
(Bom Komentarnya dong bestie)
***
Karl yang tengah berada di rumah kaget sekali saat Andreas menelponnya. Dia bagai tersambar petir setelah diberitahu kalau ibunya datang menemui Ilona di perusahaan. Khawatir terjadi sesuatu, dia bergegas pergi ke sana tanpa mempedulikan penampilannya yang masih memakai kemeja tidur. Karl kelewat takut Ilona akan menyerang sang ibu seperti yang dia terima waktu itu.
"Semoga saja tidak terjadi gencatan berbahaya di sana. Ya ampun, Ibu. Kenapa tidak bilang sih kalau ingin bertemu dengan Ilona!" gumam Karl seraya mengusap wajah. Dia bicara sambil menyetir mobil. "Aku tak bisa memaafkan diriku sendiri jika sampai terjadi sesuatu pada Ibu. Ini salahku. Harusnya tadi aku memperingatkannya agar tidak menemui Ilona. Astaga!"
Nasib baik berpihak pada Karl. Jalanan lumayan sepi untuk hitungan jam makan siang. Hingga tak butuh waktu lama untuk Karl sampai di perusahaan. Tanpa menunggu penjaga membukakan pintu untuknya, dia langsung keluar dari dalam mobil tanpa mematikan mesinnya terlebih dahulu. Dan begitu keluar, semua orang dibuat ternganga oleh penampilannya. Karl acuh. Dia lalu melesat masuk guna mencari keberadaan sang ibu.
"Nah, ini dia manusianya. Masih hidup kau?!"
Glukkk
Tengkuk Karl meremang hebat saat mendengar suara seseorang bicara dari arah belakang. Dia yang hendak masuk ke dalam lift mendadak jadi tak bisa bergerak hingga membuat pintu lift kembali tertutup. Karl kaku di tempat.
"Selamat siang, Tuan Muda," sapa Ilona sambil tersenyum lebar. Tak lupa dia membungkuk sambil membawa nampan berisi tiga kopi panas yang masih mengepulkan asap.
"M-mana Ibuku?" tanya Karl terbata.
"Maksud Anda Nyonya Elea?" sahut Ilona.
"Y-ya. Ibuku, mana dia?"
"Sudah pergi." Ilona menegakkan tubuh. Senyum yang tadi menghiasi bibir langsung berubah menjadi suatu gerakan yang cukup berbahaya. Bibir Ilona bergerak tanpa suara, meramalkan umpatan kasar untuk pria yang tengah berdiri di hadapannya. "Jadi bagaimana, Tuan Muda. Apakah senang menggunakan nama orangtua untuk membujuk seorang gadis agar bersedia tinggal bersama Anda? Pasti senang sekali lah. Iya 'kan?"
Kalau boleh meminta, ingin rasanya Karl masuk ke dalam perut bumi saat itu juga supaya bisa terhindar dari amukan Ilona. Entah apa yang ibunya katakan pada wanita ini. Yang jelas dari gerakan bibir Ilona, Karl menyimpulkan kalau sang ibu telah mengatakan sesuatu yang menyinggung amarah gadis tersebut. Pasti.
__ADS_1
(Mungkinkah Ibu menceritakan kondisiku yang hampir mati dengan tujuan agar Ilona bersedia tinggal bersamaku? Astaga, ini sih bunuh diri namanya. Kenapa sih Ibu harus mengambil keputusan tanpa membicarakannya terlebih dahulu denganku. Jadi repot kan sekarang!)
"Jawab!" sentak Ilona sambil memelototkan mata. Sedetik setelah itu dia memasang senyum saat ada beberapa karyawan datang hendak masuk ke dalam lift.
"Oh, Tuan Muda. Selamat siang," sapa para karyawan kaget melihat penampilan bos mereka.
"K-kalian kau ke mana?" tanya Karl lega karena ada orang yang bisa dia jadikan alasan untuk kabur dari Ilona. Karl sudah tidak kuat menahan tekanan yang muncul.
"Kami mau ke ruangan Anda untuk mengantarkan berkas, Tuan Muda."
"Aku ikut."
"Hah? Ikut?"
"Iya. Aku ....
Ilona memasang ekpresi tak bersalah ketika Karl meliriknya penuh gelisah. Sementara para karyawan yang lain, mereka hanya saling menatap karena bingung. Aneh saja. Seorang bos tiba-tiba berkata ingin ikut dengan mereka yang tujuannya adalah ruangan bos itu sendiri. Ditambah lagi dengan keberadaan seorang OB yang entah mengapa seperti memberi tekanan tak kasat mata di sekitar mereka. Namun, kebingungan para karyawan tersebut tak berlangsung lama karena pintu lift sudah lebih dulu terbuka. Melihat hal itupun mereka bergegas masuk, meninggalkan kedua orang berdiri saling berhadap-hadapan.
"Ingin kabur? Jangan harap!" ucap Ilona masih dengan memasang senyum di bibir.
"Ilona, please. Jangan perlakukan seolah aku adalah dalang dibalik perkataan Ibuku. Sungguh, aku sama sekali tidak tahu kalau Ibuku datang kemari dan menemuimu," ucap Karl memohon dengan sangat.
"Masa?"
Ilona maju selangkah. Memastikan keadaan aman, dengan sangat sengaja dia menginjak sebelah kaki Karl. Setelah itu dia memiringkan nampan, membiarkan kopi panas tumpah dari gelas dan mengalir mengenai lengan pria tersebut.
"Upsss, maaf. Aku sengaja."
__ADS_1
"Ini panas, Ilona." Karl mengeratkan gigi. Ingin rasanya dia menjepitkan kepala gadis ini ke pintu lift yang sedang bergerak, tapi Karl tidak seberani itu untuk melakukannya. Karena jika Ilona sampai kenapa-napa, harapan untuknya bisa hidup normal akan pupus selamanya. Alhasil Karl hanya bisa menahan bullyan yang dilakukan oleh gadis ini. Meski sakit, dia harus kuat. Karl seorang laki-laki, tidak boleh mudah menyerah.
"Yang bilang kopi ini dingin siapa, Tuan Muda. Tidak ada. Saya tahu dengan sangat jelas kalau kopi ini sangatlah panas," sahut Ilona tanpa merasa kasihan sedikitpun. Sambil menekan suaranya, Ilona kembali lanjut berbicara. "Dengarkan ini baik-baik, Tuan Muda. Sekalipun Anda mengutus para malaikat dari surga, saya tetap tidak akan pernah mau menerima tawaran Anda untuk tinggal bersama. Karena apa? Karena hidup saya terlalu berharga jika dihabiskan bersama pria pengecut seperti Anda. Paham?"
"Aku bukan pengecut!" geram Karl tak terima. "Kau sudah salah memahami perkataanku waktu itu. Aku sama sekali tak berniat untuk ....
"Untuk apa? Hah? Untuk bicara terus terang kalau Anda hanya ingin menggunakan tubuh saya sebagai tempat pelampiasan? Iya?"
"Astaga, bukan seperti itu!"
"Lalu apa?"
"Ilona, oke aku salah, aku minta maaf. Apa yang pernah terjadi di antara kita aku mengaku kalau di situ aku bersalah telah mengambil kesucianmu tanpa ijin. Tetapi mengenai tawaran untuk tinggal bersama, aku sama sekali tak mempunyai niat buruk. Ada alasan lain yang membuatku harus tebal muka bicara seperti itu padamu. Kau salah paham. Tolong percayalah!"
"Halah, alasan! Pokoknya saya tidak mau tahu. Sekali lagi Anda berani mengirim seseorang untuk membujuk saya, saat itu juga saya tidak akan ragu untuk menyiramkan air panas ke tubuh Anda. Kalau Anda tidak percaya, silahkan dicoba saja. Saya lebih baik mati membusuk di dalam penjara daripada harus berbagi udara yang sama dengan manusia pengecut seperti Anda. Permisi!"
Karl hanya bisa meringis menahan sakit saat Ilona kembali menginjak kakinya. Gadis itu pergi meninggalkannya dengan membawa luapan amarah yang begitu memuncak. Dan itu semua gara-gara perbuatan ibunya.
"Lihatlah, Bu. Tindakan Ibu membuat situasi bertambah semakin runyam. Kalau sudah begini apa yang harus aku lakukan untuk membujuk Ilona? Argghhhhh!"
Di ruangan CCTV, ada dua orang pria yang tengah tertawa terbahak-bahak hingga tubuh mereka membungkuk. Dan kedua pria tersebut adalah Cio dan Andreas.
Tadi setelah Andreas menghubungi Karl, mereka langsung mengambil alih pekerjaan di bagian keamanan. Tujuannya? Tentu saja untuk menonton adegan di mana Karl diamuk oleh Ilona. Dan ya, semuanya disaksikan secara live oleh mereka berdua ketika Karl kakinya diinjak dan disiram dengan kopi panas oleh Ilona. Sungguh pemandangan yang sangat menyegarkan mata.
"Hahahahaha, Yas. Lihatlah betapa tak berdayanya monster menyebalkan itu. Sudah penampilannya kacau, malah harus berhadapan dengan singa kematian. Kasihan sebenarnya, tapi aku tak kuat jika tidak tertawa!" ucap Cio seraya menyeka cairan bening yang menetes dari sudut mata. Saking lucu melihat sepupunya dibully, Cio sampai mengeluarkan air mata karena terlalu kencang saat tertawa.
Andreas diam tak menyahut. Bibirnya kram karena terlalu lama tertawa. Belum juga reda tawa di bibir mereka, Cio dan Andreas kembali dibuat terpingkal-pingkal saat Karl hampir terjerangkang jatuh gara-gara Ilona yang kembali muncul sambil membawa sapu. Gadis itu mendadak jadi rajin dengan menyapu bersih setiap ubin yang diinjak oleh bosnya. Hahaha.
__ADS_1
***