tiba-tiba bangun dari duduknya. Dia kemudian membungkuk, lalu memberikan petuah terakhir sebelum pergi dari sana.


"Nyonya, sekali lagi saya tegaskan kalau saya tidak mau dan tidak akan pernah mau tinggal bersama Tuan Muda. Apapun alasannya, kalian semua tidak bisa memaksa saya. Saya sadar posisi dan sangat tahu diri dengan status saya sekarang. Tapi maaf, sebagai seorang gadis, saya berhak mempertahankan harga diri saya!" ucap Ilona penuh penekanan. "Karena pekerjaan di luar masih banyak, saya pamit undur diri dulu. Anda berdua silahkan bersantai di sini. Saya permisi!"


Levita cengo melihat Ilona pergi dari hadapannya. Sedangkan Elea, dia tampak menghela napas sambil memegangi dada. Pantas, sangat amat pantas jika putranya mendadak depresi. La wong calon pawangnya saja segalak ini, sangat wajar kalau Karl meriang.


"Elea, kali ini Karl benar-benar bertemu lawan yang sangat kuat. Walaupun Ilona miskin, dia tidak sepertimu yang pasrah dibully dan dipermainkan. Aku rasa akan sangat sulit membujuknya untuk luluh. Karena sepertinya gadis itu juga tidak mata duitan sepertiku. Ini sulit!" ucap Levi antara iba dan juga takjub.


"Ayo pergi berburu berlian. Jantungku butuh yang segar-segar setelah hampir berhenti berdetak gara-gara bicara dengan bibi singa!" sahut Elea memutuskan mencari hiburan saja. Dia terlalu syok.


"Bibi singa?"


"Julukan dari Justin untuk Ilona."


"Jelek sekali. Ya sudah ayo berangkat. Aku sudah tidak sabar ingin segera memborong benda-benda berkilau itu. Hehe,"


Seperti di awal tadi, dengan sangat mesra Levi menggaet lengan Ilona. Bibirnya juga tak henti menampilkan senyum lebar sebagai bentuk sukacita statusnya sebagai seorang pelakor halal.

__ADS_1


(Nak, kau dalam masalah besar sekarang. Bertahanlah.)


***


__ADS_2