
Setelah membuat Karl benar-benar tak berdaya, Ilona dengan resmi mengenalkan diri pada semua orang yang ada di sana. Dongkol, itu sudah pasti. Dia merasa ditipu oleh Nyonya Renata. Tetapi untuk melakukan protes pada wanita itu, dia tidak berani. Alhasil Ilona memilih duduk menjauh sambil memperhatikan Elil yang tengah menjadi bahan tertawaan orang-orang berkuasa itu.
"Dasar gadis bodoh. Bisa-bisanya dia tersipu digoda oleh Tuan Cio. Hmmm," gumam Ilona seraya menggelengkan kepala. Ketegangan langsung muncul menghiasi raut wajahnya ketika seorang wanita cantik berjalan ke arahnya.
"Jangan kaku begitu, Na. Anggap ini seperti rumahmu sendiri,"
Tahu kalau Ilona marah padanya, Renata memutuskan untuk mengajaknya bicara. Dia datang sambil membawa dua gelas minuman yang salah satunya telah diberi obat. Bukan racun, hanya sekadar obat bius yang bisa menjinakan gadis ini untuk sementara waktu. Dan ya, ini adalah ulahnya Karl. Renata sengaja dijadikan umpan karen hanya padanya dan pada Justin saja Ilona bisa diajak bicara santai.
"Maaf, Nyonya Renata. Mungkin kata-kataku akan sedikit kasar, tapi aku akan tetap mengatakannya padamu." Ilona menerima gelas yang disodorkan oleh Nyonya Renata kemudian menyesapnya perlahan. "Hubunganku dengan pemilik rumah ini sangatlah tidak baik. Dan aku merasa telah ditipu karena kau tidak memberitahukan soal ini terlebih dahulu. Jujur, aku kesal setengah mati saat tahu kalau ini adalah rumah Tuan Muda Karl. Dan sekarang aku ingin tahu alasan kenapa kau menipuku. Bisa tolong jelaskan?"
"Aku sama sekali tak berniat menipumu, Na. Sungguh. Aku mengajakmu berkumpul dengan keluarga besar ayahnya Justin karena tidak tahu kalau hubunganmu dengan Karl ternyata kurang baik. Dan juga kenapa waktu itu kau tidak bertanya di rumah siapa kau akan diundang? Mungkin kalau kau bertanya detail, kau tidak akan semarah ini padaku. Tapi sungguh, aku sama sekali tak ada niat untuk membohongimu. Tolong percaya ya?" ucap Renata mencoba meyakinkan Ilona. Dalam hati Renata memohon ampun pada Tuhan karena telah terang-terangan berbohong.
(Benar juga ya apa yang dikatakan oleh Nyonya Renata. Harusnya sejak awal akulah yang bertanya. Mengapa aku jadi menyalahkannya? Sudah tahu Nyonya Renata adalah kakak ipar b*jingan itu. Kali ini kau benar-benar bodoh, Ilona. Kau yang membuat kesalahan, tapi orang lain yang kau jadikan pelampiasan. Huh. Bodoh, bodoh, bodoh!)
"Maaf, Nyonya Renata. Pikiranku terlalu sempit sehingga malah menyalahkanmu. Aku begini karena terlalu kesal telah menginjakkan kaki di rumah manusia yang sangat kubenci," ucap Ilona legowo mengakui kesalahan dan meminta maaf.
"Hati-hati, Na. Benci dan cinta itu perbedaannya hanya setipis tisu. Aku ingatkan sebaiknya kau jangan terlalu menumpahkan kebencianmu terhadap Karl. Nanti kalau kalian jodoh bagaimana?" ledek Renata lega karena gadis ini tak lagi mempermasalahkan kebohongannya.
"Mau itu setipis tisu ataupun setipis debu aku sama sekali tak peduli. Bagiku Karl tetaplah Karl, manusia licik yang suka sekali memanfaatkan kelemahan orang!"
"Benarkah? Bisakah kau menceritakan kelicikan apa yang telah iparku lakukan?"
"Bisa sih, tapi tidak banyak."
__ADS_1
"Tak masalah. Ceritakanlah,"
Dari kejauhan terlihat Karl yang tengah memperhatikan Renata dan Ilona ditemani oleh Andreas di sampingnya. Rasa-rasanya mereka seperti sedang mengintai mangsa. Tegang, penasaran, juga menyenangkan.
"Saat Ilona tersadar besok, apa yang akan kau lakukan untuk menahannya agar tidak kabur dari rumah ini, Karl?" tanya Andreas. Dia lalu melirik ke arah gadis lugu yang tengah menjadi bulan-bulanan Cio. "Juga dengan Elil. Aku yakin gadis itu tidak akan mau pulang ke rumahnya tanpa Ilona. Apa yang akan kau lakukan padanya?"
"Ada Cio yang akan mengurus Elil. Masalah Ilona biar aku pikirkan nanti. Otakku langsung tak bisa berpikir kalau membahas gadis itu," jawab Karl sambal menyesap wine.
"Yakin kau bisa membereskannya?"
"Yakin tidak yakin masalah ini akan tetap kuhadapi. Sudah, kau diam sajalah. Biarkan aku menunggu detik-detik Ilona pingsan karena obat bius itu."
Andreas mengendikkan bahunya acuh. Kini dia lebih tertarik memperhatikan Elil dan Cio yang entah mengapa terlihat serasi saat duduk berdampingan. Tanpa sadar Andreas tersenyum. Dia berani bertaruh kalau ayah dan ibunya Cio akan stres tingkat dewa jika Cio sampai jatuh hati pada gadis tersebut.
Karl hanya diam saja mendengar apa yang sedang dipikirkan oleh Andreas. Mata elangnya sibuk mengawasi gadis yang kini mulai menekan pinggiran kepala. Sepertinya obat bius itu mulai beraksi.
"Na, kau kenapa?" tanya Renata sambil menatap lekat ke wajah Ilona yang mulai dibanjiri keringat.
"Aku tidak tahu, Nyonya. Tiba-tiba saja kepalaku pusing," jawab Ilona. Pandangannya memburam, membuatmu harus berpegangan pada pinggiran meja yang ada di sebelahnya. "Shhhh, kenapa begini ya. Perasaan aku tidak memakan yang aneh-aneh. Kenapa kepalaku pusing sekali,"
"Mau istirahat di kamar saja tidak?"
Ilona dengan cepat menggelengkan kepala. Malas sekali dia jika harus masuk terlalu jauh di rumah milik b*jingan itu. Walaupun pusing, Ilona masih mengingat jelas kalau Karl pernah mengajak Elil bekerjasama untuk menculiknya. Bisa saja kan sekarang dia ....
__ADS_1
(Tunggu-tunggu? Diculik? Astaga, jangan-jangan kepalaku pusing begini karena b*jingan itu telah membubuhkan sesuatu ke dalam minuman yang dibawa oleh Nyonya Renata. Arggh, Karl benar-benar brengsek. Aku harus membuat perhitungan dengannya. Harus!)
Sambil memegangi kepalanya yang kian pusing, Ilona pergi mencari Karl. Dia bahkan tak mengindahkan ucapan Nyonya Renata yang menawarkan bantuan. Sudah tak percaya lagi. Ibunya Justin pasti telah bekerja sama untuk membuatnya tertahan di rumah ini.
"Hei kau!" teriak Ilona sembari berjalan sempoyongan. Dia lalu menunjuk ke arah Karl yang sedang berdiri menatapnya. "Apa yang sudah kau lakukan padaku hah? Racun apa yang kau campurkan ke dalam minumanku? Ayo cepat mengaku!"
"Aku tidak mencampurkan apa-apa," jawab Karl santai. Santailah, kan Ilona sudah mau pingsan. Jadi dia aman. Hehehe.
"Jangan membohongiku kau ya. Kau pikir aku bodoh apa!"
"Tidak. Aku tidak berpikir seperti itu,"
"Kau ....
Kesadaran Ilona sudah lebih dulu menghilang sebelum dia sempat menyelesaikan ucapannya. Melihat temannya tumbang, Elil yang tak sengaja menoleh langsung bangun dari duduk dan hendak menghampirinya. Akan tetapi Cio malah menarik tangannya sehingga Elil jatuh terduduk di atas pangkuan pria tersebut.
"Ih, apaan ini keras-keras di bawah bokongku!"
Ruangan menjadi sangat hening bersamaan dengan Karl yang sudah membopong Ilona ala brydal style. Semua orang di sana tak lagi fokus pada si singa betina, tapi beralih pada Cio yang wajahnya merah padam akibat ucapan polos gadis di pangkuannya.
(Brengsek! Arrrggg, membuat keki saja. Dasar gadis bodoh. Huh!)
***
__ADS_1