Satu Malam Bersama CEO Arogan

Satu Malam Bersama CEO Arogan
Kejutan Tak Terduga


__ADS_3

(Maaf gengss kemarin nggak up. Asam lambung kumat lagi. Jadi harus istirahat dulu kata paksu. Harap maklum ya)


(Kalau memungkinkan nanti sore emak crazy up ya gengsss... Jadi jangan malu untuk bom komentarnya biar emak makin semangat. Oke?)


***


Andreas memapah Karl keluar dari mobil dengan penuh rasa khawatir. Bagaimana tidak. Tiba-tiba saja tubuh pria ini menjadi sangat lemah bak tidak bertulang. Padahal sebelumnya Karl sangat bersemangat sekali ketika ingin menghampiri Ilona.


"Tuan Andreas, apa yang terjadi dengan Tuan Muda?" tanya penjaga panik. Segera mereka membantu memapah sang bos yang terlihat sangat tidak berdaya.


"Jangan bahas ini sekarang. Cepat panggilkan dokter pribadi Karl. Tubuhnya sangat lemah!" jawab Andreas setengah berteriak.


"Baik, Tuan. Kau, cepat hubungi lab. Minta dokter untuk segera datang kemari!"


"Oke!"


Karl hanya diam tak mengindahkan kepanikan orang-orang. Dia terlalu syok akan apa yang baru saja terjadi.


Niat hati hanya ingin membuktikan apakah benar Ilona adalah gadis yang malam itu bercinta dengannya, Karl malah mendapatkan kejutan yang sangat tak terduga. Andai tadi lampu di perusahaan tidak mati, Karl pasti tidak akan melihat sesuatu yang sudah bertahun-tahun berusaha dia cari. Tanda lahir yang berbentuk bulan sabit, ya, dia melihatnya. Dan tanda tersebut berada di tubuh Ilona di mana tadi dia tak sengaja merobek bajunya. Lawak sekali 'bukan?


"Yas?"


"Hah? Karl, kau sudah sadar?" kaget Andreas saat mendengar Karl memanggilnya. Segera dia meminta penjaga agar membantunya mendudukkan Karl di sofa ruang tamu saja. "Karl, jawablah. Kau kenapa tiba-tiba lemah begini? Apa yang terjadi?"


Tak ada jawaban. Tatapan Karl seolah kosong, bahkan tarikan nafas pria ini terdengar begitu pelan. Andreas yang kebingungan memutuskan untuk menghubungi Bern sana. Dia khawatir ada hal buruk menghampiri pria yang bermasalah dengan masa lalunya.


["Kenapa, Yas?"]


"Bern, kau harus datang ke rumahnya Karl sekarang juga. Ini gawat!" jawab Andreas sambil terus memperhatikan Karl yang mematung dengan tatapan kosong.

__ADS_1


(Ya ampun, kau ini sebenarnya kenapa sih, Karl. Seumur-umur aku hidup baru sekali ini aku melihatmu begitu tak berdaya. Tidak mungkin kau begini karena melihat hantu 'kan?)


Karl yang mendengar isi pikiran Andreas tergerak untuk menempeleng kepalanya. Ada-ada saja pria ini. Mustahil sekali memikirkan sesuatu yang tak mungkin Karl lakukan. Takut pada setan? Yang benar saja. Bahkan kelakuan Karl sendiri jauh lebih buruk ketimbang klan setan. Jadi mana mungkin dia takut pada mereka? Haihh.


["Tidak usah cemas. Wajar Karl bereaksi seperti itu setelah melihat sesuatu yang menyilaukan."]


"Maksudnya?" Andreas bingung. Tangannya kemudian tergerak mengelus kepalanya yang baru saja ditempeleng oleh Karl. "Sedang lemah pun tanganmu masih tak mau diam, Karl. Heran!"


["Besok aku akan pergi ke sana. Malam ini kau jagalah dulu pria malang itu. Tidak perlu menghubungi Ayah dan Ibu. Karena yang terjadi malam ini sudah kami ketahui dari Justin.")


Klik. Panggilan diputus begitu saja oleh Bern sehingga membuat Andreas semakin kebingungan. Ini ada apa sih sebenarnya. Memang apa yang telah dilihat Justin sehingga Bern bisa setenang itu mendengar kabar soal Karl?


"Tanda itu ... Aku melihatnya, Yas. Di punggung Ilona," ucap Karl lirih.


Andreas menarik nafas panjang. Dia kemudian duduk di samping pria yang bicara seperti orang mengigau. "Aku paham kau belum terbiasa dengan keberadaan wanita. Akan tetapi haruskah sampai seperti ini hanya karena kau melihat kulit punggung Ilona? Lawak sekali, Karl. Kau bahkan pernah melakukan hal yang lebih jauh dari pada ini. Mengapa begitu syok?"


"Pembungkus gunung kembar maksudnya?"


"Kau!"


Karl meradang. Kembali tangannya melayang hendak menoyor kepala Andreas. Bodoh sekali pria ini. Kenapa pikirannya malah tertuju pada pembungkus gunung kembar sih. Heran.


"Hehehe, jangan emosi dulu. Tarik nafasmu dalam-dalam lalu hembuskan perlahan. Setelah tenang baru kau bisa lanjut bicara. Oke?" ucap Andreas sembari menahan tangan Karl yang terayun ke arahnya.


"Jangan main-main, Yas. Aku sedang membahas sesuatu yang berhubungan dengan hidup dan matiku!" tegur Karl dingin. Setelah itu dia menyender ke sofa, menatap langit-langit rumah sambil membayangkan hal mengejutkan yang dilihatnya tadi. "Kau tahu bukan kalau aku terjerat karma kutukan dari leluhurku?"


Andreas mengangguk. Mimik wajahnya terlihat serius sekali saat menyadari kalau sepupunya tidak sedang bercanda. Jika Karl sudah membahas soal karma, itu artinya Andreas harus waspada dan mau menjadi pendengar yang setia. Karena jika tidak, pria dingin ini akan menggila. Dan butuh banyak nyawa pendosa sebagai alat untuk meredam amarahnya.


"Sebelum meninggal, Nenek Liona bilang padaku di masa depan nanti akan datang seseorang dengan membawa tanda lahir istimewa di bahunya. Dan dari orang inilah aku bisa terbebas dari semua belenggu derita yang selama ini menyiksa," ucap Karl sambil menekan dadanya yang tiba-tiba sesak. "Bulan sabit. Orang ini datang dengan tanda lahir bulan sabit di bahunya. Dan aku ... aku ....

__ADS_1


"Dan kau melihat tanda tersebut ada di punggung Ilona?" ucap Andreas menyela ucapan Karl yang terbata.


"I-iya. Ak-aku tadi tak sengaja melihatnya di sana saat baju Ilona koyak. Penyelamat hidupku sudah datang, Yas. Ilona datang untuk menormalkan hidupku," sahut Karl tergagap.


"Kalau memang benar dia orangnya, berarti ucapan Justin memang benar kalau kau akan membawa sosok yang sangat mengerikan ke hadapan nisan Nenek Liona. Justin bilang kau sangat takut pada orang ini. Dan itu sangat sesuai dengan kriteria Ilona terhadapmu. Kau tidak berdaya bukan menghadapinya sendiri?"


Karl terpaku seperti orang bodoh mendengar penuturan Andreas soal Justin. Benarkah yang diucapkan oleh bocah cilik itu? Dia? Seorang Karl takut pada gadis ingusan yang bernama Ilona? Kenapa terdengar ambigu sekali ya.


"Lalu sekarang apa rencanamu selajutnya, Karl. Kau tidak mungkin membiarkan Ilona lepas begitu saja 'kan?" tanya Andreas penasaran.


"Kau gila jika berpikir aku akan melepaskannya. Bertahun-tahun aku menunggu kehadirannya, masa iya sekalinya muncul aku harus membiarkannya pergi hanya karena dia adalah Ilona. Tidaklah. Seperti apapun perlakuan gadis itu kepadaku, aku bersumpah akan membuatnya bertekuk lutut di bawah kakiku nanti. Itu pasti!" jawab Karl penuh percaya diri. Dia tak sudi merendah meskipun Ilona adalah malaikat penolongnya.


"Yakin kau mampu membuat Ilona bertekuk lutut di hadapanmu?"


"Kau meremehkan kemampuanku?"


"Untuk kali ini iya. Sorry, aku bukannya tak mendukung. Tapi aku hanya mengatakan faktanya saja. Ilona boleh saja miskin harta, tapi dia bukanlah sosok yang bisa dengan mudah kau iming-imingi dengan uang. Terlebih lagi kau sudah mendapat tanda merah sebagai pria bajingan. Aku rasa akan sulit untuk memenangkan hatinya!" ucap Andreas ragu akan kemampuan Karl. Pria ini memang lihai dalam berbisnis, tapi nol besar soal menjinakkan hati wanita. Andreas yakin jalan yang Karl tempuh tidak akan semulus yang pria ini bayangkan.


Tiba-tiba saja tenggorokan Karl terasa kering sekali saat mendengar ucapan Andreas. Sepupunya benar. Sepertinya memang akan sulit menaklukkan Ilona mengingat kelakuannya yang dengan begitu berani melakukan pemberontakan. Tetapi haruskah dia menyerah sebelum bertempur? Memalukan sekali jika sampai terjadi.


(Tidak, Karl. Kau tidak boleh menyerah. Jika dengan cara baik-baik Ilona menolak untuk patuh, maka gunakan saja cara kasar untuk memaksanya. Gadis itu pasti tidak akan berani membantahmu lagi. Kau punya uang, Tuan Muda. Sejaim-jaimnya wanita, mata mereka akan tetap hijau jika dihadapkan pada sususan uang di dalam koper. Ya, begini saja)


"Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan sekarang. Walau tak bisa banyak membantu, tapi aku doakan semoga kau sukses dengan misi ini," ucap Andreas tulus memberi dukungan.


"Kenapa malam ini rasanya aku ingin sekali membunuh orang ya, Yas. Mau tidak kau menjadi korbannya?" ancam Karl seraya menggulung lengan kemejanya. Dia kesal sekali karena Andreas terus mengolok-oloknya.


Alih-alih melarikan diri, Andreas malah tertawa puas melihat Karl yang terpancing emosi. Permainan seru akan segera dimulai. Dan Andreas tak sabar untuk menjadi orang yang tertawanya paling keras ketika menyaksikan Karl terbucin-bucin mengejar Ilona. Hahahaha.


***

__ADS_1


__ADS_2