
(Gengsss, up satu bab aja gpp ya? Yang mau mampir ke lapaknya Bern juga bisa. Di sana udah up juga. Yuk bisa yuk komen di atas 50😎)
***
"Na, kau ini kenapa sih. Dari semalam wajahmu terlihat jelek sekali. Sedang datang bulan ya?" tanya Elil seraya menatap dari dekat wajah Ilona yang sangat tidak estetik. Kedua alis gadis itu mengerut, sedang bibirnya maju ke depan. Pokoknya jelek sekali lah.
"Bisa jangan menggangguku dulu tidak?" sarkas Ilona. Dia menempelkan ujung jari telunjuk ke kening Elil kemudian mendorongnya ke belakang. "Nafasmu bau sampah. Kau belum gosok gigi ya?"
"Enak saja. Aku bahkan sudah mandi dari subuh tadi!"
"Masa? Pagi sekali kau mandi. Melakukan apa kau semalam?"
Elil terdiam. Dia kurang paham akan maksud ucapan Ilona barusan. Memangnya sejak kapan mandi subuh hanya boleh dilakukan setelah berbuat sesuatu? Setahu Elil dia tak pernah melakukan apa-apa di kala malam selain tidur. Aneh sekali.
(Haihh, dasar gadis lemot. Begitu saja dia tidak tahu. Walaupun statusnya adalah seorang pemulung, sepertinya main Elil masih kurang jauh. Nasib-nasib punya teman yang cara berpikirnya mengalahkan seekor siput. Lambat dan tak sampai-sampai. Huh)
"Eh eh eh, kau mau pergi ke mana, Na?" tanya Elil kaget melihat Ilona tiba-tiba beranjak. Seketika dia lupa dengan kebingungan yang tadi.
"Buang air besar. Kenapa? Mau ikut?"
Sebuah seringai muncul di bibir Ilona ketika melihat Elil menggelengkan kepalanya dengan cepat. Terbesit satu niat usil untuk menjahili gadis bodoh ini.
"Kenapa menatapku seperti itu. Kamar mandinya kan ada di dalam, bukan di wajahku!" ucap Elil merasa was-was sendiri saat tak sengaja melihat seringai di bibir Ilona. Keselamatannya seperti sedang terancam bahaya. Sungguh.
"Lil, ayo ikut aku ke kamar mandi. Kebetulan tanganku sedang tidak bisa digunakan untuk banyak bergerak. Aku butuh bantuanmu untuk ....
Ilona dengan sengaja menjeda ucapannya kemudian melirik ke arah bokong. Kalian pasti tahulah keusilan macam apa yang dia maksudkan pada Elil. Hehehe. "Aku butuh bantuanmu untuk membersihkan bokongku. Mau tidak?"
"APAAA??"
__ADS_1
Bagai tersambar petir, Elil syok setengah mati mendengar perkataan Ilona. Benar 'kan? Gadis setan ini pasti merencanakan niat jahat terhadapnya. Pantas saja tadi dia merasa terancam. Ternyata ini penyebabnya.
"Hahahaha, biasa saja sih reaksimu. Harus ya memelototkan mata sampai sebesar itu?" olol Ilona tak kuasa menahan tawa.
"Issshh, Ilona. Kau kenapa jahil sekali sih. Aku hampir saja terpikir untuk memotong kedua tanganku agar kau tidak bisa menggunakannya untuk menyeka pantatmu. Kau ini!" kesal Elil sembari menggeplak lengan Ilona dengan kuat.
"Apa kau bilang? Memotong kedua tanganmu?"
"Iya. Lagipula siapa yang mau coba tangan sendiri dipakai untuk membersihkan kotoran orang lain. Kadang ada gila-gilanya kau ini!"
Kali ini giliran Ilona yang terbelalak syok mendengar pengakuan Elil. Yang benar saja gadis ini. Masa hanya karena dia usil ingin memakai tangannya untuk membersihkan bokong, Elil sampai terpikir untuk memotong tangannya sendiri. Ini sih sudah tidak wajar lagi namanya. Ya kali hanya karena dijahili Elil sampai harus membuat diri sendiri menjadi cacat seumur hidup.
(Aku pikir akan terhibur dengan candaan ini, tapi aku salah. Harusnya aku ingat kalau Elil krisis pemikiran. Astaga)
"Oya, Na. Nanti kalau di perusahaan kau bertemu dengan Tuan Muda Karl bagaimana? Semalam kan beliau telah berbuat hal tak senonoh kepada kita. Kira-kira apa yang akan kau lakukan?"
"Mencolok kedua matanya sampai biji mata bajingan itu terbang keluar!" jawab Ilona langsung tersulut emosi begitu Elil menyinggung soal kejadian semalam. Namun, sedetik setelahnya Ilona menyadari ada yang salah dengan pertanyaan Elil. Segera dia memajukan badan hingga wajahnya tinggal berjarak beberapa senti saja dari wajah gadis bodoh ini. "Kau bilang tadi Karl berbuat tak senonoh pada kita. Memangnya apa yang dia lakukan padamu? Bukankah hanya pakaianku saja yang dirobek olehnya? Kau melantur apa bagaimana?"
"Memang benar hanya bajumu saja yang dirobek oleh Tuan Muda Karl. Akan tetapi aku juga mendapat kerugian lain yang tak kalah besar darimu, Na. Sungguh!"
"Kerugian besar apa itu?"
"Kejadian semalam membuatku kencing di celana. Dan gara-gara itu Tuan Andreas melarangku pulang sebelum membersihkan ceceran air seniku sendiri. Aku merasa dilecehkan dalam hal ini, Na. Aku ditindas!"
Kriik krrik kriik
Kalau saja memakan manusia bukanlah suatu dosa, Ilona bersumpah detik itu juga dia akan merebus tubuh ceking Elil lalu menikmatinya bersama sambal yang sangat pedas. Sungguh, Ilona benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan gadis ini. Bisa-bisanya merasa dilecehkan hanya karena kencing di celana dan diminta untuk membersihkan kotorannya sendiri. Ilona berani jamin jika yang sedang bicara dengan Elil adalah orang lain, orang tersebut pasti akan langsung meninju wajahnya. Perkataan yang keluar dari mulut Elil entah mengapa selalu jauh dari ekspektasi. Membuat orang menjadi kesal dan juga dongkol.
"Tapi, Na. Aku minta kau jangan berbuat aneh-aneh ya pada Tuan Muda. Aku takut nanti kau dijadikan ....
__ADS_1
"Apa? Tumbal proyek lagi? Iya?" ucap Ilona memotong perkataan Elil dengan cepat. Dia sudah sangat hafal dengan omongan nyeleneh yang ingin diucapkannya. "Elil, kuberitahu kau satu hal ya. Di Group Ma tidak ada yang namanya tumbal proyek. Kalaupun ada, Karl lah yang akan ku jadikan sebagai tumbalnya. Dasar bodoh!"
"Hah? Tapi bagaimana caranya, Na? Kan Tuan Muda adalah pemilik Group Ma. Kau bisa digantung di atas gedung jika berani macam-macam padanya!" ucap Elil penuh rasa khawatir.
"Kau pikir aku akan peduli? Tidak. Itu wajar bajingan itu dapatkan setelah apa yang dia lakukan padaku. Tahu!"
"Memangnya apa yang sudah Tuan Muda Karl lakukan padamu? Kok aku tidak tahu,"
Glukkk
Sadar telah kelepasan bicara, Ilona memutuskan untuk mandi saja. Bisa panjang urusannya jika Elil sampai bertanya-tanya.
Drrtt drrtt
"Eh, siapa itu yang menelpon?" kaget Elil saat mendengar suara dering ponsel. Setelahnya dia menepuk kening saat teringat kalau itu adalah ponsel yang pagi tadi dikirim oleh kurir misterius. "Aku angkat tidak ya panggilannya? Tapi kalau Ilona marah bagaimana. Kan dia belum tahu soal ponsel itu."
Ya, benar. Saat kurir datang mengantarkan paket, Ilona masih belum bangun. Dan seperti biasa, Elil lupa untuk memberitahu gadis setan itu tentang ponsel tersebut. Wajar kalau sekarang dia khawatir. Takut salah langkah, yang mana akan berakibat fatal untuknya.
"Ah, angkat sajalah. Siapa tahu itu milyader yang ingin memberikan uang santunan untuk anak yatim piatu," gumam Elil memutuskan untuk menjawab panggilan. Namun sebelum mengeluarkan ponsel, Elil termangu beberapa saat. "Eh, kenapa rasanya agak aneh ya. Ponsel ini kan belum aku sentuh, kok bisa tersambung dengan panggilan. Apa jangan-jangan ini adalah telepon setan? Ihhhhh, seram. Berikan pada Ilona sajalah. Dia dan penelpon ini kan satu ras. Harusnya Ilona tidak takut!"
Buru-buru Elil mengambil kotak ponsel kemudian berlari menuju kamar mandi. Sesampainya di sana, dia langsung menggedor pintu dengan gilanya, berharap kalau Ilona akan segera muncul dan menjawab panggilan tersebut.
Ceklek
"Ilona, ada telepon setan. Cepat jawab!"
Ilona cengo saat mendengar ucapan Elil yang menyebutkan ada telepon setan. Ini ada apalagi? Sejak kapan di rumah mereka ada ponsel? Dan juga kenapa gadis bodoh itu lari terbirit-birit setelah menyerahkan kotak ponsel padanya?
"Aku akan benar-benar menghabisimu Lil kalau kau berani mengerjaiku!" geram Ilona sembari mengeluarkan ponsel dari dalam kotak. Dia lalu memperhatikan sebuah ponsel yang masih sangat baru tengah berdering karena satu panggilan dari nomor asing. Penasaran, Ilona akhirnya menjawab panggilan tersebut. Sekalian dia ingin menanyakan ponsel milik siapa yang ada di rumahnya. "Halo, siapa kau? Apa kau adalah pemilik ponsel ini? Cepat jawab!"
__ADS_1
" .... "
***