Satu Malam Bersama CEO Arogan

Satu Malam Bersama CEO Arogan
Penjelasan Karl


__ADS_3

"Karena kau sudah ingat siapa aku, maka aku tidak akan sungkan lagi untuk bicara santai kepadamu!" ucap Ilona dingin. Dia bicara sambil melipat tangan di depan dada. Tak lupa juga dia memasang ekpresi mengintimidasi dengan maksud agar pria di hadapannya tidak besar kepala. "Sekarang cepat jelaskan apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Kau pasti sengaja kan membuatku mau menyerahkan keperawanan kepadamu? Ayo mengaku!"


Tenggorokan Karl terasa begitu kering ketika dirinya dicecar banyak pertanyaan oleh Ilona. Dia merasa sangat tersudut, tapi masih belum memiliki keberanian untuk membela diri. Entah ke mana perginya sosok kejam yang selama ini melekat di dirinya. Bisa-bisanya Karl berubah seperti kerupuk yang terendam air saat berada di hadapan gadis ini. Memalukan sekali.


"Jangan diam saja. Ayo cepat jawab!" desak Ilona tak sabaran.


"Ya sabar dulu. Aku juga butuh waktu untuk berpikir,"


"Berpikir apa hah? Berpikir bagaimana caranya agar aku mau tinggal bersamamu lalu kau bisa dengan mudah memaksaku untuk bercinta? Iya?"


Ucapan Ilona begitu pedas, tapi itu tak membuatnya merasa puas. Ilona merasa sangat terzalimi sehingga keberaniannya seakan muncul dari setiap pori-pori yang terbuka. Padahal selama ini Ilona di kenal sebagai gadis yang cukup penakut. Akan tetapi di hadapan pria cabul ini Ilona merasa seperti menjadi seorang pemimpin yang berani mengintimidasi ketika orang tersebut adalah bos di tempatnya bekerja.


"Terserah kau mau percaya atau tidak, tapi yang jelas kejadian malam itu benar-benar di luar kendaliku. Dengan tanganmu sendiri kau menghabiskan sisa minuman yang membuat tubuhku terbakar. Posisiku saat itu sedang menyetir mobil, jadi aku tidak sempat menghentikanmu. Dan setelah aku selidiki ternyata air itu telah tercampur dengan obat perangsang. Kau tahu apa itu obat perangsang 'kan?" ucap Karl mencoba menjelaskan. Jangan ditanya betapa gugupnya dia sekarang. Bahkan jantungnya Karl terus berdebar hingga menimbulkan rasa sakit di bagian dada.


"Obat perangsang?" beo Ilona. "Ya, aku tahu tentang obat tersebut. Kalau tidak salah itu semacam obat untuk membakar gairah di tubuh seseorang. Benar tidak?"


"Benar sekali!"


Ilona mengerutkan kening. Dia menatap seksama ke manik mata Karl. "Tunggu dulu, ada yang aneh di sini. Kalau benar obat itu telah dicampur dengan obat perangsang, lalu bagaimana caranya minuman itu bisa ada di dalam mobilmu? Kau pasti sengaja kan meletakkannya di sana?"


Salah lagi. Belum juga Karl selesai menjelaskan, Ilona sudah kembali menyudutkannya. Kalau begini sih kapan selesainya permasalahan mereka. Haduuuh.


"Sudah mengaku saja. Kau pasti sengaja kan melakukannya?"


"Ilona, tolong beri aku waktu untuk menjelaskan. Yang kau dengar barusan itu baru separuh, belum sepenuhnya selesai. Jadi tolong diam sebentar dan biarkan aku bicara. Bisa?"


"Tergantung bagaimana caramu meyakinkanku. Kalau terkesan bertele-tele, tak peduli kau adalah bos di sini, aku akan memperlakukanmu dengan semena-mena. Paham?!"


"Diterima." Karl pasrah mengalah.

__ADS_1


Sebelum lanjut bicara, Karl mengendurkan ikatan dasinya terlebih dahulu. Mendadak suasana di sana terasa begitu gerah, membuat tubuhnya jadi bermandikan keringat dingin.


Oya, Karl lupa memberitahu. Ilona mengajaknya bicara di dalam kamar mandi karyawan. Mengapa di tempat ini? Karena toiletnya rusak. Jadi dipastikan tidak mungkin ada orang yang datang, apalagi menguping pembicaraan mereka. Kalau saja yang melakukan adalah orang lain, Karl berani bertaruh leher orang itu pasti sudah dia patahkan. Namun karena yang melakukannya adalah Ilona, lagi-lagi Karl hanya bisa pasrah menerima. Lebih baik tidak banyak protes daripada dibantai oleh gadis ini.


"Aku sungguh tidak tahu kalau botol itu berisi air yang telah dicampur dengan obat perangsang. Aku mendapatkan air minum tersebut dari iparku, yang tak lain adalah ibunya Justin!" ucap Karl mulai menjelaskan. Dia bicara sambil menatap ke arah lain, sama sekali tak berani menatap ke arah depan. "Tanpa sepengetahuan orang tuanya, Justin telah mencampurkan obat itu ke dalam minuman. Dan kita sama-sama menjadi korbannya. Cerita ini adalah kebenaran, bukan rekayasa dariku saja. Kalau kau tidak percaya, kau boleh kok bertanya langsung pada Justin dan ayahnya!"


"Bocah sekecil Justin tahu bagaimana mencampurkan air dengan obat perangsang?" ucap Ilona penuh nada menghina. "Yang benar saja kau. Tinggi tubuhnya bahkan baru beberapa jengkal dari atas tanah. Lalu bagaimana caranya Justin mencampurkan obat itu dengan air? Kalau mau berbohong setidaknya pintar sedikitlah, Bos. Lawak sekali!"


"Aku tidak bohong, Na. Sungguh!"


"Masa?"


"Iya. Asal kau tahu saja ya. Seumur-umur aku belum pernah melakukan yang namanya bercinta dengan wanita. Malam itu adalah yang pertama. Jadi bukan kau saja yang kehilangan keperawanan, tapi aku juga kehilangan keperjakaan. Tahu kau!" sentak Karl terpancing emosi melihat Ilona yang tak kunjung percaya. Jadi sekalian saja dia mengakui kalau Ilona adalah orang yang telah merenggut keperjakaannya.


Kriik kriik kriik


(Jadi aku adalah yang pertama ya? Wah, ternyata aku tidak hanya dirusak, tapi aku juga telah merusak masa depan pria lain. Aduh, kenapa jadi begini ya. Apa yang harus aku lakukan?)


"Dan tentang ajakanku tadi ... aku serius mengatakannya." Karl menelan ludah. "Anggap saja itu sebagai bentuk pertanggungjawaban dariku karena telah merenggut kesucianmu."


"Kau pikir aku gadis gampangan apa. Seenaknya saja kau mengajak untuk tinggal bersama. Sudah tidak perawan ya sudah, apalagi yang harus direpotkan. Lagipula dengan tinggal bersama itu tidak akan membuat kesucianku kembali lagi seperti semula. Jadi jangan modus kau!" omel Ilona masih tak terima akan ajakan yang Karl tawarkan. Enak saja. Yang ada jika mereka tinggal bersama pria cabul ini bisa dengan bebas menyentuhnya. Tidak-tidak. Sampai dunia kiamat pun Ilona tidak akan pernah sudi melangkahkan kaki ke rumah pria tersebut. Tidak akan.


"Emmm, Ilona?"


"Apalagi?"


"Itu ... aku butuh dirimu untuk ....


Plaaaakkkk

__ADS_1


Kepala Karl tertoleh ke samping saat sebuah tamparan mendarat indah di pipinya. Dia membeku. Tak percaya dirinya bisa dengan mudah ditindas oleh seorang gadis.


"Dasar buaya buntung! Tebakanku sama sekali tak meleset kalau ajakanmu itu hanya sekedar tipu muslihat untuk menjebak mangsa. Bisa-bisanya kau ya bicara sekurang ajar itu padaku. Apa belum cukup kamu membuatku menjadi gadis yang tidak sempurna? Hah!" amuk Ilona dengan tatapan mata yang berapi-api. Sungguh, dia tak menyangka kalau pikiran Karl begitu mesum.


"Kau salah paham. Maksud ucapanku tidak seperti itu!" sahut Karl sambil menahan emosi.


(Sabar, Karl. Ilona adalah masa depanmu. Kalau kau tak bisa mengendalikan diri, selamanya kau akan hidup dalam bayang-bayang setan. Sabar. Oke?)


"Apanya yang salah paham? Jelas-jelas kau mengatakan sedang membutuhkanku. Kau pikir aku tuli apa!" teriak Ilona makin tak terkendali. Nafasnya sampai terengah saking dia kesal dan marah.


"Memang benar aku bicara begitu, tapi bukan itu maksudku."


"Lalu apa maksudmu? Ingin enak-enak secara gratis? Sialan sekali kau. Gayanya saja punya banyak harta, membayar wanita sewaan saja tidak mampu. Menjijikan! Kau sampah yang sangat menjijikan, Karl. Ingat ya, ini adalah kali terakhir kau boleh bicara denganku. Jika berani melanggar, jangan salahkan aku menjahit mulutmu supaya tidak bisa bicara. Mengerti?"


Braaakkk


Puas meluapkan emosi, Ilona langsung pergi dari sana. Mulutnya tak henti menggerutu tidak jelas. Hingga membuatnya tak sadar kalau sejak tadi ada beberapa orang yang dengan sengaja menguping pembicaraannya bersama Karl.


"Bibi singa menyeramkan sekali ya, Ayah," ucap Justin pelan.


"Iya. Makanya lain kali Justin harus berhati-hati saat sedang bersama bibi singa. Kalau tidak, nanti Justin terkena aumannya seperti yang diterima oleh Paman Karl barusan," sahut Bern sambil berusaha agar tidak tertawa. Saudaranya masih berada di kamar mandi. Dia tak mau ketahuan sedang menguping.


"Baik, Ayah."


Elil yang syok setelah mendengar pertengkaran Ilona dengan bos mereka hanya pasrah saja ketika tangannya ditarik oleh Tuan Andreas. Bayangkan! Seorang cleaning service seperti mereka berani menampar seseorang yang notabenya adalah bos pemilik perusahaan. Elil rasa hanya Ilona lah satu-satunya manusia yang berani berbuat demikian.


(Apa ini terjadi karena Ilona adalah keturunan siluman singa ya? Tapi dari mana Tuan Muda tahu kalau Ilona adalah manusia jadi-jadian? Hmmm, sepertinya aku harus melakukan penyelidikan!)


***

__ADS_1


__ADS_2