Satu Malam Bersama CEO Arogan

Satu Malam Bersama CEO Arogan
Terluka


__ADS_3

"Hiksss, kenapa jadi begini sih. Apa salahku?" ratap Ilona sambil menangis tersedu-sedu. Dia kelelahan setelah menggedor pintu seperti orang gila, tapi tak ada yang merespon. Jangankan merespon, rumah ini bagaikan persemayaman orang mati. Sunyi senyap.


Setelah kesadarannya terkumpul semua, Ilona mengamuk meminta Karl untuk membukakan pintu kamar yang dikunci dari luar. Saking emosinya, kulit tangan Ilona sampai terkelupas akibat dia yang melakukan segala cara agar bisa kabur dari sana. Naas, tidak ada satupun usaha yang berhasil. Rumah ini seperti berpihak pada tuannya.


"Ayah, Ibu. Harus sampai kapan aku tertimpa kesialan? Apa belum cukup dengan aku kehilangan masa depan? Haruskah aku menjadi boneka pemuas n*fsunya juga?" Ilona bermonolog dengan angin. Dia lalu meraung, tak sanggup membayangkan nasibnya yang akan terus terkurung di rumah sialan ini. "Tolong akuuu!!! Tolong keluarkan aku dari sini. Tolooong!"


Di ruangan lain, terlihat Karl sedang menonton CCTV bersama dengan para sepupunya. Raut wajah mereka terlihat datar saat mendengar raungan memilukan yang keluar dari mulut Ilona. Ya, saat ini mereka semua tengah mengawasi gadis itu lewat kamera yang telah dipasang di kamar Karl. Tujuannya? Tentu saja untuk memastikan kalau Ilona tidak melakukan tindakan bodoh. Tahu sendiri gadis itu sangat nekad. Kan tidak lucu kalau Ilona sampai ditemukan mati gantung diri di sana.


"Aku rasa ini sudah keterlaluan, Karl. Saranku sebaiknya kau bicara jujur saja pada Ilona. Dia pasti sangat ketakutan sekarang," ucap Andreas tak tega mendengar tangisan Ilona yang cukup menyayat hati.


"Jujur?" beo Karl. Matanya sampai tak berkedip ketika Ilona menangis sambil menempelkan kepala ke daun pintu.


"Iya. Lebih baik kau dihajar habis-habisan oleh gadis itu ketimbang melihatnya menangis seperti ini. Ingat, Karl. Keluarga kita sangat menjunjung tinggi martabat seorang wanita. Mendiang Nenek Liona bisa sedih kalau kita memperlakukan Ilona dengan cara begini."


"Tapi ....


"Takut?"


Karl menoleh. Dia kemudian mengangguk. Sikap tersebut membuat para sepupunya langsung tertawa senang. Hilang sudah keprihatinan mereka terhadap Ilona. Yang ada hanya ingin menertawakan sikap monster dingin yang mendadak berubah seperti badut. Sangat menggelikan.


"Berhenti menertawakan aku!" hardik Karl dongkol. Dia lalu meninju lengan Bern yang masih menertawakannya. "Kau sialan. Cepat hentikan suara tawamu atau aku akan memerintahkan orang untuk membawa Justin dan Renata kemari. Jangan lupa ya. Ilona hanya bisa tunduk pada mereka. Berani membuatku kesal, maka kau harus rela membiarkan mereka tinggal di sini bersamaku!"


"Hei, apa-apaan kau. Kalau mau punya anak dan istri cari saja sendiri. Kenapa malah merampas anak dan istri saudaramu. Dasar gila!" sahut Bern agak jengkel mendengar ancaman Karl yang diluar nalar. Enak saja main ambil-ambil anak dan istrinya. Huh.


"Makanya diam!"

__ADS_1


"Kenapa hanya aku?" Bern protes. Dia lalu menunjuk ke semua sepupunya yang masih tertawa. "Lihat, bibir mereka masih bergerak-gerak. Ancam mereka sana!"


"Tidak ada yang bisa diharapkan dari mereka. Cihhh!"


Bukannya berhenti, yang ada suara gelak tawa mereka malah kian memenuhi setiap sudut ruangan. Hal itu membuat kekesalan Karl kian memuncak. Tawa mereka baru berhenti saat mendengar suara gaduh dari layar televisi. Ilona kembali kesurupan.


"Lihat itu. Yakin kau masih memintaku untuk bicara jujur? Kalau aku dijadikan rujak oleh Ilona bagaimana?" ucap Karl frustasi melihat Ilona yang tengah mendorong meja dan membenturkannya ke arah pintu. Ekpresi gadis itu terlihat bengis sekali. Membuat bulu kuduk Karl berdiri semua. Padahal dia melihat dari jarak yang sangat jauh, tapi tetap saja kengerian itu membayang jelas di pelupuk mata.


"Karl, kau kepikiran tidak jangan-jangan Ilona itu adalah keturunan wanita medusa? Bedanya kepala gadis itu tidak dipenuhi anak ular berbisa, tapi lihat kekuatannya? Ihh, kalau aku sih lebih baik menderita seumur hidup daripada harus berurusan dengan wanita seperti dia. Makan hati!" ejek Cio dengan enteng bicara tanpa menyadari kalau setiap ucapan memiliki karmanya masing-masing.


"Mulutmu adalah harimaumu. Kau benar menderita seumur hidup baru tahu rasa kau. Hati-hati kalau bicara!" tegur Karl agak ngeri mendengar ucapan Cio barusan. Wanita medusa? Julukan ini kurang cocok untuk Ilona. Terlalu manis.


"Ck,"


Mendengar ucapan Russell, sontak Karl berdiri dan langsung mendekati layar guna memastikan apakah benar Ilona terluka atau tidak. Dia lalu mengezoom layar untuk memperjelas kondisi tangan gadis tersebut.


"Astaga, kau benar, Russ. Sepertinya kulit tangan Ilona terkelupas. Bagaimana ini?" tanya Karl panik.


"Bagaimana apanya. Tentu saja kau harus muncul di hadapan gadis itu kemudian menolongnya. Aneh!" seloroh Reiden sambil berdecak pelan. Semenjak pawangnya datang, monster ini jadi bersikap bodoh dan penakut.


"Aku ....


"Aku akan menemanimu," ucap Andreas langsung pasang badan membantu Karl. Biar bagaimana pun keselamatan monster ini adalah tanggung jawabnya. Jadi Andreas harus memposisikan diri sebagai seorang asisten dulu sekarang.


"Kalau Ilona menyerang kita bagaimana?"

__ADS_1


"Ya harus dihadapi. Dia marah kan karena kau juga. Jadi mau tidak mau kita harus menerima resikonya!"


Andreas berdiri. Dia lalu meminta penjaga agar menyiapkan kotak P3K sebelum mengajak Karl pergi menemui Ilona di kamar. Saat mereka melewati lorong tempat Rocky berada, tiba-tiba saja harimau itu mengaum kencang sekali. Karl dan Andreas sampai terperanjat kaget karenanya.


"Maaf, Tuan Muda. Sejak dini hari tadi Rocky terus menunjukkan sikap yang aneh. Dia terlihat gelisah!" lapor penjaga yang bertugas mengawasi binatang peliharaan Karl.


"Gelisah?" Karl segera mendekat ke kandang. Pandangannya lalu tak sengaja bertemu dengan pandangan Rocky yang tajam. Walau sudah merawatnya sejak kecil, masih ada segelintir rasa takut di diri Karl ketika reinkarnasi Gora menunjukkan sikap yang agresif. Binatang ini tak mau tunduk pada siapapun. Hanya ketika suasana hatinya sedang tenang, Karl baru bisa mendekatinya. "Hei, kau kenapa gelisah begini? Sesuatu membuatmu tak nyaman kah?"


Rocky kembali mengaum sambil menunjukkan gigi taringnya yang runcing. Dia lalu mengibaskan ekor sebelum kembali bersembunyi di balik bebatuan. Heran, Karl menoleh menatap Andreas. Mereka saling pandang, menerka-nerka gerangan apa yang membuat binatang tersebut menunjukkan sikap tak bersahabat.


"Karl, apa mungkin Rocky begitu karena tahu kalau Ilona sedang terluka?" ucap Andreas menebak asal.


"Entahlah, Yas. Tapi mari kita coba cari tahu jawabannya dengan mengobati Ilona dulu. Jika sikap Rocky kembali tenang seperti biasa, itu tandanya ada ikatan batin di antara mereka," sahut Karl.


"Kalau begitu tunggu apalagi. Ayo kita temui Ilona!"


"Sekarang?"


"Tahun depan juga tak masalah,"


"Ck, sialan kau!"


"Hehe,"


***

__ADS_1


__ADS_2