
Karl bagai dihadapkan dengan harimau kelaparan begitu mendengar suara Ilona yang kaget mendengar ucapan Justin. Dia yang tadinya merasa gembira seketika panik saat pandangannya beradu dengan gadis itu.
(Mati aku!)
"Kau!"
Gigi Ilona saling menggeretak begitu Justin memberitahunya kalau b*jingan itu juga hadir di kediaman Nyonya Renata. Saat itu Ilona benar-benar lupa dengan keberadaan yang lain. Fokusnya satu, memelototi Karl yang terlihat salah tingkah.
"Na, kau kenapa? Kesurupan ya?" tanya Elil penuh khawatir.
"Kesurupan apa, Bi?" tambah Justin penasaran.
"Kesurupan setan mungkin." Elil menjawab asal. Sedetik setelahnya dia langsung menutup mulut dengan tangan saat Ilona meliriknya tajam. "Oke, aku tidak akan bicara aneh-aneh lagi. Kau lanjutkan saja kesurupannya."
Semua keluarga Karl hanya diam menyaksikan adegan demi adegan yang menggelitik hati. Mulai dari Justin yang comel dengan langsung memberitahu Ilona kalau Karl sudah menunggunya, lalu dengan sikap Elil yang polos dan juga menggemaskan. Semua itu membuat mereka sangat ingin tertawa, tapi ditahan karena kasihan pada si tuan rumah yang sedang merasa tertekan.
(Renata, ayo cepat bantu aku. Rasa-rasanya Ilona seperti ingin menelanku saat ini juga. Cepat bujuk dia!)
Seakan mengerti akan kepanikan Karl, Renata melepaskan rengkuhan tangan Bern di pinggangnya kemudian berjalan menghampiri Ilona.
"Selamat datang, Na, Elil. Kalian sangat cantik dengan gaun itu," sapa Renata seraya memberikan pujian untuk kedua gadis di hadapannya. Dia kemudian menunduk saat Justin menarik ujung bawah bajunya. "Kenapa, sayang? Bibi singamu sudah datang. Apa masih ada yang kurang?"
"Ibu bisa memperpendek tubuh Ibu sebentar tidak?" bisik Justin memberi kode kalau dirinya ingin menyampaikan sesuatu.
"Baiklah,"
Dan begitu Renata berjongkok, Justin langsung berbisik di telinganya. Hal itu membuat semua orang merasa penasaran. Jika Justin sudah seperti ini, bukan tak mungkin bocah ini telah melihat sesuatu yang tak kasat mata. Entah arwah siapa kali ini. Yang jelas itu pasti berhubungan dengan keluarga besar Ma.
"Tidak apa-apa. Mungkin Nenek hanya ingin menyapa bibi singa saja. Tolong rahasiakan hal ini dari semua orang ya. Nanti mereka jadi sedih,"
"Baik, Bu."
__ADS_1
Justin patuh. Dia lalu berbalik menghadap bibi singa yang masih memelototkan mata pada sang paman. Tahu apa yang harus dilakukan, Justin segera meraih tangan bibi singa lalu mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Eh eh, mau di bawa ke mana aku?" kaget Ilona saat tangannya ditarik oleh Justin.
"Justin mau mengajak bibi singa masuk ke rumahnya Paman Karl. Di sini ada Rocky lho. Mau kenalan tidak?"
"A-apa? Ja-jadi ini rumah b*jingan, eh bukan, maksudku ini adalah rumah pamanmu?"
"Iya. Memangnya bibi singa tidak tahu?"
(Brengsek! Jadi aku ditipu????)
Glukkkk
Gabrielle langsung menahan tawa begitu melihat Karl yang tengah menelan ludah akibat kejujuran Justin. Putranya pasti depresi sekali karena Justin dengan polos memberitahu Ilona kalau rumah ini adalah miliknya. Ingin rasanya Gabrielle berguling-guling di tanah untuk memelampiaskan kebahagiaannya melihat Karl tertekan.
"Hayo, Karl. Sekarang kau tidak bisa bersandiwara kalau keberadaanmu di sini adalah sebagai tamu. Ilona sudah tahu kalau kau adalah tuan rumahnya. Bersiaplah. Kau dalam bahaya besar sekarang," goda Cio sambil terkikik pelan.
"Sialan! Mati saja kau sana!" umpat Karl sembari menyeka keringat di kening. Dia gugup setengah mati saat Justin membongkar semuanya di hadapan Ilona. Harusnya tadi dia mengingatkan bocah itu supaya tidak jadi ember bocor. Jadi serba salah kan dia sekarang.
Ctaaakkkk
"Ibu, kenapa memukul kepalaku sih!" pekik Cio sambil mengusap-usap kepalanya yang baru saja menjadi korban kulit buaya.
"Itu akibatnya kalau banyak bicara. Sudah diam. Masih untung Karl bertemu dengan jodohnya. Lalu kau? Sampai detik ini kau masih saja celup sana celup sini. Kapan kau akan mengenalkan calon istri kepada Ayah dan Ibu?" omel Patricia.
"Temannya Ilona mau tidak?"
"Si gadis bodoh itu?"
"Iyalah."
__ADS_1
"Maaf, lebih baik kau cari wanita lain saja. Ibu bisa mati berdiri jika memiliki menantu lelet seperti Elil." Patricia bergidik ngeri. Tak terbayangkan akan jadi seperti apa hidupnya jika Cio sampai menikah dengan Elil. Sudah cukup dirinya hampir gila mengurus Cio dan Junio. Jangan ditambah satu makhluk yang sudah pasti akan membuat tensi darahnya naik setiap hari. Patricia tidak sanggup.
Sementara itu Ilona yang sudah sampai di dalam rumah dibuat terperangah kagum akan interior mewah yang ada di dalamnya. Sejenak dia lupa dengan pemilik bangunan ini. Fokusnya satu. Berdecak tanpa henti menikmatinya kemewahan demi kemewahan yang sangat memanjakan mata.
"Na, ini aku tidak sedang bermimpi 'kan?" tanya Elil sambil menepuk kedua pipinya. Dia masih tak percaya akan apa yang dilihatnya sekarang.
"Mau ku tinju apa bagaimana supaya kau bisa membedakan apakah sedang bermimpi atau tidak?" sahut Ilona dongkol. Posisi tangannya masih ditarik oleh Justin. Entah ke mana anak ini ingin membawanya pergi.
"Eih kau ini. Bisa tidak sih bercanda sedikit?"
"Tidak bisa,"
"Huh,"
Kesadaran Ilona kembali pulih saat matanya melihat foto keluarga yang terpajang di dinding. Segera dia menghentikan langkah lalu melepaskan tarikan tangan Justin.
"Bibi singa, ayo. Bibi harus bertemu dengan Rocky," rengek Justin tak sabar ingin segera mempertemukan bibi singanya dengan harimau galak peliharaan sang paman. Pasti seru jika singa dan harimau dipersatukan di dalam kandang.
"Rocky siapa?"
"Itu lo harimau peliharaan Paman Karl. Rocky sangat galak, Bi. Tapi Miss bilang Rocky akan takut jika bertemu dengan singa yang galak. Kan Bibi galak, jadinya Justin ingin mengajak Bibi bertemu dengan Rocky."
Rahang Elil dan Ilona seperti jatuh ke dasar bumi setelah mendengar penuturan Justin. Yang benar saja bocah ini. Rocky adalah harimau sungguhan. Sedangkan Ilona? Ilona hanya Justin saja yang menyebut sebagai bibi singa. Apa tidak jadi almarhum kalau dia sampai dipertemukan dengan Rocky? Ini sih bukan gila lagi namanya, tapi sangat sangat gila.
"Kenapa kau?" tanya Ilona saat Elil mencengkram tangannya dengan kuat.
"Aku takut, Na. Ayo kita pulang saja. Ternyata rumahnya orang kaya sangatlah mengerikan. Aku mau pulang, Na. Pulang," rengek Elil hampir menangis.
"Heh, siapa entah yang tadi begitu bersemangat ingin mencuri di rumah ini. Sekali diberitahu siapa penunggunya, langsung kau menangis ketakutan. Dasar lemah!"
"Memangnya kau tidak takut?"
__ADS_1
(Takutlah, tentu saja aku sangat takut. Kakiku saja tak mau berhenti gemetar setelah tahu siapa Rocky. Ya Tuhan, keluarga ini benar-benar sudah tidak waras. Bagaimana bisa memelihara binatang buas di kediaman pribadi? Apa tidak melanggar aturan negara? Tidak bisa dibiarkan. Aku harus mencari cara untuk segera kabur dari sini. Aku tidak mau mati konyol di mulut harimau. Tidak mau!)
***